Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 46#Kala tabir tersingkap #4


__ADS_3

"Sampai kapan kau ada disini tuan Aksena!" Ujar Marcus yang terdengar sini pada Rival cintanya itu.


"aku rasa aku tidak harus menjawab pertanyaan mu itu." Jawab Frans dengan nada dingin.


"Aku harap kau tidak mengganggu hubungan ku dengan Dyana." Ujar Marcus blak-blakkan. Marcus tahu kalau kehadiran Frans di rumah ini pasti bukanlah karena alasan  yang telah ia sebutkan sebelumnya. Sebagai sesama pria, Marcus sangat menyadari maksud tersembunyi dari seorang tuan muda Aksena ini.


"hubungan? bukan kah tadi kau mengatakan kalau hubungan mu dengan Dyana tidak lebih hubungan sebagai saudara ipar? Dia adalah adik dari istri kakak mu dan kau adik dari suami kakak nya?!" Ujar Frans penuh penekanan. "jadi hubungan apa yang sedang aku ganggu disini?" Seru Frans sambil menyunggingkan sebuah senyum tanda tidak sukanya pada Marcus.


"Aku mencintai Dyana..." Ucap Marcus terpotong.


"Lalu? apakah ada jaminan Dyana juga mencintai mu?" Samber Frans tidak membiarkan Marcus menyelesaikan perkataannya.


Marcus hanya terdiam. Meski Marcus merasa kalau Dyana juga mencintainya tapi selama ini Dyana tidak pernah mengatakan hal itu secara langsung padanya.


"heh..!" Dengus Frans."sudah ku duga!" Ujar nya dengan sinis.


"Kenapa kita berkompetisi secara jantan saja untuk memperebutkan cinta nya." Lanjut Frans. "Setiap kita punya kesempatan untuk memenangkan hatinya."


Marcus terlihat tidak suka. "Aku tidak pernah takut untuk bersaing dengan mu tuan Aksena. Tapi aku sungguh tidak ingin menganggapnya sebagai sebuah kompetisi yang akan dilakukan oleh diri mu dan diriku, karena cinta Dyana bukan lah sebuah hadiah yang akan diberikan kepada pemenangnya dari kompetisi ini. Kalau kau ingin berjuang untuk cinta Dyana, maka lakukanlah. Anggap lah aku tidak ada sama sekali. Sebab aku akan melakukan hal yang sama, aku akan memperjuangkannya dan aku sama sekali tidak menganggap keberadaan mu di dalam lingkaran cinta kami." Tukas Marcus dan pergi meninggalkan Frans begitu saja.


"Pantas saja Kenzo sangat arogan, ternyata itu merupakan sebuah sifat yang wajib dimiliki oleh setiap orang di keluarga mereka." Celoteh Frans dan mengambil jalan yang berbeda dengan Marcus.

__ADS_1


****


"Daddy kau sedang apa disini?" Skala yang melihat ayahnya duduk sendirian di taman itu, akhirnya memutuskan untuk menghampirinya.


"Ska? bukankah aku meminta mu untuk menunggu di kamar? Mengapa malah kau yang kemari?" Tanya Kenzo pada Putranya. Kenzo ingat tadi dia berpesan pada Alesya untuk menyampaikan ke Skala bahwa Kenzo akan menemui Skala di kamar.


"daddy meminta ku untuk menunggu di kamar? memangnya daddy berpesan pada siapa? tidak ada yang datang ke kamar ku untuk menyampaikan hal itu." Jawab Skala, dengan matanya yang selalu terlihat berbinar itu.


"aku berpesan pada mommy mu. Apakah mommy mu tidak datang ke kamar mu Ska?" Tanya Kenzo heran.


Sudah cukup lama Alesya meninggalkannya. "Apa Alesya terlibat obrolan panjang dengan Dyana atau Monica sehingga ia belum menemui Skala?" Kenzo mencoba menebak-nebak kemungkinan yang terjadi yang menyebabkan Alesya belum ke kamar Skala.


"Tidak. Tidak ada yang datang ke kamar ku. Itu lah mengapa aku merasa bosan." Ujar Skala.


