Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 20#Kenzo Vs Aldion Rodio#2


__ADS_3

“Pagi kakek!” Sapa Skala pada Aldion Rodio yang sudah berada terlebih dahulu di ruang makan. Skala langsung memeluk pria tua itu. Dan mencium pipinya. Skala sangat rindu dengan kakek nya ini walaupun selama ini dia selalu mengirim email atau menelpon pria tua itu. Tapi tetap saja dia merasa sangat rindu dengan kakek nya itu.


“Selamat pagi juga cucu ku yang ganteng! Aku sungguh merindukan mu!” Aldion memeluk Skala dan menciumnya berkali-kali. “Apa kau merindukan ku Skala?” Tanya Aldion sambil memangku Skala dan memeluknya erat.


“Tentu saja. Aku sangat merindukan mu kakek.” Jawab Skala riang. “Apa kau tidur lebih awal semalam? Aku tidak melihat mu ketika aku dan mommy serta daddy datang.” Ujar Skala sambil memandangi kakek nya. Dia ingin melihat respon kakeknya ketika ia menyebut Kenzo dengan sebutan daddy. Akan kah pria tua itu marah pada nya bila ia mengatakan hal itu?


Wajah Aldion yang tadinya bahagia tiba-tiba berubah ketika mendengar Skala menyebut Kenzo dengan sebutan daddy tapi dengan cepat Aldion menyembunyikan rasa tidak sukanya dengan sebuah senyuman yang terkesan sedikit dipaksakan. “ Pintar juga bocah tengik itu. Dia sudah mendapatkan hati Skala. Kini Skala bahkan sudah memanggilnya dengan sebutan daddy. Cepat juga langkahnya.” Seru Aldion dalam hati.


“Aku ini sudah tua Skala. Tidak baik bagi kesehatan ku untuk tidur larut. Kalian datang terlalu malam semalam mata ku tidak kuat menunggu kedatangan kalian.” Kilah Aldion.


“Apalagi sejak kau tidak ada disini. Apalah yang bisa dilakukan oleh lelaki tua ini untuk melenyapkan rasa kesepiannya selain mencoba tidur lebih awal.” Ujar Aldion memasang wajah memelasnya.


“Kau jangan tertipu dengan ekspresi palsu kakek mu itu Skala.” Seru Damian yang baru saja tiba di ruang makan bersama isrtinya.


“Kakek Damian! Nenek Rose.” Skala turun dari pangkuan Aldion dan berlari menuju Damian dan istrinya.


“ Kakek Damian dan Nenek Rose apa kabar? Selama aku di kota A tidak sekali pun kalian mengirimi pun email atau bahkan menelpon ku.” Seru Skala sambil memasang wajah cemberutnya. “kalian sudah melupakan aku.”


“kami melupakan mu? Dari mana pikiran buruk itu Skala!” Seru Damian.


“Kami hanya tidak ingin mengganggu mu. Lagipula kalau kami juga ikut menghubungi mu maka kau tidak akan lagi rindu untuk pulang ke rumah ini.” Damian menggendong Skala dan meletakkannya di kursi di sebelah Aldion.


“benar yang dikatakan oleh kakek Damian mu itu Ska.” Rose pun itu mendukung perkataan suaminya.


“Nah, sekarang cerita kan pada kami semua bagaimana kehidupan mu di kota A? Apakah menyenangkan?” Tanya Damian sambil menarik kursi untuk istrinya kemudian untuk dia sendiri.


“Apakah ayah tiri mu jahat pada mu?” Tiba-tiba Aldion ikut bertanya. Dari wajah Aldion, Damian dapat melihat bahwa pertanyaan itu lebih terlihat sebagai sebuah pernyataan dari pada sebuah pertanyaan.


“Maksud kakek, daddy?” Skala melihat ke arah Aldion.


“Aku tidak tahu kau memanggilnya apa. Tapi yang pasti pria yang sedang serumah dengan mommy mu itu. Apakah dia baik dengan mu?” Ulang Aldion.


