Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 210


__ADS_3

Tembakan dari Skuad Malam yang bersembunyi entah di mana saja secara aneh tak membunuh siapa pun. Itulah bagian dari taktik mereka. Adita dan tim sembunyi di tiap sudut yang tak terlihat dan sulit ditemukan lawan.


“Yang kita datangi ini bekas sebuah pabrik. Seharusnya banyak tempat sembunyi. Kita teror mereka terlebih dulu dengan peluru sampai sebagian besar anak buah Garry Lee kabur,” kata Aditya tadi sebelum mereka berangkat dari tempat Alexander.


Tentu rencana ini tidak sembarangan diambil. Kotoran dan bom tikus itu memang sengaja dibuat agar penyelamatan mereka tidak terlalu sulit. Aditya tahu keadaan yang ia temui di markas milik Gunawan Mahdi di Thailand. Belajar dari situ, mereka sudah tahu akan menghadapi musuh sebanyak apa.


“Jika menyerbu dengan cara biasa, kemungkinan kita akan gagal,” begitu ucap sang komandan semalam sebelum mereka cabut.


“Jadi bom tikus itu akan membuat mereka bubar tidak teratur, ya? Kurasa peluang kita sangat besar,” kata Nancy.


“Memang. Selama kita bisa sembunyi sebaik mungkin. Tapi jangan terlalu lama. Itu bisa membahayakan Frita.”


Maka, setelah tembakan demi tembakan itu, Aditya dan keempat anggota Skuad Malam yang sudah dalam posisi berpencar segera membidik tikus-tikus yang membawa bom. Baskara tak ikut bersama mereka karena ia harus menemukan di mana Frita kini ditahan.


“Nah, kita tembak sama-sama, ya?” kata Aditya melalui alat komunikasi.


“Siap!” balas Teo di seberang sana. Dia sembunyi di balik sebuah bak truk tua.


Mereka bisa melihat binatang-binatang pengerat itu dengan baik karena memakai kacamata khusus yang mampu mendeteksi sensor panas dengan jarak yang cukup jauh. Setelah menentukan target tikus masing-masing, mereka serempak menembak bersama.


Segera setelah itu, bunyi ledakan pertama terdengar.


Duarrr!!!


Lalu menyusul ledakan kedua, ketiga, dan seterusnya.


Duarr!


Duarr!


Anak buah Garry Lee yang kebingungan atas tembakan beruntun yang tak melukai mereka itu, kini kaget dan semakin porak poranda. Banyak di antara mereka yang kena ledakan dan telontar lalu mati.


“Ah! Kaki gue hancur!” teriak seseorang di sana.


Aditya bisa melihat itu suara Tony Ho. Diam-diam dia berharap juga melihat sosok Gunawan Mahdi.


“Di mana kau, Uncle Gun yang baik?” batin Aditya tak sabar.


***


“Ini kok banyak sekali tikus ya?” kata seseorang yang sedang asyik nongkrong di toilet.

__ADS_1


Pada saat itu, di luar mulai terdengar bunyi tembakan beruntun.


“Sial! Ada apa ini? Waduh, ini tikusnya kok bawa bom?!” teriaknya saat menyadari tikus itu membawa semacam tas ransel pada punggungnya.


Namun, seseorang itu mencoba menangkap si tikus dan mencopot ‘ransel bom’ dari tubuh tikus itu.


Hanya saja, tindakan itu memicu ledakan hebat. Toilet itu hancur berkeping-keping, membunuh orang yang nongkrong di dalamnya tadi, juga melukai beberapa anak buah Garry Lee di luar.


“Bangsat!” teriak Garry Lee yang terlihat keluar dari dalam gudang.


Ia menyuruh beberapa anak buahnya menjaga Frita sementara ia pergi ke ruangan pribadinya untuk menelepon seseorang. Ia jelas butuh bantuan kini. Dan orang itu jelas tak mungkin menolak.


“Ada apa?” balas seseorang tersebut.


“Kami diserang.”


Lama tak terdengar jawaban.


“Uncle Gun, kami diserang. Dan kami tak bisa melihat siapa dan berapa saja orang itu!”


“Jangan khawatir! Gue datang bersama puluhan penembak!” jawab Gunawan. Dia memang sudah menunggu kedatangan Profesor Joe, jadi memutuskan ke Korea Selatan juga beberapa hari lalu. Tapi ia tak menyangka Garry Lee bakal kecolongan begini.


“Dasar keponakan Leo gak berguna!” gerutunya sambil meninggalkan kamar hotel.


