Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 88


__ADS_3

Frita dan Clarissa sedang terdiam di dalam mobil. Mereka sedang sibuk dengan lamunannya masing-masing mengenai nasib Aditya. Frita merasakan kesedihan yang amat dalam saat ini, selama ini dia merasa sudah berbuat jahat kepada Aditya. Clarissa kemudian mengeluarkan kado kecil dari saku bajunya.


“Itu apa Ris?” tanya Frita penasaran.


“Ini dari kak Aditya, kak,” jawab Clarissa sambil berusaha membuka kotak itu.


“Kapan dia memberikannya?”


“Tadi saat kami bertukar tempat.”


Clarissa perlahan membuka kotak kecil itu, airmata Clarissa kembali menetes melihat seuntai kalung nan indah ada di dalamnya. Kalung dengan inisial namanya sendiri ‘C’. tangis Clarissa semakin menjadi ketika melihat ada kertas kecil di dalam kotak itu.


‘Selamat ulang tahun Clarissa Larasati. Aku harap semua impianmu bisa terkabul. Ini hanya hadiah kecil dariku walaupun bukan emas dua puluh empat karat tapi setidaknya masih mengandung emas. Jadilah wanita pemberani yang selalu berhati-hati dan waspada. Btw jangan beritahu kakakmu ya, soalnya kemarin saat dia ulang tahun aku tidak membelikan apapun’


“Dasar Aditya, dia malah lebih peduli kepada adik tunangannya daripada tunangannya sendiri,” ujar Frita. Airmatanya kembali mengalir dari kedua matanya.


***


Aditya berjalan sambil menunggu momen yang pas untuk membalikan keadaan. Dia tahu jika diantara tujuh penculik hanya satu orang saja yang membawa pistol. Target utamanya adalah menjauhkan pistol itu dari para penculik. Dengan tangan diikat seperti ini akan membuatnya susah bergerak. Terlebih dilihat dari fisiknya mereka semua pasti lumayan hebat.


“Indah juga malam ini ya,” ujar Aditya sambil tertawa kecil.


“Nikmati saja selagi lu masih hidup!”


“Bos, kelihatannya polisi tidak berniat mengejar kita.”


“Jangan lengah! Mustahil jika mereka diam saja. Mereka pasti sedang berusaha mengikuti jejak kita saat ini.”


“Hahaha, ternyata penjahat busuk seperti kalian juga masih ingin hidup ya,” ledek Aditya.


“Diem lu brengsek!”

__ADS_1


Aditya kembali di hajar oleh seorang penculik, dengan sengaja dia menjatuhkan tubuhnya ke dekat penculik yang membawa pistol. Dia merasa jika sekarang adalah saat yang tepat untuk menjalankan rencananya. Dia sudah siap untuk mempertaruhkan nyawa satu-satunya yang dia punya saat ini.


Dengan cepat. Aditya melepaskan ikatannya sambil menyeringai. Penculik di hadapannya terkejut karena tali yang melilitnya sudah terlepas. Aditya sejak lama menggunakan ranting tajam yang dia pungut untuk menggesek permukaan tali. Dengan cepat Aditya melesat ke arah penculik yang membawa pistol.


Suara tembakan terdengar, peluru melesat ke kepala Aditya namun hanya menggores pelipisnya saja sedikit. Aditya melayangkan tendangannya ke tangan penculik namun dia menghindar sambil menembak. Aditya berhasil menghindar dengan cepat ke samping lalu melesatkan ranting tajam hingga menancap ke satu mata penculik itu.


“Aakhh, bajingan! Jangan biarin dia kabur!” perintah bos penculik, dari matanya meleleh darah segar karena tertancap ranting yang dilemparkan Aditya.


“Kenapa Bos?”


“Kurang ajar!” beberapa anak buah penculik yang lain mulai panic berusaha menangkap Aditya.


“Sayang sekali, gue nggak berniat kabur sedikitpun!” teriak Aditya sambil kembali menerjang beberapa penculik di depannya.


Dengan cepat dia hanya menghindari serangan, targetnya sudah jelas bos penculik yang membawa pistol. Dengan cepat tubuhnya meliuk liuk menghindari beberapa serangan dari lawan. Tinjunya melayang berhasil mengenai leher bos penjahat yang sedang meraung raung kesakitan. Tendangan kaki Aditya berhasil membuat pistol di tangannya terlempar.