“Isssh.. apa-apaan kau Aldion!! Sudah Skala jangan kau dengar kan kakek mu itu. Sekarang jawab pertanyaan ku bagaimana kehidupan mu di kota A? Apakah kau merasa bahagia? Dan juga ibu mu, apakah dia bahagia tinggal di kota A?” Damian tidak sabar mendengar cerita dari Skala.


“Kenapa semalam paman tidak bertanya langsung pada ku.” Tiba-tiba terdengar suara Alesya dari arah pintu masuk ruang makan.


“Alesya, akhirnya kau turun nak. Bagaimana tidur mu dan suami mu? Apakah kalian nyenyak tidur semalam.” Seru Damian menyambut kedatangan Alesya.


“tentu saja nyenyak paman.”Jawab Kenzo, “Apalagi Alesya, sepertinya ia sangat rindu untuk tidur di kamar itu.”


Kenzo dan Alesya pun berjalan menuju meja makan yang sudah dipenuhi oleh hidangan di atasnya.


Mendengar suara Alesya reflek Aldion langsung melihat ke arah sumber suara itu. Andaikan Kenzo tidak ada dalam pandangannya ketika ia menoleh ke pintu masuk itu pasti dia akan menyambut kepulangan putri nya dengan rasa gembira. Tapi setelah melihat wajah Kenzo, suasana hati Aldion Rodio langsung berubah. Kini hatinya penuh petir dan geledek yang menyambar silih berganti. Namun Aldion Rodio sudah berjanji dia tidak akan memperlihatkan rasa tidak suka nya pada Kenzo sebab itu hanya akan menghancurkan rencana yang telah di susunnya.


Sambil berjalan Alesya terus menggenggam tangan Kenzo erat seakan-akan takut Kenzo akan tersesat bila tidak digenggamnya.


“Wah, sepertinya semua nya sudah berkumpul.” Seru Alesya pura-pura tidak menyadari muka ayahnya yang terlihat datar dan tidak menyapa nya dari tadi.


“Selamat pagi ayah.” Sapa Kenzo, berusaha setenang mungkin.


“Selamat pagi.” Jawab Aldion dengan wajah datarnya.


“Apa kau tidak merindukan putri mu ini ayah?” Alesya memeluk Aldion yang terlihat kaku itu.


“tentu saja aku merindukan mu meski aku ragu apakah kau masih merindukan ku.” Jawab Aldion singkat.


“Sudah-sudah, ayo kita makan dulu. Nanti kita baru lanjutkan ngobrolnya.” Damian harus cepat menengahi hal ini. Dia takut jangan-jangan sarapan pagi ini yang seharusnya bermenukan nasi bisa tiba-tiba berubah menjadi bermenukan air mata.


“Kau benar paman.” Seru Alesya. “Huft untung saja ada paman Damian.” Pikir Alesya dalam hati kalau tidak-.


“Daddy, ayo duduk di sebelah ku.” Pinta Skala sambil menunjukan kursi yang ia maksudkan.


“Kau duduk saja di sebelah Skala, aku akan duduk di sebelah ayah.” Ujar Alesya.


Dengan perasaan tidak menentu Alesya menarik kursi di sebelah ayahnya.


Setelah Kenzo dan Aleysa pun duduk di tempatnya masing-masing, sarapan pagi itu pun di mulai. Suasana yang menegang sungguh terasa. Jangan coba tanyakan apa rasa sarapan yang sedang di nikmati oleh Kenzo dan Alesya sebab lidah mereka benar-benar tidak merasakan apapun dari sarapan yang sedang mereka makan.


“Kakek! Tadi kau bertanya sesuatu tentang daddy kan?” Tanya Skala pura-pura tidak tahu kalau semua orang saat ini memilih untuk diam agar tidak memunculkan percikan api di ruangan itu.


