
“Seberapa lama kamu mengenal Aditya?” tanya Sherly.
“Mungkin sejak beberapa tahun yang lalu,” jawab Ratna, dia mengira-ngira kapan Aditya berteman dengan kakeknya.
“Itumah baru kemarin,” ujar Sherly sambil tertawa.
“Eh, terus memangnya kamu berapa lama mengenal Aditya?”
“Aku? Aku sudah mengenal Aditya sejak masih SMA dulu,” jawab Sherly dengan mantap.
Ratna terdiam mendengarnya, dia tidak menyangka jika Sherly adalah teman lama Aditya. Dia kemudian menatap Aditya seolah meminta kepastian darinya. Aditya hanya mengangguk sambil tersenyum mengiyakan pernyataan Sherly.
“Sebaiknya kalian berkenalan dulu,” usul Aditya.
“Ratna.”
“Sherly.”
“Duh,” ucap Sherly sambil memegang kakinya.
“Kamu kenapa Sher?” tanya Aditya cemas.
“Nggak tahu, tiba-tiba serasa sakit.”
“Ada semut mungkin gigit,” kata Aditya sambil memeriksa kaki Sherly. Ratna terlihat kesal.
“Eh Dit, kamu nggak mau ketemu kakek ku dulu?” tanya Ratna.
“Eh, bo-“
“Dit jangan tinggalin aku dong, takut tahu di tempat seperti ini,” rengek Sherly.
Aditya semakin bingung dengan perubahan mereka berdua. Sebenarnya ada dendam apa diantara mereka berdua hingga bisa seperti itu. Ratna dan Sherly mulai cekcok kembali dengan pendapatnya masing-masing. Adrian kemudian meminta Aditya untuk ikut bergabung di meja bersama BIma dan Goni.
Sherly dan Ratna juga mengikuti mereka berdua. Aditya duduk di dekat para petinggi kedua geng besar. Tak jauh dari sana sudah ada satu meja poker yang tersedia. Bima terlihat kaget ketika tahu Aditya ada di sana.
Goni Petaka selaku tuan rumah sekaligus Ketua geng Gagak mulai berbicara menyambut para tamu yang datang ke pestanya. Mereka saat sengaja mengadakan pesta ini karena sudah berhasil mendapat keuntungan besar dari pasar gelap. Tiba-tiba saja di luar terdengar ada keributan. Tak lama kemudian beberapa orang pria masuk ke dalam restoran.
“Hahaha, Goni, Goni. Aku tidak menyangka jika aku tidak diundang di pesta ini!” teriak seorang pria sangar berdiri di depan Gerald dan petinggi geng Serigala lainnya.
“Jaja Karyana! Lu memang selalu mengacaukan pesta orang lain!” bentak Goni. Egi, Arfa dan Adrian langsung maju di depan Jaja Karyana, Ketua geng Serigala. Namun Gerald, Gilang, Edgard juga maju melindungi Jaja.
__ADS_1
“Sudahlah, gue datang kemari dengan damai. Gue denger dua geng besar akan berkumpul untuk bermain poker karena itulah gue datang untuk ikut meramaikan,” ujar Jaja sambil maju mendekati Goni.
“Sudah lama kita tidak berjumpa pak tua,” sapa Jaja kepada Bima.
“Jaga bicaramu keparat!” bentak Brian.
“Kamu tidak perlu melayani orang gila seperti dia Brian,” jawab Bima dengan tenang.
“Kata-katamu tetap pedas seperti biasa pak tua,” kata Jaja sambil duduk.
Suasana yang awalnya tegang mulai tenang kembali, semua perhatian geng Serigala tertuju kepada Aditya yang ikut duduk di sana. Gerald dan Gilang terlihat mengepalkan tangannya karena geram. Mereka hendak mendekati Aditya namun Adrian menghalanginya.
“Aku tidak menyangka jika hantu masa lalu akan bergentayangan di sini,” sindir Jaja.
“Siapa yang lu maksud?” tanya Goni.
“Siapa lagi, orang yang bertahun-tahun tidak menampakkan dirinya sekarang malah muncul kembali,” jawab Jaja. Aditya tidak menoleh sedikitpun dia masih bersikap tenang.
“Apa maksud kedatanganm kemari?” tanya Bima.
“Seperti yang aku bilang, aku ke sini cuma ingin ikut bagian dalam pesta ini.”
“Jaga mulut lu tua bangka!” bentak Gilang.
“Keparat! Ketua busuk lu sendiri yang mulai cari masalah!” teriak Viktor.
“Lihat, pestanya semakin ramai kan?” kata Jaja sambil tertawa kecil.
