
“Marcus….?” Frans menatap tajam pada ALesya.
“apakah benar Dyana ada hubungan dengan pria ini?” Untuk sesaat pikiran Frans dipenuhi dengan pertanyaan ini. Entah mengapa hatinya tidak senang ketika mendengar Alesya mengatakan tentang Marcus dan Dyana.
“Frans!! Apa yang kau pikirkan!!” seru Alesya pada Frans yang terlihat melamun.
Frans langsung gelagapan mendengar Alesya memanggilnya.”aa.. tidak ada apa-apa. Aku hanya terpikir tentang sesuatu di kantor.”Frans pun pura-pura melihat ke arah jam tangannya.
“ Baiklah sudah hampir siang Alesya. Maaf kalau aku mengganggu mu terlalu lama.”Ujar Frans. Dan ia pun langsung berdiri sembari mengancingkan kembali jasnya.
“baiklah Frans. Dan terima kasih sudah mampir.” Jawab Alesya. “ingat perkataan ku tadi Frans!!” Ucap Alesya sambil tersenyum simpul.
“Aku benar-benar tidak ada urusan dengan mereka berdua.” Sahut Frans, sok tidak peduli dengan perkataan Alesya, padahal...
“ya, paling tidak aku sudah mengingatkan diri mu ya tuan Aksena!!” Alesya terus menggoda Frans.
“Sudah-sudah!! Aku pulang dulu!! Lain kali aku pasti akan datang lagi kesini..”sebut Frans dan berjalan ke arah keluar ruangan itu ditemani Alesya yang berjalan disampingnya.
“sampaikan salam ku pada tante.” Ujar Alesya.
“pasti akan aku sampaikan.” Frans pun pergi dari ruangan Alesya.
"tapi maaf, untuk saat ini aku tidak akan menitipkan salam ku pada Kenzo karena aku tahu dia pasti akan menolak salam yang ku kirim untuk nya." ujar Frans sambil bergurau.
"kau terlalu berprasangka buruk pada nya Frans. Coba lah sekali waktu datang ke rumah ku. Kau akan tahu kalau Kenzo adalah orang yang sangat menyenangkan." jawab Alesya.
"aku ragukan itu. Baik lah Alesya. Sampai jumpa lagi."
"sampai jumpa lagi Frans. hati-hati." Ujar Alesya.
__ADS_1
Alesya yang sudah mengantarkan Frans keluar ruangannya pun kembali masuk ke dalam. Dilihatnya jam yang ada di tangannya. Dan betapa terkejutnya Alesya ternyata hari benar-benar sudah hampir siang. Padahal dia ada janji makan siang bersama Marcus.
Alesya pun mengetikkan pesan singkat untuk Kenzo guna mengabari suaminya itu bahwa ia akan makan siang dengan relasi nya di luar.
Setelah itu Aleysa pun langsung mengambil tas tangan beserta kunci mobilnya.
Tempat yang disebutkan oleh Marcus sebenarnya tidaklah jauh dari perusahaan Diningrat. Hanya butuh sekitar 15 menit saja berkendara dari perusahaan itu ke Restoran yang dimaksud.
Setelah menempuh lima belas menit perjalanan Alesya pun sampai di restoran yang dimaksud.
Begitu Alesya masuk ke dalam restoran itu seorang pelayan langsung menghampirinya.
“nyonya Dayson?” Ujar Si pelayan pada Alesya.
“ya benar,saya. ” Jawab Alesya singkat.
“tuan Marcus sudah menunggu anda. Mari ikuti saya nyonya.” Si pelayan pun berjalan di depan Alesya untuk menunjukan ruangan yang telah di booking oleh Marcus untuk pertemuan mereka.
“Silahkan nyonya. Tuan Marcus sudah menunggu anda di dalam.” Ujar si pelayan, sopan. Lalu membukakan pintu ruangan tersebut untuk Alesya.