"Jadi Dyana sudah sudah tidur? kalau Dyana sudah tidur apa mungkin ALesya sedang di kamar Jack bersama Monica?" Kenzo malah jadi kepikiran dimana keberadaan istrinya saat ini. Jika pintu kamar Dyana tertutup maka dimana Alesya saat ini.


"apa kau ada singgah ke kamar uncle Jack Ska?" Tanya Kenzo, berharap Alesya ada disana.


"Tidak, aku tidak kesana.. setelah dari kamar grandma aku melihat Grandpa Marcus dan uncle Frans sedang berbicara tentang sesuatu di arah yang sama dengan arah ke kamar uncle Jack, jadi aku putar arah dan melihat daddy sedang sendirian di taman ini. so here I am..." Jelas Skala pada Kenzo, mengapa dia bisa akhirnya berakhir di taman ini.


"heeem.. mungkin benar, Alesya saat ini sedang bersama Monica dan Jack." Kenzo jadi sedikit tenang.

__ADS_1


Jujur saja, akhir-akhir ini Kenzo sebenarnya tidak merasa tenang sebab Jenny belum juga ditemukan. Andaikan Jenny ini adalah penjahat dengan kaliber penjahat kelas teri maka Kenzo tidak akan terlalu ambil pusing. Tapi fakta kalau Jenny ini ada hubungannya dengan sindikat penjahat dari organisasi besar, Kenzo ragu kalau musuh nya kali ini dapat dia tangani dengan mudah.


Ditambah lagi, target Jenny sudah pasti adalah Alesya. Sehingga sebentar saja Alesya hilang dari pantauan Kenzo maka Kenzo akan merasa sangat khawatir, meski itu di dalam rumahnya sendiri. Kenzo takut dia sudah wara wiri kesana kemari mencari keberadaan Jenny ternyata Jenny sudah bersembunyi di dalam rumah nya. Atau bisa saja Jenny sudah menyusupkan orang-orang dari sindikat itu di dalam rumah Kenzo tanpa Kenzo sadari.


Itulah sebab nya Kenzo tetap merasa khawatir akan keselamatan Alesya meski mereka di dalam rumah sekali pun. Kenzo berencana akan menyisir semua pelayan dan bodyguard yang ada di rumahnya saat ini besok pagi. Hitung-hitung sudah lama dia tidak melakukan sidak langsung pada pelayan dan bodyguardnya. Kenzo harus yakin kalau rumah nya benar-benar aman saat ini sebab semua orang yang dicintainya ada di rumah ini sekarang. Dan Kenzo harus bisa memastikan keselamatan mereka semua.


"Any problem dad?" tanya Skala pada Kenzo yang terlihat hanya diam setelah perkataannya tadi.


"No! no! semua nya baik-baik saja." Ujar Kenzo menyembunyikan kekhawatirannya.


Memang benar Skala adalah anak yang pintar dan bijaksana melampaui anak-anak seusianya. Tapi sebagai orang tua, Kenzo tahu ada hal-hal yang bisa ia bagi dengan Skala dan ada yang tidak. Dan hal yang menjadi kekhawatirannya saat ini, cukup dirinya sendiri saja yang tahu. Tidak Skala dan tidak juga Alesya atau tidak juga siapapun yang boleh tahu kekhawatiran nya saat ini.


"Ska, apa kau akan tinggal disini bersama ku dan mommy mu?" Kenzo ingat bahwa dia ingin menanyakan pertanyaan ini sedari tadi pada Skala.


Ternyata tinggal berjauhan dari foto copy nya ini sangat sulit bagi Kenzo.


"Untuk saat ini, aku belum bisa menjawabnya daddy. Kakek sangat berharap aku tetap berada di kota J untuk menemaninya." Jawab Skala, sambil tersenyum. Skala tahu bahwa bukan jawaban ini yang ayah nya ingin kan dari nya.


Kenzo hanya bisa mengangguk sambil tersenyum walaupun hatinya sedikit kecewa mendengar jawaban Skala. Secara tidak langsung Skala mengatakan kalau dia akan tetap bersama sang kakek untuk jangka waktu yang tidak bisa dipastikan sampai kapan.


 ***bersambung

__ADS_1


*ingat untuk tinggal kan komen mu ya zeyeng... *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.


__ADS_2