
“Kenz.. Kenz..” Alesya mencoba membangunkan Kenzo yang tertidur di samping nya. “Ponsel mu dari tadi berbunyi.” Ujar Alesya tapi Kenzo tetap tidak mengangkat telpon itu. ‘Kenz...”. Alesya khawatir ada sesuatu yang penting sebab ponsel itu sudah berbunyi beberapa kali.
“Kenz..bangun. Sepertinya ada hal yang penting. Ponsel mu tidak berhenti berbunyi dari tadi.” Alesya menggoyang-goyangkan lengan Kenzo.
Ponsel Kenzo kembali berbunyi. Dengan ragu Alesya melihat ke layar ponsel itu untuk mengetahui siapa orang yang dari tadi terus-terusan menelpon Kenzo. “Marcus?” Alesya membaca nama si pemanggil telpon dalam hati. “Siapa orang ini? Apakah dia rekan bisnisnya Kenzo?” Alesya terus berpikir, menebak siapakah Marcus ini sebenarnya.
Alesya ingin mengangkat panggilan itu. Namun ketika Alesya akan menggeser tanda hijau di layar ponsel itu tiba-tiba panggilannya berakhir. Alesya menatap layar ponsel Kenzo dengan seksama. Lalu karena tidak mau terlalu ambil pusing, Alesya kembali meletakkan ponsel Kenzo ke tempat semua.
“Huft!! Laki-laki ini tidur atau pingsan!!”Rutuk Alesya sebab Kenzo sangat sulit untuk dibangunkan.
Alesya turun dari tempat tidur dan melihat jam di dinding. “Ya ampun sudah jam 9. Bagaimana ini?’ alesya panik sebab ia sudah sangat terlambat ke kantor dan belum mengantarkan sarapan untuk putranya.
Alesya menoleh ke arah Kenzo sambil mendengus. “ini semua keran dia...!!”
Alesya lalu pergi ke kamar mandi. Dalam pikirannya lebih baik terlambat dari pada tidak datang ke kantor sama sekali pagi ini. Lalu bagaimana dengan Kenzo? Dia kan bos nya kalau dia tidak datang maka tidak akan ada yang akan memarahinya. Lagi pula Alesya sudah beberapa kali membangunkannya. Siapa suruh dia tidur seperti kerbau.
Alesya pun berdiri dan kembali menoleh ke Kenzo. Alesya melihat Kenzo dengan seksama. Seketika Alesya merasa ada sesuatu yang janggal tapi dia tidak tahu apa itu. Dalam hati Alesya berpikir mengapa ia merasa dejavu ketika melihat Kenzo tertidur tertelungkup seperti itu. “Sepertinya pikiran ku masih belum kembali sepenuhnya.” Alesya lalu berjalan ke arah kamar mandi, membuang semua pemikiran yang tidak perlu.
Setelah mandi dan berpakaian, Alesya keluar dari kamarnya. Dia sudah malas untuk membangunkan Kenzo. Alesya pergi ke kamar Skala namun bocah itu tidak ada disana. “Kemana dia?’Pikir Alesya sambil menutup kamar Skala.
Di ruang makan ada Dyana yang sarapan sendirian dengan wajah yang lesu.
“mana Kenzo?”Sapa Dyana ketika melihat Alesya turun sendirian.
“Kenzo masih tidur” jawab Alesya sambil menarik salah satu kursi.
“Masih tidur?hah!” Ujar Dyana dengan rasa tidak percaya. “Memangnya berapa rond-“
“Eheemmm.. “Alesya langsung tersedak mendengar perkataan Dyana yang tidak ada filter.
“Apa seluruh anggota keluarga mereka tidak memiliki kemampuan untuk memfilter kata-kata yang keluar dari mulut mereka?’ Gumam Aleysa dalam hati.
Dyana yang melihat Alesya tersedak sadar bahwa perkataannya barusan tidak seharusnya ia katakan di depan Skala. Untung dia segera mengerem mulutnya untuk bicara.
”Eheem.. maksud ku- heemm..berapa...berapa haah... jam berapa kalian pulang semalam dari pesta adik mu?” Ujar Dyana sambil memperlihatkan giginya yang putih berjejer.
“Yaa tuhan kenapa kalau berbohong tanpa motivasi itu sangat sulit?” Dyana ingat sewaktu dia berbohong di depan Alesya dengan imbalan mobil keluaran terbaru semuanya terasa lancar jaya tanpa hambatan.
Wajah Alesya bersemu. “Apakah Dyana mengetahui sesuatu?”batin Alesya.
