Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 45#kejutan #2


__ADS_3

"apa kalian tidak bisa diam?" Bentak Dyana pada Marcus dan Frans yang tidak bisa tenang dari tadi. Selalu meributkan semua hal. Membuat kepala Dyana sakit.


"kau dengar itu !! Sebaiknya kau pulang saja Marcus!! kau tidak diterima disini!" Ucap Frans sini pada Marcus yang sedang duduk di depannya. Ya saat ini, Marcus dan Frans ada di kamar Dyana dan sedang duduk di sofa yang ada di kamar itu. Mereka berdua bersikeras ini menjaga Dyana padahal Dyana sudah mengusir mereka berdua berkali-kali.


"Cih!! apa kau tidak salah tuan Aksena!! Lihatlah siapa diri mu!! Kau itu bukan siapa-siapa di rumah ini! kau hanya seorang orang asing yang memaksakan diri untuk ada disini.! Ujar Marcus dengan sebuah senyum mengejek tersungging di ujung bibirnya.


"Aku berbeda dengan mu Marcus! Tante Mary langsung yang meminta ku untuk menjaga putri nya tercinta ini. Itu lah mengapa mau tidak mau aku harus tetap berada di sini untuk menemani dan menjaga Dyana." Jelas Frans yang tidak pernah ada yang tahu apakah benar Mary meminta nya untuk melakukan itu semua atau jangan-jangan itu hanya lah karangan Frans semata agar bisa tetap berada di sisi Dyana.


"Aku tidak perlu diminta oleh siapapun untuk menjaga Dyana. Dan aku juga tidak perlu izin siapa pun untuk melakukan hal itu." tegas Marcus, sombong, menunjukan bahwa dia punya hubungan spesial dengan Dyana kepada Frans.


"Ya tuhan!! apa tidak ada orang yang bisa menendang kedua laki-laki ini dari kamar ku!!!" Jerit Dyana yang sudah merasa telinga nya pusing mendengarkan perdebatan yang tidak berguna ini. Lagi pula siapa yang membutuhkan kedua orang ini disini.


"apa mungkin kau membutuhkan ku Grandma?" Tiba-tiba suara seorang bocah terdengar dari arah pintu kamar Dyana.


"Skala!!! kau kah itu?" pekik Dyana, sungguh terkejut mendengar suara cucu kesayangannya itu.


"apa aku boleh masuk grandma?" ujar Skala sambil membawa sebuket bunga di tangannya.


"tentu saja sayang!!! kemari lah aku sangat rindu pada mu!" seru Dyana menggerak-gerakkan tangannya yang dalam keadaan baik untuk mencari keberadaan Skala.


"Hi.. Ska!!" sapa Frans pada Skala. Frans tentu saja sudah mengenal Skala. Mereka bahkan sudah berjumpa beberapa kali. Berbeda dengan Marcus. Marcus sama sekali tidak pernah berjumpa dengan Skala. jadi dia hanya bisa diam dan menatap bocah itu dengan tatapan penuh selidik.


"anak siapa ini? mengapa aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat!" Pikir Marcus dalam, karena terlalu asik bertengkar dengan Frans, Marcus sampai tidak ingat kalau Skala memanggil Dyana dengan sebutan Grandma.


"Hi paman Frans! apa yang kau lakukan disini?" tanya Skala pada Frans.


"memangnya apa lagi yang harus aku lakukan disini jika tidak sedang menjada grandma mu itu!" jawab Frans, terdengar sangat bersahabat.


"grandma??" Marcus terkejut dengan perkataan Frans pada bocah kecil bernama Skala itu barusan. "Grandma, apa jangan-jangan bocah ini adalah anak Kenzo dan Alesya?" Marcus menyipitkan matanya memandang Skala dan benar !! Pantas saja wajah bocah ini terlihat sangat familiar! ternyata ini wajah sangat serupa dengan Kenzo ketika Kenzo masih kecil.

__ADS_1


Marcus langsung berdiri dan menuju ke arah Skala dengan langkah cepat nya. Digendongnya bocah itu tinggi sambil terus melihat wajah Skala dengan seksama.


"Kau benar-benar mirip dengan Kenzo!!" seru Marcus sambil tertawa. " aku tidak menyangka akan melihat Kenzo kecil hari ini." Ujar nya, sangat bahagia.


"Dyana, mengapa kau tidak pernah mengatakan kalau Kenzo benar-benar sudah memiliki seorang putra!" tukas Marcus pada Dyana.


"Kau tidak pernah bertanya hal itu pada ku." jawab Dyana, cuek.


"Hei Paman!!! cepat turun kan aku!!" Skala yang digendong tinggi-tinggi oleh Marcus meronta-ronta agar Marcus menurunkannya. Bagaimana pun Skala tidak mengenal siapa paman yang sok akrab ini.


