Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 25#Ketulusan#11


__ADS_3

“Kek, aku kembali ke kamar ku dulu ya.” Ujar Skala setelah yakin saat ini tidak akan ada masalah lagi antara kakek dan daddy nya.


“Pergilah. Dan tolong panggilkan daddy dan mommy mu kemari.” Ucap sang kakek.


Skala yakin ada banyak hal yang kakeknya ingin perbincangkan bersama kedua orang tua nya. Skala pun segera turun dari pangkuan Aldion.


“Baik kek. Aku akan meminta daddy dan mommy untuk datang ke sini.” Ujar Skala. Skala pun pergi meninggalkan kamar kakeknya. Kini tinggallah pria tua itu sendiri di balkon kamarnya sambil menatap halaman belakang rumahnya yang selalu menjadi view favoritnya selama ini.


“Sepertinya sudah saat nya aku untuk melepaskan mereka. Kini aku hanya tinggal sendiri.” Aldion menatap lurus ke depan. Hatinya terasa sedih. Tapi dalam hati ia berujar setiap ayah pasti akan merasakan momen ini. Momen dimana ia harus iklas putri yang ia cintai membina keluarganya sendiri. Cukup sejenak saja ia membiarkan dirinya menjadi begitu egois hingga ingin memisahkan keluarga kecil penuh cinta itu.


Tiba-tiba Aldion tersenyum. “Bocah kecil itu memang selalu bisa meracuni pikiran ku.” Ujar Aldion sebab ia kembali teringat perkataan Skala yang menyamakan posisinya dengan posisi Kenzo Dayson saat ini. Mereka berdua sama-sama tidak tahu kalau mereka memiliki anak. Dan mereka sama-sama baru bertemu dengan anak mereka setelah sekian tahun. Hanya saja dalam hal ini Kenzo sedikit lebih beruntung darinya sebab Kenzo masih berkesempatan bertemu dengan Alesya. Sedang dirinya, hingga akhir hayat Ameera, Aldion tidak pernah bersua lagi dengan Ameera. Dan waktu ia berjumpa dengan Alesya pun, itu ketika Alesya sudah dewasa. Kenzo memang jauh lebih beruntung darinya. Mungkin ini lah yang membuat Aldion tidak menyukai Kenzo sebab nasib lebih mengasihani Kenzo dari pada dirinya.


“Paling tidak aku tahu kalau Kenzo Dayson adalah pria yang tepat untuk putri ku.” Gumam Aldion sambil memejamkan matanya.


Belum begitu lama Aldion memejamkan matanya, ia mendengar bahwa pintu kamarnya kembali terbuka. “Sepertinya mereka sudah sampai. Cepat sekali bocah itu. Apa dia langsung terbang begitu tahu aku ingin berbicara dengan orang tuanya?” Gumam Aldion dalam hati.


“Ayah?” Sapa Alesya sambil menyentuh lembut bahu Aldion yang terlihat seperti tertidur itu?”


“Alesya, sepertinya ayah sedang tidur. Sebaiknya kita keluar saja. Nanti jika beliau sudah terbangun kita kembali ke menemuinya.” Ujar Kenzo, dengan suara pelan, takut mengganggu pria yang sudah membuat hidupnya hampir kocar kacir semalam.


“Aku tidak sedang tidur.” Seru Aldion sembari membuka matanya dan langsung menoleh pada Alesya dan Kenzo yang ada di belakangnya.


“Duduklah.” Perintah Aldion pada Alesya dan Kenzo.


Kenzo dan Alesya saling berpandangan. Seakan-akan saling menguatkan satu dengan lainnya. Mereka tidak tahu mengapa Aldion memanggil mereka. Tadi Skala hanya mengatakan kalau kakeknya memanggil mereka berdua ke kamarnya.


“Semoga tidak ada hal buruk lagi yang terjadi.” Gumam Alesya dalam hati.


Alesya pun menggenggam tangan Kenzo. Sebetulnya hal itu ia lakukan untuk menguatkan dirinya sendiri tapi di mata Aldion itu bagaikan tanda dari Alesya bahwa ia dan Kenzo tidak dapat dipisahkan oleh apapun jua.

__ADS_1


“kau tidak perlu memegang tangan suami mu erat seperti itu.” Ledek Aldion ketika Alesya dan Kenzo berjalan dihadapannya.


