Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 24#Cinta tulus tak bertepi#6


__ADS_3

#Alesya POV


Aku bahkan tidak tahu apakah ada mata yang memandang ku ketika aku berlari melewati ruangan demi ruangan di rumah itu sambil menangis menuju kamar ku. Semoga Skala ketika itu sedang berada di kamar. Kalau tidak apa yang mesti aku katakan padanya jika ia melihat mommynya berlari sambil menangis. Dia pasti bertanya mengapa mommy nya menangis. Dan aku tidak akan bisa menjelaskan semua itu pada anak sekecil dia. Pikirannya terlalu polos untuk memahami semua keruwetan ini.


Aku langsung membuka pintu kamar yang sudah seharian ini aku tinggali bersama Kenzo. Begitu memasuki kamar itu, hati ku kembali terenyuh. Suasana romantis yang kerap hadir dikala aku dan dia hanya berdua saja tiba-tiba muncul bagaikan hologram di depan ku. Memperlihatkan diri ku dan dia yang saling bercanda serta saling menggoda.


Tapi aku sadar itu hanya halusinasi ku saja. Sebab faktanya aku sendiri tidak yakin apakah akan ada hari secerah kemaren untuk hubungan kami yang ruwet bagai benang kusut ini.


Rencana kami semula datang ke kota J untuk meluluhkan hati ayah malah berujung dengan terbuka kotak pandora yang telah lama disembunyikan oleh Kenzo dari ku dan membuat hubungan kami dingin seketika. Heem... mungkin perasaan ku lah yang menjadi dingin seketika.


Mata terasa sangat pedih. Mungkin karena sangat terkejut dengan semua itu membuat mata ku menangis lebih ekstra kali ini.


Ku rebahkan tubuh ku yang terasa lelah sebab menerima kejutan diluar daya tampung otak di atas tempat tidur. Ku tarik nafas ku berlahan mencoba menenangkan hati dan pikiran yang terlalu shock menerima kenyataan ini.


Well, setelah pikiran ku sedikit jernih, aku dapat melihat bahwa Kenzo masih ingin mempertahankan hubungan ini.


Dia sudah meminta maaf kepada ku meski menurut ku itu bukanlah sepenuhnya salahnya.


Aku masih ingat ketika Dyana bercerita jika Kenzo pernah di jebak oleh seseorang sehingga ia melakukan one night stand dengan seorang wanita yang tanpa aku sadari ternyata aku lah wanita itu. “Lihatlah betapa bahagianya sang takdir mempermainkan kami.” Gumam ku sambil tersenyum miris mengingat takdir ku dan Kenzo.


Oke kembali ke pemikiran ku yang mulai sedikit waras. Seharusnya dari sisi ini aku tahu Kenzo tidak bersalah. Ia melakukan hal itu pada ku bukan karena kebringasannya sebagai seorang lelaki tapi karena ia di jebak. Sama hal nya dengan diri ku ketika itu. OK dari sudut pandang ini, kami berdua adalah korban. Aku sangat memahami hal ini. Tapi mengapa laki-laki secerdas dia bisa bertindak bodoh dengan menyembunyikan kebenaran itu dari ku. Ketika teringat hal ini, kesedihan kembali membucah di hati yang rapuh ini. Hingga logika yang sempat datang sebentar kini kembali terusir keluar.


“Andaikan ku turutkan rasa kecewa ku padanya pasti saat ini juga aku sudah pergi menjauh darinya.” Gumam ku sambil menutup wajah ku dengan bantal untuk menutupi air mata yang kembali menggenangi tiap sudut mata ini.


Bukan karena dia adalah pria brengsek pada malam itu yang aku kesalkan, dan bukan pula karena ia menelantarkan kami yang aku marah kan. Tapi mengapa dia begitu tidak percaya kalau aku begitu begitu mencintainya hingga apapun kesalahan masa lalu nya pasti akan sirna di mata ku. Apakah masih kurang cinta yang aku tunjukkan pada nya selama ini? Hingga dia ragu untuk berkata jujur pada ku?

__ADS_1


Semoga dia cukup tau diri untuk tidak tidur di kamar ini malam ini. Aku tidak ingin menangis sampai pagi hanya karena diri nya. Untuk sesaat keegoisan ku pun muncul. Anggaplah ini sebagai benteng pertahanan diri yang tiba-tiba terbentuk karena rasa kecewa ku yang terlalu dalam untuk nya.


Ku angkat bantal yang menutupi wajah ku. Dalam hati aku berpikir tidak baik tidur dengan mata sembab seperti ini. Disaat ini paling tidak pikiran ku masih berjalan sedikit logis. Aku bangun dan pergi untuk membasuh wajah ku yang entah seperti apa wujud nya sekarang. Ku cuci wajah ku dengan air yang sangat banyak dengan harapan semua air itu dapat mendinginkan hati dan membawa pergi semua duka dan rasa kecewa ku pada Kenzo.


Sedikit bodoh memang berpikiran seperti itu bagi wanita dengan sederetan title seperti ku. Tapi mau bagaimana lagi. Kali ini hati dan perasaan lah yang banyak mengambil alih diri ku. Logika? Heemm apa itu logika? Aku benar-benar lupa dengan kata yang satu itu. Paling tidak malam ini biarkan aku untuk menjadi seorang wanita yang rapuh walaupun hanya untuk sesaat. Ya, itu lah yang saat ini sedang dibisikan hati dan perasaan ku pada sang otak yang sedang bekerja.


Ok, ternyata setelah membersihkan wajah ini dengan air dingin paling tidak aku sedikit merasakan kesejukan meski hanya terasa di bagian wajah ku saja.