***


“Biar tahu rasa loe, Garry!” bisiknya pelan. Tembakan Nancy jitu. Meledakkan bom di tubuh tikus yang kebetulan menggerogoti sesuatu dekat pintu Garry di mana ia sibuk menelepon Gunawan.


Kini, Garry Lee terkunci. Sementara entah berapa banyak anak buahnya mati sebab ledakan bom.


Banyak anak buah Garry Lee yang akhirnya kabur, karena tak tahu siapa dan berapa lawan mereka. Lagi pula mereka cuma tentara bayaran dan bukan anak buah asli. Hanya saja, mobil mereka sudah terlumuri kotoran sapi dan kambing. Mulai dari setir hingga kursi, bahkan jendela dan pintunya.


“Anjir! Ini mobil gue kok banyak tahinya sih?!” teriak seorang dari mereka.


“Nah! Mobil gue juga kena!”


Sementara itu, dari jauh, Charlie berkata lega pada dirinya sendiri, “Akhirnya apa yang gue lakuin berguna juga. Nggak percuma tadi berkorban menghias mobil-mobil itu dengan kotoran! Hahaha! Mampus sekarang kalian!”


Dalam kondisi demikian, para tentara bayaran itu marah besar. Tentu mereka tidak akan sudi membantu Garry lagi dan anak buahnya yang tersisa. Mereka memilih berlari pergi dan tak peduli lagi pada ‘perang tanpa musuh’ ini.


Aditya segera mengontak Baskara, “Sudah ketemu Frita?”

__ADS_1


“Sejak semenit lalu sebenarnya, Bang,” jawab Baskara entah di posisi mana.


“Loe di mana sih? Buruan biar kita jemput!” sahut Linda.


“Ada di bagian paling selatan. Tempat Garry Lee tadi keluar sambil marah-marah.”


Tempat itu berupa gudang besar. Sudah dijaga oleh lusinan anak buah Garry Lee yang paling setia. Sedikit di antaranya mengenal Aditya waktu di Thailand.


“Oke. Terpaksa kita adu tembak,” kata Aditya. Ia menggunakan kata ‘terpaksa’ karena sebenarnya sudah merasa muak dengan kondisi misi seperti ini. Ia sudah lama merindukan hidup yang damai. Tapi sampai detik ini ternyata masih harus menghabisi para penjahat.


Skuad Malam segera berbaris, menuju gudang tersebut selagi menembaki satu per satu anak buah Garry Lee yang terpencar di sana sini, tergeletak tidak berdaya ataupun bersembunyi karena takut ledakan bom.


Kini yang tersisa hanya mereka yang ada di dalam gudang.


Aditya memberi kode pada Linda, Charlie, dan Teo untuk masuk dari pintu barat. Dia, Nancy, dan Baskara akan masuk dari sisi timur. Sayangnya sebelum adu tembak itu terjadi, mereka lihat beberapa tikus berkeliaran di dekat kaki tanpa memakai ransel bom.


“Bang, ini kok bisa?” tanya Baskara pada Aditya, menunjuk tikus-tikus gemuk itu.


“Kenapa, hei?” tanya Charlie di balik pintu barat.


“Tikus-tikusnya lepas dari bom dan tidak meledak!” balas Baskara.


“Bangsat! Ayo kita masuk. Gak ada waktu lagi!” pekik Aditya.


Mereka berenam segera menyerbu ke dalam gudang.


Sayangnya Frita sudah berada di ujung maut. Seseorang dari anak buah itu ternyata tahu cara menangani bom tikus tadi. Ia kini memasang sejumlah bom yang sudah diambil dari beberapa tikus ke badan Frita.


Salah satu dari mereka berada di sisi Frita untuk memasang panel pemicu waktu ledakan.


“Aditya!” teriak Frita.


“Kamu tenang dulu, Frita,” balas Aditya.


Akhirnya mereka bertemu lagi setelah sekian waktu berlalu.


Namun, bukan pertemuan macam ini yang diharapkan Frita.


Bom di tubuh Frita membuat Aditya dan tim tak berkutik. Sedikit saja gerakan dari anak buah Garry yang nekat itu, misi mereka akan gagal. Sebab, mereka semua yang ada dalam gudang akan mati mengenaskan. Jika bom itu tak dihentikan dalam dua menit, mereka juga akan meledak.


“Jadi, kita semua akan mati, ya?” kata Aditya.

__ADS_1


“Oh, tidak. Kalian saja yang mati!” seru seorang dari mereka sambil menodongkan senjata pada Aditya.


Bersambung....


__ADS_2