Alesya kembali mencoba mengingat kejadian ketika ia dan Kenzo pulang tadi malam. Seingat Alesya tidak ada satu orang pun di ruangan ini ketika ia dan Kenzo berc*uman. Alesya yakin Kenzo sudah menyuruh semua pelayan untuk meninggalkan rumah utama. Dan hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu. “apakah Dyana ada di ruangan ini semalam sebelum ia dan Kenzo naik ke atas?” Wajah Alesya menjadi semakin bersemu
Mungkin tepatnya sudah tidak tepat dikatakan bersemu kali ini wajah nya pasti udah memerah seperti buah tomat.
“Mommy..wajah mu kenapa?” tanya Skala khawatir melihat wajah Alesya sangat merah. “apakah kau sakit mom?” Skala berdiri dan memegang dahi Alesya.
“Kau tidak perlu khawatir Skala. Mommy mu baik-baik saja.” Ujar Dyana.
"Aku bahkan yakin mommy mu sangat baik pagi ini.” Lanjut Dyana sambil tersenyum dan melanjutkan memakan sarapannya.
“benarkah?” Skala bertanya sekali lagi untuk memastikan. Sebab ketika ia memegang dahi Alesya, ia memang tidak merasakan apapun.
“Percaya pada ku.” Jawab Dyana yakin.
“Aku baik-baik saja Ska.. kembali ke kursi mu.” Ucap Alesya. Kini Alesya tidak sanggup untuk melihat Dyana. Alesya yakin Dyana melihat semua hal yang terjadi di ruangan ini.”Hancur sudah harga dirinya di hadapan sang bibi.
“tenang lah Alesya, aku hanya melihat part I nya saja lalu aku putuskan untuk kembali ke kamar ku.” Jelas Dyana enteng membuat Alesya semakin malu.
“Oo.. iya, katakan pada Kenzo jika ia sudah bangun nanti walau aku ragu ia akan bangun jam berapa, bahwa aku harus pergi ke rumah kenalan ibu ku. Ibu ku memintakan untuk mengantarkan sebuah dokumen yang ia kirim dari Australia ke teman nya. Kebetulan temannya tinggal di kota ini.” Ujar Dyana. Semangatnya tadi ketika membercandai Alesya tiba-tiba hilang mengingat ia harus ke rumah teman ibu nya. Bukannya Dyana tidak tahu maksud dari ibunya memintanya untuk datang ke rumah temannya. Apa lagi kalau bukan perjodohan. Lagi pula kalau ia bisa mengirimkan dokumen itu melalui email ke Dyana, tentu saja ia bisa melakukan hal yang sama pada temannya. Ini semua tidak lebih dari akal-akalan ibunya saja. Namun apa mau dikata, Dyana tidak bisa menolak. Sebab menentang sang ibu sama saja pemutusan anggaran rumah tangganya. Jadi mau tidak mau demi kehidupan ala sosialita yang tidak akan pernah sanggup ia gapai hanya dengan mengandalkan gajinya sebagai seorang live coach untuk permasalahan sebuah perusahaan, Dyana memutuskan untuk pergi ke rumah teman ibu nya.
“Grandma, aku ikut ya?” Ujar Skala. Dia sudah mulai bosan berada di rumah sedangkan untuk kembali ke sekolah Kenzo masih melarangnya. Jadi terpaksa untuk sementara Skala belajar secara mandiri melalui tugas-tugas di rumah. Kenzo juga tidak membolehkan siapapun datang. Kenzo khawatir nanti akan ada yang datang menyamar dan menculik Skala sekali lagi.
“Aku sih tidak keberatan selama mommy mu mengizinkannya.” Ucap Dyana.
“sebaiknya kau meminta izin ke daddy mu dulu Skala. Tapi sayangnya ia masih tidur.” Lanjut Alesya.
“Aku hanya akan pergi bersama grandma, mom. Come on.” Skala sebenarnya juga tidak ingin di rumah. Feeling nya mengatakan mommy dan daddy nya sudah berbaikan. Sebab mereka tidur di kamar yang sama seperti sebelumnya. Jadi dia ingin memberikan waktu lebih bagi orang tua nya untuk berdua saja hari ini di rumah.
__ADS_1
“Baiklah..tapi aku akan meminta beberapa orang untuk mengawasi kalian. Aku takut ada orang yang akan berbuat jahat lagi pada kita.” Putus Alesya akhirnya.
“Baiklah. Kau atur saja Alesya.” Ujar Dyana.
“kau sudah siap sarapan Skala? Kalau sudah siap segera ganti baju mu dan kita akan segera berangkat.” Instruksi Dyana.
