
"Pagi tuan Kenz. Perkenalkan saya Rini. Mulai sekarang saya yang akan bertanggung jawab atas putra anda, Skala." seorang dokter wanita cantik masuk dan memperkenalkan dirinya pada Kenzo yang sedangkan membaca pesan di ponselnya.
Kenzo hanya menoleh sesaat pada dokter wanita tersebut lalu kembali memperhatikan email nya.
"apa laki-laki tampan ini ayah anak tampan ini?" gumam sang dokter dalam hati. "Sepertinya benar gosip yang beredar, laki-laki ini sangat tampan." Batin sang dokter.
"Tuan saya ingin mengkonfirmasi pada keluarga pasien bahwa hari ini pasien akan di pindahkan ke kamar rawat inap." Jelas sang dokter sambil memperhatikan wajah tampan Kenzo.
"Lakukan saja yang terbaik. Kalau masih ada yang ingin diskusikan tentang administrasi,kau bisa mendiskusikan nya dengan asisten ku" Jawab Kenzo dengan suara beratnya.
"Bagaimana dia bisa seseksi itu ketika berbicara??" Batin sang dokter.
"Kalau putra tuan sudah bangun, tolong panggil saya." dengan berat hati, sang dokter pun keluar.
Kenzo pun langsung menelpon Jack agar mengurus segala administrasi untuk Skala. Karena ini bukanlah rumah sakitnya Sebastian, Kenzo mau tidak mau harus ikut peraturan rumah sakit ini meski Skala terdaftar sebagai pasien VViP di sini.
"Siapa Kenz?" Tanya Alesya, yang baru saja membersihkan diri dan berganti pakaian dengan pakaian yang dibawakan oleh pelayan rumah Kenzo.
"Dokter." Jawab Kenzo singkat.
"Apa Skala sudah bangun?" Tanya Alesya.
"Belum." Kenzo kembali menjawab singkat pertanyaan Alesya.
"Kenapa lagi dia! Sungguh seorang pria aneh!" Sungut Alesya dalam hati.
"Kenz.. "Panggil Alesya, " Apakah Jack akan kemari hari ini?"
"Dia dalam perjalanan kemari." Jawab Kenzo kemudian kembali diam.
Alesya berjalan ke arah Skala. Dia membuka pintu ruang kaca itu.
Wajah Skala walaupun tidak sepucat kemarin ketika ia baru saja selesai dioperasi tapi masih belum sesegar seperti biasanya.
"Dadd-dy.. " Ucap Skala pelan.
Alesya yang mendengar Skala menyebut daddy langsung berlari ke arah pintu dan berteriak, "Kenz, Skala sudah bangun."
Kenzo langsung meletakkan ponsel nya dan berlari ke ruangan kaca tempat Skala di rawat.
"Skala, kau sudah sadar nak!" Ujar Kenzo sambil menggenggam tangan kecil nan mungil itu.
"Dad-ddy... Kau kah itu?" Panggil Skala sekali lagi.
"Ya! Ya.. ini aku. Katakan, apa yang kau rasakan saat ini." Tanya Kenzo.
"Alesya, cepat panggil dokter." Seru Kenzo.
"Ya.. ya.. " Alesya pun keluar menghampiri perawat yang berjaga di depan kamar Skala dan meminta mereka untuk memanggil dokter untuk memeriksa Skala.
Skala membuka matanya dan tersenyum ke arah Kenzo. "Paman Kenz, kau keren sekali." Ujar bocah nakal itu, dan menatap bahagia pada Kenzo dengan mata sayunya.
Di alam bawah sadar Skala dia berulang kali memanggil Kenzo sebagai dengan sebutan daddy namun begitu dia sadar, ia panggilannya berubah pada Kenzo, kembali memanggil Kenzo dengan sebutan paman Kenz.
"Kalau aku sudah sembuh nanti aku ingin kau mengajari ku menghajar penjahat seperti yang kau lakukan kemarin,paman Kenz." Ucap Skala sambil tersenyum kecil.
"Kau terlihat sangat keren." Puji Skala sekali lagi.
"Aku pasti akan mengajari mu. Yang penting saat ini kau harus pulih terlebih dahulu. Setelah kau kembali sehat seperti sedia kala maka kita akan mulai latihan kita." Jawab Kenzo senang melihat Skala mulai bersemangat.
"Kau berjanji paman Kenz?" Skala mengangkat tangannya berlahan dan menunjukan kelingkingnya.
Kenzo yang belum pernah melakukan hal ini sebelumnya bingung dengan hal yang diperbuat Skala.
