
"Seperti nya aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi di sini." Gumam Jenny dalam hati yang sudah menunggu Frans keluar dari ruang perawatan itu berjam-jam lama nya.
Jenny pun meninggalkan tempat dia bersembunyi dan berjalan ke arah luar rumah sakit.
Tadinya Jenny berpikir dia bisa menggunakan wajahnya yang rusak untuk menarik simpatik Frans sehingga dia bisa bekerja untuk Frans. Tapi Frans yang ditunggu-tunggu tidak keluar juga dari tempat persembunyian nya.
Satu persatu rencana Jenny mulai gagal. Hal ini sejak dia bertemu dengan Agnes yang baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan kesehatan.
Padahal waktu itu Jenny tidak menyadari kalau dia dan Agnes berselisih jalan hingga tiba-tiba dia mendengar -
#Flash Back on.
"Ibu? kau kah itu?" Panggil Agnes sambil menepuk pundak Jenny dari belakang.
"Agnes?" Seru Jenny dalam hati sambil melirik ke kiri ke kanan guna memastikan tidak ada yang mengenali nya dan Agnes.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di rumah sakit Agnes? Dan kemana saja kau selama ini?" Ujar Jenny pada putrinya.
"Wajah ibu kenapa di perban seperti itu?" Sedari tadi Agnes memperhatikan wajah Jenny yang diperban itu. Apa yang sebenarnya terjadi pada sang ibu.
"Sebaiknya kita jangan berbicara disini Agnes. Akan sangat berbahaya jika ada yang mengenali kita." Jenny pun menarik Agnes mencari tempat yang lebih sepi agar mereka bisa berbicara.
"Kita mau kemana bu?" Tanya Agnes yang terpaksa mengikuti sang ibu.
"Kita harus cari tempat yang sepi. Disini terlalu ramai. Kita tidak tahu siapa saja yang mungkin mengenali kita di tempat seperti ini." Seru sang ibu.
"Kamar? apakah kau sakit Agnes? kau dirawat di rumah sakit ini?" Tanya Jeny yang tidak menyangka kalau Agnes ternyata tidak kabur seperti yang di jelaskan oleh Keluarga tuan Puji.
"Begitu lah bu. Aku memang sedang sakit." Jawab Agnes sambil membawa sang ibu ke ruangan perawatan nya.
Setelah naik lift dan jalan beberapa langkah Agnes dan Jenny pun sampai ke ruangan VVIP.
__ADS_1
"Kau sakit apa Agnes? Dan Sejak kapan? Tuan Puji dan keluarga nya mengatakan bahwa kau kabur dari rumah. Meraka sudah mencari mu kemana-mana tapi tetap tidak menemukan mu Agnes.
"Mereka berbohong ibu. Aku tidak kabur. Fakta yang sebenarnya adalah mereka mengurungkan ku di luar bawah tanah. Aku di kurung di ruang bawah tanah. Mereka hanya memberikan ku makan beberapa kali sehari. Hidup ku saat itu lebih hina dari binatang.
Agnes jadi sedih karena teringat masa-masa sulit di rumah tuan Puji.
"Mereka menyiksa mu?" Tanya Jenny yang tidak percaya putrinya akan mendapatkan perlakukan seperti itu.
"Benar ibu. Mereka menyiksa ku sama kejamnya seperti kita menyiksa Alesya dulu. Bahkan ada satu titik sewaktu aku merasa benar-benar benci di perlakukan seperti binatang seperti itu, aku teringat Alesya. Mungkin seperti itulah yang dirasakan nya sewaktu kita menyiksanya dahulu." Terlihat raut penyesalan mendalam di wajah Agnes.
"Agnes dengar kan aku. Kasus mu dan kasus Alesya itu berbeda. Jangan pernah kau samakan kedudukan mu dengan sampah seperti dirinya. Apalagi setelah dia berhasil menjatuhkan keluarga kita, dia semakin merasa hebat. Dia tidak tahu apa yang telah aku persiapan untuk menghancurkan keluarga nya itu." jelas Jenny pada Agnes.
"Astaga apakah ibu ku sedang merencanakan sesuatu yang berbahaya bagi Alesya dan keluarganya? Aku harus bisa menghentikannya." tekad Agnes dalam hati.
***bersambung...
__ADS_1