
Saat ini hal terbaik yang ia bisa lakukan hanya berdoa agar ayahnya dapat melupakan kekesalannya pada Kenzo dan menerima Kenzo sebagai menantunya.
Jika Kenzo dan Alesya saat ini disibukkan dengan strategi untuk menghadapi tuan Aldion Rodio, beda cerita dengan Dyana yang saat ini sedang pusing karena Frans yang tidak ada habisnya menelpon Dyana untuk berjumpa.
“Pria ini benar-benar membuat ku gila!!” teriak Dyana di kamar nya. Dia benar-benar membutuhkan udara segar saat ini.
Dyana pun keluar dari kamarnya lengkap dengan tas dan ponsel di tangannya.
“kau mau kemana nona Dyana?” Seru Jack yang entah sejak kapan ada di rumah itu.
“Jack?”Dyana terkejut melihat yang sedang menonton di ruang TV. “Sedang apa kau disini? Dan sejak kapan kau ada disini?”
“saya baru saja tiba nona. Mungkin sekitar satu jam yang lalu. Tuan Kenzo meminta saya untuk berada di rumah ini sampai tuan Kenzo dan nyonya Alesya kembali.” Jawab Jack lancar jaya.
“What?!!” Dyana tidak percaya kalau keponakan nya itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya waktu itu yang mengatakan kalau Jack akan menemani dirinya selama Kenzo dan Alesya tidak ada.
“Kenzooooo!!!!!” teriak Dyana dalam hati dan langsung putar arah kembali ke kamarnya.
Kini kepalanya benar-benar sakit disatu sisi ada Frans yang seperti orang gila mengejarnya dan sisi lain ada keponakan nya yang gila yang ingin mengawasinya selama 24 jam.
Dyana terus berpikir bagaimana untuk keluar dari rencana ini.
“Apa sebaiknya aku menghubungi Marcus?” Gumam Dyana pelan.
“Tapi Jack pasti tidak akan mengizinkan aku untuk bertemu dengan Marcus. Bahkan dia pasti akan melaporkan hal itu pada Kenzo.” Pikir Dyana dalam hati.
“Kalau aku kabur dari Jack percuma saja. Dia kan tetap menemukan ketika aku kembali ke rumah dan sudah pasti dia sudah memberikan laporan lengkap pada Kenzo tentang tingkah ku seharian. Kenzo pasti akan mengurung ku sebagai hukumannya.” Dyana mencoba untuk tenang.
Semakin ia pikirkan dengan tenang maka semakin ia sadari terkurung di rumah untuk jangka waktu yang ia tidak ketahui dapat membuatnya menjadi gila lebih cepat dibandingkan bila ia harus berurusan dengan Frans. Sebuah ide gila muncul di kepala Dyana. Dyana mengambil ponsel nya dan men-dial nomor Frans.
“Akhirnya kau menghubungi ku.” Ujar Frans begitu mengangkat telpon dari Dyana.
“Aku capek ditelpon terus oleh mu.” Elak Dyana. Dia tidak mau Frans membaca maksud hatinya.
“cepat katakan kenapa kau selalu menelpon ku dan ingin bertemu dengan ku.” Ini merupakan strategi Dyana agar Frans masuk ke dalam perangkapnya.
“Aku ingin berteman dengan mu.” Jawab Frans.
“Aku matikan saja telpon ini.” Ancam Dyana.
“eeits! Tahan-tahan! Baiklah aku akan jujur karena sepertinya percuma saja aku berbohong.” Ungkap Frans.
“Kalau begitu cepat katakan.” Perintah Dyana.
“aku hanya ingin tahu tentang hubungan Kenzo dan Alesya yang sebenarnya dari mu. Kau pasti sudah tahu kalau aku dan Alesya punya hubungan di masa lalu. Sehingga penting bagi ku untuk tahu status nya bersama Kenzo saat ini.”
“gotcha!!” Seru Dyana dalam hati.
“Baiklah.” Jawab Dyana.
“Apa??!” Frans tidak menyangka kalau Dyana akan menjawab seperti itu. Hal ini sungguh tidak diprediksikan oleh Frans. Frans malah mengira Dyana akan marah dan menyuruhnya untuk bertanya langsung pada Kenzo atau pada Alesya. Tapi yang ia dengar malah sebaiknya. Wanita ini malah menyambut dengan tangan terbuka.
