Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 12#Kau milik ku selamanya#1


__ADS_3

Walau tidak dapat langsung mempermalukan Agnez di depan semua anggota kekuarga seperti yang dahulu Agnez dan ibunya Jenny lakukan pada ALesya, paling tidak Alesya bisa menonton pertunjukan ini sambil sedikit menaburkan garam di luka Agnez. Itu cukup menyenangkan, pikir Alesya. Bukan kah sebelum hidangan utama kita selalu membutuhkan hidangan pembuka? Dan rasa sakit Agnez hari ini dapat menjadi hidangan pembuka untuk balas dendam Alesya.


"Bukan kah itu Alesya? Apa yang ia lakukan disini?" Gumam Jenny dalam hati bingung akan kehadiran Alesya dan Kenzo hari ini. "Bukankah seharusnya ia sedang meratapi kematian putranya? Apakah mereka belum mengirimkan potongan tubuh anak kecil itu ke rumah Alesya dan Kenzo?" Jenny terus mengamati Alesya dan Kenzo. "Tersenyum lah sepuas kalian, karena sebentar lagi kalian berdua akan menangis darah. Terutama kau Alesya! Aku membenci senyuman mu sama seperti aku membenci senyuman ibu mu yang seolah-olah mencibir diri ku." Jenny berpikir para penjahat itu pasti belum sempat untuk mengirimkan potongan tubuh Skala. Mau dikirim cepat atau pun lambat, Jenny tidak peduli. Yang ia inginkan hanya melihat Alesya menderita.


Ketika situasi buruk sebentar lagi akan menghempas kehidupan putrinya, Jenny masih sempat-sempatnya berharap hal buruk menimpa kehidupan Alesya.


"Jaga emosi mu Agnez!!" Bisik Jenny pada Putrinya karena Jenny tahu jiwa Agnez pasti terguncang melihat kehadiran Alesya di rumah ini.


"Kau meminta ku untuk bersabar bu? ! Melihat senyumnya itu saja sudah membuat amarah ku membuncah." Gumam Agnez dalam hati.


Alesya menatap Agnez dengan senyuman yang nyaris tak terlihat.


Jenny dan Agnes berjalan berlahan dan duduk di kursi yang telah disediakan.


"Baiklah karena semuanya telah hadir disini, aku akan langsung saja menyampaikan alasan mengapa kita semua berkumpul hari ini." Ronald sebagai kepala keluarga mulai angkat bicara.


"Aku akan menikahkan Agnez dan tuan Puji minggu depan." Ujar Ronald yang langsung mengundang bisikan-bisikan para anggota keluarga yang lain.


Agnez hanya tertunduk malu sambil menarik nafas dalam dan terus mengutuk Alesya. Bagi Agnez, Alesya adalah sumber permasalahan hidupnya.


Sedangkan tuan Puji hanya bisa memandang sinis ke arah semua anggota Diningrat. Maksud hati nya ingin mendapatkan Alesya, tapi sial dan malah mendapat Agnez.


"Ayah!! Apa maksud mu!!!" Alesya berdiri, seakan-akan terkejut dan tidak terima dengan takdir saudarinya. "Kau ingin menikah kan Agnez dan tuan Puji?" Alesya mulai memasang raut wajah simpatiknya. "Cukup aku ayah!! Cukup aku yang dulu pernah hampir kau nikah kan dengan tuan Puji." Suara Alesya terdengar parau.


Mungkin bagi semua orang yang hadir disana Alesya terlihat sangat terpukul mendengar kabar pernikahan Agnez yang sangat mendadak ini. Tapi bagi Kenzo, Jenny dan Agnez sendiri, semua yang ditampilkan oleh Alesya tak lebih dari akting belaka.


"Aku tidak tahu kalau kau juga pandai berakting seperti ini Alesya. Kau semakin mengejutkan ku. " Batin Kenzo.


"Berani-beraninya ia mencuri simpati anggota keluarga dengan berpura-pura iba pada nasib ku!! Dasar wanita br*ngsek kau Alesya!!" Umpat Agnez sambil menunduk.


"Agnez masih sangat muda ayah!! Masa depannya masih panjang!" Alesya terus meracau di sidang keluarga itu, "Tapi kau malah menjadikan nya sebagai istri kesekian dari tuan Puji!!" Ucap Alesya penuh amarah.


"Memang nya apa kesalahan adik ku sampai ia harus kau menikahkan dia pria yang sudah beristri banyak seperti dia!!" Suara Alesya kian meninggi.


