
“Kek, kakek kenapa lagi?” tanya Skala yang mencoba mengejar kursi roda kakek nya itu.
“Apa kakek sudah melakukan sesuatu pada daddy dan mommy?” Kini Skala menahan kursi roda milik Aldion.
“Aku tidak melakukan apapun.” Jawab sambil menolehkan wajahnya pada Skala.
“Kalau begitu mengapa kakek bersikap seperti tadi?” Usia Skala mungkin saja masih kecil tadi pemikiran nya sungguh melebih usianya saat ini.
“Kek, apa apa yang membuat kakek begitu membenci daddy? Apa karena perbuatannya di masa lalu? Atau karena alasan apa kek?”
“Kau tidak akan paham Skala.” Jawab Aldion dengan suara dalam nya.
“Kalau begitu aku ingin kakek membuat ku paham akan jalan pikiran kakek. Bukankah selama ini semua yang aku ketahui tentang perusahaan atau pun bagaimana cara berpikir yang logis dan kritis itu adalah hasil didikan dari kakek. Jadi kenapa sekarang kakek tidak mencoba membuat ku untuk memahami apa yang ada di dalam kepala kakek saat ini.” Ucap Skala yang kini telah berada di hadapan Aldion.
__ADS_1
“Ska.. Aku lelah. Aku ingin kembali ke kamar ku.” Untuk saat ini, Cuma dengan alasan ini lah Aldion dapat menghindari semua pertanyaan dari cucu nya itu.
“ Baik. Aku akan mengantarkan kakek ke kamar. Aku juga akan menemani kakek.” Skala tidak akan melepaskan Aldion begitu saja. Skala sangat heran mengapa Aldion menentang hubungan kedua orang tua nya dengan sangat gigih seperti itu. Dalam pandangan Skala, Kenzo adalah laki-laki yang baik. Dan Skala sudah mulai berpikiran seperti itu setelah ia tinggal untuk beberapa saat di rumah Kenzo sebelum akhirnya ia mengetahui kalau Kenzo adalah ayah kandungnya.
“Sepertinya aku harus mendongeng lagi hari ini.” Gumam Skala dalam hati.
“Aku tidak sedang ingin berbincang dengan mu Skala. Sebaiknya kau kembali saja ke kamar mu.” Ujar Aldion.
“Memangnya sejak kapan kehadiran ku membuat diri mu terganggu kek?” Skala memasang wajah memelas. Dia tahu Aldion tidak akan pernah tega menolak keinginannya apalagi kalau ia sudah memasang wajah seperti itu.
“Bahkan mommy ku tidak mengenal diri ku sebaik diri mu Kek.” Skala memperlihatkan senyuman termanis nya hari itu pada Aldion.
Skala pun mendorong kursi roda kakeknya itu menuju kamar tidur sang kakek.
__ADS_1
Dalam pikirannya saat ini ialah ia sedang memilih- milih cerita terbaik yang dapat dipergunakannya untuk meluluhkan hati sang kakek sehingga sang kakek tidak lagi menjadi penghalang hubungan antara daddy dan mommy nya.
“Kek...bagaimana kalau kita duduk – duduk dulu di balkon kamar sebelum kakek tidur. Masih terlalu pagi untuk tidur kan kek?” Ujar Skala sambil mendorong kursi roda Aldion ke balkon kamar.
“Hei bocah licik.. cepat katakan maksud mu hingga kau bersusah payah menemani ku pagi ini?” Seru Aldion sambil menyipitkan kedua matanya.
“Jangan terlalu berburuk sangka pada niat baik cucu mu ini Kek. Aku tidak ada motif apapun. Heemm hari ini aku hanya merasa ingin menghabiskan waktu bersama mu, hehhee..” Skala masih mencoba menyembunyikan rencananya.
“Benarkah?” Tanya Aldion yang sudah pasti tidak percaya dengan semua perkataan Skala.
“Kalau kau begitu ingin menemai ku mengapa kau tidak tinggal saja bersama ku dan jangan mengikuti mommy dan daddy mu pulang?” Aldion sungguh tahu bagaimana membalikan keadaan.
“Apa kau membenci daddy karena kau merasa akan kehilangan kami kek?” Tanya Skala sambil menatap tajam manik mata milik kakek nya itu. Seakan-akan ia sedang mencari jawaban dari sorot mata Aldion.
__ADS_1
**bersambung