"Aah.. kau sungguh kuno paman Kenz!" Ejek Skala. "Ini namanya janji kelingking. Huft itu pun kau tidak tahu." Skala menggelengkan kepalanya lemah.
"kemari kan tangan mu." Perintah Skala.
Kenzo pun mendekatkan tangannya ke tangan Skala.
"Sekarang mana kelingking mu?" Tanya Skala. "Lakukan seperti apa yang aku lakukan." Skala mengeluarkan kelingking nya. "sekarang kaitkan Kelingking mu ke kelingking ku." Perintah Skala.
Kenzo pun mengaitkan kelingking nya dengan kelingking Skala.
Walaupun Skala terlihat lemah, tapi Skala mampu menggenggam kelingking Kenzo dengan sangat erat menggunakan kelingking nya."
"sekarang janji ini harus kita sah kan." Ujar Skala.
"Bagaimana cara nya?" Tanya Kenzo tidak paham.
"Sekarang keluarkan jempol mu." Ujar Skala, "Lalu kira buat cap jempol seperti ini." Skala menyatukan jempol nya dan jempol Kenzo.
__ADS_1
"Ingat!! Kita sudah janji kelingking. Kau tidak boleh mengingkari nya."
"Kenz.." Panggil Alesya dari belakang. "Dokter sudah datang."
Kenzo melihat ke belakang, ternyata Alesya dan dokter Rini sudah ada di belakang nya.
"Apa saya memeriksa putra anda?" Tanya dokter Rini.
"Tentu saja.." Kenzo mundur ke belakang dan melihat dokter itu memeriksa Skala.
"Tuan, keadaan putra anda sudah lebih baik. Masa Kritisnya sudah lewat. Sekarang sebaiknya kita pindahkan ia ke kamar nya. Nanti setelah pindah kamar, makanan dan obat akan diantar ke sana." Jelas dokter Rini.
"Kau dapat memindahkan nya sekarang. Seharusnya asisten ku sudah mengurus semuanya." Ujar Kenzo.
"Baiklah tuan. Nanti perawat yang akan memindahkan putra anda."
"Baiklah."
Dokter Rini pun keluar.
Kenzo kembali ke kamar Skala untuk menemani bocah kecil itu.
Dari kaca pembatas ruangan, Alesya bisa melihat Kenzo dan Skala sangat akrab. Sepintas Alesya bahkan melihat mereka sangat mirip. Hanya saja Alesya kembali berpikir, itu pasti hanya pikiran nya saja.
Semakin lama Alesya mengamati Kenzo dan Skala, semakin timbul kerisauan di hati Alesya. "Sebaiknya aku akhiri saja pernikahan kontrak ini. Aku tidak ingin Skala akhirnya akan terluka jika aku dan Kenzo berpisah."
Beberapa perawat pun datang untuk memindahkan Skala.
###
Di kediaman Albert Dayson.
"Kenapa Kenzo sampai saat ini belum membawa Skala kemari!!!" Albert berbolak balik sambil mengetuk-ngetuk lantai dengan tongkatnya.
"Aku yakin cicit ku pasti mengatakan pada Kenzo pesan ku!!" Ucap Albert berang.
"Cepat kau telepon Kenzo. Dan tanya dimana ia berada saat ini! Anak itu memang ingin aku kena serangan jantung karena terlalu sering marah padanya."
"Tenang lah tuan. Mungkin tuan muda dan keluarga nya sedang dalam perjalanan menuju kemari." Bujuk assisten nya.
"Coba saja dia tidak jadi kemari. Jangan kira aku Albert Dayson tidak bisa menghancurkan semua perusahaannya dan membuat nya pulang kandang." Seru Albert marah sebab sedari pagi ia sudah menunggu kedatangan cicitnya Skala.
###
"Tuan," Seru Jack setelah sampai du rumah sakit.
Kenzo melirik pada Jack dan merespon nya seperti biasa, "Heeem.. "
"Apa kau sudah mengabari tuan besar kalau kau hari ini tidak jadi mengunjungi nya?" Ujar Jack cemas. Jack yakin Kenzo pasti lupa.
Kenzo diam sesaat. Sepertinya ia lupa mengabari kakeknya. Pagi ini Kenzo terlalu bahagia karena Skala sudah bangun dan kondisi nya membaik.
Kenzo melihat Jack dengan tatapan yang sudah sangat dipahami oleh Jack." Kau pasti lupa menelpon tuan besarkan tuan Kenzo. Seharusnya aku langsung menekankan nomor tuan besar dan meminta mu untuk berbicara dengan nya." Gerutu Jack.
"Tenang lah Jack. Ini baru jam 11 siang. Belum terlambat untuk mengabari pria tua nan cerewet itu." Kenzo mengeluarkan ponsel nya dan memberikannya pada Jack.
