
Clarissa mengemudikan mobil ayahnya secepat yang dia bisa. Vian sudah mengirimkan lokasi di mana Arnold berada. Dari wajahnya terlihat jelas kegelisahan. Dia bingung kenapa Arnold sampai mau balapan dengan Vian, padahal dia sendiri tahu seperti apa sifat buruk Vian.
“Sebaiknya kalo menyetir jangan sambil melamun Ris,” kata seseorang di belakangnya.
Clarissa segera menginjak rem mobilnya. Ketika menoleh ke belakang tampak Aditya sedang duduk di kursi belakang sambil tersenyum. Tampak Rissa kaget bukan main, dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Aditya di sana. Lagipula seingatnya dia tidak melihat Aditya masuk ke mobil itu.
“Kamu kayak melihat setan saja nih,” ujar Aditya sambil berpindah duduk di samping Clarissa.
“Kok mang Aditya ada di dalam mobil?” tanya Rissa bingung.
“Dari tadi berangkat juga saya sudah di dalam kali Ris.”
“Kok aku nggak ngeliat siapa-siapa tadi?”
“Sudah jangan dipikirin. Yang jelas kenapa malam-malam begini kabur dari rumah?”
“Itu.. aku..”
“Ceritain saja, siapa tahu saya bisa bantu.”
Clarissa kemudian menceritakan tujuannya keluar rumah adalah untuk menolong sahabatnya. Aditya hanya mengangguk saja tanda mengerti. Clarissa juga memohon agar Aditya tidak mengadukan hal ini kepada ayahnya. Tampak HP Rissa beberapa kali berdering karena di telepon oleh Frita. Aditya meminta HP milik Rissa dan mengangkat teleponnya.
“Halo Ris kamu di mana? Mau berkunjung ke rumah temanmu yang di mana?”
“Halo kakak, aku sedang main,” jawab Aditya sambil tertawa.
“Dit? Kok kamu pegang HP Rissa? Di mana dia sekarang? Atau jangan-jangan kamu mau menculik dia ya!”
“Ish, jangan begitu dong kak. Aku mau bicara sama ayah sebentar.”
“Ayahmu dari Hong Kong!” bentak Frita.
Frita tidak menuruti perkataan Aditya, dia malah terus menerus memarahi Aditya dan menanyakan Clarissa. Pandu berinisiatif untuk berbicara sendiri dengan Aditya. dengan terpaksa Frita memberikan ponselnya kepada Pandu.
“Halo Dit,” sapa Pandu.
“Halo Pak.”
“Kalian di mana sekarang? Terus kenapa Rissa tiba-tiba keluar malam-malam begini?”
“Saya sekarang bersama Clarissa. Katanya dia ada urusan yang hendak di selesaikan.”
“Urusan apa Dit?”
“Bapak tidak perlu cemas, saya bisa menjamin Clarissa baik-baik saja, saya akan terus mengawasinya.”
__ADS_1
“Ya sudah kalo emang begitu Dit. Aku mengandalkanmu.”
“Terima kasih Pak.”
Panggilan diakhiri. Aditya tersenyum kepada Clarissa. Kemudian dia menyuruh Rissa kembali menyetir menuju ke tempat tujuannya. Clarissa agak lega karena Aditya tidak mengadukan kelakuannya kepada Pandu. Clarissa kemudian mencoba menanyakan hubungan Aditya dengan kakaknya.
Aditya hanya menjawab seadanya tentang hubungan mereka berdua. Clarissa akhirnya menyerah untuk mengorek informasi darinya. Terlihat sepanjang jalan Clarissa terus memperhatikan penampilannya yang lusuh.
“Sebenarnya seperti apa hubunganmu dengan Arnold?” tanya Aditya.
“Eh? Dia cuma temen deket aku doang kok. Aku sebenarnya kasihan melihat dia tidak punya teman dan sering di bully oleh siswa lain karena terlalu pendiam,” jawab Clarissa.
“Oh. Terus kenapa dia tidak melawan?”
“Dia itu anaknya terlalu pendiam Kak. Padahal orang tuanya terbilang kaya. Aku sengaja berteman dengannya agar tidak terlalu sering diganggu yang lain.”
“Aneh banget. Masa harus cewe yang ngelindungin cowo sih,” ujar Aditya sambil tertawa.
“Lalu setelah dia berteman denganmu tidak ada lagi yang membully nya?”
“Ada sih cuma jarang-jarang, paling yang masih suka berani membully terang-terangan sih cuma kakak kelas doang.”
“Kok bisa begitu? Apa mereka takut kamu laporin ke sekolah?”
“Ya ampun Kak jaman sekarang ini jarang banget ada siswa yang takut sama sekolah. yang ada juga pihak sekolah yang takut sama orang tua murid.”
“Gini gini juga, aku itu atlet pencak silat nomor satu loh di sekolah,” jawab Clarissa dengan mengepalkan tinjungya lalu tertawa.
Aditya hanya tersenyum, dia pikir jarang banget ada cewe yang menekuni seni beladiri seperti itu. Mungkin karena itu juga Clarissa menjadi lebih tomboy. Tapi kadang menjadi kuat juga malah akan mengundang bahaya yang lebih besar, seperti saat ini. Rissa tampaknya tidak peduli jika ini hanya jebakan yang di buat oleh Vian.