Mendengar ucapan ayahnya Alesya spontan ingin melepaskan tangan Kenzo. Ia merasa sangat malu sekali. Tapi diluar dugaan Kenzo malah memegang tangan Alesya dengan erat. Seakan-akan ia memang sengaja melakukan hal tersebut agar Aldion tahu bahwa ia tidak akan melepaskan tangan Alesya sampai kapan pun jua.


“cih.. kalian kira aku ini pria tua yang jahat apa? Terserah kalian saja toh saat ini dunia adalah milik kalian berdua.” Cemooh Aldion.


Tanpa menjawab apapun, Alesya dan Kenzo duduk di kursi yang di hadapan Aldion. Mereka sungguh tidak bisa mengartikan air muka Aldion yang terlihat sangat datar saat itu.


Aldion melihat Kenzo dan Alesya bergantian. Sesekali ia tersenyum membuat Kenzo dan Aleysa menjadi bingung. Bagi Kenzo dan Alesya, momen semalam masih sangat membekas. Tapi bagaimana bisa dalang dari kejadian itu malah senyam senyum dihadapan mereka saat ini.


“Aku tahu kalian pasti bingung mengapa aku memanggil kalian berdua kemari.” Akhirnya Aldion memulai pembicaraan itu.


Kenzo dan Alesya tidak menjawab apapun. Mereka terlalu fokus mendengar perkataan Aldion.


“Kalian tidak perlu tegang seperti itu. Sebab aku sudah merestui hubungan kalian berdua.” Ujar Aldion.


Kontan perkataan Aldion membuat Alesya dan Kenzo tercengang. Mereka langsung saling berpandangan. Seakan-akan ingin memastikan hal yang mereka dengar adalah sama dan itu adalah benar.


Alesya yang akhirnya menyadari bahwa hal ini adalah nyata langsung memeluk ayahnya. Sambil menangis dia memeluk pria tua itu.


“Apa kau akan tetap di situ anak muda?” Ujar Aldion pada Kenzo yang terlihat masih mematung di kursinya. “Aku akan segera berubah pikiran kalau kau tidak segera memeluk ku.” Ancam Aldion dengan setengah bercanda.


Kenzo pun langsung memeluk pria yang kini secara resmi sudah menjadi ayah mertunya itu.


Sama halnya dengan Alesya, Kenzo pun tidak dapat menyembunyikan rasa syukurnya atas mukjizat pagi ini. Air matanya pun ikut turun membasahi pipinya. Dengan suara yang mulai terdengar parau Kenzo mengucapkan rasa terima kasih nya yang teramat dalam pada ayah mertua nya itu yang sudah bersedia memaafkannya dan menerimanya sebagai menantu.


“Terima kasih ayah.” Ujar Kenzo, air mata masih turun di pipinya.


“Kalian harus berterima kasih dengan bocah kecil itu.” Jawab Aldion yang secara tidak sadar juga ikut menangis. “Dia benar-benar sudah meracuni hati dan pikiran ku.” Sambung Aldion.

__ADS_1



“Jadi ini semua ulah Skala?” Tanya Alesya sambil menghapus air matanya.


Kini Alesya dan Kenzo duduk bersimpuh di depan Aldion. Ketiga orang itu terlihat sesekali menghapus air mata yang turun di pipi mereka masing-masing.


“Memang nya ulah siapa lagi!! Cuma dia yang punya cara selicik ini.” Ujar Aldion sambil tersenyum ditengah tangis haru biru nya itu. “Dia menyisipkan sedikit demi sedikit cerita tentang dirinya dan daddynya, lalu menambahkan bumbu-bumbu yang tanpa aku sadari membuat aku terhanyut dalam perasaan ayah dan anak yang sangat dalam antara dirinya dan Kenzo. Bahkan klimaknya kalian tidak akan pernah menduga, bocah tengil itu bahkan bisa menyentil ku dengan rangkaian kata-kata yang diucapkanya secara halus tapi penuh dengan maksud tersirat yang menampar diri ku. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi selain aku merestui kalian berdua. Berbahagialah. Dan saling ada untuk satu dan lainnya. Itu saja pesan ku.”Ujar Aldion sambil menyentuh pipi Kenzo dan Alesya bersamaan.


“ingat untuk selalu kembali ke detik ini bila suatu saat rumah tangga kalian dihampiri badai yang besar. Ingatlah betapa kau mencintai Kenzo.” Ujar Aldion pada Alesya. “Dan kau Kenzo, ingatlah saat ini, saat dimana kau tidak mau melepaskan tangan putri ku. Begitu aku menyerahkan tangan mungil ini pada mu, maka aku tidak akan membiarkan tangan mungil ini akhirya hanya untuk menghapus deraian air mata selama hidup bersama mu. Berjanjilah pada pria tua ini untuk hal ini tuan Kenzo Dayson.” Aldion menatap Kenzo dengan tatapan yang penuh air mata.


