
Alesya melihat ke belakang, memastikan Kenzo tidak mengikutinya."Syukurlah dia masih disana." Ujar Alesya sambil terus melangkah ke kamar Dyana.
"Klek..." pintu kamar yang dibuka oleh Alesya dari luar membuat semua orang yang ada di dalam kamar itu terdiam.
Alesya melemparkan pandangannya ke semua isi di ruangan itu. "Selain ada Marcus ternyata Frans pun sudah kembali ke kamar ini. Bagaimana cara ku untuk mengusir mereka berdua." Gumam Alesya dalam hati yang sama sekali belum menemukan cara agar dia bisa berbicara berdua saja dengan Dyana.
"Alesya..?" panggil Frans begitu melihat Alesya yang muncul dari pintu kamar Dyana itu.
Alesya menoleh pada Frans dan melangkahkan kaki ke dalam ruangan itu.
"apa bibi sudah makan?" tanya Alesya pada Marcus, sambil mencari-cari alasan untuk membuat Marcus dan Frans meninggalkan ruangan itu..
"sudah aku sendiri yang menyuapinya." Jawab Marcus penuh penekanan. Dia ingin Frans tahu bahwa hubungannya dengan Dyana lebih dari yang Frans duga.
ALesya yang mendengar perkataan Marcus, otomatis melihat ke arah Frans. Alesya yakin yang baru saja Marcus katakan ditujukan untuk Rival abadinya itu.
"heem.. apakah aku bisa berbicara berdua dengan bibi?" Tanya Alesya ragu-ragu, melihat gelagat kedua laki-laki ini yang bagaikan malaikat raqib dan atib yang selalu ada di kiri dan kanan Dyana, Alesya tidak yakin dia bisa berbicara hanya berdua dengan Dyana.
Tapi di luar dugaan, tanpa banyak tanya Marcus langsung beranjak dari duduknya. Berbeda dengan Frans yang seakan-akan ingin ikut mendengar pembicaraan Alesya dan Dyana.
"Apa kau menunggu Alesya untuk mengusir mu dari rumah nya baru kau akan beranjak dari tempat duduk mu itu Frans?" Sindir Marcus pada Frans yang baru sadar bahwa dia pun harus keluar dari kamar Dyana.
"baiklah. Aku akan ikut keluar."Ujar Frans dengan enggan dan akhirnya mengikuti Marcus keluar dari kamar itu.
Alesya melihat dengan seksama kedua laki-laki itu hingga mereka benar-benar menghilang dari balik pintu itu. Alesya berjalan ke arah pintu dan menutup pintu perlahan.
__ADS_1
"bibi?"Panggil Alesya pada Dyana yang tidak terdengar sama sekali suaranya semenjak tadi.
"aku tidak ingin berbicara dengan mu Alesya! pasti kau kan yang membiarkan Marcus untuk tinggal di rumah ini?" Ujar Dyana dengan nada-nada khas merajuknya.
"apa kau marah pada ku karena aku membiarkan Marcus untuk menjaga orang yang dicintainya? aku sungguh tidak punya hak untuk melarangnya melakukan itu bi." Jawab Alesya memberikan alasan nya pada Dyana mengapa Alesya membiarkan Marcus ada di rumah ini.
Meski mata Dyana terbungkus dengan perban tapi wajahnya yang kesal karena Alesya mengizinkan Marcus untuk menjaga nya masih dapat Alesya lihat. Alesya hanya tersenyum menanggapi bibinya yang sedang sewot itu, lalu Alesya pun duduk di samping Dyana yang tengah berbaring itu.
Alesya terpaksa menunda sebentar tujuannya yang sebenarnya datang ke kamar Dyana saat itu. Dalam pikiran Alesya sebaiknya dia harus mendengarkan curhatan Dyana terlebih dahulu. Sebab semenjak tiba di rumah, Alesya memang belum sempat berbicara banyak dengan Dyana.
"Alesya please! Aku tidak ingin merepotkan nya. Dan aku juga tidak ingin menjadi beban untuknya." Ungkap Dyana, benar-benar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"jadi kau lebih memilih untuk merepotkan Frans dari pada Marcus? begitu maksud mu bi?" tanya Alesya dengan penuh selidik bak seorang detektif.
"Ternyata bibi belum menyadari kalau Frans juga menyukainya. Frans tidak akan melakukan hal yang tidak dia inginkan." Gumam Alesya dalam hati.