__ADS_1
“kau bilang apa tadi Dyana?” tanya Frans sekali lagi sekedar untuk memastikan.
“Kau ini percuma saja memiliki paras yang lumayan tapi telinga mu bermasalah.” Gumam Dyana. “aku katakan baiklah. Artinya aku bersedia untuk menceritakan kepada mu mengenai seperti apa hubungan antara Kenzo dan Alesya saat ini.” Jelas Dyana.
“Benarkah?” Tanya Frans yang kini terdengar ragu.
“heem.. untuk apa aku berbohong pada mu.” Jawab Dyana.
“Tapi kenapa kau mau melakukannya?” Tanya Frans curiga. Tidak mungkin wanita ini berubah dalam waktu kurang dari satu jam. Frans ingat sejam yang lalu dia masih berusaha menelpon Dyana tapi wanita itu kekeh me-reject telponnya. Lalu wanita ini tiba-tiba menghubungi nya kembali dan mengatakan bersedia untuk menceritakan hal dia minta. Bukan kah itu terlalu mencurigakan? Pikir Frans.
“Tentu saja untuk diri ku sendiri.” Ujar Dyana.
“untuk dirinya sendiri? Apa dia tidak suka bila keponakannya menjadi suami Alesya?” Pikir Frans dalam hati.
“Tuan Aksena, kau tidak perlu banyak berpikir dan menerka-nerka. Aku bukanlah tipe wanita yang suka berbohong.” Tujas Dyana seakan dia tahu kalau Frans sedang menerka-nerka maksud perbuatannya.
“kecuali itu ada keuntungannya untuk diri ku, hehehe..” tawa Dyana dalam hati.
“baiklah akan aku jelaskan alasan ku mengapa memenuhi permintaan mu itu. Yang pertama untuk diri ku sendiri agar kau tidak lagi mengganggu ku setiap waktu. Dan yang kedua sebab aku ingin kau melakukan sesuatu juga untuk ku.” Jelas Dyana.
“Apa? Kau ingin aku melakukan sesuatu untuk mu?” Tanya Frans, yang masih belum paham dengan maksud Dyana.
“Jadi begini tuan Aksena, Kenzo dan Alesya saat ini tidak sedang berada di kota ini . Mereka sedang pergi ke suatu tempat. Dan hanya ada aku di rumah ini saat ini.” Dyana siam sesaat.
“lalu?” tanya Frans penasaran. Apa hubungan antara Kenzo dan Alesya pergi dan Dyana yang sendirian di rumah dengan dirinya.
“Kau jangan berpikir yang macam-macam!! Aku tidak akan meminta mu untuk menemani ku di rumah ini sebab Kenzo sudah menempatkan asistennya untuk menemani ku kemana pun aku pergi. Bisa kau bayangkan bahkan untuk makan cendol di luar pun Jack asistennya Kenzo akan selalu menemani ku.” Ucap Dyana jengah.
“jadi aku perlu kau untuk menjadi supir ku. Tugas mu cukup untuk menjemput ku dari rumah dan mengantarkan ku di tempat yang ingin aku tuju lalu mengantarkan ku kembali ke rumah Kenzo setelah aku selesai dengan urusan ku. Tenang!! Kau tidak perlu menunggu ku. Aku akan menelpon mu jika urusan ku selesai.” Terang Dyana.
“hahahaha... pantesan kau mau bersedia menelpon ku dan mengabulkan permohonan ku. Ternyata saat ini kau juga sedang membutuhkan pertolongan dari ku.”Sindir Frans.
“kau bersedia tidak? Kalau kau tidak bersedia kau jangan menelpon ku lagi. Kau hanya mmebuat ponsel ku cepat habis batrai saja.” Sungut Dyana.
“Deal!” Seru Frans. Jadi supir Dyana? Frans merasakan itu bukanlah hal yang berat untuk ia lakukan. Toh hanya perlu menjemput wanita itu dan mengantarkan kembali ke rumah Kenzo. Bukanlah hal sulit.
“tapi aku tidak tahu ya ini sampai kapan. Karena aku tidak tahu Kenzo dan Alesya akan kembali kapan. Dan satu lagi, aku hanya akan menjawab pertanyaan mu sekitar hubungan Kenzo dan Alesya. Aku tidak menjanjikan hal yang lain. Terutama hal yang dapat merusak hubungan mereka.” Tegas Dyana. Bagaimana pun dia tidak ingin di cap penghianat oleh Kenzo. Dyana sudah melihat dengan jelas bagaimana nasib Marcus yang dibenci oleh Kenzo saat ini.
