
Singkat cerita Marcus pun mencoba beberapa jas yang diberikan oleh staff butik padanya.
"Memang nya berapa stel jas yang dipesan oleh istri keponakan ku itu."seru Marcus kesal, ini adalah jas ketiga tapi staf butik itu terus mengatakan bahwa ada yang kurang dari penampilan Marcus.
"Kalau seperti ini, lebih baik Kenzo yang mencoba semua jas nya dan aku yang memimpin rapat." sungguh Marcus. Alesya dan Kenzo sungguh telah membuang-buang waktu berharga Marcus.
Seharusnya hari Marcus pergi ke tempat Arya untuk melihat perkembangan kasus yang sedang mereka selidiki bersama. Marcus sadar Arya seperti nya ada memiliki perasaan dengan Agnes. Buktinya setelah Agnes meninggal Arya bahkan menyelidiki penyebab kematian Agnes yang terkesan sangat tiba-tiba itu.
Marcus terlihat sangat jengah dengan kegiatan gonta ganti pakaian ini.
"Kalian kirimkan saja semua jas yang ada di butik kalian ini ke kediaman Kenzo Dayson. Biar dia sendiri yang akan mencobanya. Kalau dia tidak mau bayar maka aku yakin akan membayarnya." Ujar Marcus sambil ingin membuka jas yang sedang ia kenakan
"Tuan!! jangan buru-buru! ini tidak akan lama." Bujuk si staff.
"Tidak lama kata mu?" Aku sudah mencoba hampir semua jas yang kau bawakan. Aku masih banyak urusan. Ikuti saja perintah ku. Kirimkan semua pakaian yang sudah kau siap kan ini. Kalau perlu akan aku bayar lunas sekarang." Seru Marcus dan melempar jas yang sudah berhasil dia buka ke atas sofa.
"Tuan . . aku mohon satu jas ini saja. Ini yang terakhir. Setelah ini kau boleh pergi. Aku janji pada mu." tahan si staff cepat. Bagaimana pun caranya dia harus bisa menahan Marcus di dalam ruangan itu beberapa saat seperti instruksi designer nya.
Dengan wajah penuh keterpaksaan Marcus mengambil jas yang diberikan oleh si staf.
"Kalau sampai kau membuat ku mencoba Jas yang lain, kau pun akan aku beli dan aku kirim ke rumah Kenzo." seru Marcus emosi.
Si staf pun hanya nyengir kuda mendengar perkataan Marcus. Dalam pikiran si staf, horang kayah mah memang bebas. Tadi mau beli semua jas dan bayar tunai. Sekarang mau membeli dirinya. Memangnya dia sejenis barang bisa di beli huft!!.
Setelah jas itu terpasang ke tubuh Marcus, si staf pun langsung bergumam. "Ini sudah cocok tuan." ujar staf sambil merapikan jas itu.
"Benarkah?" tanya Marcus tidak percaya.
__ADS_1
"Benar tuan!" Jawab si staf dan meminta Marcus untuk melihat ke arah cermin besar di depannya.
"Syukur lah.. akhirnya semuanya hal yang menyebalkan ini berakhir." puji Syukur Marcus panjatkan karena dia dapat segera kabur sari butik itu. Dia bahkan tidak melihat kearah pantulan dirinya di cermin itu. Yang ada dalam pikiran Marcus hanya segera meninggalkan butik ini.
Marcus pun keluar dari ruang fitting pakaian yang digunakan nya tadi.
"Tuan.. kalau kau tidak mencoba jas ini maka kami tidak bisa mengepaskan jas ini " Seru salah seorang staf pada Frans.
"Bagaimana aku bisa mencoba nya kalau tangan ku seperti ini." Jawab Frans, pas ketika Marcus keluar dari ruangan itu.
Sang Designer pun melihat ke arah Marcus.
"Tuan.. maaf." Ucap sang desainer. " bisakah tuan membantu ku sebentar? Aku sungguh sedang terburu-buru. Tapi itu calon pengantin laki-laki itu tidak bisa mencoba Tuxedo nya. Jadi aku kesulitan. Kalau aku perhatikan, tubuh kalian tidak jauh berbeda. Kau hanya sedikit lebih tinggi dari nya." Tukas sang desainer. "Aku mohon tuan." lanjutnya meminta kesediaan Marcus..
"Kasihan pasangannya yang sedang mengenakan gaun pengantin nya di dalam sana." ujar Sang desainer.
