
“Jika Bapak memang ingin Aditya bebas dari tuntutannya bapak harus memberikan jaminan kepada pengadilan,” kata Jimmy.
“Berapa yang harus kami siapkan?” tanya Pandu dengan antusias, bahkan Frita ikut mendengarkan percakapan mereka dengan saksama.
“Pengadilan meminta jaminan sebesar lima puluh triliun rupiah,” jawab Jimmy.
“Lima puluh triliun?” tanya Pandu dengan raut wajah kaget.
“Ya, itu sepadan dengan kemungkinan hukuman yang akan dia dapatkan karena kejadian perang antar geng di kebun teh itu. Saya yakin paling ringan Aditya akan mendapat hukuman penjara seumur hidup dan hukuman maksimal adalah hukuman mati,” jelas Jimmy.
Sontak hal itu membuat Frita tertunduk menangis. Masih terbayang dipikirannya semua momen-momen indah yang sudah mereka berdua lalui bersama. Dia masih ingat saat mereka berdansa di bawah sinar purnama. Di saat itu Aditya juga berjanji akan kembali dengan selamat ke sisinya. Tapi kini pria pujaan hatinya itu malah terancam hukuman yang sangat berat.
“Aditya.. kenapa kamu tidak menepati janjimu.. bukankah kamu sudah berjanji kepadaku..” batin Frita.
“Begitu ya. Aku akan mengusahakannya dalam waktu dekat ini,” kata Pandu.
“Jika memang ingin membayar jaminannya, bapak harus bergegas sebelum hari persidangan dilaksanakan,” kata Jimmy.
“Baiklah. Ayo Frita kita pulang dulu,” kata Pandu sambil membantu putrinya berdiri.
Sepanjang jalan Frita terus menangis. Pandu juga benar-benar sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Aditya yang berkali-kali sudah membantu keluarganya.
“Aku benar-benar tidak berguna!” gerutu Pandu di dalam hati.
Sementara itu di dalam sel, Aditya duduk sendirian sambil merenung dan menatap lima tanda pengenal militer yang dia bawa. Sel itu dibuat khusus untuknya agar tidak bisa melarikan diri walau sebenarnya dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi dengan hidupnya saat ini. Setidaknya dia sudah merasa lega karena dendam yang dipendam selama ini sudah terbayarkan.
Yang dia sesali saat ini hanya ada satu, dia tidak bisa menunaikan janjinya kepada Frita yang telah dia buat. Walaupun tubuhnya terlihat sangat sehat dan tidak ada luka sedikitpun tapi hatinya benar-benar hancur karena harapannya untuk hidup damai berakhir dengan terkurung di sel dan tidak bisa menemui atau menghubungi siapapun yang dia kenal. Padahal dia sangat mengkhawatirkan Frita dan yang lainnya.
***
“Kamu ada keperluan apa datang kemari Ran?” tanya Frita sambil duduk di kursi. Dari raut wajahnya terlihat jelas kalau Frita kurang tidur dan selalu menangis.
“Aku datang kemari sengaja untuk menemui Mbak Frita,” ucap Rani.
__ADS_1
“Sebenarnya sebelum saya datang ke sini atas usulan Sherly dari bagian keuangan. Dia memintaku untuk menemui Mbak di sini. Sebelum ke sini saya dan Sherly juga sedikit berdiskusi mengenai masalah Aditya,” kata Rani. Mendengar nama Aditya membuat Frita kembali tertunduk sedih.
“Kami sudah menanyakan kepada kepolisian terkait bisa tidaknya Aditya dibebaskan, pak Jimmy bilang kalau kemungkinan bisa hanya saja jumlah jaminannya mencapai lima puluh triliun,” tambah Rani.
“Sebenarnya ini adalah gagasan dari Sherly tapi dia bilang saya yang harus menyampaikannya kepada Mbak,” kata Rani sambil menatap Frita.
“Apa yang ingin kalian sampaikan?”
“Sherly bilang mungkin mengumpulkan uang sebanyak itu memang terlihat mustahil, tapi kalau kita berempat berusaha mengumpulkannya bersama kemungkinan besar persentase keberhasilannya akan meningkat. Jadi dia ingin meminta bantuan keluarga Mbak Frita juga untuk mengumpulkan uang jaminan itu,” jelas Rani.
“Berempat?”
“Ya, dia bilang ada satu wanita lagi yang kemungkinan bisa membantu kita mengumpulkan dana sebanyak itu. Saat ini dia sedang pergi mencarinya.”
“Sebenarnya saat ini ayah juga sedang berusaha mengumpulkan uang itu, ibuku juga bersedia untuk membantu kami. Tapi kenapa kalian begitu ingin membantu Aditya?”
