Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 8#Rencana jahat Jenny dan Agnes#1


__ADS_3

"Untuk apa kau kesini??" Ujar Agnes marah begitu melihat Alesya masuk ke mansionnya.


"Seingat ku ini masih mansion milik ibu ku."Jawab Alesya dengan santainya dan berjalan melewati Agnes.


"Mansion milik ibu mu?? Jangan mimpi kau Alesya! Ini adalah mansion ku. Dan kau sudah tidak diterima lagi di mansion ini." Tegas Agnes tak terima mendengar perkataan Alesya


"Hemm.. benar kah?"Seru Alesya sambil tersenyum mengejek.


" Ada apa ini ribut-ribut!!!" Tiba-tiba Jenny turun karena mendengar Agnes yang berteriak seperti orang gila.


"Hi, bu." Sapa Alesya dengan santai pada Jenny.


"Untuk apa kau kemari?" Tanya jenny dengan nada tidak bersahabat.


"Apa karena aku sudah menikah dengan Kenzo Dayson maka aku sudah tidak boleh mengunjungi keluarga ku sendiri." Alesya menempatkan dirinya senyaman mungkin di sofa yang dulu saat dia masih tinggal di mansion itu sangat jarang ia duduki.


"Mansion ini tidak terlalu banyak berubah semenjak kepergian ku. Terutama watak penghuninya." Gumam Alesya sambil melemparkan pandangannya ke seluruh ruangan itu.


"Jaga bicara mu Alesya!!" Jenny memperingatkan Alesya.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu kepada mu dan putri mu, nyonya Jenny. Sebaiknya mulai sekarang kalian harus bisa menjaga sikap dan tutur kata kalian pada ku. Kalau tidak aku tidak menjamin apakah perusahaan kalian akan baik-baik saja ke depannya tanpa investasi dari suami ku." Guratan kesombongan terlihat jelas di wajah cantik Alesya.


"Tidak buruk untuk sebuah langkah awal." Pikir Alesya. "Ada gunanya juga aku menikah dengan laki-laki itu." Alesya merasa senang bisa membuat suasana hati kedua wanita ular ini menjadi buruk.


"Berani sekali kau-" Agnes baru saja akan melontarkan kata-kata umpatannya untuk Alesya namun Jenny sang ibu langsung menahannya.


"Cepat katakan apa tujuan mu datang ke sini." Ujar Jenny sambil menahan lengan anaknya.


"Well, aku kemari untuk bertemu dengan pengasuh ku. Abibah." Jawab Alesya. "Bukan hanya bertemu, aku juga akan mengajak nya untuk tinggal bersama ku. Apa kalian keberatan dengan hal itu?" Alesya menatap tajam pada kedua wanita itu.


"Panggil Abibah dan suruh dia mengemasi barang-barangnya." Jenny langsung memberi perintah kepada pelayan yang lain untuk memanggil Abibah sesuai permintaan Alesya.


"Kau bawa saja dia. Aku tidak perlu pembantu tua renta seperti dia. Lagi pula mansion ku ini bukanlah panti jompo." Seru Jenny lalu pergi meninggalkan Alesya dan Agnes.


"Mansion mu? Teruslah bermimpi karena begitu kau bangun mansion ini akan kembali menjadi milik ku." Gumam Alesya dalam hati.


"Lakukan sesuka mu setelah itu segera pergi dari sini." Tukas Agnes dan ikut meninggalkan Alesya.


Alesya hanya mendengus melihat kepergian Agnes. Kini Alesya dapat duduk dengan tenang sambil menunggu kedatangan Abibah.


####


"Tuan Aksena, perkenalkan ini putra ku Skala." Ujar Kenzo memperkenalkan Skala pada Irfrans Aksena.

__ADS_1


Frans dan Skala pun berjabat tangan.


"Senang berjumpa dengan mu tuan Aksena." Sapa Skala, sopan.


"Tumben bocah ini sopan." Batin Kenzo.


"Anak ini sungguh mirip dengan Kenzo." Gumam Frans dalam hati. "Benarkah dia adalah putra Alesya dan Kenzo? " Frans terus menatap wajah Skala.


Skala dan Kenzo merasa heran melihat Frans yang sedari tadi tidak berhenti menatap Skala. Mereka pun akhirnya hanya bisa saling pandang.


"Kalau kau bertanya dari mana asal ketampanan pada putra ku ini maka dengan senang hati aku akan mengatakannya pada mu tuan Aksena." Ucap Kenzo membuyarkan lamunan Frans.


"Heem.Dia memang anak yang tampan dan juga sopan." Frans membenarkan posisi duduk nya.


"Kalau ketampanan mungkin saja memang berasal dari mu." Ungkap Frans dengan wajah tidak iklas. "tapi masalah kesopanan aku meragukan hal itu." Lanjut Frans sambil tersenyum smirk.


Kenzo dan Frans memang saingan di dunia bisnis. Tidak ada satu pun pengusaha di kota A yang tidak tahu persaingan mereka.


Walau Kenzo bukan lawan yang dapat dikalahkan oleh Frans tapi dia tetap tidak pernah mundur sebelum berjuang dalam setiap pertarungannya dengan Kenzo.


"Sepertinya kedua paman ini tidak akur." Batin Skala sambil mengernyit dahinya.


