
Alesya dan Kenzo pun sampai di kantor. Mereka terpaksa berangkat bersama karena bagaimana pun semua orang sudah tahu kalau mereka sudah menikah. Jika isu keretakan pada pernikahan mereka yang baru seumur jagung tentu saja dapat menggoyahkan harga saham perusahaan.
Kenzo dan Alesya memasuki lift menuju ruangan Kenzo di lantai atas. Tidak ada satu mata pun yang tidak melihat pada pasangan ini. Ada yang kagum di dalam hati mereka dan tidak sedikit pula yang merasa iri melihat mereka. Bagaimana tidak yang pria nya tampan dan yang wanita cantik. Sungguh couple goals bak kata anak-anak zaman sekarang. Namun siapa sangka ada cinta yang terbalaskan diantara mereka.
Alesya duduk di tempatnya sementara Kenzo meneruskan masuk ke ruangannya.
Tidak lama ada seorang wanita datang dan menghampiri Alesya.
“Apa Kenzo ada?” tanya Agnes sambil membawa sebuah undangan.
“apa itu undangan pernikahan mu Agnez?” tanya Alesya, meski ia sudha menebak milik siapa undangan yang ada ditangan Agnez itu.
“Sayang nya ia.” Ujar Agnez jutek.
“serahkan saja pada ku. Aku akan menyerahkan undangan itu ke Kenzo.” Ujar Alesya.
Agnez yang sebenarnya juga tidak ingin untuk bertemu dengan Kenzo sementara ini hingga kasus Skala berlalu merasa tawaran Alesya itu tidak lah buruk. “Ini. Jangan lupa kau pun harus datang. Huh untuk apa aku meminta mu untuk datang, kau pasti akan datang sebab kau tidak akan melewatkan satu detik pun moment-moment penderitaan ku.” Agnez meletakan undangan itu di atas meja Alesya dan langsung pergi kembali ke ruangannya tanpa menunggu jawaban yang keluar dari mulut Alesya.
“Dia tidak berubah sama sekali.” Gerutu Alesya dan mengambil undangan itu. Alesya berdiri dan menuju ke ruangan Kenzo untuk mengantarkan udangan pernikahan Agnez.
Alesya mengetuk pintu beberapa kali hingga akhirnya Kenzo mengizinkannya masuk ke dalam ruangan. “Kenz, ini undangan pernikahan Agnez. Baru saja dia mengantarkan nya ke atas.”
“Letakkan undangan itu di atas meja ku.” Perintah Kenzo tanpa membalikan badannya. Dia terlihat sibuk dengan berkas-berkas di tangannya. Dengan lengan kemeja yang sedikit tergulung hingga hampir siku dan posisinya yang berdiri menghadap ke jendela membuat auranya sebagai seorang pengusaha muda yang yang sukses terpancar begitu saja.
“Alesya..” Kenzo ketika Aleysa usai meletakan undangan pernikahan Agnez di atas meja, “Tolong jangan panggil nama ku saja jika kita di kantor. Kau harus memanggil ku pak. Sama seperti pegawai lainnya.”
Alesya merasa berkecil hati mendengar perkataan Kenzo. Seakan adan mendung yang sedang melewati wilayah hatinya, membuat mata nya ingin mengeluarkan sebuah cairan yang sering dikenal dengan nama air mata. Alesya tidak berkecil hati sebab Kenzo melarangnya menyebut nama nya, karena ia sedari awal tidak keberatan memanggil Kenzo dengan panggilan pak tapi Alesya ingat kalau Kenzo menyuruhnya memanggilnya cukup dengan Kenzo saja jika mereka hanya berdua. Mungkinkah ini juga disebabkan oleh penolakannya semalam? Dengan hati yang dipenuhi awan mendung Alesya keluar. Bahkan ia lupa untuk mengatakan dirinya akan keluar dari ruangan itu.
Alesaya bermenung di mejanya. Dibolak-baliknya dokumen-dokumen yang mesti ditanda tangani Kenzo. Alesya tidak sadar bawah ada orang yang mengawasinya dari layar laptopnya.
“Bertahan lah Kenzo!” kenzo menyemangati hati nya.
__ADS_1
Alesya kembali ke ruangan Kenzo untuk mengantarkan dokumen-dokumen untuk ditanda tangani Kenzo. Dan sesuai permintaan Kenzo, kali ini Alesya tidak lagi memanggil Kenzo dengan namanya tapi dengan sebutan pak. Sungguh itu terasa sangat kaku di lidahnya. Sudah beberapa lama ia bersama Kenzo dan ia pun sudah terbiasa memanggil Kenzo dengan nama nya.
“Ini pak.” Ujar Alesya sambil meletakan dokumen-dokumen itu di atas meja Kenzo.
Kenzo diam saja persis seperti seorang bos yang arogan.
Alesya tetap berdiri tak jauh dari meja Kenzo menunggu Kenzo menandatangi semua dokumen itu.
“Alesya ikut makan siang dengan ku. Aku ada janji makan siang dengan tuan Aksena.” Ujar Kenzo.
“Baik, pak.” Jawab Alesya pelan selayaknya sekretaris pada umumnya.
“Beri tahu Jack bahwa aku akan pergi dengan tuan Aksena dan tidak akan kembali lagi ke kantor. Jadi minta dia mengawasi perusahan satu hari ini. Dan dia juga yang akan pimpin rapat siang ini. Setelah itu kau bisa langsung ke parkiran dan tunggu aku disana.” Perintah Kenzo pada Alesya.
Alesya pun keluar dan menyampaikan semua pesan Kenzo pada Jack. Lalu setelah itu dia pergi ke parkiran dan menunggu Kenzo disana.
