
Kedua bocah itu mengendap-endap ke dalam rumah Rama yang kebetulan pintu belakang nya tidak terkunci.
Skala dan Daffa saling berpandangan untuk menentukan arah mana yang akan mereka ambil terlebih dahulu.
Skala mendongak ke atas. Daffa yang paham dengan maksud Skala pun mengangguk. Untuk saat ini hanya komunikasi melalui isyarat yang dapat mereka andalkan sebab mereka harus meminimalisir bunyi apapun yang dapat mengundang orang di dalam rumah mengetahui kedatangan mereka.
Pelan-pelan Skala dan Daffa naik ke ruang atas yang mereka yakini sebagai kamar Rama. Seingat Skala, dulu Rama pernah bercerita kalau setiap malam dia suka melihat bintang-bintang di balkon kamarnya. Berdasarkan cerita Rama yang diingat oleh Skala itulah, akhirnya Skala memutuskan untuk naik ke lantai atas karena balkon rumah tidak mungkin ada di lantai bawah.
Tapi permasalahan baru muncul.
Sesampainya mereka di atas, ternyata di atas ada dua kamar. Skala dan Daffa pun kembali saling pandang.
Kesempatan mereka untuk menebak benar ini hanya lah lima puluh persen saja. Jadi bisa jadi lima puluh persennya lagi salah.
Skala mendapatkan ide.
Skala mengambil ponselnya dan mengecilkan volume dari ponsel itu. Lalu Skala menekan nomor Rama, berharap ponsel itu ada di salah satu kamar ini dan bunyi terdengar sampai ke luar kamar.
Dan syukurnya setelah Skala menekan nomor Rama, ponsel itu berbunyi di salah satu kamar.
“Hallo...” jawab Rama, pelan.
Skala yang mendengar suara Rama langsung mematikan telpon itu dan menuliskan pesan singkat untuk Rama.
__ADS_1
“kau ada di dalam kamar Rama? Apa kau sendiri?” Tulis Skala sambil sesekali melihat ke arah tangga bawah.
“Ya...” jawab Rama singkat di pesan itu.
“Buka kan pintu kamar mu Rama.” Balas Skala kemudian.
Rama yang di dalam kamar bingung dengan maksud pesan yang dikirim oleh Skala. Untuk sesaat dia sempat ragu untuk menuruti perkataan Skala untuk membuka pintu kamar nya sebab sang ayah sudah melarang nya untuk keluar dari kamar.
Tapi entah apa yang mendorong Rama, akhirnya Rama membuka pintu dan –
“Ska?? Daffa??!! Teriaknya tertahan.
“Apa yang kalian lakukan disini?” Ujar nya sambil melihat ke arah bawah tangga, takut kalau ayah nya atau perempuan jahat itu naik ke atas.
Rama pun membawa Skala dan Daffa masuk ke kamar nya.
Rama mengunci pintu kamar itu agar ayah nya tidak bisa tiba-tiba masuk.
“Apa yang kalian berdua lakukan disini? Bukan kah aku sudah menyuruh kalian untuk lari?! Ayah ku itu bukan pria baik-baik! Apa lagi wanita tua yang ada bersama nya saat ini. Aku yakin dia pasti wanita yang sangat jahat. Sebab dia lah yang menyuruh ayah ku untuk menarik kalian ke dalam rumah tadi lalu dia berniat membunuh mu Skala. “ Ujar Rama.
“membunuh Skala?” tanya Daffa, yang tidak paham. Mengapa ada seorang wanita yang tidak di kenal berkeinginan untuk membunuh Skala, bocah yang baru pertama kali berkunjung ke rumah nya.
“entahlah, aku tidak tahu. Apa mungkin karena aku terlalu tampan makanya dia ingin membunuh ku?” Ujar Skala asal dan sungguh tidak nyambung.
__ADS_1
“Sudah ..sudah!” Daffa langsung memotong aksi kenarsisan Skala yang kalau di biarkan akan membuat dirinya dan Rama muntah darah mendengarnya.
“Rama, apakah kau tetap akan berada di rumah ini? aku rasa sebaiknya kau ikut bersama kamu keluar dari rumah ini! tempat ini tidak aman untuk mu Rama.” Ujar Daffa.
“Daffa benar Rama. Kau harus ikut bersama kami, sebab ayah ku akan menangkap wanita itu dan ayah mu.” Sebut Skala dengan wajah tidak enak.
“apa ayah ku dan ayah mu bermusuhan Skala?” Tanya Rama.
“Aku tidak tahu Rama. Tapi kalau seandainya yang kau katakan tadi benar, maka musuh sesungguh nya ayah ku bukanlah ayah mu melainkan wanita tua yang bersama ayah mu. Bukankah tadi kau mengatakan kalau wanita itu ingin membunuh ku? Aku rasa dia melakukan itu karena dia punya masalah dengan ayah ku.” Jelas Skala.
“Sebenarnya dia bukan lah ayah ku. Dia adalah adik ayah ku, atau lebih tepatnya adik sepupu ayah ku. Dia yang menjaga ku karena seluruh keluarga kami sudah tidak ada lagi yang masih hidup. Semua nya sudah meninggal dalam kecelakaan. Meski pun dia tidak pernah baik pada ku dan selalu menganggap ku adalah bebannya, aku tetap sayang pada nya Skala, Daffa. Aku harap ayah mu tidak menghabisi nyawa keluarga terakhir yang aku miliki.” Ujar Rama yang terdengar lirih.
“Sebentar, aku akan mengirimi ayah ku pesan.” Ucap Skala yang untuk sesaat lupa kalau ponsel ayah nya tidak bisa dia hubungi.
“Skala bukannya ponsel ayah mu mati?” Tanya Daffa mengingatkan Skala.
“Kau benar. Heeeemm...”Skala berpikir sejenak lalu dia ingat...
“Paman Jack! kenapa aku tidak menghubungi ponsel paman Jack?” Seru Skala dengan raut wajah bahagia karena akhirnya tahu kemana dia harus menelpon.
Tidak ingin buang-buang waktu Skala pun mengirimi Jack pesan yang berisi
“Paman Jack., aku dan Daffa saat ini berada di dalam rumah Rama yang menjadi target penangkapan kalian. Kami bertiga ada di lantai atas sedangkan target yang kalian incar ada di lantai atas. Datang lah segera.”
__ADS_1