Skala pun menggegaskan makannya. Setelah ia selesai ia segera naik ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
“tenang saja Alesya, aku akan menjaga nya. Dia adalah cucu ku.” Dyana mencoba meyakinkan Alesya. Dyana tahu Alesya masih trauma untuk membiarkan Skala sendirian atau pun keluar.
Alesya mengangguk dan tersenyum.
“lalu bagaimana hubungan mu dengan Kenzo?” Dyana kembali membuka mulut yang tanpa filter itu.
“Aku-" Alesya menarik nafas dalam dan melanjutkan ucapannya.”Aku dan Kenzo memutuskan untuk tetap menjalani pernikahan kami ini selayaknya pasangan normal lainnya di luar sana.” Alesya berucap sambil melirik ke kiri dan ke kanan.
“Aku senang mendengarnya. Akhirnya kau bisa mengikat hati Kenzo yang seperti kehilangan arah itu.” Ujar Dyana.
“Tanpa arah? Maksud mu?”Tanya Alesya penasaran.
“kau tau Alesya, ada banyak wanita di luar sana yang mengejar -ngejar Kenzo. Jika Kenzo mau maka tipe wanita seperti apapun bisa dalam hitungannya detik ia dapatkan. Mau yang muda? Mau tua? Mau yang matang? Setengah matang? Maka Kenzo cukup menjentikkan jarinya seperti ini.” Dyana pun ikut menjentikkan jarinya.
“lalu..?” Alesya merasa sangat penasaran alasan Kenzo masih sendiri hingga bertemu dengan dirinya.
“katakan lah ada sebuah insiden dan membuat Kenzo merasa harus bertanggung jawab pada seorang gadis. Aku tidak tahu apakah itu rasa bersalah atau apa pun itu, setelah One night stand dengan gadis itu Kenzo menjadi dingin dengan wanita-wanita yang ada disekelilingnya. Maksud ku ponakan ku itu memang sudah dingin juga sebelumnya dengan wanita-wanita yang mengejar dan memuja nya hanya saja sejak kejadian itu dia menjadi lebih dingin. Bahkan aku dan ayah Albert sempat mengira Kenzo menyukai Jack andaikan aku tidak dengar sendiri alasannya dari Kenzo.” Jelas Dyana panjang kali lebar. Dyana tidak menyadari dampak ceritanya yang terlalu jujur itu pada Alesya. Alesya yang tadi nya sudah berbunga-bunga sebab mengira dirinya adalah satu-satunya wanita di dalam hati dan pikiran Kenzo kini malah merasa hatinya seperti akan mengupas kulit bawang lagi.
Dyana yang pada dasarnya tidak peka, benar-benar tidak tahu kalau penjelasannya barusan akan menyebabkan permasalahan baru dalam hubungan Kenzo dan Alesya yang baru saja dimulai.
“Aku sudah siap.”Seru Skala sambil menuruni tangga.
“Alesya!! Aku dan Skala pergi dulu ya. Aku akan membawa beberapa bodyguard.” Dyana pun pergi tanpa terlalu memperhatikan air muka Alesya yang sudah tidak lagi sama seperti tadi.
Alesya yang sudah kehilangan nafsu makannya menyudahi sarapannya pagi itu. Dia naik ke atas sebentar untuk mengambil tas dan ponselnya. Dilihatnya Kenzo masih tertidur. Lalu Alesya mendengus kesal dalam hati nya. “Kini aku tahu perasaan apa yang aku rasakan pagi tadi ketika melihatnya tertidur pulas, aku merasakan dia sama dengan seperti pria yang menghabiskan one night stand dengan ku delapan tahun lalu. Sama-sama brengsek!!!” Gumam Alesya dan bergegas keluar dari kamar mereka.
Alesya mengambil kunci mobil dan mengendarai sendiri mobilnya ke kantor.
Jalanan yang macet dan hatinya kesal mengetahui tentang Kenzo yang menyimpan seorang di hatinya selain dirinya membuat Alesya kesal sendiri. Lalu tanpa sadar...
“Ya tuhan!! Apa lagi ini!!!’ Gumam Alesya tak berdaya. Haruskah malam yang indah berakhir dengan pagi yang penuh kesialan seperti ini?
Alesya segera keluar dari mobilnya. Dia tahu dia yang salah dalam kasus ini sebab iya menyetir dengan pikiran yang terbang entah kemana.
“maafkan aku.” Ujar Alesya begitu yang punya mobil keluar dari mobil itu. “berikan saja nomor rekening mu, aku akan mentransferkan biaya perbaikannya sekarang juga.” Alesya tidak ingin berlama-lama di jalan dalam kondisi seperti ini.