Dia sudah terlalu percaya diri dengan kemampuan beladirinya. Padahal sekuat kuatnya seseorang jika harus menghadapi jumlah yang banyak tetap saja akan kewalahan. Aditya rasa mungkin sebaiknya setelah ini dia meminta Pandu untuk mengajari Rissa arti kewaspadaan. Karena sifat Clarissa sendiri berbanding terbalik dengan Frita yang lebih feminin.
“Tapi lain kali sebaiknya kamu jangan tergesa gesa seperti ini Ris,” kata Aditya mencoba menasehati Clarissa.
“Lantas aku harus membiarkan temanku di bully gitu kak?” tanya Rissa dengan sedikit kesal.
“Bukan begitu, tapi lain kali sebaiknya pertimbangkan dulu tindakan yang mau kamu ambil. Siapa tahu ini jebakan doang. Lebih baik lain kali kamu langsung lapor polisi saja atau beri kabar saja orang tuanya,” jelas Aditya.
“Kamu mungkin saja bisa menyelamatkan dia, tapi nanti siapa yang akan nyelametin kamu kalau kenapa napa?” tambah Aditya.
“Tapi, jarang juga loh ada cewe yang sampe nggak peduli dengan dirinya demi temen,” puji Aditya.
“Iya kak aku mengerti. Hanya saja sebenarnya tadi aku terlalu kesal jadi tidak berpikir apa-apa lagi,” jawab Clarissa sambil tersenyum.
Melihat senyum Rissa mengingatkan Aditya dengan senyuman Frita. Aditya tiba-tiba tertawa mengingatnya. Clarissa mengernyitkan dahinya karena heran melihat Aditya tiba-tiba tertawa seperti itu.
__ADS_1
Dalam perjalanan mereka terus berbincang tentang beberapa hal hingga menjadi lebih akrab lagi. Clarissa pikir bahkan jika benar Aditya adalah tunangan kakaknya dia tidak menyesal sedikitpun walau penampilannya kurang rapi.
Ketika sampai di lokasi yang dikirimkan Vian, tampak di sana banyak anak-anak muda berkumpul. Beberapa mobil mewah yang sudah di modifikasi juga terparkir di sana. Clarissa langsung keluar dan menghampiri kerumunan itu diikuti oleh Aditya.
“Wah. Kayaknya atlet pencak silat kita sudah mulai hilang keberaniannya. Sekarang dia malah menyewa bodyguard segala,” ledek Vian.
“Lah yang begitu disebut bodyguard Vi. Itumah pemulung kali!” timpal yang lainnya sambil menertawakan Aditya.
“Diam! Di mana Arnold?!” bentak Clarissa.
“Hii serem,” ledek Vian.
“Cepetan bilang! Mana Arnold!”
“Bro bawa pengecut itu kemari.”
Teman Vian membawa Arnold yang tampak sudah babak belur, Clarissa benar-benar marah melihatnya. Ketika sudah di hadapan Vian Arnold malah ditendang oleh beberapa orang hingga tersungkur di dekat Clarissa.
Melihat hal itu Clarissa langsung marah dan menyerang pria yang menendang Arnold. Dalam sekejap pria itu sudah terkapar di jalan karena dibanting oleh Rissa. Beberapa pria tampak malah maju hendak menyerang Rissa. Namun dengan cepat Aditya menangkis semua serangan mereka. Vian dan teman-temannya tampak terkejut melihat ketangkasan Aditya.
“Sepertinya kalian harus diberitahu kalau menghajar perempuan bukanlah tindakan pria sejati,” kata Aditya berdiri di hadapan Rissa.
“Cih. Lu jangan ikut campur ya!” bentak seorang pria.
“Sudah-sudah, sebaiknya kita biarkan saja orang ini,” cegah Vian.
“Di mana mobil Arnold hah?!” tanya Clarissa.
“Oh kalau masalah itu tidak bisa ku kembalikan. Mobil itu sudah menjadi milikku.”
“Kurang ajar! Aku yakin kamu menjebak Arnold kan?!” bentak Rissa.
“Jelas bukanlah. Orang Arnold sendiri yang datang menantangku dan mempertaruhkan mobilnya,” jawab Vian sambil memperlihatkan video di ponselnya.
Tampak dalam video itu Arnold datang sendirian ke hadapan Vian. Dia dengan lantang menantang Vian untuk balapan, dengan taruhan mobil mereka masing-masing. Di video itu juga merekam balapan hingga selesai yang dimenangkan oleh Vian.
“Aku yakin itu pasti cuma rekayasa!” bantah Clarissa.
“Terserah lah. Coba tanyakan saja sama orangnya,” tantang Vian.
“Aku nggak peduli! Yang penting balikin mobil Arnold!”
“Eh lu jangan seenaknya ya Ris! Kalo lu mau mobil Arnold balik lu harus ngalahin gua balapan!” tantang Vian sambil tertawa.
“Oke! Gua siap.”
__ADS_1
Vian tertawa senang karena Clarissa menerima tantangannya. Mereka akhirnya sepakat jika Vian mempertaruhkan mobil Arnold sedangkan Clarissa mempertaruhkan mobil ayahnya.
BERSAMBUNG…