
"Marcus .. Berapa kali aku harus mengatakan kalau aku tidak ingin kau ada disini." Ujar Dyana pada Marcus ketika Frans pulang ke rumah nya untuk mengambil beberapa pakaiannya.
"Jangan mengulang hal yang sama untuk kesekian kali nya Dyana. Aku tidak ingin membahas hal ini dengan mu."balas Marcus sambil merapikan beberapa barang di kamar Dyana.
"Aku akan terus mengulang hal ini hingga kau pergi dari sini."Sebut Dyana, seakan mematikan perasaan yang dimilikinya. Keberadaan Marcus saat ini sebenarnya sangat di inginkan oleh Dyana tapi keadaan yang serba kekurangan seperti saat ini membuat nya malu kepada Marcus.
"Aku tidak ingin mendengar semua ocehan mu lagi Dyana." Seru Marcus lalu mengambil mangkuk yang berisi bubur untuk makan malam Dyana.
"Aku akan menaikkan sedikit penyanggah di punggung mu ini, karena sudah saatnya untuk makan malam." Ujar Marcus yang tidak peduli apakah keberadaan nya diinginkan atau tidak oleh Dyana.
"Terserah..." Jawab Dyana tanpa ekspresi.
Marcus pun menaikkan penyanggah tempat tidur itu perlahan. Dan setelah sampai di posisi yang Marcus rasa tepat, Marcus pun segera mengunci nya kembali.
"Aku akan menyuapi mu, aku mohon bekerjasama lah..." ucap Marcus dengan suara tegasnya.
Dyana tidak mengatakan apapun. Dia hanya diam.
Marcus pun mulai menyuapi Dyana perlahan. Dengan sangat sabar, Marcus mengambil sedikit demi sedikit bubur itu dan menghembus nya pelan agar tidak terasa panas untuk Dyana.
"Marcus..." ucap Dyana lirih. Dia tidak sanggup menahan gemuruh di hatinya.
Marcus yang mendengar Dyana memanggil nama nya, menghentikan suapannya pada Dyana dan membiarkan Dyana untuk berbicara.
"Aku tidak pantas untuk mu.."Ucap Dyana sesegukan. "Apakah kau tidak melihat keadaan ku?" jerit Dyana pada Marcus.
__ADS_1
"Ini semua hanya masalah waktu Dyana..." Ujar Marcus meyakinkan Dyana. ",Tangan mu...kaki mu dan juga mata mu akan kembali seperti semula...!! Kau akan kembali sehat seperti semula.." Suara Marcus kali ini bahkan sampai naik satu. oktaf.
"Aku tidak percaya..."sahut Dyana..sedih
"Aku ini dokter Dyana.. walaupun aku tidak menggunakan seragam seperti dokter-dokter yang ada di rumah sakit. Kau harus percaya pada ku." Bujuk Marcus. "Aku akan melakukan segala nya untuk menyembuhkan mu kembali." ujar Marcus meyakinkan Dyana.
"Aku takut Marcus.. dunia ini terasa sangat gelap.. " Rintih Dyana. Betapa pun dia ingin tampil kuat dihadapan semua orang, tetap saja dia rasa sedih dan takut bersemayam di hati nya.
"Sudah... jangan pikirkan hal ini. Kita akan segera menemukan pendonor yang tepat untuk mu." Ujar Marcus.
"Baiklah.."Jawab Dyana sudah sedikit tenang.
"Nah.. kalau begitu kau terlihat seperti anak bayi yang penurut .."Ucap Marcus, menggoda Dyana.
Tanpa Marcus dan Dyana sadari, Kenzo dan Alesya memperhatikan mereka dari pintu kamar Dyana.
Semenjak meninggalkan kamar Dyana, Kenzo hanya diam. Dia sadar kalau Dyana dan Marcus saling menyukai dari dulu. Dan tidak lah aneh jika rasa suka yang mereka pendam untuk sekian lama itu kini telah menjadi rasa cinta.
"Kenz..."panggil Alesya pada Kenzo yang masih tampak diam itu.
"Apa yang sedang dipikirkannya?." batin Alesya sambil menatap wajah suaminya yang tanpa ekspresi itu. Membuat Alesya menduga-duga apa yang Kenzo rasa kan saat ini.