Serentak semua orang berhenti dengan aktivitas makannya dan melirik Skala bergantian. “Ada apa?” Tanya Skala lagi dengan tampang tak berdosanya.


Alesya melirik ke putra nya itu. “Apa yang sebenarnya Skala coba lakukan?” Dalam pikiran Alesya.


“Heem.. Ska, aku tidak ingat kalau aku ada bertanya tentang daddy mu.” Jawab Aldion, lalu melanjutkan makannya.


“Daddy sekarang giliran mu,” Gumam Skala dalam hati, sambil tersenyum melihat ke arah daddynya.


“Flash Back on


**Sesaat sebelum Skala turun untuk sarapan pagi.


“Ska..? Boleh aku masuk?” Tanya Kenzo dari luar kamar Skala.


“Masuklah daddy.” Jawab Skala.


Kenzo pun membuka pintu itu dan masuk ke dalam kamar putranya. Kenzo memperhatikan setiap sudut ruang Skala. Sambil berjalan ke arah putranya, Kenzo sempat berhenti untuk melihat beberapa foto Skala sewaktu masih balita.


“Apa kau gugup daddy?” Tanya Skala sambil merapikan pakaiannya.


“Apa itu semua terlihat jelas di wajah ku? Mommy mu juga terus bertanya hal yang sama.” jawab Kenzo sambil tersenyum.


“Ya,begitu lah. Tapi yang pasti aku dapat melihat hal itu dengan jelas sejak kejadian di pesawat kemaren?” sindir Skala.


“Ska, apa kau tahu apa yang aku mimpikan semalam di pesawat?” Kenzo duduk di tepi tempat tidur Skala sambil melihat ke arah meja hias tempat Skala saat ini berdiri.


“Kau mimpi bertemu kakek, dan dia menolak kau sebagai menantu nya?” Tebak Skala sambil tersenyum.


“delapan puluh persen yang kau tebak benar Skala.” Ungkap Kenzo sambil mengambil satu bantal dan memeluknya erat.

__ADS_1


“delapan puluh persen? Hanya delapan puluh persen?” Skala tidak percaya tebakannya hanya benar delapan puluh persen saja.


“ya, hanya delapan puluh persen. Sebab kejadian yang dua puluh persennya lagi pasti tidak terpikirkan oleh mu.” Ujar Kenzo dengan wajah seriusnya.


“memangnya ada hal lain juga yang terjadi dimimpi mu saat itu dad?” Tanya Skala penasaran.


Setelah Skala pikir-pikir, tidak mungkin hanya karena di tolak sebagai menantu oleh kakek nya seorang Kenzo Dayon sampai berteriak dan menangis di dalam mimpinya seperti kemaren. Pasti ada hal lain yang membuat ayahnya sehisteris itu.


Kenzo melihat ke arah Skala. Lama Kenzo hanya melihat Skala tanpa berkata apapun. Padahal Skala sedang menunggu dia menceritakan hal yang dua persennya lagi.


“Daddy?” Seru Skala.


“heeem.. sabar Skala. Aku membutuhkan waktu untuk memberanikan diri mengingat kejadian itu.” Ujar Kenzo.


“Kau tahu, dalam mimpi ku demi mendapatkan restu dari kakek mu, aku mengungkapkan bahwa aku adalah ayah kandung mu Skala. Dan itu aku ungkapkan didepan mommy mu.” Kenzo menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.


“ kau tahu reaksi mommy mu? dalam mimpi ku mommy mu yang mendengarkan pengakuan ku itu langsung meninggalkan ku.” Kenzo mengusap kasar wajahnya.”Itu sungguh membuat ku frustasi Ska.” Terang Kenzo.


“Apakah menurut mu mommy akan meninggalkan ku bila ia tahu hal itu Ska?” tanya Kenzo pada putra nya.


Skala terlihat berpikir.“entahlah daddy. I don’t know.” Jawab Skala akhirnya.


