Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 50# menuju pernikahan#40


__ADS_3

“Kau sudah tidur ayah?” Tanya Marcus pada Albert melalui panggilan telpon.


“Heem.. akhirnya kau menelpon ku juga! Aku kira setelah kau dan Kenzo berdamai kau tidak akan menelpon ku lagi.” Sungut pria tua itu yang merasa Marcus tidak lagi sering menelpon nya sejak Marcus dan Kenzo berbaikan.


“Kau terlalu banyak berpikir ayah. Aku tidak menghubungi mu bukan karena aku menghabiskan quality time ku dengan cucu kesayangan mu itu, tapi karena aku disibukkan dengan beberapa urusan lain ayah.” Jelas Marcus pada ayahnya.


Albert memang sangat menyayangi Marcus bagai anak nya sendiri. Dia sama sekali tidak pernah menganggap Marcus sebagai putra angkatnya. Itu lah mengapa antara Marcus dan Robert (putra kandung Albert) saling menyayangi dan saling menjaga sebab Albert menekan kan pada Marcus dan Robert mereka berdua adalah putra Albert.


“jadi kau ingin mengatakan karena sudah tua maka aku terlalu banyak berpikir! Seperti itu kah maksud mu Marcus Dayson?” ucap Albert pura-pura marah pada putra kedua nya itu.


Marcus menghela nafas dalam. “ Sepertinya kau sangat kesepian karena cucu dan cicit mu tidak datang mengunjungi mu akhir-akhir ini maka nya kau mengarahkan semua itu pada ku!” Marcus membalikkan keadaan. Jika tadi dia yang disudutkan oleh Albert, kali ini dia yang menyudutkan Albert.


“Dasar kau!! Sangat pintar bersilat lidah! Sudah! Lekas katakan mengapa kau menelpon ku malam-malam begini!” gerutu Albert yang sebenarnya masih ada di depan meja kerja nya.


“Aku ingin menikah ayah!” Ucap Marcus dengan nada serius.


“jangan kan kau! Aku pun ingin menikah!” Ledek Albert.


“Aku serius ayah!” rengek Marcus pada ayahnya itu.


“Kau ini dasar anak durhaka Marcus!!! Mana ada anak yang mengabarkan hal seperti melalui telpon seperti mu! Kalau pun benar kau ingin menikah paling tidak kau datang menemui ku sambil membawa calon mu itu agar aku bisa mengenalnya dan memberikan restu ku! Tapi ini kau malah mengatakan ingin menikah melalui telpon!” Sungut Albert.

__ADS_1


Mungkin benar kata pepatah semakin banyak ulang tahun yang kau lalui maka semakin cerewet pula diri mu.(pepatah nya otor wkwkw)


“tapi kau sudah mengenalnya ayah! Malah sangat mengenal nya!” Sebut Marcus hati-hati.


“Aku mengenal calon istri mu?” Terdengar suara Albert seperti sedang berpikir keras.


Dan sesaat kemudian...


“Jangan katakan kalau kau akan menikahi Dyana!” Seru Albert dengan suara naik dua oktaf karena saking senang nya.


“Benar ayah!” jawab Marcus.


“Kau serius Marcus! Kapan? Dan dimana? Seharusnya kau mengabari ku lebih awal maka aku akan mempersiapkan pesta yang besar untuk mu.” Ungkap Albert yang begitu gembira mengetahui kabar ini. Saking bahagia nya Albert lupa kalau Mary , sang besan , tidak menyukai Marcus.


“tapi apa nak?” Tanya Albert cepat.


“Tapi bibi Mary tidak mengizinkan Dyana menikah dengan ku ayah. Dan saat ini Dyana sedang dalam masa persiapan pernikahan dengan laki-laki lain.” Jelas Marcus dengan suara lirih.


“Tunggu! Aku tidak paham dengan maksud perkataan mu Marcus! Bukan kah tadi kau mengatakan kalau kau ingin menikah? Lalu kau juga mengatakan kalau calon mu itu adalah Dyana? Tapi mengapa kini kau mengatakan kalau Dyana saat ini sedang dalam persiapan pernikahan dengan laki-laki lain!” Albert sungguh tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh Marcus.


“Bibi Mary berencana menikah kan Dyana dengan anak sahabatnya yang bernama Frans. Tapi karena Frans tahu aku dan Dyana saling mencintai maka dia bersedia mundur dari pernikahan itu. Hanya saja meski Frans sudah mundur dari pernikahan itu, bibi Mary pasti tetap tidak akan memperbolehkan Dyana dan aku menikah. Itu lah mengapa, kami semua bermaksud-“

__ADS_1


“Tunggu dulu! Tolong jelaskan pada ku siapa saja yang ada di dalam *kami semua itu*.” Potong Albert.


“Aku, kenzo, alesya dan frans serat dyana.” Jelas Marcus.


“Oke lanjutkan.” Sebut Albert.


“Itu lah mengapa kami semua bermaksud untuk mempercepat pernikahan itu lalu menukar pengantin pria nya. Aku butuh bantuan mu ayah!” mohon Marcus pada akhirnya.


“Kau meminta ku untuk bersekutu dengan mu dan Kenzo dalam rencana kalian ini?????!!” Seru Albert dengan nada yang terdengar enggan.


“Apa kau tidak ber-“


“Tentu saja aku bersedia.. hahaha. Aku akan sangat senang dapat memberikan pelajaran pada besan lama ku itu. Mary tidak seharusnya membeda-bedakan kedua putra ku! Sebab di mata ku kedua putra ku sama berharga nya.” Sorak Albert.


“Aku sangat menyayangi mu ayah!” Sebut Marcus penuh haru.


Air matanya bahkan mengalir di pipinya. Pria tua itu benar-benar telah menjadi sosok ayah bagi Marcus.


Limpahan kasih sayang di dapatnya dari Albert. Segala hal baik juga dia pelajari dari Albert. Andaikan Albert tidak mengadopsinya dulu, entah bagaimana Marcus menjalani hidup saat ini.


“Aku pun menyayangi mu Marcus..” Jawab Albert yang juga menitikkan air matanya di ujung telpon itu.

__ADS_1


**bersambung...


__ADS_2