Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 20#Kenzo Vs Aldion Rodio#1


__ADS_3

“Aleysa!!!!!” Pekik Kenzo.


“Alesya!! Aku mohon jangan pergi!! Jangan tinggalkan aku!! Aku mohon..” air mata pun mengalir di pipi Kenzo.


“Kenz!! Kenz!! Bangun!! Kau kenapa Kenz!!” Tanya Alesya panik mendengar suami nya berteriak menyebut nama nya.


Skala pun yang mendengar daddy nya berteriak kencang mendekati daddy nya yang masih tertidur itu. “mommy, sepertinya daddy mimpi buruk.” ucap Skala begitu melihat ternyata Kenzo sedang tertidur.


Alesya mengangguk mengiyakan perkataan Skala.


“Ska, tolong mintakan air minum untuk daddy mu” Alesya meminta Skala untuk memintakan segelas air pada pramugari yang bertugas menemani perjalanan mereka.


“baik mom!” skala pun menuju ke salah seorang pramugari yang kelihatan sedang mengambilkan minuman yang diperintahkan oleh Alesya.


“Kenz!” Alesya memanggil nama suaminya sambil mengelap air mata yang masih mengalir di pipi Kenzo.


"Kenzo kenapa? " Gumam Alesya dalam hati.


Alesya yang sebenarnya terkejut mendengar Kenzo berteriak kini memperhatikan wajah Kenzo dengan seksama.


“Kau sedang bermimpi apa sayang? Sampai kau berteriak memanggil nama ku dan menangis seperti ini?” Alesya terus mengelap wajah suaminya dengan tangannya. Air mata tetap mengalir di pipi Kenzo walaupun dia kelihatan sudah agak sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


“Mommy, ini air nya.” Skala memberikan segelas air pada Alesya.


“terima kasih Ska. Sebaiknya kau kembali ke kursi mu.” Alesya mengambil gelas yang berisi air dari tangan Skala.


“Tapi Daddy?” Skala masih cemas dengan kondisi daddy nya.


“Daddy tidak kenapa-napa. Dia hanya sedang bermimpi buruk saja.” Alesya mencoba menenangkan Skala. “sana kembali ke kursi mu sebentar lagi kita akan sampai.”


“Baik mom.” Skala memandang wajah daddy nya sekali lagi lalu ia pun kembali ke kursi nya.


“Kenz! Kenz!” Alesya menggoyang-goyangkan tangan Kenzo mencoba membangunkan suami nya itu sebab air mata masih mengalir di pipi kenzo.


“Alesya!!!” Kenzo langsung memeluk Alesya begitu mata nya terbuka.


“Alesya aku mohon jangan tinggalkan aku.” Seru Kenzo sambil masih memeluk Alesya.


“Are you oke Kenz?” tanya Alesya khawatir.


Kenzo melihat sekelilingnya. “Pesawat? Aku masih di pesawat?” gumamnya dalam hati. “Berarti tadi itu –“ Berlahan Kenzo melepaskan pelukannya.


“Heem..apa aku tertidur tadi Alesya?” Tanya Kenzo, kikuk.


“Ini minumlah dulu!” Alesya memberikan air ditangan yang hampir saja tumpah ketika Kenzo tiba-tiba memeluknya tadi.


Kenzo pun mengambil air itu. Entah mengapa tenggorokannya terasa sangat kering.


“Ini.” Kenzo menyerahkan kembali gelas itu pada Alesya.


Alesya memanggil seorang pramugari yang berdiri tidak jauh dari mereka dan menyerahkan gelas kosong itu pada pramugari tersebut.


“Apa kau bermimpi buruk tadi tuan Dayson?” tanya Alesya sambil memegang tangan Kenzo.


“Apa?” Kenzo masih belum bisa memfokuskan pikirannya, “kau bertanya apa sayang?” tanya Kenzo kembali.


“Aku bertanya, tadi kau mimpi apa tuan Dayson! Kau berteriak memanggil nama ku. Meminta ku jangan meninggalkan mu! Kau mimpi apa sayang? Kau bahkan sampai menangis. Kau tahu kau membuat ku dan Skala khawatir.” Jawab Alesya.


“benar kah?” Tanya Kenzo dengan wajah was-was. Dia takut jangan-jangan ketika tidur dan mengigau tadi apa yang diucapkannya di dalam mimpi juga terucap di dunia sadar nya dan jangan-jangan Alesya mendengar semuanya.


“Memang nya tadi aku mengatakan apa?” tanya Kenzo dengan hati-hati.


“Entahlah. Kau meracau tidak jelas. Yang terdengar oleh ku hanya kau berteriak memanggil nama ku dan meminta ku jangan meninggalkan mu. Atau jangan-jangan?” mata Alesya menyipit bak seorang detektif.