“takutnya meski restu dari kakek mu berhasil aku dapatkan tapi aku malah kehilangan mommy mu Ska.” Ujar Kenzo dengan wajah serius.


“Kalau kau merasa hal itu akan membuat keadaan semakin memburuk aku rasa sebaiknya kau jangan mengungkap hal ini. Mommy kadang sulit di tebak.” Jawab Skala.


“Tapi terlepas dari semua hal ini Ska, terus merahasiakan ini dari mommy juga tidak benar Ska. Suatu saat dia pasti akan tahu tentang hal ini. Dan ini bisa menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak lalu mengenai aku dan diri mu Ska. Bisa kau bayangkan betapa marahnya mommy mu ketika ia tahu hanya dia sendiri yang tidak tahu akan kebenaran ini?” ungkap Kenzo lemah. Ia kini mengusap kasar wajah nya.


“Kalau begitu sebaiknya kau cari kesempatan untuk menjelaskan ini pada mommy. Kalau aku saja sebagai anak kecil bisa memahami situasi rumit yang terjadi saat itu, aku yakin mommy pun pasti akan paham dad. Ya meski hal itu hanya punya sepuluh persen kemungkinan untuk terjadi mengingat wanita selalu menggunakan hati dalam mengambil keputusan tanpa mengikutsertakan logika nya.” Jelas Skala.


Kenzo tidak merasa apa yang disampaikan oleh Skala membuatnya menjadi lebih bersemangat. “terima kasih atas penjelasan mu yang sangat membantu itu Skala?!” Ujar Kenzo, lemah. Skala benar-benar berbakat untuk menjatuhkan mental seseorang.


“Sebenarnya aku sudah pernah akan mengatakan kebenaran itu pada mommy mu tapi setiap kali aku akan mengatakannya selalu saja ada hal lain yang tiba-tiba muncul dan mencuri kesempatan ku untuk bercerita.” Kenzo benar-benar menyesal tidak menceritakan kebenaran ini lebih awal dengan Alesya sebelum ia dan Alesya datang ke rumah ini.


“jangan khawatir dad aku rasa masih ada waktu untuk itu. Saat ini yang terpenting adalah menjaga rahasia itu untuk sementara waktu dan memikirkan apa yang harus kau persiapkan untuk menghadapi kakek.” Skal diam sejenak. “Jadi apa yang akan kau lakukan dad?” Tanya Skala.


“kau benar Ska.” Jawab Kenzo. “Saat ini yang terpenting adalah menemukan cara untuk mendapatkan restu dari kakek mu tanpa mengungkap kebenaran itu.”


“Aku yakin kau pasti akan menemukan cara nya dad..” Skala menyemangati Kenzo.


“Tapi aku butuh bantuan mu Ska.” Ujar Kenzo.


“Bantuan ku?” Tentu saja Skala akan melakukan apa pun untuk dapat membantu daddynya.


“kemarilah, akan ku bisikan.” Kenzo memberikan kode kepada Skala agar mendekat.


Kenzo pun membisikkan sesuatu di telinga Skala. Beberapa kali terlihat Skala mengangguk dan kemudian tersenyum.


“Apa kau paham Ska?” tanya Kenzo usai ia membisikkan rencana nya pada Skala.


“Aku paham daddy. Tenanglah aku tidak akan mengecewakan mu.” Ujar Skala.


Kenzo merasakan strategi nya ini akan mampu menaklukkan Aldion Rodio. Namun satu hal yang Kenzo dan Skala tidak ketahui ia, semua yang telah mereka bicarakan tadi telah di dengar oleh pelayan yang diperintahkan oleh Aldion Rodio untuk memata-matai Kenzo di rumah itu.


Secara diam-diam pelayan itu pun pergi dari depan pintu kamar Skala. Pelayan itu pun langsung melaporkan hasil temuannya pada Aldion Rodio yang sedang sudah duduk di ruang makan itu.


