
“Kalau begitu aku akan ke kamar Skala dulu untuk melihat apa anak itu sudah membereskan baju nya atau belum. Nanti setelah itu aku akan membereskan pakaian yang akan kita bawa.”
Alesya pun turun ke bawah untuk melihat apakah Skala sudah selesai menyiapkan barang-barangnya atau tidak.
Sebenarnya Alesya masih penasaran dengan hubungan antara Kenzo dan Marcus. Apalagi Alesya yakin kalau kue-kue bunga matahari yang dimakan oleh Dyana dan Skala berasal dari Marcus.
Sambil menuruni tangga Alesya terus menoleh ke arah kamar nya dan Kenzo.
“Aku harus berbicara dengan bibi sebelum aku pergi.” Gumam Alesya dalam hari sambil mencari sosok Dyana di ruangan yang ia lalui.
“Ska, apakah kau sudah memasukkan baju yang akan kau bawa ke dalam koper?” tanya Alesya pada putranya yang kelihatan asik menonton TV sambil makan cookies bunga matahari.
“Aku sudah merapikannya mommy. Dan Kopernya sudah aku minta untuk dimasukan ke dalam mobil yang akan mengantarkan kita ke bandara.” Jawab Ska, sambil memasukan sebuah cookies ke mulutnya.
“kalau grandama mana Ska? Kenapa kau hanya sendirian?”
“Grandma dia kembali ke kamar nya. Setelah marah-marah di telpon.”
“Marah-marah ditelpon? Memangnya siapa yang menelpon Dyana?” pikir Alesya.” Sudahlah sebaik aku langsung saja ke kamarnya sekarang.”
“Ska, kita akan berangkat satu jam lagi. Sebaiknya bersiap-siaplah. Jangan sampai daddy menunggu mu.” Perintah Alesya pada putranya itu.
“Ok, mom!” Skala pun mematikan TV dan segera menuju kamar nya untuk bersiap-siap.
“Lihatlah anak itu, tetap saja dia membawa toples yang berisi cookies itu. Dia tidak tahu kalau aku juga memiliki kue yang sama.” Alesya tersenyum melihat putranya yang seakan-akan takut kalau dia meninggalkan toples yang berisi cookies bunga matahari itu maka akan ada orang yang akan menghabiskannya.
“Sebaiknya aku harus segera ke kamar Dyana.” Alesya pun juga meninggalkan ruangan itu menuju kamar Dyana.
***Di kediaman Ifrans Aksena.
“memangnya siapa dia!! Dari tadi kerja marah-marah saja!!!” sungut Frans pada asistennya.
Sang asisten yang tahu penyebab kekesalan majikannya hanya bisa diam sambil terpaksa mendengar segala ungkapan kekesalan dari tuannya itu.
“Memangnya dia pikir dia siapa?”kayak paling cantik aja sedunia!!!” Frans terus mengomel tak karuan.
“Tuan, sebaiknya anda tenang dulu!” Ujar Aditya. “kalau memang nona Dyana tidak mau menerima pertemanan dari anda sebaiknya anda tidak usah saja menghubungi dia lagi.”
“Kau tahukan apa niat ku mendekati wanita itu? Itu semua hanya demi mendapatkan informasi mengenai Alesya. Aku sama sekali tidak peduli dengan wanita yang bernama Dyana itu.” Tukas Frans.
“Saya rasa dia menyadari niat terselubung tuan. Itulah mengapa dia tidak menerima pertemanan dari tuan.” Aditya mencoba menjelaskan hal ini dari sudut pandangnya.
“Aku juga berpendapat begitu. Hanya saja harga diri ku sebagai seorang pria tetap saja terluka. Selama ini tidak ada satu wanita pun yang menolak pertemanan dari ku. Bahkan wanita di kota ini antri untuk dapat menjadi teman ku. Lalu dia? Bisa-bisanya dia-“ Frans terlihat sangat kesal.
“kalau begitu bagaimana kalau kita minta tolong pada nyonya saja untuk mendekatkan anda dengan nona Dyana,tuan? Secara nyonya kan memang punya niat untuk menjodohkan kalian?” saran Aditya.