“Terima kasih.” Jawab Alesya lalu masuk ke dalam ruangan itu.
Ruangan itu cukup besar bahkan Alesya berpikir untuk apa Marcus memesan ruangan sebesar ini hanya untuk mereka berdua.
“akhirnya kau datang juga Aleysa.” Ucap Marcus, dan langsung berdiri begitu melihat Alesya masuk ke dalam ruangan itu.
“kau tidak perlu menyambut ku tuan Marcus. Sikap sopan mu itu membuat ku takut.” Ujar Alesya, sembarangan.
“heh!! apakah aku sudah meninggalkan kesan yang buruk pada mu sebelum ini Alesya?” timpal Marcus, sambil tersenyum konyol.
__ADS_1
“mengingat kembali bagaimana kita bertemu dan bagaimana kau mengerjai ku maka dapat ku katakan bahwa kesan pertama ku cukup tidak menyenangkan ketika bertemu dengan mu.” Jawab Alesya, blak-blakan. Lalu Alesya pun duduk di kursi yang telah disediakan oleh Marcus untuknya.
“hahahah.. kalau begitu aku mohon maaf kan aku. Aku sungguh tidak bermaksud begitu itu. Saat itu aku hanya ingin menggoda mu. Tapi siapa sangka ternyata kau adalah istri keponakan ku. Dunia sungguh kecil." sahut Marcus.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita ulangi lagi perkenalan kita. Kenalkan nama ku Marcus Dayson. Putra kedua Albert Dayson dan paman dari Kenzo Dayson.” Marcus mengulurkan tangannya pada Aleysa yang sedang duduk di depannya.
Alesya tersenyum dan menyambut tangan Marcus,”aku Alesya Dayson. Istri dari Kenzo Dayson.” Setelah itu Alesya pun kembali duduk dan demikian juga Marcus.
“Apa kau tidak takut bertemu dengan ku Aleysa.” Ujar Marcus sambil menatap lurus ke Alesya.
“takut? Apa kau punya alasan kenapa aku harus merasa takut pada mu, paman.” Alesya sengaja menekan kata paman di akhir kalimatnya. Alesya pun menatap Marcus serius.
“kau memang sangat berani Alesya!! Aku yakin pasti suami sudah memperingati mu untuk tidak dekat-dekat dengan ku. Tapi lihatlah, kau malah datang memenuhi undangan ku siang ini.” Ucap Marcus, sambil membalas pandangan Alsya.
“itu semua karena aku penasaran, apa yang sebenarnya membuat musuh besar suami ku berani datang ke kantor ku pada hari pertama ku bekerja di kantor itu? Kau tidak mungkin hanya datang untuk mengantarkan tagihan mobil mu waktu itu kan, Paman?” Alesya kembali menekankan kata paman kali ini.
“hahaha.. kau masih ingat dengan tagihan itu! Aku saja sudah lupa!” timpal Marcus.
“aku pun sebenarnya sudah lupa tentang hal itu, hanya saja ketika melihat wajah mu pagi ini mengingatkan ku kembali dengan hutang ku pada mu.” jawab Alesya.
Alesya sengaja tidak langsung berbicara tentang tujuan kedatangannya. Dia ingin Marcus lah yang terlebih dahulu membuka pembicaraan tentang hal itu. Dengan demikian dia baru bisa yakin kalau Marcus memang punya tujuan yang sama dengan dirinya.
“heem.. karena kau adalah istri keponakan ku, aku tidak akan menagih hal itu pada mu.” Ujar Marcus, santai.
“Jadi benar kau mengundang ku hanya karena tagihan sewaktu itu?”pancing Alesya.
“tentu saja tidak Alesya. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu. Dan aku yakin kau pasti sudah mengetahui nya. Aku tidak akan berbasa basi lebih lama lagi.”
Marcus dan Alesya pun memulai obrolan mereka hari itu.
__ADS_1
***bersambung...