“Aku paham. Tenang saja.” Jawab Frans.
“baiklah kalau begitu. Aku tunggu kau satu jam lagi di rumah Kenzo.
“Apa Kenzo tidak marah kalau aku datang ke rumah dan menjemput mu?” tanya Frans ragu.
“tenang saja. Aku yakin tidak akan ada masalah apapun selama kau datang ke rumah ini untuk menjemput ku bukan istrinya. Cepat siap-siap.” Dyana pun mematikan telponnya.
Dyana yakin kalau dia pergi dengan Frans maka Jack tidak akan mengikutinya. Dari hasil analisa Dyana, Kenzo tidak akan keberatan jika ia dan Frans memiliki hubungan sebab dengan demikian Frans tidak lagi akan mengusik Alesya. “memang nya aku tidak tahu niat mu meninggalkan ku berdua saja dengan Frans di restoran waktu itu?” dengus Dyana. Kini dia hanya perlu duduk cantik sambil menunggu kedatangan Frans.
Ditempat lain, saat ini Jenny dan Ronald sedang datang berkunjung ke kediaman tuan Puji. Hal ini karena Agnez sampai saat ini belum juga mengangkat telpon dari Jenny.
“Selamat datang tuan Ronald.” Sambut tuan Puji dengan senyum yang lebar. “Kenapa kau tidak mengabari ku terlebih dahulu jika kau ingin berkunjung ke mari.”
__ADS_1
“maaf datang mendadak dan tidak memberitahu mu terlebih dahulu tuan Puji.” Ujar Ronald, sopan. “istri ku ini sangat rindu pada putrinya sebab sudah beberapa hari ini Agnez tidak ada berkunjung ataupun menelponnya. Padahal aku sudah menjelaskan kepada nya bahwa setiap wanita yang bersuami itu akan disibukan dengan urusan rumah tangganya. Tapi dia tetap saja tidak mau mengerti.” Jelas Ronald.
“Agnez? Seingat ku Agnez beberapa hari yang lalu meminta izin pada ku untuk menginap di rumah temannya. Tuan dan nyonya Ronald, aku sadar bahwa Agnez masih muda. Jiwa terkekang jika harus selalu berada di rumah sepanjang waktu. Dia pasti bosan. Sehingga aku mengizinkannya untuk menginap di rumah temannya. Hanya saja waktu itu aku sengaja untuk tidak menanyakan pada nya dia menginap di rumah temannya yang mana. Aku dan Agnez masih belum bisa dekat. Perbedaan usia yang sangat jauh diantara kami membuat jarak yang cukup jauh juga.” Ujar tuan Puji bohong. Tidak mungkin ia kan mengatakan pada Ronal dan Jenny kalau saat ini dia sedang menahan Agnez di penjara bawah tanah milik nya. Pasti Ronal dan Jenny akan mengirimnya ke penjara sungguhan nanti.
“Aku harap kalian bisa memahami alasan ku membiarkan Agnez untuk menginap di rumah temannya. Kalian tidak perlu khawatir. Mungkin saat ini dia tidak sedang ingin diganggu makanya dia tidak menghubungi kalian atau bisa juga dia mengira kalian menelpon atas permintaan ku maka nya dia tidak mengangkat atau menelpon kalian kembali.” Tuan Puji sangat lancar dengan cerita karangannya.
“kau dengar itu Jenny!! Sudah aku katakan bahwa kau terlalu berlebihan mengkhawatirkan putri mu itu.” Tegas Ronald pada istrinya.
“benar nyonya Jenny, anda jangan terlalu khawatir. Aku akan menjaga putri anda sebaik mungkin.”
“Aku percaya dengan anda tuan Puji.” Jawab Jenny pasrah. Mau tidak mau dia harus menerima penjelasan dari tuan Puji. Paling tidak dari datang ke rumah tuan Puji, Jenny tahu kalau Agnes sedang tidak ada di rumah ini.
“ kemana anak itu?” Pikir Jenny dalam hati. Perasaannya masih saja mengatakan hal yang buruk sedang menimpa anak itu.
