
“what!! Dia mematikan telpon begitu saja?”Seru Marcus sambil melihat ponsel yang ada di tangannya.
“berani sekali kau Dyana!!!” gumam Marcus geram membayangkan Dyana yang rela mematikan ponsel hanya demi si Frans itu.
Marcus segera menelpon Dyana kembali tapi sayangnya telpon dari Marcus tidak di angkat oleh Dyana. Marcus bahkan menelpon Dyana berkali-kali tapi tidak juga kunjung diangkat oleh Dyana.
Pikiran Marcus saat ini sudah mulai melakukan perjalanan traveloka dimana dalam imajinasinya saat ini dia melihat Dyana sedang mengelap tubuh Frans dengan kedua tangan Dyana.
“kenapa aku malah menyarankan dia untuk mengelap ruam di tubuh Frans!!!” Marcus memukul-mukul stir mobilnya karena kesal. Padahal dia tahu kadang Dyana itu agak tulalit dan tidak bisa menyaring apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya.
Kini Marcus mengurut-ngurut pelipis kirinya sambil berpikir apa yang sebaiknya ia lakukan.
“tidak bisa!! Aku harus mencegahnya melakukan itu!!!” Seru Marcus dengan penuh keyakinan. Namun karena ia tidak tahu dimana si Frans-Frans itu tinggal maka Marcus pun harus menelpon asistennya yang bernama Dicky untuk mencari alamat rumah si Frans-Frans itu.
Marcus langsung menelpon asistennya untuk mencari alamat rumah Irfrans Aksena.
“Dicky, segera carikan alamat rumah Irfrans Aksena dan kirimkan ke ponsel ku.” Ujar Marcus pada sang asisten dengan nada dingin.
“Irfran Aksena?” terdengar sepertinya sang Asisten seperti berpikir setelah mendengar nama Irfran Aksena. “ Maksud anda putra tunggal keluarga Aksena?”tanya sang asisten untuk memastikan apakah orang yang dicari oleh tuannya benar adalah salah satu anak keluarga terkemuka di kota itu.
“memang nya ada berapa banyak orang di kota ini yang bernama Irfrans Aksena hah?” Ujar Marcus dengan nada yang sudah naik satu oktaf.
“tapi seingat ku kita tidak ada urusan bisnis atau pun planning bisnis dengan keluarga Aksena tuan.” Ungkap Dicky. Sebagai Asisten Marcus sedikit banyaknya Dicky mengetahui mengenai beberapa keluarga terkenal di kota A dan apa bisnis yang mereka geluti. Hal itu tentu saja membuat Dicky mengenal keluarga Aksena sebagai salah satu keluarga terkemuka di kota itu. Dan seingat Dicky, asistennya Marcus ini, bisnis keluarga Akesena tidak ada korelasi nya dengan bisnis yang dijalankan oleh tuannya Marcus.
“Sejak kapan pertambangan ada hubungannya dengan perhotelan?” Pikir Dicky dalam hati tapi dia segan untuk mengatakannya. Memangnya siapa dia, berani mencampuri urusan tuannya.
__ADS_1
“memangnya ada aku bilang kalau aku akan mencari alamat rumahnya karena aku ingin berbisnis dengan dia?” Kini suara Marcus terdengar naik satu oktaf lagi, membuat Dicky menelan saliva nya karena sebagai bos, Marcus termasuk jarang meninggikan suaranya pada Dicky selama ini.
“huft!! sensi amat tuan Marcus hari ini? Apa makan siangnya bersama tuan Puji tidak berjalan lancar?” tebak Dicky dalam hati sebab merasa ada hal yang berbeda dari diri tuannya hari ini.
“heeem maaf tuan, saya tidak bermaksud untuk mencampuri urusan tuan. Baiklah tuan akan segera saya carikan. Tapi kalau boleh tahu ada urusan apa tuan mencari alamat rumah tuan Ifrrans Aksena karena asistennya tuan Frans pasti akan bertanya hal itu pada saya ketika saya menanyakan alamat tuan Aksena pada nya.”Ungkap Dicky hati-hati.