“Dit, pikiran mu sangat luar biasa!! Ide mu begitu cemerlang. Tapi sebaiknya kau juga harus segera memikirkan ide lain bagaimana cara nya supaya ibu ku tidak terlalu berharap dengan hubungan ku dan Dyana sebab yang aku ingin dari Dyana bukan lah kesediaan dia untuk menikah dengan ku. Melainkan informasi yang dia miliki tentang Alesya dan Kenzo. Does it.” Ujar Frans geram, bagaimana asisten nya bisa mendadak bodoh seperti ini.
“saya kan hanya menyarankannya saja tuan.” Ujar Aditya sambil nyengir. “Sebab saya merasa hanya nyonya dapat membantu anda untuk mendatangkan nona Dyana kemari. “
Frans duduk dengan jemu di kursi kerjanya. Saat ini pikirannya hanya penuh dengan Alesya namun dia sadar dia tidak bisa mendekati Alesya begitu saja. Status Alesya sebagai nyonya Dayson sudah tersebar luas di kota itu.
Tentu akan sangat menarik perhatian jika ia mendekati Alesya walaupun sejauh yang Frans ketahui hubungan Kenzo dan Alesya tidak lebih dari sebuah pernikahan kontrak.
“bagaimana tuan? Sebaiknya kau pertimbangkan ide ku tadi.” Aditya kembali membuka suara.
Frans melihat Aditya dengan tatapan malas. Dia berharap Adiya dapat memberikannya ide yang lebih baik dari itu sebab Frans takut nanti malah dia benar-benar terjerat dengan hubungan dengan Dyana karena campur tangan ibunya.
“Untuk saat ini aku belum ingin melibatkan ibu. Kau tahu sendiri kan seperti apa ibu ku Dit. Kalau dia merasa aku sudah memberikan lampu kuning untuk rencana nya maka ia akan langsung tancap gas. Aku tidak mau terjebak dalam rencana ku sendiri. Lebih baik aku terus mendekati Dyana dengan usaha ku sendiri, paling tidak aku masih memegang kontrol atas semua rencana ku.” Jawab Frans.
“Sudah sore. Kau boleh pulang Dit. Aku ingin beristirahat.”
“Baiklah tuan.” Jawab Aditya , dan keluar dari ruang kerja Aditya.
Frans mengambil sebuah album foto dari laci meja nya. Dibaliknya satu persatu album itu sambil tersenyum. “Dari dulu hingga sekarang dia tetap cantik.” Seru Frans sambil menyentuh salah satu fotonya bersama Alesya ketika masih di bangku sekolah dulu.
“Aku tidak akan menyerah begitu saja Alesya. Aku pasti akan mendapatkan mu kali ini.” Gumam Frans pelan.
***
“Kemana anak itu!! Sudah seharian dia tidak ada memberikan kabar apapun pada ku!” Ujar Jenny sambil bolak balik di depan tempat tidurnya dan memandangi ponsel yang ada di tangannya.
“Aku bahkan sudah menelponnya berkali-kali tapi dia tetap saja tidak mengangkatnya!” perasaan tidak enak mulai menyelimuti Jenny. Sebagai seorang ibu meski Jenny bukanlah wanita yang baik tapi tetap saja dia adalah seorang ibu sehingga jika sesuatu yang buruk menimpa putrinya ia pun akan merasakan kerisauan yang sama.
Selama ini Jenny selalu berkomunikasi dengan Agnez. Kadang dia yang menelpon Agnez duluan dan kadang Agnez yang menelponnya duluan. Itu lah mengapa dia merasa ada suatu yang janggal sebab sejak semalam hingga pagi ini Agnez seperti hilang di telan bumi.
“Apa sebaiknya aku telpon ke rumah nya saja?” tiba-tiba Jenny mendapatkan ide itu. Tapi segera di tepisnya. “bagaimana mungkin aku menelponnya ke rumahnya, aku tidak tahu kemana pergi nya anak nakal itu sekarang?! Bagaimana kalau dia sedang bersama dengan teman-temanya dengan dalih berkunjung ke rumah ku? Kalau seperti itu bisa-bisa aku malah menyebabkan masalah untuk nya ketika dia pulang ke rumah nya nanti.”