"Tekankan nomornya." Perintah Kenzo. Kenzo memang tidak menyimpan nomor kakek nya sendiri.
Jack mengambil ponsel itu dan menekan nomor tuan besarnya.
"Bagaimana bisa aku yang hanya seorang bawahan lebih hapal nomor tuan besar dari pada tuan Kenzo yang notabene adalah cucu nya." Batin Jack.
"Ini tuan." Jack memberikan kembali ponsel Kenzo.
Kenzo mengambil ponsel itu.
Namun setelah beberapa saat menunggu, sepertinya panggilan itu tidak ada yang menjawabnya.
"Aku sudah berusaha mengabari nya. Salah nya sendiri tidak mengangkat telpon ku." Ujar Kenzo, sesuka hati nya.
"Aaaah.. Tuan Kenzo, kau sungguh tidak berniatkan untuk menghubungi tuan besar kan?" Tanya Jack curiga.
"Dia sendiri yang tidak mau mengangkat telpon ku." Seru Kenzo.
"Mungkin saja tuan besar sedang melakukan sesuatu maka nya ia tidak menjawab telpon anda. Bagaimana kalau anda menelpon sekali lagi?" Bujuk Jack.
Menurut Jack akan lebih baik jika tuannya tidak selalu mencari masalah dengan tuan besar. Jack takut suatu saat tuan besarnya akan kehilangan kesabaran menghadapi cucunya itu.
"Kau memang suka mencari masalah dengan tuan besar tuan Kenzo." Gumam Jack dalam hati.
"Kau saja yang menelponnya kalau kau khawatir." Seru Kenzo sembarangan.
__ADS_1
"Tapi aku rasa-.. "
Ketika Jack ingin kembali meminta Kenzo untuk menghubungi tuan besarnya, tiba-tiba Alesya membuka pintu dan terlihat ingin mengatakan sesuatu pada Kenzo.
"Kenz, bisa kita bicara sebentar?" Ujar Alesya.
"Aku akan kedalam menjaga tuan muda Skala." Seru Jack cepat dan langsung masuk ke ruangan Skala.
Kenzo berjalan menuju lorong lantai itu. Terdapat sebuah pintu yang mengarah keluar. Seperti nya itu adalah tempat bagi keluarga pasien untuk sekedar melepas lelahnya menjaga pasien. Atau itu bisa juga adalah tempat dokter untuk beristirahat dari kepadatan jadwal kerja nya.
Kenzo bersandar pada salah satu pagar pembatas. "Apa yang ingin kau katakan Alesya." Ujar nya.
"Pertama aku ingin mengucapkan terima kasih.. Sedari kemarin aku belum dapat menyampaikan rasa terima kasih ku dengan benar pada mu." Alesya membuka pembicaraan. Alesya berdiri cukup jauh dari Kenzo.
Ksnzo hanya diam tidak mengatakan apapun. "Yang kedua aku ingin kita sudahi saja pernikahan palsu ini." Ucap Alesya serius.
Kenzo menatap tajam pada Alesya dan membuat Alesya merasa tidak enak. "Anggap saja kita impas. Kau sudah menyelamatkan putra ku dan aku juga telah menolong mu malam itu." Tukas Alesya gugup.
Sebenarnya Alesya tidak enak mengungkit masalah sewaktu di resort itu pada Kenzo. Karena ia sendiri sangat malu bila mengingat hal itu.
Kenzo berjalan mendekati Alesya dengan tatapan dinginnya.
"Pertama, aku menyelamatkan Skala bukan karena aku merasa berhutang budi pada mu." Ucap Kenzo sambil terus berjalan mendekat pada Alesya.
Alesya yang melihat Kenzo semakin mendekat reflek mundur berlahan ke kebelakang. Namun sayang, ia hanya dapat mundur beberapa langkah saja sebab sebuah tembok kini berada tepat dibelakang nya dan membuat nya terpojok.
Kini Kenzo tepat berada dihadapannya. Alesya segera menoleh ke samping guna menghindari wajah Kenzo yang semakin mendekat.
"Kedua,." Ujar Kenzo sambil menatap lekat wajah Alesya yang tepat berada di depannya. Saking dekatnya, Alesya dapat mendengar deru nafas Kenzo di wajah nya. "Aku tidak pernah meminta mu untuk menolong ku malam itu." Lanjut Kenzo membuat Alesya terkejut mendengar nya dan reflek menolehkan wajahnya dan melihat Kenzo.