“kenapa wajahnya selalu terbayang dalam pikiran ku?” gumam ku pelan sambil mengambil penutup mata untuk tidur yang aku miliki. Aku ingat aku menyimpan penutup mata ku di dalam laci.


Ku ambil penutup mata itu lalu ku baringkan tubuh ku kembali di atas tempat tidur. Kemudian berlahan aku memasang penutup mata itu. Semoga tidur ku nyenyak dengan menggunakan ini dan tidak perlu melihat hologram-hologram bodoh yang berasal dari pikiran ku mulai tidak dapat ku atur ini.


Ketika aku ingin menenggelamkan diri ku di alam mimpi, tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka dan ternyata-


#Kenzo POV


Aku akui ini sepenuh nya kesalahan ku karena tidak memberitahukan nya hal ini. Tapi jujur sebagai seorang pria aku tidak tahu bagaimana cara untuk memberitahukan tentang fakta sembilan tahun yang lalu itu pada nya. Haruskan aku berkata, “Alesya, aku adalah laki-laki yang menghabiskan malam bersama mu di hotel waktu itu.”


atau mungkin aku berkata, "maafkan aku yang tidak bisa mengenali meski kita sudah menghabiskan malam bersama!" It’s non sense. berjuta kali pun aku pikirkan aku tetap tidak bisa secara blak-blakan mengatakan hal itu pada wanita yang belum ku kenali luar dalam nya meski cinta sudah mulai tumbuh diantara kita. Aku masih butuh waktu untuk merasa seperti apa diri mu yang sebenarnya. Bagaimana jika setelah aku mengungkap kan itu, dia malah langsung meninggalkan ku saat itu juga. Bukan hanya kehilangan Alesya, aku pun bisa kehilangan Skala. Putra kesayangan ku.


Ku hembuskan nafas ku sekali lagi. Tidak ku sangka langkah yang ku rasa adalah langkah yang paling tepat untuk aku lakukan malah membawa ku ke dalam masalah yang aku sendiri tidak tahu seperti apa solusinya.


Rasanya lebih baik menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan perusahan atau mencoba memasuki data base suatu negara dari pada berurusan dengan wanita dan semua jenis perasaan yang mereka punya ketika logika tertendang keluar.


Ku tutup wajah ku untuk kesekian kali nya malam ini. Semua perasaan ku ikut campur aduk. Di dalam kegabutan ku itu tiba-tiba aku teringat dengan ayah mertua ku yang sungguh luar biasa itu.

__ADS_1


“Tuan Aldion Rodio memang benar-benar sesuatu.” Gumam ku pelan sambil tersenyum meringis.


Dari mana pria tua itu bisa tahu tentang fakta ini. Aku yakin putra ku tidak akan seceroboh itu untuk bercerita pada kakek nya. Tapi bagaimana dia bisa tahu tentang rahasia ini tetap menjadi tanda tanya yang besar dalam otak ku yang mendadak menjadi kerdil ini.


Ku hembuskan sekali lagi nafas ku berlahan sambil berpikir. “Sudahlah, saat ini hal itu bukanlah hal penting lagi. Cara untuk membujuk Alesya adalah hal yang terpenting yang harus aku pikirkan. Jangan sampai kapal yang aku tumpangi bersama Alesya tenggelam bahkan ketika belum berlayar jauh dari dermaga. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi.”


“Alesya! Ya benar Alesya!! haruskah ku biarkan dia sendirian malam ini?” pikir ku dalam hati. Dalam heningnya taman malam itu aku kembali merenung dengan wajah yang sangat frustasi.


“Tidak!! Wanita jika sedang sedih suka berpikir yang bukan-bukan. Bagaimana kalau dia berpikir untuk bercerai dari ku.” Aku langsung menepuk-nepuk pipi ku, menyemangati diri ku berani tidur sekamar dengan Alesya dan memeluk Alesya malam ini.


“Bahkan kalau perlu akan aku ikat dirinya dan diri ku dalam satu ikatan tali agar dia tidak bisa kabur dari ku.” Pikir ku sambil tersenyum mengingat bagaimana bisa aku memikirkan ide konyol itu dalam keadaan seperti sekarang ini. Pasti kewarasan ku mulai perlu dipertanyakan.


Hanya saja apa sih hal yang akan tetap berjalan dengan kewarasan jika sudah berhadapan dengan cinta? Bahkan aku pun seorang Kenzo Dayson tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan cinta ku pada Alesya.


Baiklah, kini tekad ku sudah bulat. Meski dia mengusir ku aku akan tetap memeluk nya malam ini.


Dengan kebulatan tekad yang ku miliki, aku melangkahkan kaki melewati ruangan demi ruangan yang ternyata sangat sepi malam ini seakan benar-benar telah di setting untuk drama cinta ku dan Alesya malam ini.


Selangkah demi selangkah aku semakin dekat dengan kamar itu. Kamar yang hingga sebelum makan malam tadi masih menjadi saksi bisu keindahan cinta ku bersama Alesya.


Ku tatap pintu kamar itu dengan keberanian yang pasang surut. Kata siapa laki-laki itu tidak takut pada wanita. Buktinya, nyali ku hilang timbul disaat-saat seperti ini.


Berkali-kali aku memaju mundurkan niat ku untuk membuka pintu kamar itu. Aku takut diri ku kecewa jika pintu kamar itu terkunci dari dalam.


“Aku mohon Alesya, izinkan aku masuk.”Gumam ku dalam hati sambil memberanikan diri ku untuk membuka pintu dan ternyata-

__ADS_1


**bersambung


senin jangan lupa vote ya... biar otor tambah semangat...


__ADS_2