Jenny kembali men- dial nomor Agnez tapi sayang nya meski nomor itu aktif, tidak kunjung ada jawaban dari Agnez. Wajah nya risau bercampur kekesalan.
“Aku akan tunggu sehari lagi. Jika anak ini masih tidak dapat ku hubungi maka aku akan datang langsung ke rumahnya. Jangan salahkan ibu mu ini Agnez!! Silahkan kau salahkan saja diri mu yang tidak mau mengangkat telpon ku.”
Jenny akhirnya duduk di sofa di kamar nya itu untuk menghilangkan sakit kepala yang dirasakannya karena memikirkan Agnez.
***Di rumah Kenzo,
“Bi, ..” Alesya mengetuk pintu kamar Dyana. “Boleh aku masuk?” tanya Alesya dari luar kamar.
“masuklah Alesya. Tidak di kunci.” Jawab Dyana dari dalam kamar.
“Sedang apa?”tanya Alesya sambil melangkah masuk ke kamar itu lalu menutup pintu kamar itu berlahan.
“Sedang menenangkan kepala ku dari fans fanatik mu!” jawab Dyana blak-blakkan.
Dyana dan Kenzo untuk hal ini terlihat sangat mirip. Mungkin karena mereka dibesarkan bersama sehingga sifat dan sikap untuk arrogansi dan mengungkapkan apa yang mereka rasa, bisa dikatakan hampir sembilan puluh persen sama. Alesya penasaran siapa yang sebenarnya yang menjadi panutan Kenzo dan Dyana dalam bersikap.
“Fans ku? Sejak kapan aku memiliki seorang fans?” Ujar Alesya sambil tertawa dan duduk di ujung tempat tidur Dyana.
Dyana yang tadinya sedang dalam posisi berbaring langsung duduk sambil menyandar di kepala tempat tidurnya.
“Irfrans Aksena. Nama fans fanatik mu itu adalah Ifrans Aksena.” Seru Dyana dengan wajah jengkel nya.
“Frans? Sejak kapan frans menjadi fans ku? Lagian kenapa bibi mengatakan bahwa dia adalah fans fanatik ku?” Alesya balik bertanya.
__ADS_1
“Sebab sejak dia mengetahui kau dan Kenzo hanya menikah kontrak dan aku sebenarnya bukan kekasih Kenzo melainkan adalah bibi Kenzo, dia menjadi seperti orang gila mencoba mendekati ku siang dan malam. Telpon ku tidak berhenti berdering dan itu semua dari pria gila itu.”Ujar Dyana kesal.
“Heemm.. bisa jadi itu hanya perasaan mu saja bi. Bisa saja dia benar-benar ingin mendekati mu karena dia tahu kau ternyata bukanlah kekasih Kenzo melainkan bibi nya Kenzo. Bukankah kita juga bisa menarik kesimpulan seperti itu?” Alesya mencoba menjabarkan sudut pandangnya mengenai masalah ini.
“Alesya, please jangan se-naif itu!! Apa menurut mu hal ajaib seperti itu dapat terjadi? No Alesya! No! Tidak mungkin. Lagi pula aku memang tidak menyukai pria itu. Ditambah lagi dia akhir-akhir ini sangat menganggu!” Ujar Dyana dengan wajah tidak suka.
“Jadi siapa pria yang kau sukai bi? Apakah Marcus?” Tiba-tiba Alesya menyebutkan nama Marcus membuat Dyana jadi salah tingkah.
“Marcus?”Ulang Dyana sambil memegang lehernya.
“iya Marcus? Jangan katakan bibi tidak mengenalnya. Sebab aku tahu semua kue yang datang ke rumah kita hari ini itu berasal dari nya.” Ucap Alesya sambil tersenyum dan berpindah duduk lebih dekat ke Dyana.
“Apa bibi menyukai Marcus? Atau jangan-jangan dia yang menyukai bibi? Sebab kalau tidak ada rasa diantara kalian bagaimana mungkin dia berani untuk mengantarkan semua kue ini ke rumah ini sementara aku yakin dia tahu kalau bibi tinggal dengan Kenzo di rumah ini?” Ujar Alesya dengan ekspresi wajah bak seorang detektif.