Wajah Aldion sedikit berubah ketika ia mendengar dari pelayan itu bahwa Kenzo adalah ayah kandung Skala. Namun sebuah senyuman terbit di ujung bibirnya ketika pelayan itu mengatakan kalau ternyata Alesya sama sekali tidak mengetahui kebenaran itu. Pelayan itu juga mengatakan bahwa Kenzo dan Skala merencanakan sesuatu hanya saja ia tidak dapat mendengarkannya dengan sebab Kenzo membisikkan hal itu di telinga Skala.


“Aku mendapatkan satu kelemahan mu Kenzo Dayson.” Gumam Aldion senang, dalam hati.


“Apapun yang kau rencana kan dengan Skala tidak penting bagi ku. Sebab begitu Alesya tahu kebenaran ini, Alesya sendiri yang akan meninggalkan mu tanpa aku perlu bersusah payah untuk memerintahkannya meninggalkan mu.” Bagi Aldion Rodio informasi yang ia terima dari pelayannya pagi ini sangat berharga dan benar-benar informasi yang sangat luar biasa.


#Flash bak off


“kerja bagus Ska.” Gumam Kenzo dalam hati.


“Benarkah? Kenapa aku merasa tadi kakek ada bertanya soal daddy?” Ska hening sejenak lalu berkata, “heem.. ya sudah lah.” Skala pun melanjutkan makan nya.


Kenzo tidak menyia-nyiakan jalan yang telah dibukakan oleh Skala ini dengan cepat ia pun buka suara untuk memulai permbicaraan dengan Aldion Rodio.


Saat ini adalah momen yang sangat tepat bagi Kenzo untuk dapat memulai pembicaraan dengan Aldion Rodio sebab melihat reaksi Aldion ketika menjawab pertanyaan Skala, Kenzo bisa merasakan kalau Aldion tidak semarah yang ia kira.


“Ayah, jika ada yang ingin kau tanyakan kau dapat tanya kan langsung pada ku.” Ujar Kenzo, membuat semua orang di ruangan itu kecuali Skala kembali menghentikan makan mereka. Alesya pun ikut terkejut dengan keberanian yang ditunjukan oleh Kenzo dengan memanggil ayah nya dengan sebutan ayah.


Sedangkan Damian dan istrinya hanya bisa saling pandang menunggu reaksi yang akan diberikan oleh Aldion kepada Kenzo. Akankah sahabatnya itu akan mengeluarkan semburan api bak naga yang sedang marah atau dia dapat mengontrol kemarahannya di depan cucu tercinta.


“Heem,. Aku pasti akan menanyakan hal-hal yang perlu aku tanyakan pada mu nanti.” Jawab Aldion kepada Kenzo dengan tenang tanpa memperlihatkan sedikit pun rasa tidak suka nya pada Kenzo.


Reaksi tenang dari Aldion Rodio ketika menjawab pertanyaan Kenzo membuat Kenzo dan Skala tersenyum sebab ini memanglah yang mereka rencanakan. Mereka ingin tahu bagaimana reaksi Aldion ketika Skala menyebut Kenzo dengan sebutan daddy atau bagaimana reaksi Aldion ketika Kenzo memanggilnya ayah di hadapan semua orang. Kalau ayah mertuanya itu tidak marah mendengar hal itu kemungkinan besar apa yang dikhawatirkan oleh Kenzo tidak akan terjadi. Jadi walaupun Kenzo diminta untuk berbicara empat mata dengan tuan Aldion, dia tahu bahwa masih ada kesempatan baginya untuk mengambil simpati ayah mertuanya ini.


“Rencana pertama berjalan lancar.” Gumam Kenzo dalam hati.


