Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 44 #Ujian Cinta #29


__ADS_3

"Kenz.." bujuk Alesya. Alesya menatap mata Kenzo dalam-dalam seolah berkata dari matanya, "tenangkan diri mu dulu, baru kau bisa menjaga Dyana."


Kenzo pun paham maksud Alesya tapi hati nya ingin menemani Dyana disana.


"Kenz.. bibi baru saja tertidur. Jadi sebaiknya kita gunakan waktu ini untuk menenangkan diri kita sambil membicarakan bagaimana caranya agar bibi bisa kembali pulih."bujuk Alesya sekali lagi.


"Tapi Alesya...?" Kenzo masih terlihat enggan


"ayolah sayang."Alesya menarik tangan Kenzo.


Mau tidak mau akhirnya Kenzo pun mengikuti Alesya. Mereka singgah sebentar ke tempat jaga para perawat yang tak jauh dari kamar Dyana.


"Saya dan suami saya akan keluar sebentar. Mohon bantuannya untuk stand by di kamar 107." pinta Alesya pada petugas di sana. Sebagai pasien VVIP tentu saja Alesya bisa meminta pelayanan itu.


"Baik nyonya." jawab salah seorang petugas.


Alesya dan Kenzo pun berjalan ke arah Kanton rumah sakit itu. Hari sudah menunjukkan pukul dua malam..Tapi masih ada beberapa orang yang duduk menikmati makan tengah malam di kantin itu dan pada umumnya mereka adalah dokter, perawat dan ada juga beberapa keluarga pasien yang sedang menunggu pasien di rumah sakit itu.


"duduk lah." Ujar Alesya pada Kenzo. Hatinya sendiri sebenarnya belum dapat dia tata dengan baik setelah mengetahui keadaan Dyana, tapi dia dituntut untuk tampil kuat agar bisa menguatkan hati suaminya.


"tunggu lah disini sebentar...aku akan pesan kan minuman hangat untuk mu." Alesya pun meninggalkan Kenzo yang terlihat sangat tertekan itu.

__ADS_1


***


Ketika Kenzo sedang duduk sendirian dan Alesya sedang sibuk memesan beberapa roti dan minum hangat untuk dirinya dan Kenzo, ternyata ada sepasang mata yang terus mengamati mereka sejak mereka memasuki kantin rumah sakit itu.


Pria itu melihat gerak gerik Kenzo dan Alesya sambil menyantap sandwich dan jus jeruk yang ada di meja nya.


"Siapa wanita yang bersama kekasih Mai itu? mereka terlihat sangat akrab." Ya, pria itu adalah dokter Arya. Dokter yang bertanggung jawab atas Mai di ruang ICU.


"Arya!! Arya! Arya!!!" gumam Arya dalam hati sambil memejamkan matanya."berhenti lah kepo dengan urusan pasien mu!!!! serunya kemudian. "Kenapa kau senang sekali ikut campur dengan urusan pribadi pasien mu!!! Arya kembali terkenang saat dia hampir saja adu jotos dengan suami pasiennya karena sang suami tega-teganya meminta si istri untuk menandatangi surat cerai padahal istrinya itu baru saja melewati masa kritisnya. Hal ini bahkan sudah membuat Arya kena teguran dari pihak management rumah sakit sebab kredibilitas nya sebagai seorang dokter dipertanyakan. Tapi itu lah Arya, rasa ingin tahu dan pedulinya yang terlalu tinggi terhadap pasien nya membuat dirinya selalu terkena masalah setiap saat. Untungnya dia memang adalah anak pemilik yayasan rumah sakit ini. Selain itu dia memang adalah dokter yang sangat andal dan menjadi kunci keberhasilan rumah sakit ini.


"Kau terlalu banyak berpikir Arya!" ujar Arya pada diri nya sendiri. "Tidak mungkin kan kejadian seperti waktu itu kembali terulang dengan latar waktu dan tokoh yang berbeda!!!" sebut Arya pada diri nya sendiri.


Mata Arya kembali tertuju pada pria dan wanita yang terlihat seperti pasangan ini. Kaki Arya juga terasa gatal untuk melangkah ke arah pasangan itu.


Arya menggaruk-garuk lehernya yang tidak terasa gatal sebenarnya."Ayo lah Arya...ini bukan urusan mu." tegas Arya pada dirinya sendiri.