Tak terasa kini Alesya sudah berada dibelakang Agnez. Dipegangnya pundak Agnez kuat. Dan ia mulai lagi sandiwara nya."Katakan pada ku ayah., apa kesalahan yang bisa diperbuat oleh adik kecil ku ini!! Selama ini dia selalu menuruti perkataan ayah!! Selalu menjadi kebanggaan ayah!!! kenapa ayah tega!! kenapa!!"Alesya bahkan mengeluarkan air mata untuk meyakinkan para penonton yang sedang terkesima dengan akting nya


Alesya menunduk seakan memeluk Agnez. Dan ia pun berbisik. "ini baru permulaan Agnez! Lihat dan dengar baik-baik bagaimana aku mengembalikan semua yang pernah kau berikan pada ku dulu, delapan tahun yang lalu."


Alesya kembali mengangkat wajahnya yang pasti ya sudah kembali ke ekspresi sedih.


"Kau tanya sendiri pada adik mu apa yang telah ia lakukan!!" Ujar Ronald, dingin.


"Agnez!! Cepat katakan pada ku apa yang telah kau lakukan hingga membuat ayah menjadi se-marah ini!!!" Alesya berjalan ke depan dan kini berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Agnez yang sedang duduk di sebuah kursi.


Agnez memandang geram pada Alesya. Ia mencoba menahan emosi nya sebanyak yang ia bisa.


"Agnez!!! Kalau kau terus diam begini, bagaimana aku dan anggota keluarga yang lain bisa membantu mu keluar dari pernikahan yang akan kau sesali seumur hidup mu!!" Alesya menggenggam tangan Agnez. Berlahan Alesya mengangkat kepala nya melihat Agnez dengan sebuah senyuman yang hanya bisa di lihat oleh Agnez seorang.


"Benar Agnez!! Katakan sesuatu! Jangan diam!" Seru salah seorang anggota keluarga besar itu.


"Alesya benar Agnez. Jelaskan pada kami permasalahan nya biar kami bisa membantu mu." Suara dari anggota keluarga yang lain imut terdengar dan diikuti dengan suara-suara lain yang meminta Agnez untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Baru saja Jenny akan buka suara untuk menenangkan keadaan, tiba-tiba Agnez berteriak, "Aku membenci mu Alesya!!!!" Agnez sudah muak dengan akting Alesya. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan semua bola panas yang terus digulirkan oleh Alesya kepada nya disetiap ucapannya.


"Kau senang kan!! Kau senang melihat ku sengsara kan!!!Agnez menolak Alesya hingga terjatuh.


Mungkin Agnez tidak menolak Alesya dengan kuat namun teriakan Alesya menggambarkan ia sangat kesakitan akibat Agnez menolaknya.


" Aaaauuuw... " Teriak Alesya yang terdorong jatuh ke lantai.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Agnez!!!" Seru Kenzo sambil. membantu Alesya untuk bangun. "Kau baik-baik saja sayang?" Tanya Kenzo lembut.


"Ya.. aku baik-baik saja. Siku ku hanya sedikit sakit" Ujar Alesya sambil bertopang pada Kenzo.


"Apa yang kau lakukan Agnez!!!" Seru Ronald yang melihat Agnez bersikap kasar pada Alesya.


"Kau baik-baik saja nak?" Ronald pun ikut membantu Alesya berdiri.


"Heem... aku baik-baik saja ayah." Jawab Alesya dengan wajah pura-pura menahan sakit.


"Keputusan sudah bulat. Aku akan menikahkan Agnez dan tuan Puji minggu depan."


Ronald pun membawa Alesya dan Kenzo ke ruang kerja nya.


Anggota keluarga yang lain pun ikut bubar sambil terus berbisik tentang pernikahan Agnez dan tingkah laku Agnez yang dianggap tidak sopan pada kakaknya sendiri.


Kini hanya ada tuan Puji, Agnez dan Jenny di ruangan itu. "Kalau kau berani menyakiti atau bahkan menyentuh Alesya walaupun seujung kuku mu lagi, maka aku tidak akan segan-segan untuk membuat hidup mu di rumah ku bagaikan neraka." Tuan Puji pun meninggal Agnez dan Jenny.


"Ku lihat ibu!!! Kau lihat wanita jal*ng itu!!" Ucap Agnez histeris.