“Aku ingin-“
Marcus tidak jadi meneruskan kata-katanya. Sebab ketika ia ingin mengatakan pada Dicky alasan mengapa ia ingin ke rumah Irfrans Aksena tiba-tiba kepala nya seperti di pukul oleh gong besar yang menormalkan kembali jalan pikirannya. “Untuk apa aku kesana? Apa aku kesana untuk membawa Dyana pergi dari rumah itu?Siapa aku?apa hak ku melarangnya berada disana dan melakukan hal yang ingin dia lakukan disana?” semua pertanyaan itu muncul begitu saja di dalam pikiran Marcus seakan membuat ia sadar apa posisinya dan Dyana saat ini. Toh saat ini mereka sama sekali tidak terikat oleh ikatan apapun yang dapat memberikan Marcus kuasa untuk melakukan hal itu.
“tuan?” panggil Dicky, sebab tiba-tiba suara tuannya tidak terdengar lagi.
“Tuan???!!!” Dicky memanggil Marcus sekali lagi tapi kali ini nada Dicky yang naik satu oktaf.
“Ya!! Aku dengar!” Ujar Marcus dengan suara beratnya yang kembali normal. Kali ini Dicky merasa kalau tuannya sudah kembali normal.
“Tidak jadi saja!” jawab Marcus sambil kembali melepaskan rem tangan mobilnya. Kini dia siap untuk melanjutkan perjalanan pulang ke tempat tinggalnya.
“Maksud tuan?” Dicky jadi bingung dengan esmosi tuannya yang pancaroba seperti itu.
“karena kau terlalu banyak tanya maka aku tidak jadi meminta mu mencarikan alamat nya si Frans Frans itu itu!!”
Marcus pun langung mematikan ponselnya dan melemparkannya ke kursi disebelahnya.
************
__ADS_1
“Nona ini air hangat dan handuk kecilnya.” Si pelayan menyerahkan sebaskom kecil air hangat dan handuk kecil bersih ke Dyana.
Dyana pun mengambil baksom yang berisi air hangat itu beserta handuk kecil dari tangan si pelayan. Lalu ia meletakan baksom itu di atas lemari kecil di samping tempat tidur Frans. Dan kemudian Dyana pun memasukan handuk itu ke dalam baskom yang berisi air hangat itu.
Dalam pikiran Dyana biarkan saja air hangat itu menyerap ke dalam handuk kecil sembari ia berpikir bagaimana cara mengelap tubuh Frans.
“aku harus bagaimana mengelap si Frans!!” Dyana menatap Frans dari ujung kaki hingga ujung kepala lalu balik ke ujung kaki lagi.
Dalam pikiran Dyana kalau untuk tangan dan tubuh Frans mungkin dia masih bisa melakukannya. Tapi untuk pinggang ke bawah bagaimana?” Sekarang kepala Dyana malah jadi nyut-nyut karena hal ini.
Tiba-tiba Dyana ingat kalau selain diri nya di kamar itu juga ada pelayannya Frans kan? Dyana pun langsung menoleh pada pelayan yang ada disebelahnya dengan sebuah tatapan yang penuh arti.
Si pelayan yang mengerti maksud tatapan Dyana malah nyengir kuda sambil mengatakan,”maaf nona!! Tuan Frans tidak suka kalau kami memegang tubuhnya.”
^^^“What!! Kalau pelayan yang dua puluh empat jam bersama dia saja tidak diperbolehkannya menyentuhnya, apalagi aku orang luar yang benar-benar luar....luaaar luaaaaaaaaar banget!!lebih tepatnya luar biasa dia benci.” Gumam Dyana sambil memanyunkan bibirnya dan memandang Frans dengan tatapan bengong yang hakiki.^^^
“bik!!” Panggil Dyana pada pelayan di sampingnya yang ternyata entah sejak kapan tidak lagi ada disampingnya.
Dyana kembali terbengong sambil berkata,”sejak kapan si bibik kabur?!” mata Dyana hanya bisa mengedip beberapa kali sambil melihat tempat kosong di sebelahnya.
Kini di kamar itu hanya ada Dyana dan Frans yang sedang terbaring di atas tempat tidur.
“Semakin cepat semakin baik!!!!!” Dyana sudah menguatkan tekadnya. Sebaiknya ia lakukan semuanya sekarang sebelum Frans keburu bangun karena bisa panjang ceritanya kalau sampai Frans terbangun saat itu mengelap tubuh Frans.
Tanpa pikir panjang, Dyana pun membuka kancing baju Frans satu persatu, dimulai dari kancing piyama paling bawah dan berlahan naik ke kancing piayama yang berada di leher Frans. Dan alangkah kaget nya Dyana ketika...
__ADS_1
***bersambung
heeheheh.. hayooo siapa yang tahu apa yang akan terjadi...? buruan komen di bawah... 😁😁😁