Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 44# ujian Cinta #28


__ADS_3

Dokter-dokter mulai berdatangan ke ruang ICU itu.


"Ada apa?" tanya dokter yang tadi meminta Kenzo untuk menemui Mai di dalam ruang ICU itu.


"Aku merasakan kalau jari tangannya bergerak. Dan lihatlah..."Kenzo menunjuk ke arah sudut mata Mai yang meneteskan air mata.


"Sudah ku duga!! Kekuatan cinta selalu mengalahkan kekuatan medis yang telah aku pelajari belasan tahun lama nya."Ucap dokter yang sering di panggil dokter Arya itu.


"Kau boleh keluar.. dari sini percayakan semuanya dengan kekuatan medis yang aku miliki." Dari cara nya berbicara dengan pasien atau keluarga pasien sangat kentara kau dokter Arya ini sangat suka berkelakar.


Kenzo mengangguk dan menuruti perkataan dokter Arya.


"Baiklah. Aku akan menunggu di luar." Jawab Kenzo lalu keluar dari ruangan ICU itu.


"Hai.. nona cantik!! Kau pasti ingin segera sadar karena kau tahu sang kekasih sedang menunggu mu untuk sadar ya?" Dokter Arya berbicara pada Mai sambil memeriksa keadaan Mai dari alat-alat yang terpasang di tubuh Mai.


"Kalau kau begitu mencintai nya, kau jangan tidur terlalu lama di sini. Kasihan kekasih dan ayah mu yang menunggu kau bangun." Lanjut dokter Arya, dan saat itu itu jari Mai kembali bergerak.


"Gadis pintar!! kau merespons perkataan ku!" ucap dokter Arya sambil merasa senang karena Mai baru saja menggerakkan kembali jari nya.


"seperti nya keinginan mu untuk hidup sangat besar gadis cantik." Kini dokter Arya memeriksa mata Mai. Di senternya mata itu dengan senter ajaib ala Doraemon yang dimiliki nya.


"Heeem... "Gumam nya begitu saja.


"Salah seorang dari kalian aku minta untuk stand by disini. Aku rasa gadis ini tidak lama lagi akan terbangun dari koma nya." Perintah dokter Arta pada salah dokter muda yang menjadi asisten nya.


"Baik dokter." Jawab dokter Tio.

__ADS_1


"Aku akan keluar dulu. Langsung kabari aku kalau ada sesuatu yang terjadi pada pasien ini." ujar Dokter Arya pada dokter Tio yang akan berjaga disana.


"kau tenang saja dok. Aku akan langsung menghubungi mu." Jawab dokter Tio dengan santainya. Meski dokter Arya adalah dokter senior bukan berarti dokter Arya adah dokter tua. Dokter Arya termasuk pada usia pria matang. Umur nya yang sudah empat puluh tahunan lebih itu sama sekali tidak tergambar dari wajah tampannya yang masih terlihat muda. Bahkan jika dibandingkan dengan para asisten nya, wajah dokter Arya terlihat jauh lebih muda dari mereka semua.


"Baiklah gadis cantik, aku keluar dulu. Lekas lah membuka mata mu jika kau mendengar semua perkataan ku tadi." Setelah mengatakan itu pada Mai, dokter Arya pun keluar dari ruangan ICU itu.


ketika dokter Arya keluar dia hanya melihat ayah Mai yang ada di sana."dimana pacar gadis tadi?" gumam nya dalam hati,heran karena tidka melihat Kenzo bersama Romano di luar ruangan itu. Tapi sebagai dokter apa urusannya untuk kepo kemana perginya pacar dari pasien nya itu. Mana tau dia pergi ke toilet karena kebelet atau bisa saja dia pergi ke kantin karena lapar. Kebetulan kantin di rumah sakit itu memang buka dua puluh empat jam. Mengingat ini adalah rumah sakit terbesar di kota A, sehingga hampir dua puluh empat jam tetap ada yang wara wiri di dalam rumah sakit ini.


Namun dimana Kenzo sebenarnya?


