Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 27#Mulai simpati#2


__ADS_3

Sesampainya di kamar Dyana langsung mencari nomor Marcus dan menekan nomor itu.” Semoga ponselnya sudah aktif kembali.” Ucap Dyana pelan.


“Hallo Marcus!!” Ujar Dyana begitu panggilan itu tersambung.


“hallo Dyana.” Jawab Marcus.


“ooh.. syukurlah aku dapat menghubungi mu!” Seru Dyana yang terdengar panik oleh Marcus.


“Ada apa Dyana?” Kini gantian Marcus yang malah menjadi panik sebab mendengar Dyana jadi panik.


“kamu dimana Marcus?” tanya Dyana cepat. Dia ingin tahu dimana posisi Marcus saat ini. Apakah dekat atau jauh dari posisi rumah Frans.


“Aku sedang arah ke hotel ku di pinggiran kota A.” Jawab Marcus yang heran untuk apa Dyana bertanya posisi diri nya saat ini.


“Marcus, aduh aku bingung sekali saat ini. Frans!! Franss sakit!! Badannya panas! Dan ada banyak sekali ruam! Kemungkinan besar ruam-ruam itu ada di seluruh tubuhnya.” Ungkap Dyana pada Marcus.


“Frans?” Marcus heran apa hubungannya Frans yang sedang sakit dengan Dyana? Dan bagaimana Dyana tahu kalau Frans saat ini sedang sakit?


“Iya Frans!!” jawab Dyana sambil keluar dari kamar nya dan berjalan ke arah kamar Frans.


“kamu lagi dimana Dyana?” Tanya Marcus yang curiga jangan-jangan Dyana dan Frans saat ini sedang bersama.


“Aku sedang di rumah nya Frans!!” jawab Dyana, yang tak beberapa lama langsung menyesali telah memberitahu Marcus kalau dia saat ini sedang di rumah Frans.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan di sana hah?” Kali ini terdengar suara ban yang berdecit seperti seseorang yang sedang mengerem mobilnya mendadak.


“akan aku jelaskan nanti. Tapi untuk saat ini aku mohon bantu aku dulu Marcus!!” Pinta Dyana dengan suara yang terdengar memohon pada Marcus.


Niat Marcus yang akan mengomeli nya terpaksa Marcus tunda untuk sesaat sebab dari suara Dyana marcus yakin pasti keadaan Frans cukup buruk.


“alihkan panggilan ini ke video call.” Perintah Marcus pada Dyana.


“Baiklah.” Dyana pun mengalihkan panggilan itu ke video call ketika ia sudah sampai di kamar Frans.


“Coba perlihatkan pada ku tangannya.” Perintah Marcus.


Dyana pun meminta pelayan untuk mengangkat tangan baju Frans.


“Dyana coba kau pegang ruam itu, apakah itu bengkak seperti digigit nyamuk atau hanya sama datarnya dengan kulit Frans?” Marcus harus memastikan dulu apa yang dilihatnya itu.


“Baiklah.” Dyana pun yang masih memegang ponselnya, duduk disamping Frans dan memegang tangan Frans. Lalu ia pun melaporkan kembali pada Marcus apa yang ia rasakan ketika menyentuh tangan Frans.


“Tidak terasa seperti benjolan. Ini sama datar nya dengan kulit tangan nya.”Jelas Dyana.


“heem.. kalau begitu, coba buka buah bajunya sebab aku mau melihat apakah ruam ini benar juga ada di seluruh tubuhnya.” Perintah Marcus.


Dyana pun langsung ingin membuka baju Frans. Tapi tiba-tiba...

__ADS_1


“Stop!!!!” Seru Marcus dari balik layar ponsel itu.


“ada apa Marcus?” tanya Dyana heran mengapa Marcus malah menghentikannya mendadak begitu. Bukan kah tadi dia yang memerintahkan Dyana untuk membuka baju Frans guna melihat ada atau tidak ruam itu di tubuh Frans. Tapi mengapa dia tiba-tiba menghentikan Dyana?


“Heem.. minta orang lain untuk membuka bajunya Frans. Kau fokus saja memegang ponselnya. Layarnya jadi goyang-goyang karna kau terlalu banyak bergerak.” Ujar Marcus bohong. Sebenarnya dia tidak ingin Dyana menyentuh Frans dibagian tubuh Frans.


Dyana yang saat ini tidak memikirkan hal aneh-aneh merasa tidak ada yang salah dengan alasan yang diberikan oleh Marcus. Dyana pun meminta si pelayan yang dari tadi mengobrol dengan nya di dapur untuk membuka baju Frans. Sedangkan dia fokus mengarahkan kamera ke arah tubuh Frans.


“Bik.. tolong kau bukan baju Frans!” ucap Dyana pada si pelayan.


Si pelayan itu pun membuka satu persatu buah baju tidur Frans. Setelah selesai dia mengesampingkan baju itu ke kiri dan ke kanan sehingga orang yang sedang di telpon oleh Dyana dapat melihat tubuh Frans dengan jelas.


“Cukup!!” Seru Marcus. Dia tidak ingin Dyana juga ikut berlama-lama melihat dada bidang Frans dengan roti sobek yang terpampang jelas.


“Bagaimana?” tanya Dyana yang sama sekali tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh Marcus.


“Aku rasa...”


****bersambung..


tuh kan masih cuma lihat2 doang!!!!


.. ayo dong like komen dan vote.. 😘

__ADS_1


__ADS_2