Kenzo dan Skala boleh saja berpikir kalau semuanya sesuai dengan apa yang mereka rencanakan. Namun Damian sebagai orang yang paling dekat dengan Aldion Rodio malah merasakan ada sesuatu yang janggal. Bagaimana mungkin mentari pagi benar-benar melenyapkan amarah Aldion begitu saja. Jawaban Aldion yang terkesan menunjukkan ketenangan malah membuat Damian curiga Aldion memiliki hal lain di balik itu semua.


Sarapan pagi itu pun berakhir dengan suasana yang sedikit tenang. Kekacauan yang tadinya dibayangkan oleh semua orang ternyata tidak terjadi.


“Kenzo, apa kau bisa bermain catur? Kalau bisa ikutlah dengan ku.” Tiba-tiba Aldion mengajak Kenzo untuk bermain catur bersamanya.


Aleysa memadang Kenzo dengan tatapan yang cemas. Dia takut itu hanya akal-akalan ayah nya untuk berbicara dengan Kenzo lalu memaksa Kenzo untuk meninggalkannya.


“Apa kau hanya akan duduk disana tanpa mengikuti ku?” tanya Aldion sekali lagi pada Kenzo.


“Tentu ayah.” Jawab Kenzo, lalu berdiri dan mengikuti Aldion.


“Aku juga akan ikut.” Seru Alesya cepat.


“Tidak perlu. Permainan catur hanya dimainkan oleh dua orang saja jadi kau ataupun yang lain tidak perlu untuk mengikuti kami. Kalau aku mengajak Kenzo bermain kartu maka kau atau pun yang lain nya boleh ikut.” Jawab Aldion dengan wajah juteknya.


“Sudah, kau tunggu saja disini.”ucap Kenzo, pelan.

__ADS_1


“tapi Ken!”


“tenang lah. Semuanya akan baik-baik saja. Toh aku dan ayah hanya akan bermain catur saja di dalam.” Ungkap Kenzo. Dia tahu bahwa istrinya cemas akan dirinya jadi dia harus bisa meyakinkan Alesya bahwa ia bisa mengatasi semua hal ini.


Alesya tahu semua itu hanya perkataan yang diberikan oleh Kenzo untuk menenangkan dirinya. Alesya bisa merasakan bahwa suaminya itu sebenarnya sedang gugup saat ini. Itu lah mengapa Alesya benar-benar takut bila Kenzo hanya berdua saja dengan ayahnya.


Berbeda dengan Alesya, meski pun Kenzo gugup dan sedikit takut berhadapan dengan tuan Aldion tapi sebenarnya Kenzo senang memiliki kesempatan untuk berbicara hanya berdua dengan ayah mertuannya itu. “Aku harus bisa meyakinkannya untuk menerima ku.” Tukas Kenzo dalam hati.


“kau akan mengikuti ku atau tidak?” tanya Aldion sekali lagi.


Kenzo melepaskan tangan Alesya yang menahannya. Kemudian ikut masuk ke ruang kerja Aldion Rodio.


Alesya yang melihat punggung suaminya menghilang dibalik pintu ruang kerja ayahnya hanya bisa menghela nafas dalam sambil berharap Kenzo akan baik-baik saja di dalam sana bersama ayah nya.


Sedangkan di dalam ruang itu..


“Kau bisa bermain catur Kenz?” Aldion mengambil sebuah papan catur dari dalam salah satu laci di lemarinya.


“Aku bisa sedikit ayah.” Jawab Kenzo. Dalam hati Kenzo sudah menetapkan untuk memanggil tuan Rodio dengan sebutan ayah walaupun dia sendiri merinding setiap kali memanggil pria tua itu dengan sebutan ayah.


“ayah? Heeem.. boleh juga. Kau cukup berani memanggil ku ayah.” Ungkap Aldion Rodio dengan sebuah senyum yang mengejek membuat keberanian Kenzo ketar ketir.