Ternyata pemilik mobil itu adalah seorang laki-laki. Jika di lihat dari parasnya maka umur nya pasti sekitaran akhir tiga puluhan atau awal empat puluhan. Tapi dari gaya berpakaiannya dan ditunjang dengan tubuh yang tinggi dan ramping membuatnya seperti baru berumur tiga puluhan.
Pria itu membuka kacamata yang ia kenakan. Dia melihat Alesya dengan seksama. Kemudian pria itu tersenyum. “Apakah kau seorang teknisi mobil?” tanyanya pada Alesya.
“hah..?” Alesya terbengong sebab tidak paham maksud perkataan si pria yang mobilnya ditabrak oleh Alesya itu.
Pria itu tersenyum lagi. Bahkan senyumnya kali ini lebih manis dari pada senyumnya tadi. “Aku bertanya, apakah seorang teknisi mobil? Atau seorang montir?” Ulang pria itu.
Dengan wajah cemberut Alesya menggelengkan kepalanya.
“Imut sekali wanita ini.” Gumam si pria. Dia malah gemas melihat ekspresi wajah Alesya yang antara bersalah, takut dan bingung.
“Kalau begitu bagaimana kau bisa memprediksikan estimasi biaya perbaikan mobil ku ini?” lanjut di pria pada Alesya.
“Oo.. kalau begitu, kita panggilkan saja derek dan minta mobil mu diantarkan ke bengkel. Lalu berikan saja nomer ponsel ku. Jadi begitu mobil mu selesai maka mereka akan menghubungi ku dan aku yang akan membayar semua biaya nya.” Jelas Alesya.
“Good Idea. Aku setuju.”Ujar si pria. Lalu pria itu tanpa basa basi ataupun permisi menyelonong masuk ke mobil Alesya.
Alesya kontan kaget melihat pria yang sama sekali tidak ia kenal masuk ke mobilnya tanpa permisi.
“Mengapa kau masuk ke mobil ku?” tanya Alesya dari pintu mobil yang ada disebelahnya.
“Tentu saja kau juga harus bertanggung jawab pada ku. Kau tidak bermaksud hanya akan bertanggung jawab pada mobil ku kan?” ungkap si pria dengan wajah yang polos.
__ADS_1
“Aku akan memanggilkan taxi untuk mu. Dan jika perlu aku akan membayarkan ongkos taxi mu.” Ujar Alesya dengan cepat menelpon layanan taxi online.
Pria itu dengan sigap mengambil ponsel Alesya. “Heeiii!! Apa yang kau lakukan! Cepat kembalikan ponsel ku.” Seru Alesya, tidak terima pria itu mengambil ponselnya.
“Nona!! Aku ini ada urusan yang sangat mendesak. Aku akan terlambat jika harus menunggu taxi online mu datang kemari. Jadi sebagai rasa pertanggung jawaban mu, bukan kah sebaiknya kau mengantarkan ku sampai ke tempat tujuan ku?’ Ujar si pria sambil menahan ponsel Alesya.
Alesya merasa hari nya benar-benar buruk. Apakah hari yang buruk ini terjadi sebab ia terlalu bahagia semalam. Alesya pernah mendengar orang-orang berkata tidak baik apabila kita terlalu bahagia atau terlalu senang untuk sesuatu. Alesya merasa semua hal buruk yang beruntun ini sebab ia terlalu bahagia tadi malam.
“Aku akan menahan ponsel mu hingga kau mengantarkan ku ke tempat tujuan ku.”Pria itu memperbaiki posisi duduknya.
Alesya mengusap kasar wajahnya.”Siaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal!!!”Pekik nya dalam hati.
Mau tidak mau akhirnya Alesya masuk ke dalam mobil. “cepat kembalikan ponsel ku sebab aku ingin menelpon bengkel untuk menjemput mobil mu.”Ujar Alesya, lemas.
“Aku sudah menelpon bengkel sebelum keluar dari mobil tadi.”Jawab si pria sambil tersenyum. “Aku akan meminta mu untuk menganti semua biaya perbaikannya nanti.” Si pria memencet beberapa angka di layar ponsel Alesya yang kemudian Alesya sadari itu adalah sebuah nomor ponsel. Si pria lalu memanggil nomor itu dari ponsel Aleysa. Dan benar tebakan Alesya itu adalah nomor si pria.
“Nama ku adalah Marcus.” Pria itu memperlihatkan layar ponsel Alesya yang bertuliskan Marcus.
“Siapa nama mu?” tanya Marcus sambil bersiap mengetik nama Alesya di ponsel nya.