Dyana hanya bisa menelan salivanya mendengar perkataan Alesya. Dia hanya diam. Saat ini belum ada jawaban yang bisa disampaikannya.
“Dan tidak mungkin tidak ada rasa diantara kalian karena aku tadi mendengar dengan sangat jelas bibi tidak menyebutkan namanya dihadapan Kenzo ketika aku bertanya dari siapa kue -kue ini berasal? Kau melindunginya bi. Jangan coba membohongi ku.” Tebak Alesya.
“Dari mana kau tahu bahwa Kenzo dan Marcus memiliki hubungan yang buruk Alesya?” Akhirnya Dyana buka suara. Dia penasaran dari siapa dia tahu tentang hubungan Marcus dan Kenzo.
“Marcus datang ke kantor Kenzo beberapa kali. Tidak hanya itu aku juga tanpa sengaja ada bertemu dengan dia beberapa kali. Karena aku penasaran makanya aku tanya langsung hal ini pada Kenzo. Siapa Marcus sebenarnya.” Jelas Alesya.
“tapi setelah aku mendengar penjelasan Kenzo aku dapat simpulkan kalau hubungan Kenzo dan Marcus saat ini tidak baik. Kenzo bahkan mengatakan kalau dia sangat membenci Marcus. Itulah mengapa aku heran mengapa Marcus yang sudah tahu bibi tinggal bersama Kenzo di kota ini masih berani datang kemari sekedar untuk mengantarkan kue bunga matahari? Gila aja kan! Dia ngantar kue ke rumah musuh nya!” Ungkap Alesya.
“Hanya ada dua hal yang terlintas di kepala ku saat membayangkan seorang musuh yang berani mengantarkan kue ke rumah musuhnya. Yang pertama kue itu beracun atau yang kedua, kue itu adalah ungkapan rasa cintanya bak di film romeo dan juliet.” Jelas Alesya sambil tertawa dan raut wajah yang menggoda Dyana.
Dengan cepat sebuah bantal melayang ke wajah Alesya yang sedang tertawa.
“Kau pandai sekali menyimpulkan sesuatu Alesya Dayson tapi aku harap hal ini tidak terdengar oleh suami mu. Sebab kalau hal ini sampai terdengar oleh suami mu maka besok pagi ketika kalian semua tidak ada di rumah ini sudah dapat dipastikan aku akan duduk sambil di rantai di dalam rumah ini oleh suami mu!” Seru Dyana dengan wajah jengkel.
“hahaha.. kalau suami ku merantai kaki mu, akan ku pastikan untuk memberikan kunci nya secara diam-diam pada mu bi. Jadi kau tenang saja.” Jawab Alesya sambil bergurau.
“Aleysa Dayson, dengarkan aku baik-baik. Pertama aku dan Marcus tidak memiliki hubungan seperti yang kau jelaskan panjang lebar tadi. Kami memang dekat bahkan dulu aku, Marcus dan Kenzo sangat dekat. Dia lah orang yang telah membesarkan kami.” Ujar Dyana. Wajah nya terlihat sedih ketika mengatakan itu.
"Semua ini bermula setelah kecelakaan kedua orang tua Kenzo. Tapi aku tidak dapat menceritakan hal ini dengan detail pada mu. Sebab aku tidak berhak untuk melakukan itu.Hanya saja kau harus percaya pada ku Alesya, Marcus benar-benar tidak bersalah."Terang Dyana.
"Intinya Kenzo telah salah paham terhadap Marcus hanya karena sebuah Video yang dikirimkan seseorang ke Kenzo. Menurut Kenzo, semuanya terbuktikan dari video itu. Marcus lah orang terakhir yang masuk ke mobil ayah dan ibu Kenzo sebelum kecelakaan.” Dyana menutup kedua matanya. Membayangkan hari di mana Kenzo dan Marcus saling berdebat hingga akhirnya sebuah pukulan melayang ke wajah Marcus dari Kenzo. Kenzo yang begitu menghormati Marcus tentunya merasakan sakit yang melebihi Marcus saat itu meski Marcus tidak membalasnya sama sekali. Itu adalah pertama kali Dyana melihat Marcus dan Kenzo berselisih paham namun sayangnya hari itu juga merupakan hari dimana Marcus dan Kenzo menjadi orang asing bagi satu dan lainnya. Sejak saat itu suasana rumah menjadi dingin. Tidak ada lagi tawa atau pun gurauan. Benar-benar terasa aura kebencian yang terpancar di rumah itu. Tuan Dasyon pun bahkan sempat jatuh sakit karena hal itu. Dan tak lama setelah itu, Kenzo akhirnya memutuskan untuk keluar dari kediaman keluarga Dayson.