Arya pun menguatkan tekad nya untuk tidak ikut campur kali ini mengingatkan beratnya hukuman yang telah ayah nya berikan pada nya untuk kasus sebelumnya.


****


"Begitulah sayang.." Alesya pun selesai menceritakan semua yang ia dengar dari dokter nya Dyana tadi pada nya. "untuk dapat melihat lagi, bibi memerlukan donor kornea mata secepat nya." jelas Alesya selanjutnya.

__ADS_1


Kenzo menarik Alesya ke pelukan nya dan mencium kening istrinya itu untuk memberikan kekuatan pada dirinya sendiri kala itu.


"Aku akan mencarikan donor itu secepatnya.Berapa pun harga yang mereka minta untuk sepasang kornea mata itu akan aku setujui."ujar Kenzo sambil mengeratkan pelukannya.


"Kita pasti akan menemukan donor itu untuk bibi. Aku yakin, bibi akan bisa kembali melihat seperti semula." Ucap Alesya untuk menguatkan hati Kenzo.


"Lalu bagaimana keadaan Mai?" Tiba-tiba Alesya teringat dengan keadaan Mai yang berada di ruang ICU.


"Dia masih dalam keadaan kritis saat ini. Tapi aku rasa dia akan segera membaik sebab dia merespon semua perkataan ku pada nya dengan menggerakkan jarinya." jawab kenzo yang teringat dengan kejadian di ruang ICU bersama Mai tadi.


"Dia sangat mencintai mu Kenz!" Alesya menarik dirinya dari pelukan Kenzo. "Apa kau tidak merasa iba pada Mai yang sedang kritis itu? Bagiamana kalau ini adalah saat-saat terakhirnya? tidak kau terbersit keinginan untukmu mengabulkan permohonan terakhir nya?" Alesya yang tadi nya sempat sudah kehilangan rasa simpati nya pada Mai karena melihat hal buruk yang menimpa Dyana entah mengapa hatinya kembali menjadi iba pada Mai setelah Mai masuk ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif.


"Sayang .. kalau yang Mai minta dari ku adalah sesuatu hal yang dapat aku kabulkan tanpa menyakiti mu ataupun merusak pernikahan kita maka aku pun pasti akan mengabulkan nya. Kau tidak perlu meragukan rasa kemanusiaan yang aku miliki. Tapi..."Kenzo berhenti sesaat dan menatap dalam mata indah milik istrinya yang mulai terlihat lelah itu. "Kalau yang Mai minta ada sesuatu yang dapat melukai hati mu, hati Skala dan orang-orang yang ada di keluarga kita serta dapat menyebabkan keretakan dalam rumah tangga kita, aku lebih memilih untuk dikatakan sebagi laki-laki yang tak punya rasa iba dan kasihan dari pada aku mempertaruhkan kebahagiaan orang-orang tersayang ku, untuk kebahagiaan orang lain yang sebenarnya bukan lah siapa-siapa dalam hidup ku." Terang Kenzo panjang kali lebar.


"kita boleh merasa iba.. kita juga boleh ingin menolong seseorang.. tapi jangan karena ingin menolong sampan orang lain, malah sampan kita yang akhirnya tenggelam. Cam kan itu sayang." Tegas Kenzo pada Alesya. Istrinya nyang berhati emas ini kadang suka membuat Kenzo geram dengan cara berpikir nya. Kenzo harus dapat selalu menuntun Alesya untuk dapat berpikir tidak hanya menggunakan hati nurani nya sebagai wanita tapi juga daya nalar dari logika nya. Mungkin benar Alesya adalah wanita yang pintar tapi dalam dunia kerja..sedangkan untuk hal-hal seperti ini, Alesya tidak ada bedanya dengan wanita lain di luar sana.. yang hati nya sangat berperan dalam segala keputusan yang akan dia ambil.


Tapi bukan hanya Alesya. ada banyak wanita di luar sana yang selalu menuruti kata hati mereka tanpa berpikir panjang lebih dulu. Dan disini lah seorang pria berperan bersama logika nya untuk membuat dunia tetap berjalan seimbang seperti normal nya.


**bersambung...


yuk kita makan siang dulu.. otor mulai laper nih.. jangan lupa..like.. komen dan Vote ya zeyeng... jari otor dah jadi jempol semua nih..πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2