Sekarang giliran Skala untuk melihat pria yang ada di hadapan nya dengan seksama.


Paling tidak semalam Skala masih sangat yakin kalau Irfrans Aksna mungkin saja adalah ayahnya. Namun ketika bertemu langsung dengan laki-laki ini, Skala malah menjadi ragu.


Skala mendengus kesal. "Sepertinya aku hanya buang-buang waktu ku disini." Batin Skala.


Skala mengalihkan pandangannya ke Kenzo yang sedang asik berdebat dan Frans.


"Huft! Malah kalau diperhatikan lagi aku lebih mirip paman Kenz dari pada tuan Aksena." Gumam Skala asal.


"Wait!! apakah aku barusan berpikir kalau aku lebih mirip-" Skala menajamkan matanya menatap Kenzo. Kemudian Skala langsung meminum jus yang ada di hadapannya. "Tidak mungkin paman yang arogan ini adalah daddy ku kan? ." Skala segera menangkis pemikiran konyol nya itu. "Aku pasti terlalu banyak berpikir." Skala yakin rasa rindunya akan sosok seorang ayah membuat pikirannya tidak fokus hingga Kenzo pun terlihat bagai sosok seorang ayah di matanya.


Skala yang sudah tidak memikirkan perihal siapa ayah nya dari kedua laki-laki dihadapannya, kini sibuk menjadi pendengar setia sekaligus pengamat bisnis dadakan.


Sedari tadi Kenzo dan Frans terlibat pembicaraan bisnis yang seru.


Dari sini Skala bisa menilai bahwa Kenzo memanglah yang terbaik dari yang terbaik. Cara pikirnya tidak hanya untuk beberapa tahun ke depan, namun Kenzo bahkan juga sudah memprediksi segala sesuatu nya untuk jangka panjang. "Paman Kenzo sungguh sangat detail." Tanpa sadar Skala memuji kepintaran Kenzo menentukan langkah dalam urusan bisnis.


Walaupun Skala masih sangat kecil namun cara berpikirnya sangat matang. Itulah yang membedakannya dengan anak-anak seusianya.


Skala yang pada awalnya tidak terlalu menyukai Kenzo mulai tumbuh rasa kagumnya pada sosok pria ini tanpa ia sadari.

__ADS_1


"Baiklah tuan Aksena. Sepertinya hal ini tidak akan bisa tuntas hari ini." Seru Kenzo.


"Kau benar sekali tuan Dayson. Banyak permintaan mu yang diluar dari proposal yang kami ajukan. Aku harus memikirkan hal itu sekali lagi." Tukas Frans.


"Silahkan kau pikirkan. Tapi aku tidak bisa menunggu terlalu lama untuk proyek ini. Sebagai pembisnis aku yakin kau tahu akan hal itu." Tekan Kenzo.


"Tentu saja. Aku akan mengabari mu secepatnya." Ujar Frans.


"Baiklah Skala, paman harus pergi dulu. Senang dapat berjumpa dengan mu hari ini. Kalau kau bosan bermain di perusahaan daddy mu kau bisa bermain di perusahaan ku." Frans melirik Kenzo. Dan kembali tersenyum smirk.


"Bahkan kalau kau merasa bosan tinggal bersama daddy mu, kau juga boleh tinggal bersama ku." Sambung Frans tanpa ragu-ragu.


Apapun akan Frans lakukan untuk mendapatkan Alesya kembali bahkan walau harus berebut hati bocah kecil ini dengan Kenzo.


"Kau belum kenal saja dengan bocah nakal ini." Gumam Kenzo dalam hati. "Kau pasti akan menarik kata-kata mu kalau kau sudah mengenalnya." Kenzo hanya tersenyum mendengar perkataan Frans. Sebuah senyuman yang Frans tidak akan pernah tahu maknanya.


"Akan ku ingat itu paman." Jawab Skala sopan.


Frans pun meninggalkan ruangan VVIP itu.


Kini tinggal Kenzo dan Skala di ruangan itu.


"Kau pasti merasa bosan." Ujar Kenzo sambil meminum winenya.


"Tidak juga paman Kenz. Cara mu berpikir tentang peluang di kerjasama ini cukup baik menurutku. Tidak salah kalau kau dinobatkan sebagai pembisnis nomor satu di kota ini." Puji Skala walau tetap dengan ekspresi wajah yang biasa-biasa saja.


"Pintar juga dia. Aku semakin penasaran siapa ayahnya." Batin Kenzo.


"Kalau kau ingin mempelajari tentang bisnis kau bisa datang pada ku kapan saja.Karena bagaimana pun sekarang aku adalah daddy mu."tawar Kenzo pada Skala.


"Banyak sekali yang menawari ku hari ini? Tadi paman Frans menawari ku untuk bermain bahkan tinggal bersamanya jika aku mau, Sekarang kau menawari ku untuk belajar bisnis dari mu. Kalian sungguh membuat persaingan kalian terlihat sangat jelas" Tukas Skala.


"Dasar kau bocah nakal! Selalu saja berpikiran buruk tentang ku." Sungut Kenzo kesal.


"Sudahlah paman. Sebaiknya kita pulang. Aku sudah lelah."


"Baiklah kalau begitu."


Kenzo dan Skala pun keluar dari ruang VVIP itu.


###


Jangan lupa untuk like dan komen y zeyeng.. πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2