“aku tahu Marcus tidak bersalah, hanya saja untuk membuat Kenzo merubah pandangan nya atas hal ini..bukanlah suatu hal yang mudah Alesya. Kunci nya ada pada Marcus sendiri. Tapi Marcus tidak mau menggunakan kunci tersebut untuk mengungkapkan kebenaran ini. Dia terus mencari cara lain untuk membuktikan dirinya tidak bersalah, yang sayang nya sampai saat ini, tidak ada satu pun usaha nya yang berhasil. Ditambah lagi, Kenzo benar-benar menutup telinganya untuk mendengarkan setiap penjelasan yang aku dan Marcus berikan. Jika dia tahu aku masih berhubungan dengan Marcus aku takut dia akan menjauhi ku.” Ungkap Dyana.
“aku tidak ingin ini terjadi. Aku tidak bisa membiarkan Kenzo menjauhi ku. Kenzo akan tenggelam dalam kebenciannya pada Marcus dan akhirnya aku tidak bisa menyelamatkan hubungan mereka.” Bulir-bulir air mata jatuh di pipi Dyana tanpa ia sadari.
“Jadi tolong jangan katakan pada Kenzo kalau aku dan Marcus bertemu. Atau apapun tentang kue bunga matahari itu.” Dyana menggenggam tangan Alesya.
“Tapi Kenzo sudah menyadari kalau kalian saling bertemu atau apalah itu nama nya. Sebab tadi dia mengatakan begitu. Saran ku, sebaiknya bibi berhati-hati jika bertemu dengan Marcus. Saat ini aku tidak bisa memberikan apapun pendapat ku tentang perseteruan Kenzo dan pamannya ini. Sebagai istri aku tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan pribadi suami ku sebelum dia bertanya langsung mengenai pendapat ku. Tapi aku akan mengawasi suami ku dan orang-orang yang ada disekitarnya. Aku tidak akan membiarkan mata Kenzo ditutupi oleh hasutan orang lain. “ Jelas Alesya.
“terima kasih Alesya. Memang sebaiknya kau jangan ikut campur dalam urusan yang pelik ini. Hal ini sangat sensitif bagi Kenzo. Aku tidak mau hal ini malah mempengaruhi hubungan mu dan Kenzo. Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, sejak Kenzo mengenal mu hari-hari nya jadi berwarna. Semenjak aku datang kemari, aku sering melihatnya tertawa dan terllihat sangat bahagia. Hal itu mengingatkan ku dengan hari-hari yang dulu aku, Kenzo dan Marcus miliki.” Ujar Dyana. Sebuah senyum tipis terlihat di wajahnya yang sedih itu.
“aku mohon tetap ada di samping keponakan ku Alesya. Kau dan Skala saat ini adalah pusat kehidupannya. Aku tidak ingin melihatnya hidup bagaikan mayat hidup lagi seperti sebelum bertemu dengan mu dsn Skala.” Genggaman tangan Dyana semakin kuat.
“kau tenang saja bi. Kenzo juga sangat berarti dalam hidup ku dan Skala.” Jawab Alesya sambil menggenggam kembali tangan Dyana.
“Terima kasih.” Ucap Dyana, tulus. “ Dan ya, jam berapa kalian akan berangkat? Ini sudah hampir jam empat lewat dua puluh menit.”
Dengan cepat Aleysa menaiki tangga. Kenzo pasti marah sebab ia pergi terlalu lama.
“Kenz!” Seru Alesya dari pintu memanggil suaminya. “dimana dia?” Alesya tidak melihat Kenzo di kamar tidur mereka.
