
Tiga orang berseragam militer tampak mengawasi suasana di sekitar kaki bukit itu. Memang area itu cukup rahasia, karena terhalang oleh hutan lebat, hingga pantai yang ada tak jauh dari bukit itu belum terjamah banyak manusia.
Amy Aurora mengatakan Aditya harus menggali kuburan di sampingnya kurang dari satu jam.
“Kamu harus menggunakan tangan, Dit,” ucap Amy seolah-olah itu tugas yang tak sulit saja.
“Kalian serius? Apa ini perlu? Bukankah Rai juga sudah tak sadarkan diri?” tanya Aditya yang kini bersiap diuruk oleh beberapa sekop tanah dan batu kerikil basah. Dia hanya berbaring di lubang yang telah disediakan dan menatap Amy Aurora yang berdiri di tepi lubang.
“Biar Rai enggak curiga. Nggak ada yang bisa melacak di mana lokasi dokumen itu, Dit. Pembelinya orang yang mengerti teknologi dan punya banyak hacker. Kecuali Rai. Hanya dia yang tahu pasti siapa si pembeli dari Jepang itu,” ucap Amy.
Aditya akhirnya pasrah. Ia menutup mata rapat, menyiapkan diri dalam sebuah peti yang sudah dihancurkan terlebih dulu bagian penutupnya, lalu membiarkan tiga tentara tadi menguruknya sampai beberapa puluh senti.
Agar lebih meyakinkan Aditya menggasak peti kayu itu dengan tangannya hingga jari-jarinya berdarah dan lecet. Tentu saja ia lakukan itu setelah bangkit dari kuburnya yang sementara lalu menghilangkan tanah dari sekitar matanya.
“Baiklah, kalian bisa pergi agar aku cepat menggali kuburan si pencuri malang ini!” tukasnya pada Amy Aurora.
Mereka pun meninggalkannya di sana. Terbang dengan helikopter entah ke mana.
Aditya cepat menggali kuburan Rai Siluman, berharap lelaki itu tak salah mendapat dosis suntikan.
Racun yang dahulu digunakan untuk membuat pingsan Profesor Joe itu, kata Amy, bisa membuat orang mati andai terlalu banyak dimasukkan ke pembuluh darah. Itulah kenapa Amy mencoba menanganinya sendiri.
Entah berapa belas menit berlalu. Tangan Aditya sangat lelah menggali kuburan itu bagaikan anjing saja. Ia terus mengumpat dan terus berharap semoga semua ini segera selesai.
Peti Rai Siluman akhirnya terlihat. Aditya mudah saja menjebol penutupnya.
“Ini dia!”
Brakk!!!
Lubangnya masih terlalu kecil.
Ia hantam sekali lagi bagian penutup peti itu.
__ADS_1
Brakk!!!
Bergenggam tanah segera merangsek masuk ke peti itu, mengenai wajah Rai yang terlelap. Aditya bergerak cepat.
“Bangun, Rai! Bangun! Kau masih hidup?!” teriaknya sambil menyingkirkan tanah dari wajah Rai.
Orang itu tidak juga bangun.
Aditya menarik tubuhnya ke atas, lalu membaringkan Rai di dekat lubang kubur mereka. Tempat itu sebuah tempat yang tak pernah terjamah manusia, kecuali sejumlah pasukan yang dikirim dari penjara untuk mengubur para tahanan yang tak berkeluarga yang mendapat hukuman mati.
Rai dan Aditya (atau yang kini dikenal oleh Rai sebagai Feri) dianggap memenuhi kriteria itu.
Maka, Aditya menangis, saat membangunkan Rai. Ini bukan demi sandiwaranya. Ia teringat akan Frita dan sang paman, yang mungkin saja kini bertanya-tanya ke mana ia menghilang setelah menumpas sang samurai sinting itu. Sudah pasti Pandu dan Ratna juga mengerahkan sumber daya mereka untuk melacak keberadaannya sekarang.
“Bahkan Komandan Malik pun juga tak tahu aku ada di mana saat ini,” pikirnya dengan getir.