***


Di tempat lain, Alesya terus menerus menggenggam tangan Dyana erat. Air matanya tidak henti-hentinya mengalir melihat kondisi bibi nya ini. Sesekali terlihat Alesya menghapus air mata yang jatuh di pipi nya. Alesya berusaha tidak mengeluarkan suara tangisnya.Dia takut Dyana mendengar dia menangis saat itu.


"kleek.." pintu ruangan itu terbuka dan terlihat Kenzo dengan nafas yang tidak beraturan di depan pintu itu.


Alesya menoleh ke arah Kenzo dengan wajah penuh air mata. Dia sampai tidak bisa berkata-kata untuk menjelaskan semua yang dokter katakan padanya ketika dokter melakukan visit ke ruangan itu tadi.


"Kenz..." Ujar Alesya sambil terisak. Hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Kenzo berjalan mendekat ke arah ranjang Dyana.


Melihat Alesya dengan deraian air mata seperti itu, Kenzo yakin pasti keadaan bibinya pasti tidak dalam kondisi yang baik.


Semakin Kenzo dekat dengan ranjang Dyana, semakin jelas Kenzo melihat apa penyebab istrinya menangis seperti itu.


Hati Kenzo remuk redam melihat kondisi bibinya saat ini. Wajahnya penuh dengan luka pecahan kaca, dengan tangan dan kaki yang dipasangi gip yang menandakan kalau kaki dan tangannya patah. Hati Kenzo semakin terasa mau pecah ketika melihat mata bibinya pun terbungkus dengan perban.Jangan katakan kalau mata nya pun mengalami cedera karena kecelakaan itu.

__ADS_1


Kaki Kenzo pun automatis terasa lemah setelah melihat dengan jelas keadaan bibinya. Tak terasa kini Kenzo tengah menggenggam ujung tempat tidur Dyana agar tubuhnya agar dapat berdiri tegak. Melihat Dyana dalam kondisi yang begitu mengenaskan seperti itu Kenzo hanya bisa menggenggam erat tepian tempat tidur itu. Air matanya jatuh ke dalam membasahi hatinya yang sudah menangis kejer di dalam sana.


"dokter bi-lang apa Alesya?" ucap Kenzo terbata-bata.


Alesya menghapus air matanya dan berdiri dari posisi duduknya. Lalu dia berjalan kearah suaminya yang terlihat sangat terpukul itu.


" kita bicara di luar saja Kenz." ucap Alesya sambil memegang tangan Kenzo seakan-akan memberikan kekuatan pada Kenzo untuk tabah menghadapi kenyataan ini.


Kenzo yang sebenarnya mendengar semua yang Alesya katakan, namun entah mengapa diri nya tak jua bergerak dari tempatnya berdiri saat itu. Kaki nya seakan terpaku di lantai hingga tak bisa digerakkan.


"Kenz.. aku tahu kau sangat terpukul sayang. Tapi sebaiknya kita keluar dan bicara di luar sayang." Alesya menghapus air mata yang entah sejak kapan turun di pipi Kenzo yang bahkan Kenzo sendiri tidak tahu kapan air mata itu membasahi pipinya.


Tangan Alesya yang dengan lembut menyeka air mata di pipi Kenzo, memberikan kekuatan pada diri Kenzo untuk mengambil alih kesadaran dirinya. Kenzo pun mengangguk dan berjalan keluar bersama Alesya.


"Kau tunggu disini. Aku akan meminta perawat untuk berjaga di kamar Dyana." ujar Alesya begitu mereka keluar dari kamar.


"Tidak!! Aku tetap ingin berada disini."Cegah Kenzo cepat.Dia tidak ingin meninggalkan Dyana seorang diri.


"Kau perlu minum Kenz untuk menenangkan pikiran mu. Sebaiknya kita ke kantin untuk membicarakan kondisi bibi sambil minum secangkir teh atau kopi." bujuk Alesya.


"Tidak Alesya.. aku tidak akan kemana-mana. bibi memerlukan ku disini." Kenzo tetap bertahan ingin disana bersama Dyana.


**bersambung....


#waah.. kok otor jadi ikut sedih . ..😭


tisu mana tisu...

__ADS_1


kalau sedih gini kan otor jadi payah untuk up selanjutnyam.. kecuali kamu like,komen dan vote untuk otor..#otor moduus ini mah..πŸ˜‚


__ADS_2