"Ska!!" Seru Dyana. "Kau tidak boleh memanggilnya paman! sebab dia itu bukanlah paman mu! Kau harus memanggilnya kakek! sebab dia adalah adik dari kakek mu!" Jelas Dyana sambil tertawa membayangkan Marcus yang setampan itu dan se-gagah itu dipanggil kakek oleh seorang bocah. Sungguh menurun harga jual Marcus di mata wanita yang mendengarkannya.


"Kakek?" Tanya Skala heran. Dia tidak tahu kalau dia masih memiliki seorang kakek lagi dan itu pun masih terlihat sangat muda. Berbeda dengan tampilan kakek Albert dan Kakek Rodio.


"Iya kakek!"Tegas Dyana.


"tutup mulut mu Frans! ini adalah urusan keluarga. Orang luar di larang keras untuk ikut campur!" Marcus kembali memantik api pertikaian dengan Frans.


Marcus menatap Skala dengan tatapan bahagia lalu ia pun menurunkan Skala.


"Jangan terlalu cepat marah kek!! itu menunjukkan karakter asli diri mu sebagai seseorang yang sudah sepuh!" ejek Frans. Frans seakan memang menyambut gembira gong perang yang telah ditabuh oleh Marcus.


"kau benar-benar minta di hajar tuan Aksena!" Seru Marcus.


"Kemari lah kau berani."Tantang Frans sambil menyilangkan kaki nya. Dia tidak gentar sedikit pun. Lagi pun mana mungkin Marcus akan menghajar di depan Dyana dan Skala.


"Ya tuhan!!" keluh Dyana. "Kau dengar itu Ska!! Mereka persis seperti anjing dan kucing. Sejak sampai di rumah ini aku sama sekali tidak bisa beristirahat barang sedetik pun!" Gerutu Dyana.


Skala memandang jengkel pada Marcus dan Frans, lalu berkata, "Apa sebenarnya yang kalian berdua lakukan di kamar grandma Dyana? apa kalian datang untuk menjaga nya atau kalian datang untuk membuatnya tidak akan pernah sembuh dari penyakit nya?" tanya Skala dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Kalau wajah mu seperti ini kau semakin mirip dengan ayah mu Ska!" Goda Marcus pada Kenzo junior itu.


"Pantas saja grandma kesal pada kalian berdua!" Seru Skala dalam hati.


Melihat wajah Skala terlihat sangat tidak enak dipandang, Marcus pun menjawab pertanyaan Skala tadi.


"tentu saja aku datang untuk menjaga nya. Dengan background pendidikan ku di dunia medis maka aku adalah orang yang tepat untuk menjaga grandma mu saat ini. Berbeda dengan pria songong disana. Atas dasar apa dia memaksakan diri untuk berada di kamar ini." Sindir Marcus.


"kau!!" Frans benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa mendengus kesal saja mendengar perkataan Karena memang secara keterampilan tidak ada yang bisa dia lakukan disini.


"Paman Frans..." panggil Skala pada Frans. "apakah paman datang juga untuk menjaga grandma Dyana?" tanya Skala pada Frans.


"tentu saja! walaupun aku tidak ada background pendidikan sebagai seorang dokter seperti pria sombong yang berdiri di sebelah mu itu, paling tidak aku tahu bagaimana harus memperlakukan wanita dengan baik dan lembut."jawab Frans, penuh penekanan di setiap perkataannya.


Kedua pria ini membuat Skala ingin tepuk jidat. Dia tidak menyangka grandma nya yang slengean ini dapat menarik hati dua pria sekaligus.


"Wah.. grandma, kau memiliki fans fanatik disini.Keduanya bersungguh-sungguh ingin menemani dan menjaga mu!" Ujar Skala sambil menggoda Dyana.


"Diamlah SKa. Aku tidak meminta mu untuk mengomentari situasi ini."Ucap Dyana. Sudah cukup kaki dan tangan nya patah serat mata nya tidak bisa melihat saat ini, jangan sampai kepala nya pun ikut pecah karena pusing mendengar Marcus dan Frans yang bagaikan Tom and Jerry.


"Heem.. aku punya satu solusi untuk hal ini. Dimana grandma tidak perlu sakit kepala karena kedua orang ini dan mereka berdua pun tetap bisa menjaga grandma disini." Ucap Skala sambil tersenyum.


"Solusi apa yang kau punya Ska?" tanya Dyana, antara yakin dan tidak yakin dengan solusi yang ditawarkan oleh Skala.


"Solusi nya adalah......" Skala sengaja menggantung kalimat kemudian melihat wajah Marcus dan Frans bergantian, yang terlihat sedang menunggu Skala menyelesaikan kalimat.


***Bersambung


*ingat untuk tinggal kan komen mu ya zeyeng... *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.

__ADS_1


__ADS_2