"Tenang lah Agnez, sebentar lagi ia akan mendapatkan kado kejutan dari kita begitu ia pulang ke rumahnya. Aku yakin paket tang berisi potongan tubuh anak nya sudah sampai di kediaman mereka.


" Kau harus membalas semua rasa malu ku hari ini ibu!!!" Ujar Agnez sambil menangis.


"Tenang lah Agnez!! Kalau dulu aku bisa dengan mudah menghancurkan ibu nya maka pasti aku juga dapat menghancurkan anaknya." Ujar Jenny dengan dada penuh amarah.


Di ruang kerja Ronald,


"Aku rasa sebaiknya aku panggil kan dokter keluarga kita untuk memeriksa luka mu. Mana tahu ada luka yang tidak terlihat." Ronald bersiap-siap akan menelpon dokter keluarga Diningrat.


"Tidak ayah! tidak perlu. Aku baik-baik saja." Alesya segera mencegat Ronald untuk menelpon dokter sebab sebenarnya Alesya tidak merasakan sakit sama sekali. Kalau pun ia membutuhkan dokter maka itu adalah dokter psikolog. Sebab ia perlu berkonsultasi bagaimana menyalurkan rasa kebahagian yang melimpah di hati nya kini melihat musuh nya merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan dulu.


Kenzo heran melihat Alesya, "Apalagi yang saat ini dia rencanakan?" Tanya Kenzo dalam hati.


Kenzo wanti-wanti semua pihak jangan ada yang mengabarkan penculikan Skala, tapi Alesya malah dengan mudah membalikkan rencana Kenzo seratus delapan puluh derajat.


"Skala di culik??" Ronald kaget mendengar nya.


Alesya melihat dengan seksama ekspresi Ronald ketika mendengar Alesya mengatakan Skala telah di culik.


"Kapan?? Dimana???" Tanya Ronal cemas.


"Bukan dia!! Bukan dia yang merencanakan penculikan Skala." gumam Alesya dalam hati.


"Kemarin ayah, di hotel. Itulah sebabnya kami menghilang begitu saja." Alesya kembali berakting menangis.


"Apa kau sudah melapor polisi Alesya?" Tanya Ronald benar-benar panik.


"Tidak perlu ayah. Kenzo sudah mengerahkan semua orang-orang nya untuk mencari Skala." Jelas Alesya. Dia tidak ingin Ronald menyertakan polisi dalam urusan ini.


"Kau benar Alesya!!" Seru Jenny yang entah sejak kapan sudah masuk ke ruangan itu.


"Sebaiknya kita jangan menelpon polisi. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya diincar oleh penculik itu dengan menculik putra mu." Jenny berupaya agar tidak ada polisi yang campur tangan dalam urusan ini. Kalau tidak, bisa saja ia ikut terlibat nanti.


"Kau orang nya." Gumam Alesya dalam hati. "Kau orang nya yang telah menculik anak ku."


"Jadi Ronald tidak ikut serta dalam rencana busuk Jenny." Simpul Alesya.


Kenzo hanya diam melihat permainan yang sedang dimainkan oleh Alesya. Kenzo yakin Alesya akan mengatakan semua rencana nya malam ini pada nya.

__ADS_1


"Aku sudah melihat semua akting mu, aku yakin kau akan menceritakan semuanya dengan jujur pada ku malam ini. " Seru Kenzo dalam hati.


"Baiklah kalau itu yang kau dan Kenzo pikir adalah yang terbaik. Kalau kau butuh bantuan apapun jangan sungkan mengabari ku. Bagaimanapun Skala tetap adalah cucu ku. " Ujar Ronald.


"Cucu mu!! kau saja bukan ayah ku! Bagaimana Skala bisa menjadi cucu mu." Ujar Alesya dalam hati.


"Terima kasih tuan Ronald." Ujar Kenzo.


"Kau terlalu sungkan Kenz. Saat ini kini kita sudah merupakan keluarga bukan sebatas rekan bisnis lagi. Dan juga kau sudah harus membiasakan lidah mu untuk memanggil ku ayah." Ronald kini sangat senang Kenzo menjadi menantu nya. Itu juga lah alasan kenapa ia terlihat sangat memihak pada Alesya dari pada Agnez, putri kandung nya sendiri.


"Jadi benar firasat ku bahwa kemarin mereka menghilang untuk mencari anak itu. Agnez tenanglah anak ku, kita akan berpesta ketika Alesya mengadakan pemakaman untuk putra nya." Tanpa sadar Jenny tersenyum.