Kenzo dan Aleysa pun menuju restoran yang telah di tentukan oleh Frans.
Setelah sampai disana, terlihat Frans tanpa didampingi oleh asistennya.
Frans menjabat tangan Kenzo. “ Aku kira kau tidak akan datang menemui ku hari ini.” Ujar Frans sambil melepaskan tangan Kenzo.
“ Kau pasti sudah mengenal diri ku tuan Aksena. Aku tidak pernah membawa urusan pribadi ku ke urusan bisnis ku. Saat ini kau sedang bertemu dengan direktur perusahan ku bukan suami dari mantan pacar mu.” Jawab Kenzo blak-blakan.
‘Heh.. mulut mu dari dulu memang tidak memfilter segala ucapan mu. Tapi bagus juga arti terlepas dari pernikahan kontrak yang kalian lakukan, hari ini aku bisa berbincang lebih lama dengan Alesya sebab ia hari ini ia adalah sekretaris mu dan bukan istri mu kan?” Ucap Frans sambil menyeringai.
“lakukan apapun yang kau suka.” Jawab Kenzo tanpa menoleh pada Alesya yang spontan melihatnya ketika Kenzo berujar demikian.
“Bisa kita mulai? Sebab aku harus pergi ke suatu tempat setelah ini.’ Ujar Kenzo.
Kenzo dan Frans pun terlibat diskusi yang alot. Mereka saling beragurmen tentang proyek yang akan mereka kerjakan bersama. Tidak terasa tiga jam pun berlalu dan kini diskusi pun sudah berakhir.
__ADS_1
“baiklah tuan Aksena. Nanti akan aku minta sekretaris ku untuk mengirimkan semua point yang sudah kita sepakati tadi.” Ujar Kenzo.
Frans tentu saja senang mendengar Kenzo mengatakan sekretarisnya akan menghubunginya. Bukankah sekretaris Kenzo itu adalah Alesya. Jadi itu berarti Frans memiliki kesempatan untuk berbicara berdua dengan Alesya tanpa ada Kenzo sebagai perusak suasana diantara mereka.
“Tentu saja tuan Dayson, aku sangat senang dengan ide mu itu.” Jawab Frans sambil mencoba mempertahankan wajah coolnya.
‘Kalau begitu aku pamit dulu tuan Aksena.”
Ketika Kenzo ingin berdiri, Frans berkata.” Apa tidak sebaiknya kita makan siang bersama dulu. Alesya kelihatannya sudah kelelahan.”
“kalau kau ingin makan siang dengan sekretaris ku silahkan saja. Tapi maaf aku tidak bisa. Sebab aku harus kesuatu tempat. Tapi jangan lupa dia harus kembali setelah jam makan siangnya berakhir.”Jelas Kenzo.
Alesya kembali merasakan ada gemuruh angin di hatinya ketika Kenzo membiarkannya dan Frans makan bersama. Bukankah seharusnya hal ini menjadi hal yang baik? Sebab Kenzo tidak lagi melarang nya ini dan itu. Tapi tindakan Kenzo yang tidak peduli dan memperlakukannya dingin malah membuat hati Alesya sakit. Ingin rasanya Alesya bertanya mengapa Kenzo membiarkannya makan hanya berdua dengan Frans tapi Alesya menahan dirinya. Sebab untuk apa ia menanyakan hal itu?
“Akan ku pastikan dia kembali ke kantor tepat waktu.”Jawab Frans.
“Frans maaf, aku tidak bisa makan siang dengan mu. Tugas ku di kantor masih menumpuk.” Alesya menolak permintaan makan siang dari Frans. Dengan hati kesal, Alesya berjalan mendahului Kenzo. Dalam hati kecilnya Alesya berharap Kenzo akan memanggilnya dan menawarkannya untuk tumpangan hingga kantor namun sayangnya hal itu tidak terjadi. Kenzo berjalan dan mendahului Alesya, lalu pergi begitu saja.”Huh...” Alesya hanya bisa menghela nafas kasar.
“Kau ingin ke kantor ? ayo aku antar.” Tawar frans.
Alesya yang kadung berkecil hati dengan semua tindakan Kenzo menolak Frans dan pergi dengan salah satu taxi yang sudah ada di depan restaoran itu. Di dalam taxi itu, Alesya menangis. Entah mengapa hatinya mengupas semua persediaan bawang disana. Sehingga air matanya turun begitu saja. Alesya bahkan menangis hingga sesenggukan. Supir taxi yang melihat Alesya menangis mengira Alesya barus aja diputuskan oleh pacarnya atau baru saja menangkap basah suami nya yang sedang berselingkuh.
“Sudahlah nona. Laki-laki memang begitu. Suka tidak setia.”Ujar si supir ikut campur walaupun dia tidak tahu ujung pangkal permasalahan Alesya.
“masih banyak laki-laki lain. Jika dia masih pacar mu maka putuskan saja. Dan jika dia adalah suami mu maka ceraikan saja. Kau masih muda nona. Masih banyak laki-laki diluar sana yang mau dengan mu.”
Mendengar ucapan si supir TAXI tangis Alesya malah semakin kuat. Sebab Alesya sendiri tidak tahu mengapa alasannya menangis. Yang ia tahu, hatinya sedih dan memaksa matanya untuk menangis.
**************bersambung................................
Ayoooooo siapa yang senyum karena dapat dua up hari ini????
__ADS_1
Tulis di kolom komentar ya....
Hai..hai.. jangan lupa dukung karya otor dengan cara like, komen dan vote.