“Jangan-jangan apa?” Kenzo takut Alesya mendengar pengakuannya di dalam mimpi itu.

__ADS_1


“Jangan-jangan kau takut bertemu dengan ayah ku dan terbawa ke dalam alam bawah sadar mu. Maka nya kau bermimpi buruk seperti itu.” Tebak Alesya dengan wajah ala detektif nya.


“Heem.. aku tidak memimpikan hal konyol seperti itu.” Elak Kenzo. Tidak mungkin dia mengakui jika tebakan Alesya benar.


“Kalau begitu katakan pada ku. Kau tadi mimpi apa tuan Dayson sehingga membuat mu memanggil nama ku dengan keras di dalam mimpi mu hingga mengeluarkan air mata seperti itu. Liatlah mata mu masih sembab.” Ledek Alesya.


“Aku tidak bermimpi apapun.” Kenzo melipat tangannya dan kembali memejamkan matanya.


“Untunglah hal itu hanya mimpi buruk.” Gumam nya dalam hati, bersyukur kejadian buruk yang baru saja ia alami hanya refleksi kegundahan hati yang tak bisa ia luapkan selama ini hingga muncul dalam bentuk mimpi buruk.


“Aku tidak akan menggunakan cara yang sama ketika bertemu dengan tuan Aldion Rodio nanti.”kecam Kenzo.


Walaupun terlihat memejamkan mata sebenarnya Kenzo tidak berani untuk kembali tertidur. Dia takut dia akan mengulangi mimpi yang sama. Kalau hal itu sampai terjadi maka tidak ada alasan lagi bagi untuk mengelak dari pertanyaan Alesya.


Akhirnya setelah perjalanan panjang mereka kali ini mereka benar-benar sampai di kediaman keluarga Rodio.


Kenzo memperhatikan rumah itu dari luar. “Syukurlah rumah ini tidak sama seperti yang ada di dalam mimpi ku ketika di pesawat tadi.” Gumam Kenzo dalam hati.


“Selamat datang sayang?” Sapa Damian sambil memeluk Alesya, “ bagaimana perjalanan mu?” lanjut Damian bertanya.


“Aku sehat paman. Dan perjalanan kami-“Alesya melirik ke Kenzo sejenak lalu melanjutkan perkataannya,” berjalan lancar.” Ungkap Alesya sambil tersenyum pada Damian.


“Syukurlah. Aku senang mendengar hal itu. Aku sempat khawatir kalian kenapa-napa di jalan sebab kalian terlambat sekitar satu jam.” Ujar Damian.


“Keterlambatan kami bukan karena kendala dalam perjalanan kakek tapi karena daddy dan mommy-“ Spontan Alesya dan Kenzo menutup mulut Skala bersamaan. Kalau tidak bocah itu pasti akan menceritakan kejadian yang ia lihat ketika ia masuk ke kamar Kenzo dan Alesya sebelum mereka berangkat.


“Ska, cepat masuk ke kamar mu. Kau pasti sudah rindu dengan kamar mu kan lagian ini sudah sangat malam dan kau pun sudah harus tidur..”Seru Alesya, sambil mendorong Skala untuk lekas memasuki rumah. Bisa bahaya jika bocah itu berlama-lama bersama mereka.


“hahahha... kalian lucu sekali.” Seru Damian melihat keharmonisan keluarga kecil Alesya. Dia bahagia, kini dia tidak melihat lagi dendam di mata putrinya itu.


“Paman, ayah dimana dan apakah bibi sudah tidur?” tanya Alesya sebab dia tidak melihat ayahnya dari tadi.


“Ayah mu ada di ruang tidurnya! Dan bibi mu pasti sudah tidur. Ayo kita masuk dulu.” Ajak Damian.


“Pelayan bawakan semua barang nona muda dan suami nya ke kamar mereka.” Perintah Damian kepada pelayan yang ada disana.


Mereka pun masuk ke dalam kediaman keluarga Rodio. Foto-Foto Skala mulai terlihat ketika mereka memasuki ruang keluarga di rumah itu.


Kenzo ingin sekali menghampiri foto-foto itu dan melihatnya dengan seksama satu persatu. Dia ingin melihat bagaimana pertumbuhan Skala yang selama ini tidak dapat ia lihat. Tapi tentu saja dia tidak dapat melakukan hal itu sebagai bentuk sopan santunnya kepada tuan rumah.


“ Apa kau tidak akan memperkenalkan suami mu pada ku Alesya?” Ujar Damian ketika mereka sudah sampai di ruang keluarga.


‘Aku sampai lupa mengenalkannya pada paman.” Seru Alesya.


“Paman Damian, ini Kenzo Dayson. Suami ku.” Alesya memperkenalkan Kenzo pada Damian.


