
"apa benar tidak sakit?" tanya Marcus yang sebenarnya antara ingin tertawa dan ingin nonjok muka nya si Arya.
"Gak sakit dari Hongkong!! Aku rasa rahang ku pasti bergeser saat ini." Sungut Arya yang tahu Marcus pasti menertawainya.
"Ar!! kok bisa-bisanya kau sebodoh itu!!" Tanya Marcus yang tanpa sadar kembali menaikan lengannya ke bahu Arya.
"Kalau kau ingin sekali untuk menghajar ku katakan saja!! jangan kau siksa aku sedikit demi sedikit seperti ini!!" Arya kembali bersungut sekali lagi sambil menunjuk tangan Marcus yang sekali lagi nangkring di bahunya
"sorry kelupaan." Ujar Marcus yang sepertinya sangat menikmati hal itu.
"please jangan diungkit-ungkit lagi masalah ini. Aku sungguh merasa malu!" Ujar Arya. "Bahkan aku merasa jantung ku kini tidak hanya memompa darah ke seluruh tubuh ku tapi juga meminta setiap tetes darah ku untuk membawa rasa malu ini ke seluruh bagian tubuh ku. Aku sudah tidak bisa menggambarkan bagaimana malu nya aku pada Kenzo dan istrinya. Aku benar-benar malu. Bahkan kalau Kenzo melaporkan ini ke pihak rumah sakit, aku dengan senang hati akan menerima pemecatan diri ku dengan tangan terbuka." Seru Arya yang benar-benar menyesali perbuatannya.
"Hei! kau berlebihan! aku rasa keponakan ku tidak akan melakukan itu pada mu! Lihat lah wajah tampan mu saat ini sulit untuk dikenali.Aku rasa itu sudah setimpal." celoteh Marcus yang masih sangat menikmati saat -saat penderitaan Arya ini.
"Kau sungguh sangat menghibur tuan Dayson!!" Seru Arya, "Tapi tunggu.. tadi kau bilang Kenzo adalah keponakan mu. Apakah itu artinya Kenzo adalah putra kak Robert?" tanya Arya yang tentu saja mengenal Robert kakaknya Marcus.
"Benar, Kenzo adalah putra satu-satunya mendiang kakak ku." jawab Marcus sambil terus berjalan bersama Arya.
"Dokter Arya, wajah anda kenapa?" tanya salah seorang perawat ketika Arya dan Marcus melewati meja perawat di lantai itu.
"Aku terpeleset tadi..."Jawab Arya sekonyong-konyong nya membuat Marcus ingin tertawa lebar mendengarnya. Sejak kapan ada orang yang terpeleset hingga wajah nya hancur babak belur seperti itu.
__ADS_1
"Ayo cepat!!" seru Arya pada Marcus ketika pintu lift khusus pasien itu terbuka.
"kau jangan tertawa Marcus! Sungguh membuat hati ku menjadi kesal melihat tawa mu itu. Tawa mu mengingatkan ku kepada betapa bodohnya aku dari semalam. Mengira Kenzo adalah pacar Mai. Memata-matai Kenzo setiap kali melihat Kenzo dan istrinya. Aku sungguh merasa aku tidak tepat berada di profesi ini." keluh Arya, yang akhirnya membuat Marcus tidak bisa lagi menahan tawanya lebih lama.
"Apa kau sadar Arya, selain bodoh kau itu juga sangat kocak. Mungkin perkataan mu ada benarnya juga, kau memang tidak cocok menjadi seorang dokter spesialis onkologi, sepertinya kau lebih cocok jadi presenter acara gosip atau pelawak, aku rasa juga bisa." Ujar Marcus yang langsung mendapatkan tatapan kesal dari Arya.
"Lalu kalau Kenzo bukalah kekasih Mai? apa hubungan antara mereka berdua? mengapa Mai selalu memanggil nama Kenzo?" Pikir Arya yang akhirnya jadi penasaran akan hubungan Kenzo dan Mai.
"Lihat lah itu!! jiwa-jiwa lambe turah mu mulai meronta-ronta!!" ejek Marcus sambil menertawai Arya yang tidak juga berhenti memikirkan tentang Kenzo-Mai - Alesya.