Selama ini Kenzo belum pernah merasakan gugup seperti ini baik ketika ia sedang dalam diskusi bisnis ataupun ketika ia berbicara mengenai hal-hal di luar bisnis dengan siapapun. Tapi hari ini, walau sekedar untuk menarik nafas dan menghembuskannya kembali Kenzo merasa gugup dan takut. Mungkin ada baiknya dia membawa sendiri tabung oksigen dari rumah nya sebab oksigen di ruangan itu pun seakan-akan membenci nya.


Melihat Kenzo yang tidak kunjung berkata apapun, Aldion Rodio segera membuka papan caturnya.


“Kita akan bermain tiga babak. Yang memenang dua babak maka akan keluar sebagai pemenangnya.” Ujar Aldion Rodio.


“Apa dia benar-benar hanya akan bermain catur dengan ku?” Gumam Kenzo dalam hati. Dia harus berhati-hati sebab Aldion Rodio bukanlah tipe orang yang akan membawa musuhnya sekedar untuk bermain catur untuk mengisi waktu begitu saja.


“Apabila aku menang maka aku ingin kau meninggalkan putri ku.” Ucap Aldion dengan suara beratnya sambil menantap lekat mata Kenzo.


Kenzo terkejut mendengar perkataan ayah mertunya walaupun dia sudah menduga hal inilah yang akhirnya akan diajukan oleh ayah mertuanya sebagai sebuah penawaran. Tapi tetap saja Kenzo tidak habis pikir bagaimana ayah mertunya bisa memintanya untuk mempertaruhkan nasib keluarga nya dipertaruhkan di atas papan catur ini?


Kenzo merasa ini adalah ide yang sangat buruk. Kenzo masih tetap diam. Dia perlu berpikir jernih sebelum memutuskannya.


“Apa kau takut Kenz?” Tanya Aldion Rodio sambil mengeluakan anak catur dari kotak nya.


“Maaf ayah, tapi aku tidak bisa mempertaruhkan masa depan Alesya dan Skala di sebuah papan catur.” Akhirnya Kenzo berani untuk berbicara.


“Kenapa? Apa kau takut kalah dari pria tua ini?” Sindir Aldion pada menantunya itu.


“Bukan begitu- Hanya saja aku merasa hal ini tidak benar ayah.” Ungkap Kenzo.


Aldion mengangkat wajahnya dan melihat Kenzo dengan sorot mata penuh intimidasi “jadi menurut mu apa yang benar anak muda? Apakah menikahi seorang wanita tanpa meminta izin terlebih dahulu dari ayahnya adalah perbuatan yang benar? Padahal ayah dari si wanita itu masih ada.” Suara Aldion masih terdengar tenang ketika mengatakan itu.


Namun bagi Kenzo walaupun itu diucapkan oleh ayah mertuanya tanpa nada-nada yang naik satu atau dua oktaf tetap saja membuat jantung nya berdetak lebih kencang. Hal ini karena Kenzo tahu bahwa cara ia menikahi Alesya salah. Salah dari awalnya pikirnya.


Kenzo menelan salivanya dan berkata, “Itu juga adalah hal yang salah ayah.” Kenzo berhenti sejenak lalu melanjutkan perkataannya, “itulah mengapa saat ini aku dan Alesya datang menemui mu untuk memperbaiki segala hal yang salah itu.” Kenzo memberanikan diri untuk melihat ke mata ayah mertuanya tapi entah karena gugup atau hal lain, Kenzo sama sekali tidak bisa menerka apa isi hati dan pikiran ayah mertuanya melalui sorot mata itu.


“memperbaiki? Heeem.. terdengar seperti sebuah hubungan itu hanya sebatas sebuah benda mati bagi mu–“ Aldion pura-pura berpikir, lalu dia tersenyum.


“Aku tidak bermaksud demikian ayah. Aku hanya-“ Kenzo tidak dapat menyelesaikan penjelasannya sebab Aldion segera memotong pembicaraan Kenzo.


“Kalau begitu ayo bermain catur dengan ku, kalau kau menang maka akan aku berikan kesempatan bagi mu untuk memperbaiki kesalahan mu.” Ujar Aldion dengan senyum liciknya.


