Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 305


__ADS_3

Lelaki bertubuh kurus dan bermata seperti serigala jahat itu duduk diam di sebuah kursi di ujung ruang bawah tanah entah di kota mana. Tempat itu sangat rahasia. Tak ada yang tahu, kecuali beberapa politikus busuk dan pengusaha-pengusaha culas.


“Nah, mereka kini sudah datang semua, Tuan,” kata seorang pemuda tampan pada si lelaki bermata serigala.


Pemuda tampan itu menyingkir setelah lelaki bermata serigala membisikinya entah apa. Si pemuda tampan segera menyuruh beberapa anak buahnya untuk pergi ke luar, berjaga di sana.


“Jangan berisik,” katanya pada para anak buahnya itu. “Kalian boleh bunuh orang luar yang coba masuk. Tapi jangan berisik.”


Para anak buahnya yang bertampang liar dan berwajah seram-seram itu mengangguk paham. Tak banyak bertanya. Mereka berbaris keluar nyaris tanpa suara. Sementara itu jumlah tamu di ruang bawah tanah yang luas itu semakin bertambah.


“Siapa tidak kebagian tempat duduk?” tanya si lelaki bermata serigala.


Tidak ada yang menjawab. Artinya semua orang sudah duduk di tempat mereka yang sudah disediakan. Para tamu itu tak lain politikus-politikus busuk yang selama ini berada dalam perlindungan Setiawan Budi. Juga para pengusaha nakal yang tak taat bayar pajak.


Mereka tampak kebingungan, saling berpandangan.


“Bukankah Pak Setiawan Budi sudah meninggal? Siapa yang mengumpulkan kita di sini?” bisik seseorang.


“Entahlah!”


“Tak ada pimpinan lagi. Mestinya kita sudah bebas dari jeratan mereka!”


“Itu dia saya juga bingung!” kata salah seorang dari mereka.


Obrolan serupa terdengar di sana-sini, tapi si lelaki bermata serigala tampak tak peduli.


Sudah lama mereka tidak berkumpul di sini seperti malam ini. Terutama setelah Setiawan Budi kecolongan uang dalam rekeningnya sendiri dalam jumlah yang sangat besar. Kini Hestu bertekad mengambil alih tampuk kekuasaan. Tak ada yang berani untuk bertanya-tanya siapa pembunuh Setiawan Budi, meski mereka tahu itu Hestu. Tak ada juga yang berani menolak undangan ‘rapat’ dadakan malam ini.


Ya, lelaki bermata serigala itu Hestu.


Ia pun berdiri dari kursinya, berjalan santai menuju meja panjang di tengah ruangan ini, lalu memandangi para tamu itu satu per satu.

__ADS_1


“Selamat datang, semuanya! Selamat datang di era yang baru!” katanya.


“Apa ini? Kenapa kami harus berkumpul?” tanya seorang politikus.


“Kenapa? Anda tanya kenapa?” balas Hestu dengan tenang. “Begini. Kerajaan ini mungkin sudah hancur, tapi tidak dengan orang-orangnya.”


Hestu melirik ke pojok ruangan, memberi anggukan seolah isyarat untuk entah apa. Nino Darsono dan dua orang lelaki Jepang melangkah mendekat ke sisinya.


“Tiga kaki tangan saya. Perkenalkan mereka Nino, Atari, dan Benny!” kata Hestu.


Nino yang sudah dikenal reputasinya oleh beberapa politikus, tampak mengangguk ramah. Atari dan Benny, dua sosok Jepang misterius itu, tak tersenyum sama sekali. Di ujung meja, seorang pengusaha kaya tampak tak senang dengan keadaan ini.


Katanya, “Apa-apaan ini?! Kalian mau memeras kami lagi? Seperti dulu Setiawan Budi memeras ayah-ayah kami, lalu memeras kami, dan kelak kalian tetap akan begitu pada para penerus kami?! Tidak, tidak bisa! Dan, kau, Hestu! Kau tak lebih dari seorang jongos!”


Hestu tampak kesal. Dengan sigap ia mengambil belati kecil dari saku jasnya, lalu melemparnya dengan sangat ahli dan kencang. Sebuah lemparan yang membuat belati itu menancap tepat di jidat sang pengusaha. Pengusaha itu ambruk dan tak bernapas lagi.


