
“Frans, aku mohon batalkan pernikahan mu dengan Dyana nak!” Tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulut Nania.
“Maksud ibu!” Tanya Frans yang tidak paham, apa kaitannya antara cerita sang ibu tadi yang tentang dirinya adalah anak angkat dengan pembatalan pernikahannya dengan Dyana.
“Aku tidak ingin kau bernasib seperti ayah mu dan Dyana bernasib seperti diri ku!” Ungkap Nania sambil terus menangis.
“Bu.. tenanglah dulu dan cerita kan semua nya pelan-pelan pada ku. Aku tidak bisa paham kalau ibu bercerita sambil menangis seperti ini.” Ujar Frans sambil memeluk ibunya.
“hiks.. hiks!!” Nania masih saja terisak-isak di dalam pelukan Frans.
Sambil menahan tangisnya Nania mengangkat wajah nya,.
“Frans, aku dan ayah mu memang terlihat sangat bahagia di mata orang-orang di luaran saja, tapi sesungguhnya hidup kami tidak lah seindah yang orang-orang bayangkan. Aku tidak pernah mampu memberikan cinta ku kepada Juan selama ini. Dan dia hidup dengan hati yang terluka karena tahu aku tidak mencintai nya dan malah mencintai orang lain.” Jelas Nania dengan cucuran air mata.
“Maksud ibu.. ibu mencintai orang lain tapi menikah dengan ayah? Apakah kalian di paksa untuk menikah atau bagaimana bu?” tanya Frans yang kini terlihat sangat panik mengetahui fakta ini.
“Tidak Frans! Tidak ada yang memaksa kami untuk menikah.” Ujar NAnia.
“Lalu, kalau begitu mengapa ibu mengatakan hanya ayah yang mencintai ibu sedangkan ibu, ibu malah mencintai orang lain! Bagaimana bisa! Aku sungguh tidak mengerti bu!” Ucap Frans yang mendadak menjadi bodoh.
__ADS_1
Nania menyapu air mata nya dan menatap Frans dengan mata yang masih berari itu.
Nania pun mulai bercerita.
“Frans, sebelum menikah dengan ayah mu Juan Aksena, aku sebenarnya telah mencintai seorang laki-laki dan telah menikah dengannya. Aku dan laki-laki itu bahkan telah dikaruniai sepasang anak kembar. Aku menamai mereka Stephan dan Stephanie.” Ungkap Nania.
“Tapi karena suami ku itu termakan fitnah yang dilontarkan oleh seorang wanita yang tidak menyukai hubungan ku dan suami ku maka akhirnya dia menceraikan ku tepat setelah aku melahirkan si kembar. Dia mengusir ku dan anak ku Frans. Untungnya mertua ku tidak termakan fitnah itu sehingga dia berupaya agar aku dan anak-anak ku tidak di usir keluar dari rumah kami.” Ucap Nania lirih.
“Hanay hanya hati suami ku telah tertutup oleh semua kebenaran saat itu. Hingga kebenciannya pada ku mengalahkan segala nya Frans. Dia bersedia membesarkan kedua anak itu asal kan aku pergi jauh dari hidupnya.” Tangis Nania Kembali pecah.
Frans saat itu hanya bisa menarik ibu nya ke dalam pelukannya guna menghilangkan rasa sedih di hati sang ibu.
“Dengan telaten sebagai seorang psikolog dia merawat ku. Dia memberikan support pada diri ku yang sudah kehilangan gairah untuk hidup. Hingga suatu saat dia melamar diri ku. Aku sudah menolak lamaran itu sebab aku tahu yang ada di dalam hati ku hanya nama mantan suami ku, tidak ada pria lain yang aku cintai selain dirinya. Tapi juan tetap memaksa. Dan begitu lah, akhirnya kami hdiup dalam rumah yang besar ini hanya lah sebagai partner belaka.”
“di awal pernikahan bahkan tidak ada senyuman yang menghiasi wajah ku. Dan Juan menyadari hal itu, dia menganggap bahwa hal itu karena aku telah terlalu banyak menyimpan luka yang bernanah di dalam hati ku.”
“Dia pun mencoba mengobati satu persatu luka ku.. dan obat pertama dan paling mujarab yang diberikan Juan pada ku adalah diri mu Frans. Sejak kehadiran mu lah, aku mulai membuka lembaran baru hidup ku.”
“Jadi aku mohon pada mu Frans, jangan menjadi seperti Juan yang rela menghabiskan seluruh hidup nya demi wanita yang tidak mencintainya karena aku sangat tahu hati nya sangat terluka karena hal itu. Dan aku pun tidak ingin Dyana menjadi diri ku, yang hingga akhir nafas ku ingin sangat menyesal sebab hingga detik ini aku pun masih belum bisa mencintai Juan seperti Juan mencintai ku.” Mohon Nania pada Frans.
__ADS_1
Frans menatap lekat mata sang ibu. Dalam pikirannya mungkin dia harus jujur tentang rencana dan Kenzo pada ibunya.
“Bu.. kau tidak perlu khawatir.” Ucap Frans sambil mengelus punggung tangan sang ibu yang terasa sangat dingin.
“Aku tidak akan menikahi Dyana. Kami tidak jadi menikah bu.” Ucap Frans lagi.
“Sebab yang akan menikah dengan Dyana besok pagi itu adalah Marcus, pria yang Dyana cintai. Semua yang ibu lihat dan ibu dengar tadi hanya bagian dari rencana ku, Kenzo, Alesya, Marcus dan Dyana agara Dyana dan Marcus dapat menikah. Jadi ibu tidak perlu khawatir aku akan mengalami nasib yang sama dengan ayah dan Dyana akan mengalami nasib yang sama dengan ibu.” Frans menghapus air mata yang menitik di pipi ibu nya.
“benar kah Frans? Kau tidak sedang berbohong kan? Aku -aku hanya tidak ingin kalian mengalami nasib yang serupa dengan diri ku dan Juan..” Ulang Nania.
“Benar bu.. bahkan kalau ibu tidak percaya maka aku bersedia bersumpah demi nyawa ku..-“
“Stts.. apa yang kau katakan !! Dasar anak bodoh!! Kau tidak boleh sembarangan bersumpah seperti itu!” Ujar Nania sambil memukul lengan Frans.
“Ibu benar..aku memang bodoh! Karena kebodohan itu lah aku memilih melepaskan Dyana padahal aku jelas-jelas mencintai wanita itu.” Seru Frans dengan sebuah senyum miris di wajah nya.
“Tidak Frans! Kau tidak bodoh! Kau adalah pria yang hebat! Pria hebat adalah pria yang rela cinta nya tak berbalas asalkan wanita nya menemui kebahagiannya! Kau sama seperti Juan! Kalian berdua adalah pria yang hebat sayang!” Nania memeluk putranya.
Tanpa terasa air mata jatuh di pipi Frans. Pelukan Nania sungguh menenangkan dirinya. Frans bertambah ikhlas untuk melepaskan Dyana. Kini yang Frans perlukan hanya lah menatap hatinya Kembali agar dia tidak terkukung dengan satu nama saja di hatinya seperti sang ibu.
__ADS_1
Bukan menjadi Juan Aksena yang Frans takutkan tapi menjadi Nania Aksena lah yang dia takutkan. Dia tidak ingin hidup seperti sang ibu yang selalu menyimpan rasa cinta yang sama hingga kini. Frans ingin memberikan dirinya sendiri kesempatan untuk Kembali mencintai wanita lain.