“Kenz?” panggil Alesya sekali lagi. “apa dia sedang mandi?” Alesya pun berjalan ke arah kamar mandi dan mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
“Kau di dalam Kenz?” tanya Alesya sambil mengetuk pintu kamar mandi tapi tidak terdengar jawaban apapun dari dalam kamar mandi. Alesya pun membuka pintu kamar mandi itu berlahan untuk melihat apakah Kenzo ada atau tidak di dalam kamar mandi itu.
“kosong!” gumamnya dan tiba-tiba-
“Aaaaaaaaaaa!!!!” Alesya berteriak keras sebab ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang dan membuatnya terkejut.
“Kau mencari ku nyonya Dayson?” Ucap Kenzo dari belakang tubuh Aleysa.
Alesya mencubit tangan Kenzo yang melingkar di pinggangnya. “Kau mengejutkan ku tuan Dayson!! Bagaimana kalau jantung ku tadi lepas ketika kau mengejutkan ku??!” Ujar Alesya geram.
“Aku tidak tahu jika wanita seperti mu ini juga punya rasa takut? Lagi pula jika jantung mu lepas maka akan ku pasangkan kembali jantung mu ke posisi yang benar. Atau jangan-jangan sekarang jantung mu tidak berada di posisi yang benar. Sebaiknya aku periksa apakah jantung mu ada diposisi yang benar atau tidak sekarang?” tangan Kenzo tiba-tiba mengarah naik dari pinggang Alesya ke bagian atas tubuh Alesya.
“Kondisikan tangan mu tuan Dayson!!” dengan cepat Alesya berusaha mencoba mencegat tangan Kenzo yang sudah memulai aksinya.
“Aku hanya ingin memastikan jantung mu ada di tempat nya nyonya Dayson! Aku sangat merasa bersalah jika ia sampai berubah posisi! Jadi biarkan aku memeriksanya dengan tangan ku sendiri.” Jawab Kenzo sambal tersenyum puas sebab ia dapat menjahili istrinya.
“Kau!! Dasar suami mesum!!” ucap Alesya sambil terus menjauhkan tangan Kenzo dari dada nya.
“Aku ini tidak mesum nyonya Dayson. Aku hanya ingin menunjukan bahwa aku adalah seorang pria yang bertanggung jawab. Jadi kau jangan menghalangi ku!!” kenzo dan Alesya pun terus bergulat tak tentu arah di kamar mandi itu.
“jangan harap aku akan membiarkan membodohi ku dengan kata-kata mu yang terdengar sangat bertanggung jawab itu tuan Dayson!” Pekik Alesya, sambil terus berurusan dengan tangan Kenzo.
Laki-laki yang dinikahi nya ini memang punya seribu cara untuk mengerjainya.
“Kenzo!! Please!!!” seru Alesya masih masih bergumul dengan tangan Kenzo yang sungguh sesuka hati nya itu.
“Apa? Aku hanya ingin mengecek apakah jantung mu benar-benar sudah copot atau belum nyonya Dayson!” kini Kenzo semakin bersemangat untuk mengerjai ALesya.
“Oke..oke…aku baik-baik saja Kenz- Kenzo !!!!!!!”jerit Aleysa sebab Kenzo menahan kedua tangan ALesya dengan satu tangannya.
“Ampun!!! Ampun Kenz!! Aku mengaku kalah!!” Ujar ALesya cepat.
“Heeemmm.. aku tidak sedang berperang dengan mu nyonya Dayson!” Kenzo berhenti dengan aksinya.
Dengan tangan yang masih tertahan oleh tangan Kenzo, Alesya mencari jalan supaya hal ini tidak membuatnya berakhir di tempat tidur.
“Kenz.. aku lupa sesuatu?” Ujar Alesya.
“heeem.. apa yang kau lupakan kali ini nyonya Dayson?” Kenzo tahu ini hanya akal-akalan Alesya untuk kabur dari nya.
“haaah.. aku lupa, aku belum membereskan koper kita.” Ucap ALesya cepat. “ Jadi sebaiknya kau lepaskan aku Kenz. Kalau tidak kita bisa terlambat berangkat.”
“Heeem… ada lagi yang mau kau katakan?” Kenzo menarik tubuh Alesya semakin dekat dengannya.
__ADS_1
“hah.. tidak. Hanya itu.” Jawab ALesya pelan dengan nafas yang sengal-sengal.