“nama ku Alesya.” Jawab Alesya tidak bersemangat. Dirinya yang sudah telat pergi ke kantor karena ulah Kenzo kini malah jadi lebih kesiangan karena ulah laki-laki gila yang ia temui di jalan pagi ini.
“baiklah tuan Marcus, kemana saya harus mengantarkan anda? Sebab saya sendiri sudah sangat terlambat untuk datang ke kantor?” Ujar Alesya sambil terus mengemudi.
“Tolong antarkan aku ke Cafe XY di jalan z.” Jawab pria yang bernama Marcus itu.
Tanpa bertanya lebih lanjut Alesya lalu mengarahkan mobilnya ke alamat cafe yang diberitahukan oleh penumpang Alesya pagi itu.
Tidak lama akhirnya mereka pun sampai. Dan Alesya membuka kunci otomatis setiap pintu di mobil itu. Namun pria itu tidak kunjung keluar dari mobilnya. Alesya menjadi tambah frustasi. “mau apa lagi sih nih orang!!”jerit Alesya dalam hati.
“Tuan Marcus, itu adalah cafe yang anda maksudkan.” Seru Alesya sambil menunjuk ke arah cafe yang ada ada disebelah kanan Marcus.
“ya, aku tahu itu adalah cafe yang aku katakan.” Jawab marcus.
“So??” Alesya melebarkan matanya yang sudah lebar itu untuk memberikan instruksi memalui mata untuk keluar dari mobilnya.
“so??” Marcus mengulang perkataan Alesya.
“Sepertinya pria ini benar-benar pria gila!!” Sungut Alesya dalam hati. “Tadi dia minta diantar ke alamat ini sebab ia punya urusan penting. Nah begitu sampai di cafe ini dia malah belum juga turun dari mobil ku.” Gumam Alesya dalam hati.
“tuan Marcus, bukankah tadi anda mengatakan anda ada urusan penting dan saya sudah mengantarkan anda ke tempat urusan penting anda. Kalau begitu bisa anda kembalikan ponsel saya dan turun dari mobil saya? Sebab saya juga harus ke kantor.” Pinta Alesya sambil merapatkan giginya.
“Saya memang ada urusan penting. Tapi bukan ini tempatnya.” Jawab si pria membuat Alesya semakin pening. Secara otomatis, otak-otak kecil di kepala Alesya mencoba kembali merunutkan semua yang di katakan Marcus dan jawabnya tetap sama kalau cafe itu adalah jawabnya.
“Tuan, tolong jangan mempermainkan saya. Sebab saya ini juga ada urusan.”
“Saya tidak ada maksud mengerjai mu nona Alesya. Hanya saja saya singgah ke sini untuk beli secangkir coffe sebelum pergi ke tempat urusan penting yang saya katakan tadi.”
“Jadi?” Alesya semakin bingung.
“jadi kau harus turun dan minum coffee dulu dengan ku baru setelah itu kau bisa mengantarkan ku ke alamat yang tadi aku tuju.” Ujar si Pria dan keluar dari mobil.
Sebab ponsel nya disandra oleh si pria, Alesya pun terpaksa ikut turun dan minum coffee bersama si pria.
Karena semua rentetan peristiwa yang tidak mengenakan yang ia rasakan sejak sarapan hingga berakhir minum coffee bersama seorang pria gila, Alesya akhirnya tidak mengeluarkan suara sama sekali sewaktu minum coffee berdua.
Setelah acara minum coffee yang sedikit dipaksakan itu berakhir, Alesya dan Marcus kembali ke dalam mobil. "Oke... sekarang, aku akan mengantarkan mu ke tempat tujuan mu. Jika kau berani membawa ku lagi singgah ke tempat yang lain maka jangan marah jika aku mengusir mu dari mobil ku,” tegas Alesya.
Marcus hanya tersenyum dan berkata, “Kantor XXX...”
“Bukankah itu perusaan Kenzo”Batin Alesya mendengar alamat yang dikatakan Marcus.
“Ahaaa.. “ Akhirnya Alesya menyadari sesuatu,.”jangan-jangan dia adalah laki-laki yang menelpon Kenzo tadi pagi. Sebab nama yang dibaca nya di layar ponsel Kenzo ialah MARCUS. “Apakah mereka adalah orang yang sama?” batin Alesya.
“Baik, aku akan mengantarkan mu.” Alesya pun mengemudikan mobilnya ke arah perusahaan yang dikatakan Marcus yang kebetulan adalah kantor Alesya.
"Mengapa dia tidak mengatakan dari awal!!!" sungut Alesya.
__ADS_1
###
jangan lupa untuk like.. komen dan vote... 🥰🥰🥰🥰