“Cih! Awalnya aku mau menendangmu keluar dari restoranku ini, tapi kelihatannya semakin banyak pemain akan semakin bagus,” ujar Goni.
Goni kemudian mempersilahkan Bima dan Jaja untuk duduk di kursi tempat acara poker. Mereka juga memilih satu orang dari kelompoknya untuk ikut berpartisipasi di permainan poker itu. Jaja memilih Gerald, Bima memilih Brian, Goni memilih Aditya. Egi dan teman-temannya juga setuju. Mau tidak mau Aditya ikut dalam permainan itu.
Setiap orang diberi beberapa koin chips dengan total nilai sepuluh juta rupiah. Permainan poker pun dimulai. Sejak awal permainan Goni terus dominan memenangkan permainan itu. Uang yang sudah dikumpulkannya senilai dua puluh juta rupiah lebih. Diantara mereka hanya Aditya saja yang sedikit mengalami kerugian karena terus terusan ‘fold’.
“Hei, yang benar saja masa dari tadi kartu bajingan itu bagus terus!” gerutu Jaja.
“Kalau tahu begini aku akan ikutan fold terus dengan Aditya,” ujar Bima.
“Hahaha kelihatannya malam ini benar-benar malam keberuntunganku,” kata Goni.
“Cih! Aku mengusulkan untuk mengganti deck kartu yang sedang digunakan,” saran Brian.
__ADS_1
“Memangnya kenapa?” tanya Gerald.
“Dia sejak tadi kelihatannya terus berbuat curang. Aku tidak tahu bagaimana caranya tapi mungkin memang berhubungan dengan kartu,” kata Jaja.
“Semua kartu ini sudah dia berikan tanda, karena itu dengan mudah dia bisa tahu kartu apa yang ada di tangan kita,” jelas Aditya.
“Oh, mengejutkan,” kata Gerald sambil menatap tajam Aditya.
Setelah mengetahui hal itu permainan kembali di mulai menggunakan kartu baru. Goni kini mulai kehilangan beberapa chips miliknya. Bima menjadi orang dengan chips terbanyak saat ini. Selang beberapa menit kemudian giliran Aditya yang memiliki jumlah chips terbanyak.
Pertandingan poker bergitu sengit, mereka silih berganti memenangkan permainan. Gerald dan Brian sudah harus keluar karena chips mereka habis ketika beradu ‘all-in’ dengan Jaja. Tak lama kemudian di susul oleh Goni yang tersingkir, lalu Bima. Kini hanya tinggal Aditya dan Jaja saja dengan total chips lebih unggul Aditya.
“Ternyata keberuntunganmu lumayan juga, sampah,” kata Jaja mulai memprovokasi agar Aditya bertindak gegabah.
“Permainan seperti ini bisa dimenangkan bukan hanya dengan keberuntungan saja. Andai kamu pernah belajar matematika mungkin saja bisa lebih mudah lagi memenangkan permainan seperti ini,” balas Aditya.
“Cih, lidahmu cukup tajam juga untuk seukuran bocah kemarin sore.”
“Kita lihat saja sampai dimana kebodohanmu. All-in,” ucap Aditya mempertaruhkan semua chips miliknya.
“Cih, Fold,” kata Jaja menyerah.
“Lihat, kebodohanmu itu lebih besar dari omonganmu,” kata Aditya sambil membuka dua kartu miliknya yang ternyata sangat buruk malah lebih bagus kartu milik Jaja. Permainan dimulai lagi.
“All-in,” kata Aditya lagi-lagi mempertaruhkan semua chips miliknya.
“All-in,” Jaja ikut mempertaruhkan semua uang miliknya, berarti ini adalah pertandingan terakhir.
Dealer (orang yang membagikan kartu) mulai menunjukan kartu di meja. Wajah Jaja terlihat sangat senang. Lima kartu sudah ditunjukan semuanya. Jaja dengan percaya diri menunjukan kartu di tangannya.
“Straight,” ujar Jaja sambil melempar kartunya ke meja, Aditya malah tersenyum.
“Straight Flush,” kata Aditya sambil menunjukan kartu miliknya. Jaja geram melihatnya, Aditya memenangkan permainan itu dan uangnya menjadi enam puluh juta rupiah. Tapi dia kemudian mengembalikan semua uang itu.
“Aku tidak membutuhkan uang kalian semua,” kata Aditya sambil bangkit.
“Keparat!” teriak Gerald.
“Cih! Permainannya cukup menarik. Tapi aku punya sesuatu yang lebih menarik lagi,” ucap Jaja dengan senyum liciknya.
BERSAMBUNG…
__ADS_1