Seisi ruangan segera hening.


Seisi ruangan, kini tak ada yang berani menentang.


Setiap tamu undangan rapat rahasia itu terpaksa mematuhi aturan-aturan baru yang diucapkan Hestu. Para anak buahnya berjumlah jauh lebih besar dari Setiawan Budi. Dan ‘anjingnya’ bukan hanya berjumlah satu, melainkan tiga. Entah apa yang mampu diperbuat Atari dan Benny. Mereka tak berani membayangkan.


Pertemuan itu berlangsung singkat. Setelah penetapan dan perjanjian dengan darah dari telapak tangan mereka masing-masing, para tamu dipersilakan pulang.


Hestu tersenyum dengan bangga, “Ternyata tak sulit merobohkan kerajaan bajingan tua itu dan mengambil alihnya.”


“Ya, sangat mudah,” balas Nino.


“Jangan lupa kami juga ambil bagian,” kata Atari yang sejak awal sekalu dekat di sisi Benny.


Atari dan Benny tak lain adalah dua anak kandung Tuan Watanabe dari dua ibu yang berbeda. Atari lahir dari rahim wanita Jepang, sedangkan Benny yang berwajah agak kebulean, lahir dari wanita Amerika.

__ADS_1


Ya, Tuan Watanabe yang dulu di masa lalu membantu Hestu. Keluarga almarhum Watanabe di Jepang saat ini ditimpa krisis. Mereka jatuh akibat konflik internal. Hestu bersedia membantu dua penerus gurunya itu.


Hestu kini mengembangkan bisnis Setiawan Budi ke arah yang jauh lebih luas. Dia dengan mudah saja melakukannya, karena uang colongan dari hacker jenius itu sungguh menguras habis simpanan Setiawan Budi. Dengan simpanan dan awal baru ini, Hestu kini menjadi penguasa kegelapan yang baru.


***


“Kita tidak perlu mengundangnya segala. Kita bunuh saja langsung Aditya beserta keluarganya,” usul Nino Darsono ketika mereka membicarakan soal acara pemakaman mendiang Setiawan Budi.


“Setelah kupikir-pikir, Aditya mungkin tak perlu mati. Kurasa yang perlu mati Frita dan keluarganya. Juga sang paman. Bukankah itu jauh lebih baik? Membuatnya sakit hati dan mungkin gila,” kata Hestu.


Atari dan Benny terlihat setuju saja.


Nino tampak penasaran. Ia pun bertanya, “Kenapa kau ingin Aditya mati? Apa yang sudah ia perbuat padamu?”


“Tak ada,” jawab Hestu dengan enteng. “Aku cuma mau membuatnya tersiksa saja. Lagi pula kita tak tahu ke depan dia bisa jadi menganggu urusan kita.”


Hestu kembali ke ruangannya sendiri setelah pulang dari ruang ‘rapat rahasia’ tadi. Ruangan itu tentu dulunya milik Setiawan Budi. Di kamar itu juga dulu si lelaki tua itu menggagahi para perempuan nakal sambil mengatur para anak buahnya.


Kini Hestu juga melakukan hal yang sama.


Ia disambut oleh begitu banyak wanita nakal. Wanita-wanita itu kini terlihat jauh lebih patuh, karena beberapa dari mereka sudah merasakan keganasan sosok Hestu. Dia tak segan mematahkan tangan mereka hanya karena berbuat sedikit kesalahan sepele.


“Cepat, buka baju kalian!” perintah Hestu yang kini sudah melepas seluruh pakaian dari tubuhnya.


Para wanita itu mengikutinya masuk ke kolam milik mendiang Setiawan Budi.


Semalam suntuk Hestu menikmati pesta itu. Di kolam yang sama, esok paginya, ia menelepon Aditya. Mengundangnya untuk datang ke acara pemakaman Setiawan Budi.


“Bagus,” gumam Hestu setelah menutup telepon. “Setelah ini segalanya terasa amat menyenangkan.”


Ia membayangkan sosok Aditya yang tak tahan dengan godaan para wanita, bakal terjerumus ke dalam rencana busuknya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2