Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 39#Karma Agnes#2


__ADS_3

Hari itu Marcus berencana mengunjungi tuan Puji untuk mengantarkan langsung revisian bekas kerja sama antara dirinya dan tuan Puji. Memang Marcus tidak mengabari tuan Puji jika ia ingin datang menemui tuan Puji pagi ini. Karena dalam pikiran Marcus ini tidak akan memakan waktu yang lama, toh hanya sekedar memberikan revisian berkas kerja sama yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.


Setelah menempuh jarak yang cukup jauh dari hotel milik Marcus ke kediaman tuan Puji, akhirnya Marcus pun sampai di depan kediaman tuan Puji itu. Hanya saja ketika Marcus sampai di gerbang nan tinggi dan besar itu, Marcus melihat seorang wanita muda sedang sibuk membongkar isi kopernya.


"siapa itu?" Gumam Marcus pelan dari dalam mobil.


Marcus penasaran siapa wanita yang menghalangi jalannya. Kalau dari dalam mobil, Marcus tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang duduk di depan gerbang itu. Yang terlihat hanya seorang wanita sedang mencari sesuatu dari koper yang ada di depannya. Marcus belum pernah melihat hal yang seperti ini. Hanya dua hal yang muncul dalam pikiran Marcus saat itu. Yang pertama benda yang dicari oleh wanita itu adalah benda yang sangat berharga atau yang kedua si wanita pasti sudah tidak waras sehingga tidak malu membongkar koper nya di depan rumah orang seperti itu serta meletakkan semua barangnya begitu saja.


Marcus berencana untuk membunyikan klakson mobilnya agar si wanita pindah dan tidak menghalangi jalan masuknya ke dalam rumah tuan Puji. Tapi Marcus berpikir kalau itu kurang sopan untuk di lakukan. Akhirnya mau tidak mau, Marcus pun keluar dan mobilnya dan menghampiri wanita yang sedang asik membongkar koper itu. Dia berencana untuk meminta wanita itu agar ke tepi.


“Permisi!! Bisa kah kau pindah ke tepi nona?” Ujar Marcus dengan sopan.


Si wanita itu pun menoleh ke arah Marcus, dengan wajah sedikit memerah, mungkin karena ia merasa malu.


“agnes? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Marcus pada wanita di depannya yang rupanya adalah Agnez, istri muda tuan Puji.


Agnez pun mendongak melihat siapa gerangan orang yang memanggil nya. “Dia-“ gumam Agnez dalam hati.


“Kau masih ingat aku kan?” Seru Marcus dan mendekat ke arah Agnez.

__ADS_1


“kau dokter yang merawat ku waktu itu kan?” ujar Agnez pelan, sambil mengambil satu persatu barangnya yang berserakan di jalanan dan memasukannya ke dalam koper.


“apa yang kau lakukan disini Agnez? Dan kenapa semua berserakan di isini?”Marcus berjongkok berniat membantu Agnez untuk memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.


“jangan sentuh!!” ucap Agnez cepat dan mengambil barang yang akan di sentuh oleh Marcus.


Marcus menarik tangannya, kikuk. “maaf.” Ujar Marcus pelan.


Agnez tersenyum kaku pada Marcus. “apa aku minta tolong sama dia saja?” pikir Agnez dalam hati sebab sedari tadi dia mencari uang di dalam kopernya tapi satu peser pun tidak ia jumpai.


“tuan-?” tanya Agnez ragu. Dia lupa siapa nama laki-laki yang sedang berbicara dengan nya saat ini.


“tuan, bisa aku meminjam uang mu untuk ongkos taxi?” Agnez terpaksa menyingkirkan rasa malu nya. Kalau dia tidak meminjam uang itu pada Marcus, kepada siapa lagi dia harus meminjam uang agar dapat pergi dari sana.


“uang?” tanya Marcus heran. Bagaimana mungkin Agnez sampai tidak punya uang sama sekali.


Agnez mengangguk dengan penuh perasaan tidak enak. “Singkirkan rasa malu dan gengsi mu Agnez!! Saat ini yang terpenting adalah bagaimana untuk pergi dari sini secepatnya.” Gumam Agnez dalam hati.


“kau butuh berapa?” ujar Marcus sambil mengeluarkan dompetnya.

__ADS_1


Agnez yang ditanya begitu oleh Marcus malah bingung berapa jumlah uang yang ia butuhkan. “Aku tidak tahu.” Jawabnya pelan. Sebab dia memang tidak tahu berapa ongkos taxi yang dia butuhkan.


“memang nya kau mau kemana Agnez? Biar aku saja yang mengantarkan mu.” Ujar Marcus. “ Jadi kau tidak perlu naik taxi lagi. Lagi pula kau kan masih sakit, Jadi lebih aman jika kau pergi bersama ku.” Terang Marcus.


“bukannya kau ingin masuk ke dalam?” Tanya Agnez, ragu-ragu.


“Heem.. tidak terlalu mendesak. Aku bisa kembali lagi ke sini nanti.” Jawab Marcus. Toh memang benar, dia tidak terburu-buru untuk bertemu dengan tuan Puji.


Agnez diam sesaat,”apa aku harus menerima penawarannya?” Pikir Agnez dalam hati.


Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Agnez memutuskan untuk menerima bantuan yang ditawarkan oleh Marcus.


“kalau kau tidak keberatan, aku mohon bantuan mu untuk mengantarkan ku untuk pulang ke rumah ku.” Sebenarnya Agnez bingung mau pulang kemana. Dia tidak tahu apakah rumah yang dulu dia tinggali masih bisa menjadi tempat untuk dia tuju. Tapi karena tidak tahu harus kemana maka Agnez pun diminta di antarkan ke rumahnya yang dulu saja.


“rumah mu di mana Agnez?” Tanya Marcus sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Agnez berdiri.


“Aku tinggal di komplek Gading.” Jawab Agnez lalu berdiri dengan bantuan Marcus.


“kalau begitu, ayo aku antar kau ke rumah mu nona Agnez.”

__ADS_1


***bersambung...


__ADS_2