“Baiklah tuan Puji. Aku dan istri ku pamit pulang dulu. Aku masih harus ke kantor. Masih ada banyak urusan di kantor yang mesti aku selesaikan. Dan jika Agnez pulang, tolong sampaikan pada nya untuk menghubungi ibu. Paling tidak dengan demikian maka istri ku ini bisa tenang.” Ujar Ronald.
“Tentu saja, tenang saja. Aku pasti akan meminta Agnez untuk menghubungi kalian setelah ia pulang nanti.” Jawab tuan Puji.
Ronald dan Jenny pun keluar dari kediaman tuan Puji. Setelah yakin Ronald dan Jenny benar-benar telah pergi, tuan Puji berjalan ke arah ruang bawah tanah. Namun ketika tuan Puji hampir sampai di pintu yang mengarah ke ruang bawah tanah, Jasmin cepat-cepat menghampirinya.
“Kau hendak kemana suami ku?”Tanya Jasmin sambil menahan tangan tuan Puji.
“Aku ingin membebaskan Agnez. Apa kau tidak lihat tadi orang tuanya datang mencarinya.”Ujar tuan Puji.
“Kalau kau membebaskan Agnez sekarang malah hal buruk yang akan terjadi suami ku. Agnez tentu saja akan langsung mengadukan perbuatan mu pada kedua orang tua nya.” Jasmin diam sesaat.
“Kalau menurut ku sebaiknya kita tetap biarkan dia berada di penjara bawah tanah sesuai dengan masa hukuman yang telah kau tetapkan untuk nya sayang. Aku yakin semakin lama dia dibawa sana maka semakin dia menyadari kesalahannya dan dia akan menjadi semakin menurut dengan semua perintah mu.”hasut Jasmin.
Tuan Puji merasa apa yang dikatakan oleh Jasmin ada benarnya juga. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak jadi membebaskan Agnez.
“Baiklah kalau begitu. Kau benar juga Jasmin.” Tuan Puji pun kembali dan meninggalkan pintu ruang bawah tanah itu.
“Sayang, aku tahu kalau Agnez itu masih anak-anak! Tapi selama ini dia tidak pernah absen untuk mengabari ku dimana dia berada atau sedang bersama siapa di saat itu.” Ujar Jenny pada suaminya yang sedang fokus dengan beberapa email di ponselnya.
“ Jenny. Agnez itu sudah besar. Dia sudah ada suami saat ini. Kau dengarkan tadi kalau tuan Puji mengatakan kalau Agnez sedang menginap di rumah temannya. Mungkin saja saat ini sebenarnya tuan Puji dan Agnez sedang ada masalah dan anak gadis mu itu kabur ke rumah salah satu temannya. Karena dia takut tuan Puji mengadu pada kita dan menceramahi nya untuk kembali maka nya dia tidak mengangkat telpon dari mu. Kau seperti tidak mengenal tabiat anak mu saja.” Ujar Ronald marah.
Sebenarnya bukan cerewetan Jenny yang membuat Ronald marah, namun ada sesuatu yang tidak beres dengan email-email yang ia baca pagi ini. Ronald mencoba fokus untuk mencari dimana letak kejanggalan semua laporan itu. Tapi karena Jenny tidak berhenti ribut tentang Agnez di sebelah nya, Ronald tidak bisa konsentrasi. Jadi cara terbaik saat ini adalah mengantarkan Jenny kembali ke rumah dan ia dapat segera pergi ke kantor kemudian mengecek semua email masuk ini.
Jenny merasa percuma saja dia menceritakan kekhawatirannya pada suaminya. Dengan kesal Jenny mengeluarkan ponselnya dan menelpon teman-teman Agnez yang ia kenal satu persatu. Namun hasilnya tetap nihil, Jenny tidak menemukan keberadaan Agnez. Anak itu seperti hilang di telan bumi.
“Kemana kau Agnez?” Gumam Jenny dalam hati.
bonus untuk hari minggu....
masih setia nungguin up dari otor? Kalau kamu masih ada disini bersama otor, Jangan lupa untuk dukung otor dengan cara like, komen dan vote ya.
Semakin banyak yang komen, like dan vote, semakin besar pula kesempatan untuk karya otor yang receh ini nangkring di beranda novel toon. Bantuin otor yang zeyeeeeeng.. makasih.
oo
. iya jangan lupa untuk intip profil otor ya.. sebab karya otor yang layak untuk kamu baca juga ada yang siap menyapa kamu.
__ADS_1
. 🤗🤗🤗🤗🤗🤗