"aku hanya penasaran saja. Bagaimana pun Mai adalah pasien ku. Dan dia sampai tadi juga masih manggil-manggil nama keponakan mu itu."Jelas Arya meski Marcus tidak meminta nya.
"Baiklah akan aku jelaskan." Ujar Marcus akhirnya, tidak tega melihat wajah babak belur Arya dipenuhi oleh rasa penasaran.
"Jadi jatuhnya Mai itu adalah bibinya Kenzo?" Arya sungguh terkejut. Sebab tidak menyangka kalau hubungan Mai dan Kenzo yang sebenarnya adalah bibi dan keponakan.
"Aku sungguh tidak mengerti Marcus! aku sangat tidak pernah melihat ada seorang bibi yang kritis manggil-manggil nama keponakannya. Bahkan ketika ia sadar pun di tengah nafasnya yang satu-satu itu, dia pun terus memanggil nama Kenzo. Selama aku menjadi dokter, hal seperti ini biasanya hanya terjadi pada dua situasi. Pertama orang tua dan anak nya, atau terjadi pada pasangan." tukas Arya.
"hahaha.. ini memang kasus di luar kasus yang biasa terjadi Ar!" sebut Marcus tanpa sadar memukul pundak Arya membuat laki-laki yang sudah babak belur itu meringis kesakitan.
"kau pasti sangat dendam kepada ku!!" Gerutu Arya yang sudah bosan memperingati Marcus untuk tidak menyentuh pundaknya.
__ADS_1
"maafkan aku, aku terbawa suasana." jawab Marcus sambil mengangkat tangannya.
"akan aku lanjutkan cerita ku. Nah untuk kasus Mai dan Kenzo ini memang sedikit berbeda.." Marcus kembali memulai ceritanya, "Mai dan Kenzo sudah saling kenal sebab mereka bersekolah di sekolah yang sama mulai dari sekolah menengah hingga perkuliahan. Dan yang aku tahu, Mai sudah menyukai Kenzo. Bahkan ketika Kenzo sudah menjadi keponakannya sebab ayahnya Mia menikahi ibunya Dyana, aku masih sering mendengar dari Dyana kalau Mai masih mengejar-ngejar Kenzo." jelas Marcus.
"Dan jika Mai rela jauh-jauh datang ke kota ini demi Kenzo bahkan di tengah kondisinya yang seperti saat ini, aku yakin pasti hingga saat ini Mai masih sangat mencintai Kenzo." Marcus pun mengakhiri penjelasannya.
"Huft!! dunia percintaan ini sungguh memusingkan!!" seru Arya sambil membuka pintu ruangan kerjanya. Tak terasa karena terlalu asik berbicara mereka sudah sampai di depan pintu ruangan Arya.
"kau pastikan akan mengalami nya suatu saat nanti." tukas Marcus.
"Entahlah...sampai saat ini aku masih menikmati kebebasan ku. Aku tidak suka melihat ada orang yang disakiti dan aku lebih tidak suka jika ada orang yang menyakiti diri ku. Ayo masuklah. Akan aku buatkan resep dokter yang kau minta. Tapi ngomong-ngomong ini benar untuk staff mu?" tanya Arya sambil mempersilahkan Marcus masuk ke dalam ruangannya.
"Sebaiknya aku bantu kau dulu untuk membersihkan luka-luka serta memar di wajah mu." ujar Marcus yang sebenarnya juga sangat risih melihat wajah Arya yang cukup tidak manusiawi itu lagi.
"Apa aku harus mengambil Foto Rontgen untuk rahang ku ini? aku curiga keponakan mu telah membuat engsel-engsel rahang ku berpindah dari tempat yang semestinya." Ujar Arya, sambil berkaca.
"Mungkin sebaiknya kau melakukan Rontgen ke beberapa bagian tubuh mu! takutnya ada keretakan tulang yang tidak kau sadari karena tertutupi oleh rasa malu." Cemooh Marcus.
"Kau memang sangat menikmati hal ini Marcus!! aku tahu itu.! cepat katakan obat apa yang kau perlu kan!!" Ujar Arya yang ingin segera mengusir Marcus dari hadapannya.
"aku butuh....." Marcus pun menyebutkan nama obat yang dia butuhkan pada Arya.
__ADS_1
***bersambung
*ingat untuk tinggal kan komen mu ya zeyeng... *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.