Marcus tidak menghiraukan designer yang sedang berdiri disampingnya. Langkah nya kini tertuju pada Frans yang duduk dengan santai tanpa rasa bersalah telah bersikap seenaknya nya. Frans mengatakan mencintai Dyana, tapi hanya mencoba tuxedo itu saja Frans tidak mau sebab cedera kecil ditangannya.
"Apa maksud mu ini Frans!!" bentak Marcus sambil menarik kerah kemeja Frans. "Cepat kau ikut dengan designer itu ke dalam dan coba apapun yang diberikan nya!!" segah Marcus, sangat geram.
Frans menatap Marcus dengan sombongnya seakan-akan berkata, ini bukan lah urusan mu! pergilah dari sini .
"Kau tidak lihat tangan ku cedera? Bagaimana mungkin aku mencoba gaun pengantin itu!! Kau sudah gila!! Aku bisa mencoba nya sehari sebelum pernikahan ku!" Tukas Frans, dengan pongahnya.
"Apa kata mu!!! Kau akan mencoba sehari sebelum pernikahan mu!!!! Hei tuan Aksena dengar kan aku!! Aku tidak peduli kau akan mencoba nya kapan. Malah aku akan sangat senang kau tidak mau mencoba sama sekali tuxedo pengantin mu itu! Tapi, Dyana di dalam sana sedang mencoba gaunnya dengan susah payah. Kau tahu sendiri kalau kaki Dyana belum pulih benar. Dia masih kesulitan berdiri. Serta tangannya. Belum sepenuhnya bisa lepaskan begitu saja. Dan sekarang Dyana bersedia mencoba gaun itu tapi kau!!! Kau hanya cedera sedikit ini, malah bilang kau tidak bersedia??!! akan ku patahkan satu lagi tangan mu biar kau jangan kan untuk mencoba tuxedo itu, untuk menikah dengan Dyana pun kau tidak akan bisa melakukan nya." Ancam Marcus pada Frans dan memperkuat cengkraman nya pada kerah baju Frans.
"Tuan!! Tuan!! Aku mohon jangan buat keributan di butik ku." Cegah sang desainer pada Marcus dan Frans.
__ADS_1
"Kalau tuan Frans memang tidak bisa mencoba tuxedo itu, kau saja yang mencobanya. Seperti permintaan ku tadi." desak sang desainer.
Marcus masih tetap diam. Bagaimana dia bisa mencoba Tuxedo milik Frans.
"Tuan Frans!! izin kan saja tuan ini mencoba tuxedo mu. Kasihan nona Dyana sudah hampir siap mengenakan pakaian pengantin nya. Aku tidak bisa melihat apakah pakaian mu dan nona Dyana serasi jika kedua pengantin berdiri di depan mata ku." Kilah sang desainer.
Dengan wajah terpaksa dan sombong, Frans berkata."Huft. kalau memang tidak ada pilihan lain... Mau bagaimana lagi." Frans memandang Marcus dengan tatapan tidak suka.
"Kau!!!" Seru Marcus.
",Sudah tuan!! Sudah!! Tuan Frans sudah setuju! Ayo ikut lah dengan ku ke dalam." sang desainer menarik tangan Marcus yang satunya lagi.
Karena merasa iba pada Dyana yang sudah bersusah payah mencoba gaun pengantin itu dan karena kesal karena sikap Frans yang benar-benar kekanak-kanakan itu, akhirnya Marcus terpaksa itu dengan sang desainer ke dalam ruang ganti pakaian.
"Aku akan membuat perhitungan dengan kau nanti tuan Aksena!" Ancam Marcus yang masih emosi. Dan masuk ke dalam ruangan itu bersama sang desainer.
Raut wajah Frans langsung berubah ketika Marcus masuk ke dalam ruangan ganti yang berada tepat di sebelah ruangan Dyana.
Ditatapnya pintu itu bergantian sambil menarik nafas dan menghelanya pelan. "SEMOGA KALIAN SELALU BAHAGIA." ucapnya tersenyum dan pergi meninggalkan ruangan itu.
**bersambung...
maaf ya . kemarin otor pelatihan .. jadi gak bisa nulis banyak......π
jangan marah ya zeyeng ..
πππ
__ADS_1
*Tuliskan pendapat mu tentang karya otor yang ini ya.. *biar kalau karya ini tamat bisa jadi bahan refleksi bagi otor. Terima kasih * dan jangan lupa untuk like dan Vote nya.