
Alesya hanya terdiam mendengar perkataan yang Kenzo katakan padanya barusan. Dalam pikiran Alesya mungkin saja karena Kenzo adalah seorang laki-laki maka cara dia memandang suatu masalah berbeda dari dirinya yang adalah seorang wanita.
“apa kau mengerti apa yang ku katakan sayang?” Ulang Kenzo sekali lagi sebab Alesya tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Alesya menatap Kenzo, seakan-akan ada yang ingin dia sampaikan pada Kenzo.
"Hei...! ada apa dengan mu sayang? apa ada sesuatu yang menjadi beban pikiran mu?" Kenzo merasa istrinya memang sedikit berbeda sore ini.
"Tidak ada." jawab Alesya pelan sambil menunduk.
"Hei...!Ada apa?" Kenzo menarik dagu Alesya agar melihat ke arahnya.
"Benar Kenz. Tidak ada apa-apa." Alesya tetap saja berbohong, menutupi apa yang menjadi ganjalan di hatinya.
"kalau begitu mengapa kah tidak menjawab pertanyaan ku?"
Kenzo menatap dalam Alesya, "apa yang sebenarnya mengganggu pikiran mu saat ini Alesya? Apakah kedatangan Mai membuat hati mu gusar?" gumam Kenzo dalam hati.
Sebenarnya Kenzo sedikit heran dengan perubahan sikap istrinya ini. Sewaktu pertama kali berjumpa Mai ketika mereka sampai di rumah tadi, Alesya benar-benar bertingkah seakan-akan dia tidak merasa cemburu sama sekali pada Mai yang jelas-jelas memperlihatkan maksud kedatangan ke rumah ini dengan sangat jelas pada Alesya. Hal itu membuat Kenzo sangat senang sebab secara tidak langsung, itu mengindikasikan kalau cinta yang ada diantara mereka dilandasi oleh pondasi rasa saling percaya yang sangat kuat. Tapi anehnya sore ini, kenapa Alesya malah seakan-akan memiliki sebuah beban di dalam hatinya. Dan terlihat ingin menanggung beban itu sendiri.
“entahlah Kenz, aku hanya berpikir apa mungkin ada sesuatu hingga membuat Mai sedemikian nekatnya untuk memaksakan cinta nya pada mu? Heemm.. mungkin saja dia –“ Alesya mengurungkan niat nya untuk mengatakan bagaimana kalau ternyata Mai saat ini sedang sakit pada Kenzo. Tapi Alesya merasa ayah Mai lebih berhak untuk mengatakan untuk mengatakan semua itu pada Kenzo dibandingkan dirinya.
“Dia kenapa sayang?” Tanya Kenzo, yang penasaran dengan apa yang ingin Alesya katakan.
__ADS_1
“ Sudah lupakan saja.” Ujar Alesya sambil meletakkan tangannya pada pipi Kenzo. “ Kenz, aku sangat mencintai mu. Aku ingin kau tahu itu.” Ujar Alesya, lalu tersenyum.
“Aku pun sangat mencintai mu nyonya Dayson. Dan kau juga harus selalu mengingat hal itu.” Kenzo menggenggam tangan Alesya yang sedang menyentuh pipinya itu.
“Sebaiknya kita bersiap-siap sekarang. Tidak enak jika kakek Romano harus jadi lama menunggu kedatangan kita. “ Ujar Alesy, dan ingin turun dari tempat tidur Skala. Tapi tiba-tiba...
"Kenz!! apa yang kau lakukan!!" teriak Alesya, sebab Kenzo yang tadi lebih dulu berdiri daripada dirinya kini sedang meletakan nya dalam gendongan Kenzo dengan Bride style.
“kalau begitu supaya cepat, aku rasa aku harus menggendong mu nyonya Dayson!!” Tanpa menunggu persetujuan dari Alesya, Kenzo langsung menggendong Alesya dan membawanya ke kamar mereka.
“ Kenz!! Aku ini sangat berat!!!” Ujar Alesya, panik karena Kenzo tiba-tiba menggendongnya.
“apa kau meremehkan kekuatan ku sayang?”Ujar Kenzo, lalu dengan sikunya membuka pintu kamar Skala.
“Bukan begitu. Aku hanya takut kita akan terjatuh. berat badan ku tidak seperti biasanya tuan Dayson!! Tangan mu akan sakit jika kau memaksa untuk tetap menggendong ku”Jelas Alesya, sambil berpegangan erat di leher Kenzo.
“Kau serius akan menggendong ku sampai ke kamar Kenz?”Alesya terus bertanya. Tentu akan saja akan sangat memalukan jika mereka berdua sampai terjatuh karena hal ini.