“ Dan Kenzo, ini paman Damian, dia adalah asisten, sekretaris dan sahabat ayah ku. Dan sudah aku anggap sebagai ayah ku sendiri.” Kini giliran Damian yang diperkenalkan oleh Alesya ke Kenzo.


“lama tidak bertemu dengan mu tuan Damian. Kau tetap gagah seperti dahulu.” Kenzo menjabat tangan Damian. Entah mengapa Kenzo merasa Damian bukanlah orang yang harus diwaspadai nya. Pria ini sejak ia dan Alesya datang tidak memperlihatkan tanda-tanda permusuhan atau rasa tidak suka pada Kenzo.


“Kau juga anak muda! Kau tetap tampan seperti biasanya. Senang sekali akhir kita dapat menjadi keluarga.”Seru Damian membuat Kenzo senang sebab merasa diterima di rumah ini.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Aleysa heran melihat Kenzo dan Paman nya seperti sudah lama kenal.


"Kami ini pengusaha Alesya, wajar jika kami saling kenal." jawab Damian.


Alesya hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Damian.


“Baiklah, kalau begitu paman silahkan berbicara dengan Kenzo. Aku akan menemui ayah di ruang tidurnya.” Ujar Alesya.


“tunggu dulu sayang-“ Damian menahan tangan Alesya. “Sebaiknya kau bawa dulu Kenzo ke kamar untuk beristirahat. Besok saja menemui ayah mu.” Saran Damian, sebab hari memang sudah cukup malam.


“Baiklah kalau begitu paman.” Aleysa memilih untuk mengikuti perkataan paman nya. Sebab Alesya yakin meski ayahnya belum tidur, dia tetap tidak akan bisa berjumpa dengan ayah nya jika ayah nya memang tidak ingin.


“kenz, seperti nya ayah sudah tidur. Besok saja kita temui ayah bersama-sama.” Ucap Alesya.

__ADS_1


“baiklah kalau begitu. Paman Damian kami ke kamar dulu.” Ujar Kenzo pamit pada Damian.


“Aku pun ingin beristirahat.” Ucap Damian.


Kenzo sengaja berjalan lambat di belakang Alesya, sebenarnya ada yang ingin ia tanyakan pada Damian.


Damian menyadari hal itu dan menepuk bahu Kenzo berlahan kemudian berkata, “tenang lah. Aku yakin kau pasti bisa merebut hati pria tua yang keras kepala itu.” Damian tersenyum dan berjalan mendahului Kenzo.


Kenzo merasa tenang setelah mendapatkan sokongan dari Damian. Paling tidak ia tahu, Aldion Rodio adalah satu-satu nya orang yang perlu dia rebut hatinya di rumah ini. Dan sekutunya sudah mulai terlihat.


“Kenz, ayo aku tunjukan kamar kita.” Ujar Aleysa yang baru sadar ternyata Kenzo berjalan dengan santai di belakangnya.


“Kau sungguh tidak sabaran sekali kalau sudah berkaitan dengan kamar nyonya Dayson!” Goda kenzo.


“What?!! Kalau mulai melantur tuan Dayson!!!” Alesya mencubit pinggang suaminya.


“Wah, ternyata kau makin berani yang nyonya Dayson? Mentang-mentang saat ini kita sedang berada di rumah mu, cubitan mu terasa semakin sakit.” Ujar Kenzo sambil memegang bekas cubitan Alesya.


Mereka tidak menyadari ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.


“Lihat lah mereka! Tidak kah kau terlalu kejam dan egois jika sampai memisahkan pasangan yang sedang dimabuk cinta itu?”’ Ungkap Damian pada Aldioan yang sedang memperhatikan Kenzo dan Alesya yang sedang saling menggoda satu dengan lainnya ketika berjalan menuju kamar tidur mereka.


“Bukan urusan mu!” jawab Aldion cuek.


“tentu saja itu urusan ku.” Ucap Damian dengan wajah tidak senang. “Kau sedang berusaha menghancurkan senyuman di wajah putri kecil ku dengan keegoisan mu yang tidak jelas itu.” Gumam Damian sambil mendorong kursi roda Aldion menuju kamar tidur Aldion.


“kita lihat saja besok. Apakah bocah tengik itu bisa bertahan dengan semua hal yang telah aku persiapkan.” Sebuah senyum jahat terlihat di wajah pria tua itu.


“Lihat lah senyuman mu itu! Aku yakin kau sudah mempersiapkan rencana untuk membuat Kenzo mundur. Tapi aku percaya menantu ku akan bertahan!!” Seru Damian.


“menantu?? Sejak kapan bocah tengik itu jadi menantu mu!” Protes Aldion.


“Sejak ayah mertuanya yang sebenarnya menolaknya maka aku yang akan menganggapnya menjadi menantu ku. Nah kita sudah sampai dikamar tidur mu. Aku harap semua ide gila mu itu hilang bersama terbitnya mentari besok pagi.”