“Aku berjanji ayah. Aku berjanji tidak akan pernah membuat nya menangis sedih.” Jawab Kenzo sambil terbata-bata.


“Hiduplah dengan bahagia dalam jangka waktu yang sangat lama sebab hanya itu yang selama ini tidak aku miliki tapi aku selalu berharap putri ku tidak mengalami nasib yang sama seperti aku dan ibunya.”Sekilas bayangan wajah Ameera yang tersenyum muncul dalam bayangan Aldion.


Alesya masih sibuk dengan deraian air matanya. Dia tidak sanggup berkata apapun. Dia tahu dengan sangat jelas bagaimana hubungan antara mendiang ibunya dan ayahnya. Mereka saling mencintai tapi sayangnya mereka tidak pernah dapat hidup bersama selamanya.


Kini Alesya telah memiliki Kenzo, tentu saja dia sangat bahagia. Tapi jauh dilubuk hati Alesya dia merasa berat meninggalkan ayahnya. Bahkan kalau memungkinkan Alesya ingin mereka semua bersama -sama selamanya. Tapi tentu saja itu semua tidak mungkin. Pertama, tidak mudah bagi kedua pembisnis ulung seperti Kenzo dan ayahnya untuk tinggal jauh dari bisnis yang mereka jalankan. Kedua, ayahnya memang sengaja mengurung diri dari dunia luar sebagai wujud penebusan dosanya telah meninggalkan Ameera dahulu kala. Dia ingin menyendiri untuk menebus itu semua. Itulah sebabnya bisnis ayahnya dijalankan oleh Damian, asisten, sekretaris sekaligus sahabatnya.


Aldion hanya sibuk berkebund dan merawat hewan-hewan peliharaan kesayangannya.


“ikutlah dengan kami ke kota A ayah?” Kenzo yang sangat tahu perasaan Alesya berinisiatif untuk mengajak Aldion untuk tinggal bersama.


“Tidak Kenz.. kota itu telah menoreh luka yang sangat dalam disini.” Ujar Aldion sambil menyentuh dadanya sendiri.


“Aku tidak akan pernah kembali ke sana lagi. Cukup satu kali ketika membujuk mu dulu aku kesana. Dan aku tidak akan mengulanginya lagi. Kalian tinggallah dengan nyaman disana. Aku tahu, tidak mungkin untuk meminta mu dan Alesya untuk tinggal di kota J sebab basis bisnis mu yang sedang kau bangun ada di kota A. Aku tidak masalah. Sebelum bertemu dengan Alesya, aku juga sudah terbiasa sendiri disini. Hanya saja harapan ku, kalian sering-seringlah berkunjung ke rumah pria tua ini. Kalau tidak dapat kalian lakukan seminggun sekali, paling tidak sebulan sekali. Bahkan kalau kalian sangat sibuk paling tidak kalian dapat mengunjungi ku umur senja ku ini setahun sekali.” Ujar Aldion dengan deraian air matanya. Kesunyian yang panjang telah terpapar dengan jelas di mata nya saat ini. Membuat mata itu tidak dapat berhenti berair.


“Ayah!! Jangan berkata begitu. Aku akan selalu mengunjungi ku. Kau adalah ayah ku. Dan kita belum memiliki waktu yang cukup untuk saling memahami dan menyayangi. Aku dan Kenzo serta Skala akan rutin mengunjungi mu ke kota J. Bahkan aku akan segera datang begitu kau mengatakan kau rindu pada ku.” Alesya langsung memeluk Aldion.


Kenzo sungguh tersentuh melihat momen ini. Dia dapat merasakan ikatan cinta yang kuat antara Alsya dan ayahnya. Ikatan cinta yang kini tidak dapat lagi ia rasakan sebab ayahnya sudah tidak ada lagi di dunia ini selamanya.

__ADS_1


“Ayah lihatlah, aku sudah menemukan sosok seperti diri mu saat ini.” Gumam Kenzo dalam hati, berharap Aldion tidak hanya menjadi ayah mertua baginya tapi juga dapat mengisi posisi ayah yang telah kosong sekian tahun lamanya.


***bersambung


__ADS_2