Tapi, ia kini ‘bertugas’, sekalipun bukan sebagai bawahan siapa-siapa. Ia bertugas untuk negara di bawah pimpinan sesosok kolektor benda-benda seni langka dunia yang di masa lalu membantunya.
***
Aditya tak mengerti kenapa ia harus dipalsukan kematiannya. Bukankah rencana untuk melacak dokumen yang dicuri Rai sudah hampir menemui titik terang?
“Oh, masih ada sesuatu yang lain yang perlu kau lakukan,” kata Rahman Sugandi.
Aditya terlihat geram, tapi tak berdaya.
“Apa itu?” tanyanya.
“Untuk saat ini aku sendiri malah belum yakin, tapi kita tunggu saja, Dit,” kata sang guru Tanpa Nama.
Aditya berpikir jika segala yang diatur oleh Sang Guru Tanpa Nama ini selesai, ia akan kembali juga pada orang-orang tercintanya. Soal kapan itu, ia sendiri belum tahu. Maka, ia terima saja semua ini, asalkan nanti ia bisa benar-benar lepas dari kehidupan macam ini. Sebuah jenis kehidupan yang membahayakan nyawa dirinya dan orang yang ia cintai.
***
__ADS_1
Saat menggali kubur Rai, Aditya memikirkan tentang Frita. Bagaimana reaksi gadis itu setelah tahu dia meninggal? Apa yang akan ia katakan pada Frita kelak jika mereka bertemu kembali?
Aditya merasa terjebak seperti Amy Aurora. Ia mungkin malah akan dijadikan agen yang bekerja sampai mati untuk Rahman Sugandi. Siapa sebenarnya sosok guru absurd ini? Aditya tak henti bertanya-tanya.
Rai Siluman akhirnya siuman setelah Aditya mencoba menamparnya beberapa kali. Lelaki paruh baya itu mulanya tampak kaget, lalu bangkit duduk dan seketika muntah. Ia muntah cairan yang berbau busuk sekali.
“Efek racun itu,” batin Aditya.
Setelah beberapa saat, Rai mulai menyadari ia tidak mati. Ia menoleh ke sana dan kemari, melihat ada banyak batu nisan tanpa nama di sekitar situ. Ia juga melihat lubang kuburan yang baru dibongkar. Ada dua lubang yang seperti baru dibongkar.
“Di mana ini? Di mana ini, Feri?!” tanya Rai Siluman dengan panik. Wajahnya yang tirus itu penuh dengan tanah.
“Semua baik-baik saja, Rai! Kita selamat! Mereka gagal menghukum mati kita!” kata Aditya yang wajahnya juga berlumuran tanah basah.
Rai tampak kebingungan, menatap Aditya dengan heran.
“Bagaimana bisa?” gumamnya dengan ekspresi yang tampak sangat marah.
“Kurasa dokter-dokter Jim itu bodoh. Mereka salah menakar dosis suntikannya. Kita hanya merasa sedikit pusing dan mual saat ini, tapi kurasa kita masih bisa hidup,” kata Aditya.
Syukurlah Rai Siluman tidak lagi bertanya-tanya. Rai tidak sadar juga bahwa kini dalam pembuluh darahnya terdapat alat yang bisa melacak ke mana pun ia pergi. Amy Aurora dan sebuah pasukan khusus disiapkan untuk mengikuti Rai ke sarang mafia itu nanti.
Tentu saja sampai rencana itu berjalan, mereka masih harus menemukan kota yang terdekat dari kaki bukit itu. Aditya dan Rai berjalan susah payah, saling menopang satu sama lain agar bisa terus berjalan.
Mereka sampai di sebuah kantor desa kecil setelah perjalanan kaki kurang lebih dua jam.
“Kita tak ada uang dan tubuh kita benar-benar terlihat seperti mayat,” kata Aditya.
“Tenang saja. Kukira aku tahu tempat ini. Aku bisa meminta bantuan seseorang,” sahut Rai dengan tenang.
Tubuhnya lemah, tapi tampaknya ia bisa pulih tak lama lagi.
“Siapa itu?”
__ADS_1
“Saudara-saudaraku,” jawab Rai. “Saudara senasib, sesama bedebah berkelas yang menipu dan mencuri banyak barang berharga sejak belasan tahun lalu.”
Bersambung...