Perjuangan Cinta Mr. Arrogant

Perjuangan Cinta Mr. Arrogant
BAB 39#Karma Agnes#4


__ADS_3

Heeemm.. Agnez!! Apakah ada tempat lain yang ingin kau tuju?” Marcus mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain agar Agnez tidak terlalu merasa tertekan. “bagaimana jika aku antar kan kau ke rumah Alesya? Bukankah kalian bersaudara?” Marcus tahu kalau Agnez dan Alesya bersaudara karena tragedi video live streaming yang ditayangkan oleh ibu Agnez beberapa hari yang lalu. Hanya saja dalam pikiran Marcus, yang bermasalah itu hanya Ronald, Jenny dan Alesya Dia tidak menyangka kalau Agnez juga terlibat masalah dengan Alesya.


Mendengar pertanyaan Marcus, Agnez pun menoleh ke arah Marcus. Raut wajahnya terlihat sedih tapi mulutnya tetap terkunci, tidak menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Marcus. Bagaimana mungkin ia ujuk-ujuk datang ke rumah Alesya setelah semua perbuatan jahatnya pada Alesya waktu mereka masih tinggal bersama. “tuan Marcus benar, Alesya memang adalah saudara ku tapi aku terlalu malu untuk bertemu dengan nya. Lagi pula dia pasti sangat membenci ku.” Gumam Agnez dalam hati.


“apa kau ingin aku antarkan ke rumah Alesya?” Tanya Marcus sekali lagi sebab Agne ztetap diam.


Agenz menggeleng pelan dan berkata, “tidak tuan. Aku tidak ingin ke rumah nya.”

__ADS_1


“heemm.. kalau begitu jika kau tidak memiliki tempat untuk di tuju, kau disini saja dulu untuk sementara. Kebetulan di hotel ku ini ada banyak kamar. Jadi kau bisa tempati satu jika kau mau.” Ucap Marcus. Dia tidak masalah jika memang Agnez akan menumpang gratis di hotelnya.


“apa?? Jadi saat ini kita berada di hotel?” tanya Agnez tidak percaya jika ternyata saat ini mereka sedang berada di sebuah hotel.


“ tapi bagaimana bisa?” lanjut Agnez terheran-heran sebab semua barang yang ada di kamar ini seakan-akan sudah di cap kepemilikan oleh laki-laki yang ada dihadapannya, benar-benar bukanlah dekorasi kamar sebuah hotel. “Semua barang disini sungguh identik dnegan dirinya.”ujar Agnez dalam hati, melihat ada banyak sekali foto-foto Marcus di kamar itu.


“aku tidak punya rumah nona Agnez. Aku hanya punya hotel ini. Itu lah mengapa aku tinggal disini. Dan kamar tempat kita berada saat ini, adalah kamar ku. Jadi kau tidak perlu terheran-heran begitu.”terang Marcus, sambil tersenyum melihat ekspresi tidak percaya di wajah Agnez.

__ADS_1


“Oo.. begitu rupa nya.” Batin Agnez sambil terus mengamati seluruh bagian kamar.


“nah, kalau kau sudah merasa lebih baik, kau dapat pindah ke kamar mu sendiri. Kamar mu tepat berada di sebelah kamar ku. Kau dapat tinggal di kamar itu selama yang kau suka. Gratis! Jadi kau tidak perlu memikirkan persoalan uang. Dan untuk makan siang, selama kau sakit akan ada pelayan hotel yang akan mengantarkan makanan ke kamar mu.Tapi jika setelah kau sembuh dan kau masih ingin disini maka kau harus turun sendiri ke ke restoran bawah untuk mengambil sendiri makanan mu. Kau cukup tunjukan saja kunci kamar mu maka kau bisa makan gratis di restoran bawah.”jelas Marcus, panjang kali lebar.


Agnez hanya diam sambil menatap Marcus. Benar kah laki-laki ini tulus membantu nya begitu saja? jika tidak yang diinginkan oleh laki-laki ini hingga bersusah payah membantu nya.


Dalam kehidupan yang Agnez jalani selama ini, dia tidak pernah benar- benar tulus melakukan sesuatu untuk orang lain sehingga jika ada ada orang lain yang berbuat baik kepada dirinya, otomatis Agnez tidak akan percaya begitu saja. Dia selalu berpikir setiap orang memiliki tujuan tersembunyi untuk setiap perbuatan baik yang mereka lakukan.

__ADS_1


***bersambung...


__ADS_2