Kenzo berhenti berjalan dan membetulkan posisi Alesya dalam gedongan ala bride style nya lalu berkata, "Tentu saja.” Kenzo pun melanjutkan langkah kaki nya menuju kamar mereka.
Alesya benar-benar tidak menyangka kalau Kenzo akan melakukan hal itu. Sepanjang perjalanan menuju kamar mereka yang sebenarnya tidak begitu jauh, Alesya terus berteriak ketakutan. Dia benar-benar khawatir dia dan Kenzo akan terjatuh Sebab timbangan terakhir Alesya menunjukkan angka yang sangat berbeda dengan angka timbangan bulan sebelumnya.
Meski melakukan perdebatan mulut, kemesraan yang terpancar dari sepasang suami istri itu tidak berkurang sedikit pun.. Benar-benar membuat orang yang melihat nya merasa iri.
__ADS_1
Dan hal itu lah yang kini sedang dirasakan oleh Mai, yang kebetulan ada di lantai bawah bersama Dyana.
Ketika mereka sedang asik Menonton Tv, suara Alesya dan Kenzo yang sedang berdebat sambil dihiasi tawa dan kemesraan itu tentu saja mengalihkan perhatian mereka berdua. Mai dan Dyana pun auto melihat ke arah lantai atas, tempat dimana sumber suara itu berasal. Dan terlihatlah, Kenzo dan Alesya yang bercanda penuh cinta di atas sana.
Mai menatap Alesya penuh kebencian. Dalam pikiran Mai, seharusnya wanita yang ada dalam gendongan Kenzo saat ini adalah diri nya, bukannya Alesya. Wanita yang entah dari mana asal nya dan tiba-tiba muncul dan mengambil posisi yang seharusnya adalah milik Mai.
Disaat Mai tengah shock melihat tontonan yang Kenzo dan Alesya berikan tanpa sensor itu, Dyana malah sibuk melihat ke arah Mai. Dia bisa membayangkan betapa sakitnya hati Mai saat ini.
Sebetulnya mulut Dyana sudah cukup gatal untuk berkomentar layak nya komentator bola saat piala dunia, dengan tujuan agar dapat menyalakan api amarah Mai lebih membara lagi layaknya api unggun di malam tahun baru. Tapi Dyana ingat pesan ibunya. Jika perkataan mu itu hanya akan menyakiti seseorang bila kau ucapkan maka sebaiknya kau telan kembali semua kata-kata yang sudah kau persiapkan itu hingga jatuh jauh ke dalam perut mu supaya dapat keluar sebagai kotoran keesokan hari nya.
Mengingat hal itu maka Dyana mengurungkan niatnya untuk menyiramkan bensin ke percikan-percikan api yang mulai menyala di diri Mai. Dyana pun langsung menutup mulut nya dengan tangannya. Takut kalau mulutnya tidak mau menuruti semua perintahnya untuk tetap diam.
“apa mereka selalu begitu?” tanya Mai yang mulai menggoyahkan tekad Dyana untuk tidak mencari dosa sore ini.
“Heem.. begitu lah.” Jawab Dyana singkat mencoba tetap bertahan untuk tidak bicara lebih banyak tentang hal itu.
“siang-siang seperti ini??” tanya Mai sinis. Mai kembali mengatakan sesuatu, yang membuat mulut Dyana terasa gatal untuk mengatakan semua keromantisan yang dia selalu saksi kan di rumah ini. Tapi lagi-lagi..Dyana kembali teringat pesan ibunya. “aku yang jomblo saja merasakan sakitnya tuch disini setiap kali Kenzo dan Dyana mengumbar kemesraan mereka di depan umum. Apalagi Mai. Kalau dia mendengarkan cerita ku, bisa struk di tempat dia.” Gumam Dyana sambil melihat Mai dengan tatapan jahil yang tertahan.
“kenapa kau malah diam? Kau tidak mendengar semua yang aku tanyakan?” Ujar Mai yang jadi bete sebab Dyana yang diam terus menerus padahal Mai sudah beberapa kali bertanya pada nya.
“memangnya apa lagi yang bisa aku lihat di rumah ini Mai, jika bukan kemesraan mereka berdua.” Jawab Dyana.
Dyana berharap apa yang dia katakan barusan dapat membuat Mai berhenti bertanya pada nya.
__ADS_1
***bersambung...
yuhuuu...jangan lupa untuk sediain tisu ye... otor mau menanjak emosi pemirsa ini #otor auto di gebukin pembaca🤣