Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 83


__ADS_3

Aditya bertarung dengan Viktor. Beberapa kali serangannya berhasil mengenai Viktor, namun dia juga terkena beberapa pukulan. Keduanya kini saling berhadapan.


“Sudah kuduga kalau lu emang bukan orang biasa,” ujar Viktor.


“Sudah jelas gue cuma orang biasa saja.”


“Orang biasa doang mah mustahil bisa ngimbangin gue.”


“Itu cuma kebetulan doang,” Aditya.


Viktor terlihat geram, dua anak buahnya terlihat mundur karena kewalahan. Aditya tahu jika sebenarnya Arfa dan Adrian sengaja tidak serius menghadapai anak buah Viktor.


“Sudah bos jangan diteruskan,” ucap pria itu sambil memohon kepada Viktor.


“Apa maksud lu ngehadang gue hah?!” bentak Viktor sambil mengangkat kerah baju si pria.


“Ampun bos, pria ini temannya bos Ratna. Ini pasti cuma salah paham,” jawab pria itu.


“Apa? Teman Ratna?! Nggak salah lu?”


“Ratna?” gumam Aditya.


“Iya bos beneran. Ini bos Ratna ingin bicara.”


Viktor kemudian menerima ponsel pria itu lalu menjauh. Terdengar mereka berdua cekcok di telepon. Viktor kembali menghampiri Aditya dengan wajah kesal. Lalu memanggil semua anak buahnya, tanpa berkata sepatah kata pun dia melangkah menuju restoran.


“Jadi Ratna juga anggota geng Merak?” gumam Aditya.


“Kelihatannya kita harus mencari tempat main lain kalau begini,” ujar Adrian sambil tertawa kecil.


“Ya, lagipula jika kita ikut masuk ke dalam mungkin malah akan lebih parah,” kata Arfa.


“Walaupun begitu aku pikir mereka juga tidak akan punya alasan untuk memulai perang. Kalian sudah mematuhi peraturan yang disepakati selain itu anggota mereka juga tidak ada yang celaka,” hibur Aditya.


“Bos benar, tapi aku rasa masalah ini tidak akan semudah itu selesai bagimu.”


“Kalian jangan khawatir, setidaknya posisiku saat ini masih aman.”


“Kalau begitu kami pergi duluan.”


Adrian dan Arfa kemudian berlalu dengan mobilnya. Aditya menghampiri Sherly, lalu menuntunnya ke dalam mobil Pandu karena Sherly datang ke restoran juga naik taksi online. Aditya kemudian mengemudiakn mobil dengan tujuan rumah Sherly.


“Kamu nggak kenapa-napa kan Dit?”


“Aku baik-baik saja kok. Terimakasih ya.”


“Loh kok malah berterimakasih?”


“Ya aku bisa menghadapi mereka karena aku sadar sedang dilihat oleh wanita secantik dirimu. Masa di depan wanita cantik malah babak belur kan nggak lucu.”

__ADS_1


“Ih kamu ini, aku serius tahu.”


“Aku juga serius kok. Eh kalau ke rumahmu lewat jalan ini kan?”


“Iya bener, nanti aku kasih tahu belokan belokannya. Terus yang dua orang tadi bantu kamu itu siapa Dit?”


“Oh, aku lupa nggak ngenalin mereka. Mereka itu kawan lamaku, kebetulan mereka katanya mau mampir ke restoran, eh gara-gara masalah itu mereka malah nyari tempat lain.”


“Begitu, teman-temanmu serem serem semua ya Dit.”


“Kamu ini, ya mau gimana lagi emang mereka seperti itu.”


Mereka berdua terdiam menikmati suasana malam di jalanan. Sherly merasa jika perasaannya kepada Aditya masih sama seperti dulu waktu SMA, dia kembali mengenang waktu saat dia pertama kali bertemu dengan Aditya.


“Dit?”


“Ada apa Sher?”


“Waktu itu aku benar-benar tidak sempat mengucapkan kata perpisahan kepadamu.”


“Oh maksudmu saat dulu aku mau pindah sekolah?”


“Iya, aku benar-benar tidak menyangka jika kamu akan benar-benar pergi dari SMA itu.”


“Hahaha kamu ini ada-ada saja Sher, sudahlah itu cuma masa lalu masa mau minta maaf, lagipula kamu nggak salah apa-apa kok.”


“Ya, tapi aku merasa bersalah nggak sempat ngucapin sampai jumpa.”


“Ih kamu ada-ada saja, memangnya kamu mau pindah kerjaan sekarang? Masa tiba-tiba ngucapin sampai jumpa.”


“Ya biar kamu nggak merasa bersalah, aku nggak mau keberadaanku ini membebani orang-orang di sekitarku,” gumam Aditya pelan.


Entah kenapa Sherly merasakan perasaan kesedihan dari ucapan Aditya barusan. Dia juga menyadarinya dari raut wajah Aditya.


“Sampai jumpa,” ujar Sherly pelan sambil menatap Aditya.


“Eh beneran di ucapin?” tanya Aditya sambil menatap Sherly.


“Ya, sampai jumpa. Aku sekarang bisa tenang karena rasa bersalahku sudah lenyap,” jawab Sherly sambil merebahkan tubuhnya ke kursi mobil.