Kalau begitu kami pamit pulang dulu ayah, ibu." Ujar Alesya.


"Yang sabar ya sayang." Ucap Jenny sambil memeluk Alesya.


"Terima kasih bu." Jawab Alesya.


"Kami pulang dulu ayah, ibu." Ucap Kenzo.


Kenzo dan Alesya pun pergi meninggalkan kediaman Diningrat menuju rumah mereka.


Sepanjang perjalanan pulang Kenzo terus menunggu Alesya menjelaskan semua situasi yang terjadi di rumah keluarga Diningrat. Tapi seakan-akan tidak memahami maksud Kenzo, Alesya pun ikut diam, tidak mengatakan apapun.


Setelah berjalan hampir sejam, mereka pun sampai di kediaman mereka. Hari sudah menunjukan pukul delapan malam. Jam makan malam sudah sedikit terlewat.


Kenzo sengaja membiarkan Alesya berjalan di depannya. Berlahan dia mengikuti Alesya dari belakang.


"Bertahun-tahun aku mencari tanda bintang itu. Tak ku sangka ia sendiri yang datang pada ku setelah delapan tahun pencarian ku." Gumam Kenzo sambil memperhatikan punggung Alesya.


Alesya membuka pintu kamar mereka dan menghidupkan lampu kamar.


Kenzo yang masuk setelah Alesya langsung menutup pintu kamar itu dan menguncinya. Ditariknya tangan Alesya dan didorongnya wanita itu ke dinding kamar.


Bola mata Alesya membulat sempurna sebab terkejut dengan perlakuan Kenzo yang tidak ada angin tidak ada hujan mengekangnya dengan kedua lengan kekar nya.


"Tuan Dayson!! Apa yang kau lakukan?!!" seru Alesya dengan wajah penuh keterkejutan.


"Apa yang aku lakukan?" Dengus Kenzo sambil menelusuri setiap inci wajah Alesya dengan mata elang nya.


"Seharusnya aku yang bertanya kepada mu nyonya Dayson, apa yang sebenarnya kau lakukan?Aaah...atau lebih tepat nya aku harus bertanya, permainan apa yang sebenarnya kau lakukan? Kau bahkan sepertinya sudah lama mengincar ku untuk ambil bagian dalam permainan mu." Tebak Kenzo. Kalau tadi Kenzo menelusuri wajah Alesya dengan matanya kini jemarinya tak kuasa ingin ikut menelusuri wajah cantik itu.


"Jauhkan tangan mu dari wajah ku!!" Ucap Alesya berang.


"SSsttsttzz...!!" Kenzo menempelkan jari telunjuknya di bibir Alesya, mengisyaratkan Alesya untuk diam.


"Bukan itu jawaban yang aku mau nyonya Dayson!" Ujar Kenzo sambil tersenyum.


Tubuh Alesya bergetar hebat. Tak dapat dipungkiri saat ini Alesya benar-benar merasa sangat ketakutan. Kenzo yang ada dihadapannya kini bagaikan seekor binatang buas yang siap menerkamnya kapan saja bila jawaban yang ia berikan tidak sesuai dengan keinginannya.


Alesya menelan saliva nya pelan. Dia harus bisa menyembunyikan rasa takut nya sedalam mungkin dalam hati nya.


"Berkali-kali aku bertanya pada mu apa sebenarnya alasan mu kembali ke kota ini. Dan jawaban mu selalu sama. Kau tidak berpikir aku ini adalah seorang pria yang bodoh kan nyonya Dayson?" Kenzo sengaja mendekatkan bibirnya di ceruk leher Alesya ketika menyebut "Nyonya Dayson" pada Alesya.


Tubuh Alesya kembali bergetar hebat. Kini bulu roma nya pun ikut naik. Alarm tanda bahaya sudah berbunyi dari tadi. Alesya harus segera mencari jalan keluar walaupun sedari tadi ia bahkan tidak bisa berpikir apapun. Kenzo benar-benar menguasai medan pertempuran ini.


###


Ayoo.. panik gak tuh?!! panik gak tuh?!!! Ya paniiiik lah!!! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Hai... gimana? ikut deg deg degan seeer gak.... πŸ˜‚πŸ˜‚ ingin lebih merinding lagi. ikuti di chapter berikutnya.. dan jangan lupa untuk like, komen dan vote ya zeyeeeeeng...


__ADS_2