Tiba-tiba Kenzo malah menggendong Alesya dan membawanya keluar dari kamar mandi.”baguslah kalau begitu.” Ujar laki-laki itu sambil berjalan keluar kamar mandi.
“Kenz!! Apa yang kau lakukan!! Cepat turunkan aku Kenz!” Alesya berteriak-teriak sebab Kenzo mendadak menggendongnya.
Kenzo hanya tersenyum mendengar kepanikan Alesya.
“Kenz.. cepat turunkan aku. Kita bisa terlambat!” Seru Alesya masih berusaha menyelamatkan dirinya.
“Kau tidak akan ketinggalan pesawat nyonya Dayson sebab pesawat itu tidak akan berangkat tanpa kita.” Ucap Kenzo santai.
“Tapi biarkan aku untuk merapikan pakaian yang akan kita bawa Kenz!!” Pinta ALesya dengan wajah panik nya.
“Aku sudah merapikan semua pakaian mu dan diri ku yang akan kita bawa!" Jawab Kenzo.
“What????” Seru Alesya setengah berteriak.
“Apa?” tanya Kenzo, berhenti berjalan dan menatap wajah istrinya yang kelihatan memerah itu.
“Kau membuka lemari baju ku Kenz?” tanya Alesya dengan mata melebar sempurna.
“Kalau aku tidak membuka lemari mu bagaimana cara nya aku mengeluarkan pakaian mu dan memasukkannya ke dalam koper nyonya Dayson.” Ungkap Kenzo tanpa rasa bersalah atau malu akan perbuatannya.
Alesya menutup wajahnya dengan telapak tangannya. “ Apa kau juga memasukkan-“ Alesya menggigit bibirnya. Dia sangat malu untuk menanyakan hal itu Kenzo. Bagaimana bisa laki-laki itu membuka lemari pakaiannya dan mengeluarkan semua pakaian. Itu berarti Kenzo juga melihat, dan menyentuh pakaian – “ya tuhan!! Aku malu sekali!” gumam Alesya dalam hati. Kali ini dia membenamkan wajahnya dalam pelukan Kenzo. Dia benar-benar malu. Seharusnya Alesya tidak berlama-lama di kamar Dyana.
“Kau kenapa Alesya?” tanya Kenzo yang heran dengan tingkah istrinya.
Kenzo pun meletakan Alesya di tempat tidur. Dengan cepat Alesya menutup wajahnya dengan bantal.
“Hei.. kau kenapa sayang?” tanya Kenzo panik melihat istrinya jadi aneh tiba-tiba.
Alesya hanya menggeleng dari balik bantal.
“Hei.. jangan tutupi wajahmu!! Ada apa? Katakan pada ku!” ucap Kenzo, heran.
“kalau kau masih seperti ini maka aku akan-“
“akan apa daddy?” terdengar suara Skala dari belakangnya.
“Ska?” Seru Kenzo dan Alesya bersamaan. Mereka kaget mendengar suara Skala yang tiba-tiba muncul di kamar mereka.
“Huft, aku dudah lama menunggu kalian berdua di bawah. Tapi lihatlah daddy belum selesai berpakaian dan mommy… aku yakin mommy pasti belum mandi sama sekali.” Ujar Ska, dengan raut wajah malasnya.
“Sebaiknya aku mandi sekarang!” Alesya buru-buru bangun dan langsung masuk ke kamar mandi.
“Huh ya.. aku akan merapikan pakaian ku dulu.” Kenzo pun berdiri dan menghilang dari hadapan Skala.
Skala hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kedua orang tua nya. Mungkin kalau Skala tidak datang ke kamar itu maka mereka akan sampai di kota J lewat tengah malam.
Setelah yakin kedua orang tuanya tidak lagi membuang-buang waktu dengan bercanda dengan cara yang Skala tidak pahami, Skala pun kembali ke bawah untuk menonton dan memakan cookies bunga matahari yang di berikan oleh grandma nya.
Di kamar mandi, ALesya melihat ke arah cermin dan berkata, “bagaimana dia bisa dengan santai memindahkan barang-barang pribadi seorang wanita begitu saja!” Wajah Alesya Kembali memerah membayangkan reaski Kenzo melihat barang-barang pribadi milik ALesya yang beraneka modelnya itu. Ini sungguh memalukan pikir Alesya.