“Eh iya, btw kamu kok nggak bawa mobil sendiri?”


“Mobilku sedang aku servis, paling besok pagi aku bisa ambil sekalian berangkat kerja,” jawab Sherly berbohong. Sebenarnya itu cuma alasan agar Aditya mengantarnya pulang.


“Aku ingin tanya sesuatu Dit.”


“Mau nanya apa sampe harus izin dulu segala?”


“Kamu bukannya masih jadi tentara ya? Kok kamu bisa kerja di perusahaan sekarang?” tanya Sherly. Aditya telihat sedikit kaget mendengar penrtanyaan Sherly.

__ADS_1


“Aku memang dulu pindah sekolah dari SMA ke sekolah militer, tapi aku tidak bisa lulus sampai jadi tentara,” jawab Aditya.


Sherly hanya mengangguk, dia sebenarnya tahu kalau Aditya mengatakan kebohongan. Tapi dia tidak mau mengetahuinya lebih jauh setidaknya untuk saat ini. Dia paham pasti ada alasan kenapa Aditya sampai harus berbohong kepadanya. Tak terasa mereka sudah sampai ke rumah Sherly.


Sebenarnya rumah ini adalah hasil dari keringatnya sendiri, hasil bekerja selama ini, dulu waktu dia pertama merantau ke kota Bandung dari kampong dia hanya bisa menyewa kostan saja, tapi kini dia malah sudah bisa mengajak kedua orang tuanya untuk tinggal di rumah ini. Aditya kemudian pergi setelah Sherly turun.


***


Di tempat lain, Ratna sedang cekcok dengan Viktor di sebuah ruangan besar. Di sana juga ada beberapa petinggi geng Merak lainnya. Viktor terlihat benar-benar marah karena Ratna berani mencampuri urusannya.


“Aku tidak paham jalan pikiranmu Rat!” teriak Viktor.


“Sudah kubilang, aku yakin jika orang itu tidak berniat mencari keributan dengan geng kita!” balas Ratna.


“Lu selalu saja seprti ini! Memangnya sepenting apa sih tuh orang?”


“Nggak penting cuma gue yakin dia itu bukan tipe orang yang suka cari keributan.”


“Lah buktinya waktu gue kesana mereka malah sedang ribut.”


“Akuyakin dia cuma sedang membela dirinya saja.”


Viktor terlihat kesal karena Ratna terus membela Aditya. Dia kemudian menatap tajam ke arah Ketua geng Merak. Sambil berusaha meyakinkannya agar dia diberikan izin untuk memberi perhitungan kepada Aditya.


“Susah juga Vik, jika dilihat dari kronologisnya kelihatannya orang itu memang tidak berniat untuk mencari keributan dengan kita.”


“Tapi Ketua, jika anda terus bersikap seperti ini akan lebih banyak orang yang menentang anda di luar sana.”


“Jika memang seperti itu tinggal habisi saja mereka, lain ceritanya jika kita menghabisi orang yang tidak berniat membuat keributan dengan kita.”


“Kalau memang seperti itu, saya minta izin untuk menyerang geng Gagak sekarang juga. Dua petinggi mereka harus bertanggung jawab karena berbuat onar di wilayah kita.”


“Aku dengar mereka bahkan tidak mengenakan atribut geng mereka. Itu tandanya mereka memang menghormati kesepakatan yang dibuat oleh ketiga geng besar. Kita tidak pantas menyerang mereka begitu saja.”


“Anda sekarang mulai melunak Ketua,” ujat Viktor.


Ketua geng Merak bangkit lalu menghampiri Viktor. Dia menyuruh Viktor untuk memukulnya, awalnya Viktor menolak namun akhirnya dia mau karena dipaksa. Dua pukulan beradu, Viktor langsung ambruk sambil memegang tangannya yang terasa begitu sakit setelah beradu pukulan.


“Aku bukan melunak, ingat itu baik-baik!” bentak Ketua geng sambil duduk kembali di kursi.


“Maafkan saya ketua, saya tidak bermaksud seperti itu.”


“Aku ingatkan satu hal kepadamu Viktor, yang kulakukan ini bukan bentuk ketakutan melainkan kewaspadaan. Kita tidak bisa bertindak seenaknya kepada orang lemah. Mereka kadang lebih menakutkan daripada orang terkuat sekalipun.”


Viktor hanya mengangguk lalu pergi keluar ruangan beserta dua anak buahnya. Dia trus menggerutu di dalam mobilnya. Dia masih tetap merasa kalau Ketua gengnya benar-benar sudah melemah saat ini.


“Apa yang akan kita lakukan bos?”


“Saat ini kita memang tidak bisa apa-apa, tapi jika cecunguk itu cari masalah dengan kita lagi maka itulah kesempatan terbaik kita menghabisinya, jangan sampai melewatkannya karena Ketua bisa saja melarang kita lebih ketat lagi.”

__ADS_1


“Bos benar, dengan begitu kita juga tidak melanggar perintah Ketua.” Mereka bertiga kemudian tertawa.


BERSAMBUNG…


__ADS_2