Kalau Frans sampai melangkahkan kaki hingga masuk ke dalam rumah seorang Kenzo Dayson yang notabene adalah rival nya dalam dunia bisnis, maka dapat dipastikan bahwa itu Frans lakukan karena memang Frans ingin melakukan itu. Jangankan ibunya Dyana, bahkan ibu kandungnya sendiri pun tidak akan dapat memaksa Frans untuk melakukan hal itu jika Frans memang tidak mau.
"Heem.. bibi, jangan pernah sembunyikan perasaan mu pada Marcus lagi mulai dari sekarang." Seru Alesya sambil memegang tangan Dyana.
Dyanan pun menarik pelan tangannya dari Alesya. "andaikan itu mungkin untuk dilakukan Alesya, maka aku pasti akan mengumumkan kepada dunia betapa aku mencinta Marcus. Tapi itu tidak mungkin untuk aku lakukan. Dan kau sendiri pasti tahu alasannya..." Ujar Dyana, terdengar sangat sedih dalam setiap kata yang Dyana ucapkan.
"Karena Kenzo kan?" sebut Alesya, dan hanya mendapatkan helaan nafas berat dari Dyana.
"Aku akan membereskan semua itu bi. Kau tenang saja. Aku rasa aku sudah tahu bagaimana menguraikan semua benang kusut ini. Sudah saat nya tabir ini kita singkap." Ucap Alesya penuh keyakinan.
__ADS_1
"kau jangan sembarangan bertindak Alesya." peringat Dyana yang mencium sebuah rencana di balik perkataan Alesya barusan.
"Kenzo sudah melalui banyak rintangan bersama ku bibi.. aku yakin suami ku pasti akan sanggup melewati ini semua. Andaikan kebenaran itu begitu membuatnya terpukul, kini Kenzo tidak lagi sendirian bibi.. dia memiliki diri ku. Aku bersedia menjadi tembok untuk dia bersandar jika ia tidak sanggup lagi berdiri tegak dengan kaki nya setelah ia tahu kebenaran itu. Aku juga bersedia untuk menjadi tempat bagi nya berpegang andaikan kebenaran itu membuatnya goyah. Aku ada sebagai kekuatannya bi.. Aku percaya Kenzo, meskipun ia akan terguncang setelah tahu semuanya tapi Kenzo akan tetap kuat." Ujar Alesya meyakinkan Dyana bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah Kenzo tahu yang sebenarnya.
"Semoga apa yang kau percayai itu, itulah yang akan terjadi. Aku tidak ingin melihat keponakan ku satu-satu nya itu terpuruk Alesya." ucap Dyana lirih.
"Dan aku pun tidak akan pernah membiarkan suami ku sampai terpuruk." Alesya menimpali perkataan Dyana.
"Bi, boleh aku ambil kembali semua bukti yang aku titipkan pada bibi waktu itu?"
"Apa kau akan menyerahkan semua bukti ini begitu saja ada Kenzo?" Tanya Dyana yang tidak tahu apa yang Alesya rencanakan dengan semua bukti itu.
"tentu saja tidak bi. Tenanglah. Mungkin aku memang tidak sepintar Kenzo dalam berstrategi, tapi aku juga tidak terlalu bodoh dengan langsung menyerahkan semua bukti ini kepada Kenzo. Percayalah pada ku kali ini bibi...
Mau tidak mau Dyana pun terpaksa harus mengikuti rencana Alesya. Dalam kondisinya saat ini, mempercayai rencana Alesya adalah satu-satu nya hal yang bisa Dyana lakukan.
"aku menyimpannya di dalam kotak kayu itu dan kuncinya kau tahu sendirian kalau aku menyimpannya di dalam aquarium itu." Jawab Dyana sambil tersenyum membayangkan ekspresi Alesya saat ini yang harus mengubek-ubek aquarium untuk menemukan kunci kotak kayu tempat Dyana menyimpan bukti bahwa Marcus tidak bersalah dalam kecelakaan orang tua Kenzo.
Aleysa menatap jengah pada Dyana, dia tidak menyangka Dyana masih menyimpan kunci itu di dalam aquarium itu. Kini Alesya sudah bersiap untuk memasukan tangannya ke dalam aquarium itu...
"Ini belum seberapa Alesya...ini belum seberapa!!" Alesya menyemangati dirinya sendiri.
***bersambung
*ingat untuk tinggal kan komen mu ya zeyeng... *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.
__ADS_1