"Apa kata mu?" Ujar Alesya tidak percaya tiba-tiba Kenzo berubah menjadi laki-laki yang tidak tahu terima kasih. Alesya tidak menghiraukan lagi jika saat ini hidung mereka sudah saling bersentuhan.
"Apa aku harus mengatakan nya sekali lagi?" Ujar Kenzo pelan namun terdengar sangat seksi ditambah dengan tatapan mata Kenzo yang sungguh mempesona membuat Alesya menelan saliva nya.
Kenzo tersenyum melihat wajah Alesya yang memucat. "Setelah ku pikir-pikir.. " Kenzo menggantung ucapannya dan tersenyum misterius pada Alesya.
"Jack tidak ada menjebak mu untuk masuk ke kamar ku malam itu. Dan aku bahkan sudah menghindar dari mu ketika menyadari kondisi ku yang akan memburuk. Tapi kau tetap datang dan menyerahkan diri mu." Ucap Kenzo sambil terus tersenyum. "Dan ya, aku ingat. Malam itu aku juga bahkan sudah mengusir mu dari kamar ku tapi kau malah menanggalkan gaun mu di hadapan mu. Bukan kah ini semua mengarah pada sebuah kesimpulan bahwa kau sengaja menyerahkan diri mu karena kau memang sedari awal ingin tidur dengan ku." Ujar Kenzo tanpa filter membuat wajah Alesya memerah.
Alesya kembali memalingkan wajahnya sambil mengatakan. "Kau sudah gila, tuan Dayson."
Kenzo senang melihat Alesya yang terpojok seperti ini. Ingin rasanya dia menculik Alesya dan menyekapnya di kamarnya selama berhari-hari. Tapi apalah daya, Skala saat ini sedang sakit.
"Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri pernikahan kita Alesya." Batin Kenzo. "Karena aku tidak akan membiarkan nya."
"Nyonya Dayson, hari sudah siang. Sebaiknya kita masuk saja kedalam." Bisik Kenzo di telinga Alesya dan membuat Alesya merinding.
Alesya hanya diam tidak menjawab.
Kenzo tersenyum dan menjarak dari Alesya.
Kenzo merapikan jas nya, dan berkata, "Jangan berpikir untuk mengakhiri pernikahan ini sebelum waktu nya."
"Baiklah.Aku paham." Ujar Alesya, cepat. Dia sadar bahwa Kenzo sengaja melakukan hal tadi untuk memperingati nya. " Tapi ku mohon jangan terlalu dekat dengan putra ku. Aku tidak ingin Skala tersakiti karena permainan ini." Alesya membuka pintu dan pergi dari hadapan Kenzo.
Kenzo melihat Alesya yang semakin menjauh.
"Aku tidak akan menyakiti putra kita dan juga tidak akan pernah membiarkan orang lain untuk menyakitinya.
Kenzo membiarkan Alesya menghilang dari pandangannya.
Saat ini bisa Kenzo gunakan untuk berpikir langkah apa yang harus Kenzo lakukan terlebih dahulu.
Haruskah dia mulai dengan mengatakan semua kebenaran pada Skala bahwa ia ayah kandung Skala agar Skala berada di pihak nya?
Namun bagaimana kalau Skala merespon sebaliknya dan membenci Kenzo karena melakukan hal itu pada ibunya.
Yang pasti Kenzo tidak bisa memulai dengan menceritakan hal ini pada Alesya. Wanita lebih sulit ditebak karena menurut pemikiran Kenzo wanita dalam menentukan sebuah keputusan selalu dipengaruhi oleh perasaan. Tidak pure logika.
Kenzo mengeluarkan ponselnya dan menelpon Jack.
"Jack apa kau sudah memeriksa hasil tes DNA Skala? Cepat kirimkan ke ponsel ku." Perintah Kenzo dan menutup telponnya.
Yang terpenting saat ini Kenzo harus memegang bukti Skala adalah putranya. Mungkin berbicara sebagai sesama pria dengan bocah kecil itu bisa menjadi strategi yang terbaik saat ini yang Kenzo bisa lakukan.
Kenzo hanya perlu menunggu Skala sehat dan sedikit lebih dekat dan percaya pada nya. Setelah itu dia akan mengungkapkan hubungan mereka sebenarnya. Semoga ketika saat itu tiba, Skala dapat menerima dengan baik semuanya.
###
Hai zeyeeeng. jangan lupa untuk like dan komen ya.. semakin banyak komen kamu maka otor semakin tau kalau kamu menanti kelanjutan cerita ini.
Dan jangan lupa untuk dukung otor dengan cara memberi hadiah dan vote untuk otor ya...
__ADS_1
see you in the next chapter... 🥰🥰🥰🥰