Satu jam kemudian, Alesya pun selesai. Karena tidak melihat Kenzo ada di dalam kamar, Alesya yakin Kenzo sudah ada di bawah bersama Skala.
Alesya memandangi seluruh isi kamar sekali lagi untuk memastikan tidak ada barang milik nya atau Kenzo yang tertinggal.
“Sepertinya sudah semua.” Gumam nya pelan dan meninggalkan kamar itu. “tunggu-“ alesya kembali masuk dan mengambil beberapa bingkisan di sudut kamar. “Hampir saja lupa.” Ujarnya sambal tersenyum melihat bingkisan-bingkisan yang berisi kue Bunga matahari itu.
“Dad, sepertinya mommy sudah selesai.” Seru Skala Ketika melihat mommy nya menuruni tangga. “tapi apa itu yang dibawa oleh mommy, dad? Tanya Skala melihat bingkisan yang di bawa oleh ALesya dari kamar nya.
“Entahlah, aku tidak tahu.” Jawab Kenzo, “ Ska, lekas matikan TV nya. Kita berangkat sekarang.” Perintah Kenzo.
Skala pun mematikan TV dan meletakkan toples kosong di tangannya.
“Mommy, apa yang ada di tangan mu?” tanya Skala pada mommy nya.
“Haa… ini oleh-oleh untuk kakek mu.” Jawab Alesya seadanya. Dia sengaja tidak mengatakan isi dari bingkisan itu sebab dia tidak mau semua hal ini jadi cemilan Skala di pesawat.
“Oo.. “ jawab Skala.
“Sudah siap semuanya? Kita berangkat sekarang?” Tanya ALesya.
“Dad, lihatlah siapa yang bertanya.” Sindir Skala. “ Yang sedari tadi ditunggu malah dia yang mengajak kita untuk pergi.”
Kenzo hanya tersenyum dan meminta pelayan untuk membawakan bingkisan -bingkisan di tangan ALeysa. “tolong bantu nyonya membawakan semua bingkisan itu.”
Pelayan pun datang dan membawakan bingkisan-bingkisan itu, “terima kasih.” Ucap Alesya pada pelayan itu.
“Ayo Skala kita duluan saja. Sudah dari tadi kita menunggu mommy mu yang super lama kalau berdandan ini.” Kenzo merangkul putra nya berjalan di depan ALesya.
“Lihatlah mereka berdua. Bagai pinang di belah dua. Orang pasti menyangka mereka satu garis keturunan. “ Gumam ALesya dalam hati.
Hati Alesya selalu merasa sejuk Ketika melihat kedekatan antara Kenzo dan Skala. Kebahagian selalu menyeruak keluar setiap kali ia menyaksikan momen-momen kedekatan pria besar dan kecil itu.
Banyak pertanyaan yang selama ini membebani pikiran ALesya namun ia selalu mencoba untuk tidak memperlihatkan itu semua kepada orang lain. Setiap dia melihat Kenzo dan Skala saling tertawa, bergurau bersama, hati kecilnya selalu dipenuhi pertanyaan-pertanyaan konyol yang ia tahu pertanyaan konyol ini suatu saat bisa saja menjadi sebuah kenyataan yang akan mendatang badai dalam rumah tangganya yang indah ini.
“Apakah ayah kandung Skala akan bersikap sama seperti sikap Kenzo pada Skala saat ini?”
“Bagaimana jika suatu saat ayah kandung Skala muncul? Apakah Kenzo akan memperjuangkan Skala untuk tetap berada di dekatnya atau melepaskan Skala begitu saja?”
“apakah Skala akan dapat menerima laki-laki lain sebagai ayah nya selain Kenzo?”
“Semoga laki-laki itu tidak pernah muncul dalam kehidupan kami.”
******
********"bersambung...
Yuhuuuu... apakah masih ada yang menunggu karya otor yang satu ini?
Tetap dukung otor ya, jangan hanya baca saja? Berikan juga like mu, komen dan vote mu supaya Novel toon tahu bahwa otor tidak sendirian di sini..
__ADS_1