Damian pun kembali ke kamarnya. Urusan yang tak kenal waktu dengan Aldion membuat Damian selalu ditinggal tidur oleh istrinya.


Damian dan istrinya tinggal bersama Aldion dan Alesya di rumah ini. Kebetulan mereka memang tidak memiliki anak sehingga mereka menganggap Alesya sebagai puteri mereka sendiri. Sebagai tangan kanan Aldion Rodio, Damian tidak bisa berjauhan dari pria cerewet itu. Sehingga ia harus tinggal bersama di rumah besar itu. Tidak hanya mereka Jody dan Monica juga tinggal disana sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pindah demi meraih masa depan mereka. Jadi selain pelayan rumah sebenarnya kediaman kelurga Rodio ini cukup ramai.


“aku mau melihat Skala sebentar.” Ujar kenzo pada Alesya. Sebenarnya dia ingin melihat foto-foto Skala yang ada di kamar Skala. Tadi dia tidak memiliki kesempatan untuk melihat foto putra nya sewaktu balita di di lantai bawah.


“Besok saja. Dia pasti sudah tidur.”Aleysa ingin Kenzo segera beristirahat sebab ada badai tornado yang akan mereka hadapi esok hari. “sebaiknya kita lekas tidur Kenz. Kita perlu tenaga menghadapi ayah ku besok pagi. Percaya lah, dia tidak akan membuat ini mudah untuk kita berdua.” Alesya pun masuk ke dalam selimutnya.


Mendengar perkataan Alesya, Kenzo pun merasa dia memang harus fit untuk bertemu dengan ayah mertuanya. Tapi dia sempat cemas jika mimpi buruk kembali menghampirinya malam ini.


Kenzo menatap wajah istrinya yang terllihat mulai terlelap itu. “Andaikan aku dapat tidur tanpa beban seperti Alesya-huft!” Gumam Kenzo pelan.


“kata siapa aku tidak ada beban??” Tiba-tiba Alesya membuka matanya. “Ayo kemari.” Alesya menepuk-nepuk bantal disebelahnya, memberikan kode pada Kenzo untuk tidur di sampingnya.


Kenzo tersenyum mengetahui istrinya itu belum tidur. “kenapa kau belum tidur nyonya Dayson?” Ujar Kenzo sambil membaringkan dirinya pas disamping Alesya.


“Bagaimana aku bisa tidur jika aku mengetahui suami ku tidak bisa tidur karena mencoba menanggung beban sendiri untuk permasalahan ini.” Alesya menatap wajah suami nya itu.


“kau memang sungguh mengerti aku Alesya. Walaupun berkali-kali aku mengatakan aku baik-baik saja, kau selalu tahu kalau aku tidak sedang baik-baik saja sebenarnya.” Kenzo menjadi semakin cinta pada wanita yang dinikahi nya ini.


“Aku pun sebenarnya khawatir dengan ayah. Apa yang akan dia katakan pada mu? Aku takut dia kan menghina atau merendahkan mu dengan kata-katanya.” Ungkap Alesya pelan. “Aku takut kau tersinggung karena semua perkataannya dan akhirnya menyerah dengan hubungan kita, tuan Dayson.”


“kau mengkhawatirkan ku nyonya Dayson? Sebegitu cintanya kah diri mu pada ku?” Ditengah situasi yang mengkhawatirkan ini, Kenzo sempat-sempatnya menggoda istrinya.


“Tentu saja aku mengkhawatirkan mu!!” Ujar Alesya. “jangan anggap remeh ayah ku tuan Kenzo Dayson. Dia tidak muncul ketika kita datang tadi saja sudah merupakan bentuk protesnya pada hubungan kita ini. Dan aku yakin ayah tidak akan tinggal diam begitu saja.” Alesya kembali lemas bila mengingat rintangan-rintangan yang mungkin ia dan Kenzo hadapi.


“Sudah jangan dipikirkan lagi.” Kenzo menarik istrinya itu dalam dekapannya. Semoga dengan memeluk erat istrinya dapat mengusir semua kegundahan yang ia rasakan dan mimpi buruk itu pun enggan untuk datang.


*****bersambung...


Ups!! Siapa yang habis baca Bab ini langsung bilang..”Iiihhhh otoooooooooor!!! Teganya ngeprank reader nya!!! Hehehehe...

__ADS_1


Eits anggap aja bab sebelumnya bab latihan nangis biar pas timing nangis nanti bisa lebih mendalami dan menyelami.. hehehehe


Jangan lupa untuk dukung otor dengan cara like, komen dan vote ya. Semakin banyak yang komen, like dan vote, kesempatan novel ini nangkring di beranda novel toon semakin besar. Makasih cinto.


__ADS_2