“Silahkan saja kau perbaiki kesalahan mu pada ku Kenzo Dayson, tapi aku penasaran bagaimana kau akan memperbaiki kesalahan mu pada putri ku.” Gumam Aldion dalam hati.


“Kalau memang dengan cara ini kau dapat memberikan ku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang telah aku buat di masa lalu maka aku akan senang hati bermain catur dengan mu ayah.” Ucap Kenzo.


Aldion Rodio tersenyum mendengar perkataan Kenzo dan berkata, “Berusahalah untuk menang dari ku Kenz, maka baru kesempatan itu kau dapatkan.”


“Jangan khawatirkan itu ayah, aku pasti tidak akan mengalah dari mu pada kesempatan ini.” Jawab Kenzo penuh percaya diri.


Kenzo pun membalikan papan catur itu.


“Kau putih dan aku hitam, bagaimana?” tanya Aldion pada Kenzo.


“Baiklah tidak masalah.” Jawab kenzo. Ia pun mengambil poin-poin yang berwarna hitam dan menyusunnya.


“Kau duluan ayah.” Ujar Kenzo.


Permainan catur antar menantu dan mertua pun dimulai.


Sementara Kenzo dan Aldion Rodio beradu strategi di atas papan catur, Alesya dan lainnya menunggu dengan harap-harap cemas di luar ruang kerja Aldion Rodio.


“Paman, apa Kenzo akan baik-baik saja berdua dengan ayah di dalam sana?” Kekhawatiran terlihat jelas di wajah Alesya.


“Kita berdoa saja semoga ayah mu tidak meluapkan semua kekesalan hati nya pada Kenzo?” Ujar Damian mencoba menenangkan Alesya. Dia tahu bahwa Alesya sangat cemas. Disatu sisi ada suaminya dan sisi lain ada ayah nya. Sungguh pilihan yang sulit apabila akhirnya ia harus memilih.


“Tapi bukankah lebih baik kalau kakek meluapkan semua kekesalannya pada daddy, dan setelah itu mau menerima daddy.” Seru Skala yang rupa nya masih ada di sana.


“Sayangnya kami para orang dewasa tidak sesederhana itu Ska,” Ujar Damian. “Takutnya setelah kakek mu menyemburkan semua kemarahannya pada daddy mu, hal itu tetap tidak berakhir baik bagi daddy mu.”


“Sebaiknya kau kembali saja ke kamar Ska.” Pinta Alesya, dia tidak mau Skala melihat ending yang tidak mengenakan ketika Kenzo dan kakeknya Ska keluar dari ruangan itu.


“Tidak mommy, aku mau disini menunggu daddy dan kakek keluar. Mana tahu ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membantu daddy menghadapi kemarahan kakek. Karena bagaimana pun kakek kan menyayangi ku.” Jawab Skala polos.


Alesya hanya bisa terdiam mendengar perkataan Ska.


Dalam hati Alesya berkata, “Dia juga mencintai ku Ska tapi saat ini tetap saja dia tidak mau menerima Kenzo sebagai suami ku sekaligus ayah mu meski dia tahu aku mencintai laki-laki itu.” Aleysa kini hanya bisa pasrah dengan keadaan.


Saat ini hal terbaik yang ia bisa lakukan hanya berdoa agar ayahnya dapat melupakan kekesalannya pada Kenzo dan menerima Kenzo sebagai menantunya.


*****bersambung...


hai.. masih setia nungguin up dari otor? Kalau kamu masih ada disini bersama otot Jangan lupa untuk dukung otor dengan cara like, komen dan vote ya.


Semakin banyak yang komen, like dan vote, semakin besar pula kesempatan untuk karya otor yang receh ini nangkring di beranda novel toon. Bantuin otor yang zeyeeeeeng.. makasih.

__ADS_1


__ADS_2