"Alesya... apakah diri mu merasa kau aku sangat egois karena aku menjadi penghalang bagi cinta mereka?" Tanya Kenzo sambil menatap balik wajah cantik istrinya nya di bawah sinar rembulan itu.
"Kenz... bagaimana kalau seandainya kisah cinta mereka itu terjadi pada diri mu dan diri ku? Dalam posisi mu sebagai Marcus akan kau menyerah memperjuangkan cinta kita?" Tanya Alesya ditengah kesunyian di taman rumah itu.
__ADS_1
"Aku pasti akan memperjuangkan diri mu." Jawab Kenzo yakin.
"Begitu pun Marcus. Dia pasti akan memperjuangkan bibi kali ini. Bukankah dengan berada sebagai tembok penghalang bagi mereka kau sudah menjadi seseorang yang sangat egois?" Ungkap Alesya.
"Tapi aku belum bisa memaafkan Marcus Alesya..." ungkap Kenzo lirih. "Keadaan ini membuat ku dilema. Aku tidak pernah benar-benar membenci dirinya, tapi hati ku selalu sakit ketika aku ingat kalau dia lah yang menyebabkan kedua orang tua ku meninggal." Sambung Marcus yang masih bisa merasakan sakit di hatinya.
"Kenz.. dapatkah kau menceritakan pada ku saat-saat mu bersama Marcus sebelum kecelakaan itu terjadi? Kenz... ingatkah kau dengan semua kenangan yang kalian miliki bersama? Bukan kah kau pernah mengatakan pada ku kalau kau lebih sering bersama Marcus dari pada kedua orang tua mu" Alesya mencoba membuat Kenzo semua kenangan yang Kenzo miliki bersama Marcus. Semua hal-hal indah yang mereka lalui bersama..
Kenzo seakan dibawa ke masa lalu. Masa-masa dia menghabiskan sebagian waktunya bersama Marcus sebagai pengganti ayahnya.
Cukup lama Kenzo memejamkan matanya sambil menopang wajahnya dengan kedua tangan nya.
"Kenz...tanya hati mu.., mungkin kah pria yang sudah menganggap mu sebagai bagian dari diri nya sendiri mampu untuk melakukan hal itu pada mu Kenz...??"Ujar Alesya membuat Kenzo terhenyak kembali ke masa sekarang.
"Itulah yang aku tidak pahami Alesya...untuk apa dia melakukan itu semua? apa karena harta? Kakek bahkan tidak pernah sedikitpun menyinggung bahwa harta kekayaan keluarga Dayson hanya akan menjadi milik ayah ku. Bahkan beberapa perusahaan ada yang sudah di bawah nama nya. Apa lagi!! Apa lagi yang mendorong nya untuk melakukan hal buruk itu!!!!" Kenzo terdengar sangat terpukul setiap kali membahas hal ini. Hal yang berkaitan dengan kematian kedua orangtuanya dan Marcus.
"Apakah kalau aku mengatakan kalau dia tidak bersalah, kau bersedia untuk mendengarkan ku?" Walaupun tidak yakin akan mengatakan hal yang sebenarnya, paling tidak Alesya ingin tahu apakah Kenzo masih bersedia membuka hati dan pikiran nya untuk mendengarkan pembelaan untuk Marcus yang akan Alesya katakan.
"Aku tidak pernah berpijak pada kata-kata Alesya.. aku selalu berpijak pada bukti. Kalau diri mu hanya akan membela Marcus dengan kekuatan debat yang kau miliki maka sebaiknya kau lupa kan saja... itu hanya akan membuang waktu mu saja." Tukas Kenzo.
"Bagaimana kalau aku memiliki bukti bahwa Kenzo tidak lah terlibat dalam kejadian kecelakaan itu, apakah kau berani untuk menerima semua kebenaran yang akan aku ungkap kan?"
"Apa maksud mu Alesya? bukti kalau Marcus tidak terlibat semua hal itu?" Kenzo menatap lekat ke dalam mata Alesya.
"benar... seandainya aku memiliki itu semua, apakah kau siap menghadapi kebenaran yang sebenarnya?....tanya Alesya, dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Kenzo.
__ADS_1
***bersambung...
*ingat untuk tinggal kan komen mu ya zeyeng... *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.