Seorang penculik menangkap Aditya dari belakang. Dua orang lainnya menghajar Aditya dari depan. Walaupun sakit Aditya segera melompat sambil menendang dua musuh di depannya hingga terjungkal. Dalam sekejap Aditya berhasil mencengkram pinggang musuh dibelakangnya. Lalu mengangkat dan menghujamkan kepalanya ke tanah.


“Kelihatannya mereka benar-benar hebat. Tidak salah lagi pasti mereka adalah anggota dari geng besar,” gumam Aditya sambil mengatur nafasnya.


“Habisi dia!”


“Berani-beraninya lu nyerang bos gue!” ujar seorang penculik sambil maju dengan pukulan beruntun.


“Hahaha orang busuk seperti kalian memang sudah pantas dihabisi!” teriak Aditya sambil membalas dengan pukulan beruntun.


Mereka beradu pukulan, tangan penculik itu terasa panas setelah beberapa kali beradu pukulan dengan Aditya. Dia memutuskan mundur sejenak namun Aditya terus menyerangnya hingga jari-jarinya terluka mengeluarkan darah. Dia hendak mundur namun Aditya menendang lehernya hingga terkapar.


Empat orang penculik yang masih berdiri menghunuskan pisau. Aditya tersenyum kelihatannya harapannya untuk bisa membalikan keadaan dapat terlaksana. Dengan geram mereka maju menyerang Aditya serentak. Bermodalkan kayu Aditya berhasil menghalau semua serangan lawannya.


Seorang penculik menyerang dari belakang. Aditya berhasil menghindar namun dua orang lagi menyerang dari samping. Aditya menghalau pisau di sela-sela jari tangan kanannya hingga berdarah. Satu sabetan pisau berhasil menggores lengan kirinya hingga beerdarah. Aditya mundur untuk menjaga jarak.

__ADS_1


“Cih, kemampuan mereka lumayan juga ternyata,” gumam Aditya sambil meringis kesakitan.


“Sial kemampuan orang ini benar-benar hebat,” ujar seorang penculik.


“Kelihatannya dia memang bukan orang sembarangan,” ucap yang lainnya.


“Mungkin dia juga anggota geng di kota ini.”


Aditya bangkit sambil mengatur nafasnya. Setidaknya saat ini dia masih percaya diri bisa mengatasi mereka berempat. Dengan cepat Aditya maju mengepalkan tinju kanannya yang penuh darah. Dua penculik maju menyambutnya. Aditya berputar menghindari ayunan pisau mereka berdua, dengan cepat Aditya memegang pundak seorang penculik.


Ketika temannya mengayunkan pisau, seketika Aditya menggunakan seorang penculik untuk mengahalau serangan temannya, penculik itu menjerit kencang karena tertusuk pisau. Aditya kemudian memegang lengan seorang penculik lalu mematahkannya hingga terkapar menahan sakit. Sekejap dua serangan melesat kearahnya Aditya menginjak penculik yang terkapar lalu loncat untuk menghindar.


Satu sayatan pisau berhasil melukai bagian atas lengan kanannya. Aditya semakin geram, dia lalu menendang perut penculik itu hingga mundur. Sekuat tenaga Aditya meninju dada lawannya hingga mengeluarkana darah dari mulutnya sebelum akhirnya terkapar. Ketika penculik terakhir hendak maju dengan cepat Aditya mematahkan kedua tangannya lalu mencekik lehernya.


“Katakan kepadaku siapa orang yang menyuruh kalian!” bentak Aditya.


“Cepat katakan! Atau kupatahkan lehermu sekarang!” gertak Aditya sambil menguatkan cengkraman tangannya.


“Ampun,” ujar penculik itu sambil menahan sakit.


“Kalau begitu cepat katakan!”


Aditya terus mengancam penculik itu dengan menguatkan cengkraman tangannya. Terlihat penculik itu mulai mengambil nafas hendak menjawab semua pertanyaan yang Aditya berikan.


“Yang menyuruh kami adal-“


Tiba-tiba dua suara tembakan terdengar dari arah belakang Aditya. Penculik yang sedang dicekik olehnya tewas seketika. Dari kepalanya mengucur darah segar bekas terkena tembakan. Nafas Aditya terasa mulai gelap, tatapannya mulai nanar. Tangan kirinya seakan kesemutan.


Aditya menguatkan kakinya untuk terus berdiri. Rasa sakit yang sangat terasa mengalir ke seluruh tubuhnya dimulai dari bahu kirinya. Aditya memegang bahu kirinya. Ketika tangan kanannya menyentuh bahu kiri rasa sakit yang dia rasakan semakin menjadi. Bajunya menjadi basah kuyup karena darah yang keluar, nafasnya semakin memburu.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2