“Sebenarnya.. sebenarnya jujur saya sendiri sangat mencintai Aditya. dia sudah beberapa kali menyelamatkan nyawa saya, bahkan dia membantu saya untuk mencari tempat tinggal. Tapi kelihatannya Mbak memang lebih dia cintai daripada saya, padahal saya sudah membujuknya bahwa saya bahkan rela jadi yang kedua, tapi dia malah tertawa,” jawab Rani panjang lebar sambil tertunduk.
Airmata Rani terlihat berlinang, walaupun sedikit tapi Frita bisa memahami perasaan yang sedang dirasakan oleh Rani. Dia juga tidak kaget kalau Rani berkata seperti itu. Sejak dulu dia memang merasa kalau Rani juga memiliki perasaan yang sama dengannya kepada Aditya. bahkan mungkin bukan hanya Rani yang memiliki perasaan seperti itu.
“Aku benar-benar tidak ingin Aditya menderita. Aku tidak mau orang sebaik dia menderita di penjara. Aku tidak mau melihat dia terkurung seumur hidupnya di dalam sel tahanan. Jadi karena itu kami juga ingin membantu membebaskan Aditya,” kata Rani lagi sambil terbata-bata. Tanpa diduga Frita malah memeluknya.
“Lalu apa yang akan kalian lakukan jika Aditya sudah bebas nantinya?” tanya Frita pelan, air matanya juga ikut menetes. Tapi Rani tidak menjawab pertanyaannya.
“Lalu sekarang Sherly di mana?” tanya Frita.
“Dia bilang akan menghubungi saya kalau sudah bertemu dengan orang yang dia cari,” jawab Rani.
Sementara itu Sherly berhasil menemukan kediaman Ratna setelah dia bertanya ke beberapa orang anggota geng Merak. Dia kemudian menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Bima. Sepintas dia melihat Ratna membuang sesuatu ke tempat sampah. Setelah Ratna kembali ke dalam rumah, Sherly baru turun dari mobilnya lalu mendekati gerbang.
“Ada apa Mbak?” tanya pria yang menjaga gerbang.
“Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini kalo nggak salah namanya Ratna,” jawab Sherly.
__ADS_1
“Oh Mbak Ratna. Silahkan masuk.”
“Terimakasih,” ucap Sherly sambil tersenyum ramah. Dia kemudian mengikuti langkah pria itu.
Tepat di tempat sampah dia kemudian mencari sesuatu yang barusan dibuang oleh Ratna. Dia merasa kalau sesuatu yang dibuang Ratna tai cukup istimewa karena Ratna terlihat agak ragu saat membuangnya. Di tong sampah itu hanya ada beberapa bungkus plastik sampah dan secarik kertas. Sherly kemudian tersenyum sambil mengambil kertas itu.
“Sedang apa Mbak?” tanya pria yang mengantarnya heran.
“Oh ada barang saya yang jatuh ke tong sampah, tapi sudah ketemu kok,” jawab Sherly sambil tersenyum untuk menghilangkan kecurigaan pria itu. Dia memasukan kertas yang baru dia ambil tadi ke dalam tasnya.
“Ayok masuk saja ke dalam, soalnya setelah pemakaman Ketua, Mbak Ratna jadi jarang keluar dari rumah.”
“Iya. Oh begitu ya, pantas saja saya jarang melihatnya di luar.”
Sherly kemudian dipersilakan duduk di ruang tamu. Sementara pria itu pergi untuk menemui Ratna. Ketika sampai di ruang tamu Ratna terlihat sangat terkejut melihat kehadiran Sherly di rumahnya. Si pria tadi kembali keluar untuk menjaga gerbang.
“Lama tidak bertemu, Ratna,” kata Sherly sambil tersenyum.
“Ada apa kamu datang ke rumahku?” tanya Ratna sambil duduk di kursi.
“Langsung saja, aku memerlukan bantuanmu saat ini.”
“Bantuan apa?”
“Ini menyangkut persidangan Aditya yang beberapa hari lagi akan dilaksanakan,” jawab Sherly. Ratna malah tertunduk mendengarnya.
“Memangnya bantuan seperti apa yang bisa aku berikan?”
“Kita akan membicarakannya nanti. Aku ingin kamu ikut denganku ke suatu tempat untuk membahas masalah ini.”
“Baiklah,” jawab Ratna sambil menghela nafas dalam. Ratna kemudian kembali ke kamar untuk berganti pakaian sedangkan Sherly mengirim pesan kepada Rani. Mereka akan berkumpul di café yang sudah Sherly tentukan.
“Aditya, ini usaha terakhirku untukmu. Aku tahu kalau aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, aku juga tahu tidak mungkin mendapatkanmu, tapi aku tidak mau kamu menderita seperti itu,” gumam Sherly sambil mengusap matanya agar tidak menangis.
__ADS_1
BERSAMBUNG…