
Kini di kamar itu hanya ada Dyana dan Frans yang sedang terbaring di atas tempat tidur.
“Semakin cepat semakin baik!!!!!” Dyana sudah menguatkan tekadnya. Sebaiknya ia lakukan semuanya sekarang sebelum Frans keburu bangun karena bisa panjang ceritanya kalau sampai Frans terbangun saat itu mengelap tubuh Frans.
Tanpa pikir panjang, Dyana pun membuka kancing baju Frans satu persatu, dimulai dari kancing piyama paling bawah dan berlahan naik ke kancing piayama yang berada di leher Frans. Dan alangkah kaget nya Dyana ketika Frans menatapnya dengan tatapan aneh. Tapi tentu saja Frans akan menatapnya dengan aneh sebab ia kini sedang berusaha membuka kancing terakhir baju Frans.
Mata Dyana yang saat ini sedang menatap Frans berkedip berkali-kali. Dyana merasa seakan-akan dirinya adalah seorang maling yang kepergok melakukan kejahatan.
“wait!! Kenapa aku harus gugup??aku kan tidak sedang berbuat salah!!” seru Dyana pada dirinya sendiri.
Dyana pun segera menjarak dari Frans setelah kancing terakhir dari piayama Frans berhasil dibukanya.
“Kau jangan berpikiran yang bukan-bukan!!!” Seru Dyana sambil mengambil handuk yang telah menjadi hangat karena telah direndamnya tadi.
Dyana pun memeras handuk itu sekuat tenaga. Hal ini dilakukan oleh Dyana guna untuk menutupi rasa canggungnya di depan Frans.
“ kenapa dia sudah bangun??” Rutuk Dyana dalam hati sambil terus memeras handuk kecil tadi hingga kali ini benar-benar kering.
Dyana pun duduk di tepian ranjang Frans. Lalu dengan kasar dia menempelkan handuk hangat itu ke tangan Frans dan kontan membuat laki-laki itu menjerit.
“Arrgh!! Kau ingin membunuh ku!!” Ujar Frans marah.
__ADS_1
“heeem.. maaf.. maaf!!” seru Dyana kager karena mendengar Frans menjerit kepanasan.
“kalau kau ingin mengelap tubuh ku maka lakukan dengan benar.”Ucap Frans sambil menghembus-hembus tangannya yang ditempelin handuk hangat oleh Dyana.
“Dia tidak keberatan aku mengelap tubuhnya?” gumam Dyanan dalam hati, bingung sebab reaksi yang diberikan oleh Frans tidak seperti yang Dyana perkirakan.
“kalau kau terus bengong seperti itu maka handuk itu akan tidak hangat lagi.” Seru Frans yang kini telah meletakkan kembali tangan nya ke posisi semula.
Dyana pun kali ini berhati-hati meletakan handuk hangat tadi ke tangan Frans dan menekan handuk itu berlahan ke ruam-ruam yang ada di tangan Frans.
Frans memejamkan matanya seakan -akan dia sangat menikmati apa yang dilakukan oleh Dyana.
“Frans! Apa kau tahu apa penyebab badan mu penuh ruam begini?” tanya Dyana sambil mengangkat handuk yang sudah tidak hangat itu dari tangan Frans dan memasukannya kembali ke dalam baskom kecil.
“tahu.” Jawab Frans singkat masih dengan memejamkan matanya.
“tahu!!” ejek Dyana sambil menirukan ucapan Frans hanya saja dalam versi tanpa suara.
“memangnya kenapa?” tanya Dyana kembali setelah usai mengejek Frans.
“Bukankah teman mu tadi sudah menjelaskan semuanya pada mu tadi. Apa kau benar-benar tidak begitu pintar sehingga cepat sekali melupakan sesuatu yang baru saja kau dengar?” sindir Frans pada Dyana. Saat ini Frans masih berbicara sambil menutup matanya.
__ADS_1
Dyana yang kesal mendengar sindiran Frans kembali mengolok-olok Frans dengan menirukan ucapan Frans tapi masih dalam mode tanpa suara.
“jadi dari tadi kau hanya pura-pura tidur Frans?” ujar Dyana sewot sambil kembali menempelkan handuk hangat itu dengan kasar sekali lagi.
“Aarghhh!!!” kau memang berniat untuk membuat kulit ku lecet sepertinya!!” seru Frans kesal dan membuka matanya.
“Lagi pula siapa yang menyuruh mu pura-pura tidur dari tadi!!!!!” Dyana kini malah menekan handuk itu dengan sekuat tenaga nya. Dia merasa Frans mempermainkannya.
“aku itu tidak pura-pura tidur!! Kepala ku tadi benar-benar terasa sangat berat sehingga untuk bicara saja aku merasa sangat sulit! Jadi mau tidak mau aku terpaksa berusaha untuk tidur. Tapi kau malah asik telponan dengan pacar mu itu membuat aku tidak bisa tidur!!” Ujar Frans dengan wajah sewot.
“Apa? Apa yang tadi barusan kau bilang!! Aku asik-asikan menelpon dengan pacar ku!! Asal kau tau yang pertama Marcus itu bukanlah pacar ku!! Dan yang kedua, yang kau bilang asik-asikan itu ada momen dimana aku itu panik sibuk mencari cara agar ruam yang mucul di badan mu ini hilang!!!!” Dyana kesal sekali mendengar perkataan Frans. Sudah jelas-jelas Dyana tadi benar-benar panik dengan kondisi Frans eh si Frans malah nuduh dia yang macam-macam.
“Aku mau pulang!! lap sendiri tubuhmu!!” Dyana meletakan handuk itu kembali ke dalam baskom dan meninggalkan kamar Frans.
Frans hanya bisa menatap Dyana yang sudah keluar dari kamarnya. Frans menyesali perkataannya tadi ke Dyana. Entah mengapa mulutnya malah mengoceh hal yang sama sekali tidak ada terencana seperti itu.
Sayangnya Frans masih lemah sehingga ia tidak bisa mengejar Dyana yang pergi dari kamar nya itu.
***********
yang masih lanjut mana suaranya?? #otor udah kayak dangdutan aja hihihihiiiiii
__ADS_1