Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 43


__ADS_3

Arnold tampak sedang menenangkan Clarissa yang terus menggerutu karena tidak menyukai sikap Ratna. Sedangkan Aditya malah asik menghitung uang yang dilemparkan oleh Ratna sebagai ganti rugi karena temannya telah menendang Arnold. Setelah dihitung semuanya mencapai lima ratus ribu rupiah.


“Itu wanita aneh banget sih, sudah dewasa juga tapi kayak yang nggak tahu sopan santun. Padahal kamu kan sudah minta maaf. Dasar aneh,” gerutu Clarissa.


“Sudahlah Ris, lagi pula memang aku yang salah kok,” hibur Arnold.


“Yang jelas nanti kak Aditya harus bikin dia nangis di arena balapan!” tegas Clarissa.


“Ih kak Aditya kok uangnya malah diambil sih! malu tahu sama yang lain,” gerutu Clarissa setelah melihat Aditya mengantongi uang pemberian Ratna.


“Lumayan tahu, aku bisa nabung buat beli HP baru. Yang sudah nggak butuh uang kan kalian,” jawab Aditya dengan santai.


“Tapi kayaknya nanti hadiah balapannya besar deh. Soalnya wanita kaya tadi saja mau ikut balapan, padahal dia sudah punya mobil semewah itu,” ucap Arnold.


“Nah iya tuh kak, ikut balapan ya. Nanti kan hadiahnya bisa buat beli HP baru,” rengek Clarissa.


“Lagian nggak semudah itu kali Ris menangin balapan besar. Saingannya juga pasti banyak yang jago. Terus masa aku harus pake mobil ayahmu. Ya udah pasti nggak bakalan menang lah,” jelas Aditya.


“Kak Aditya bisa kok pake mobil saya,” tawar Arnold.


“Bisa saja emang. Tapi balapan sebesar itu pasti pakek uang pendaftaran yang gede juga. Aku saja nggak punya uang banyak untuk pendaftarannya,” jawab Aditya. dia sedang berusaha agar tidak terlibat masalah lagi.


“Kan tadi ada uang yang dikasih wanita nyebelin itu,” kata Clarissa.


“Ya nggak bisa dong. Kan kalian nggak butuh uanganya, sedangkan ikut balapan kan idemu sendiri,” jawab Aditya sambil tersenyum.


Kali ini dia akan terus mencari alasan agar tidak ikut balapan. Dia yakin jika ikut balapan pastinya akan muncul masalah lagi yang lebih merepotkan. Terlebih dia tidak mau jika harus berurusan dengan geng-geng yang mungkin akan datang ke acara itu. Ya walaupun sebenarnya dia cukup tertarik dengan wanita cantik tadi.


“Ya udah kakak pake uang aku saja,” tawar Arnold lagi.


“Nanti ayahmu marah loh Nold.”


“Nggak akan kok, lagian jatahku bulan ini masih banyak.”


“Enak banget ya, aku malah diancam mau di potong kalo pulang malem lagi,” kata Clarissa.


“Ya, sebaiknya kamu jangan pulang malem lagi Ris,” kata Arnold, sambil tersenyum.


“Yang jelas sebaiknya kita pulang saja sekarang. Nanti kalian dimarahi sama orang tua kalian,” ajak Aditya.

__ADS_1


“Ih kak. Masa kakak tega sih. kita harus buktiin sama dia kalau emang kita yang benar.”


“Nggak bisa Ris.”


Aditya dan Arnold kemudian pergi ke kasir untuk membayar makanan mereka. Di luar restoran, Clarissa terus merengek kepada Aditya agar mau ikut balapan. Namun Aditya berusaha menolaknya dan mengajak mereka berdua untuk pulang. Namun Clarissa terus diam di sana dan tidak mau pulang jika Aditya tidak ikut balapan.


Akhirnya Aditya mengalah dan bilang mau ikut balapan. Dia sendiri tidak tega membiarkan calon adik iparnya terus seperti itu, Clarissa juga sampai bilang jika memang Aditya ingin menjadi bagian dari keluarganya, dia harus menuruti keinginannya kali ini. Nanti dia akan berusaha mendekatkannya dengan Frita. Dia sedikit tertarik mendengar tawaran Clarissa, lagipula dia memang sedikit penasaran dengan Ratna, dia ingin mengetahui sebenarnya siapa wanita itu.


Mereka masuk ke dalam mobil. Clarissa tampak begitu senang karena Aditya mau ikut balapan, dia sudah tidak sabar ingin melihat Ratna menangis dan meminta maaf kepada Arnold. Aditya pikir sepertinya memang harus Pandu memberikan pelajaran lain untuk mengatasi temperamen Rissa yang sering meluap luap itu.


“Ramai banget ya kak,” ujar Clarissa ketika melihat keramaian dari jauh.


“Namanya juga balapan besar Ris. Nanti kamu nonton nya hati-hati ya, soalnya kebanyakan mereka sikapnya kasar-kasar semua. Nanti aku carikan tempat aman untuk kalian berdua,” kata Aditya.


“Ingat. Nanti aku pinjem HP kamu, dan panggilan telepon dengan HP Arnold jangan sampai terputus,” tambah Aditya.


“Kakak kayak khawatir banget.”


“Ya iyalah Ris, aku sudah berjanji sama ayahmu untuk bawa kamu pulang dengan selamat. Kalau kamu kenapa napa aku juga nggak bakalan bisa pulang.”


“Iya iya kak.”


“Kalian datang ke sini untuk ikut balapan atau menonton?”


“Aku yang ikut balapan. Sedangkan dua orang lainnya menonton.”


“Mau balapan pake mobil ini?” tanya pria itu sambil tertawa.


“Bukan, itu pake mobil yang itu,” jawab Aditya sambil menunjuk mobil yang dibawa Arnold.


“Oke, biaya balapan lima juta rupiah sedangkan lima ratus ribu per orang untuk yang ingin menonton, tempat seadanya, nggak ada snack, nggak ada air, ada polisi tanggung sendiri.”


Aditya kemudian mendekati Arnold untuk meminta uangnya. Aditya kemudian membayar biayanya kepada pria itu. Mobil Arnold kemudian ditempeli nomor urut ke-63. Hal itu membuat Aditya cukup kaget karena ternyata yang ikut balapan di sana sudah sangat banyak.


“Pertandingan pertama adalah kualifikasi dengan trek pendek, yang menjadi juara ketiga, kedua dan pertama akan mengikuti pertandingan finalnya dengan trek yang panjang. Kami tidak menerima protes apapun tentang hasil pertandingan, perhatikan baik-baik ketika kami memanggil nomor urut mobilmu” jelas si pria.


“Oke,” jawab Aditya sambil masuk kembali ke dalam mobil.


“Kok yang ikut banyak bener ya?” tanya Clarissa.

__ADS_1


“Ya wajarlah Ris, namanya juga balapan gede, pasti mereka tertarik dengan hadiahnya.”


“Duh kalau begitu ada kemungkinan si wanita itu malah nggak bakal balapan sama kak Aditya dong.”


“Aku rasa sih, dia pasti sampai ke babak final. Dari mobilnya saja sudah terlihat jelas kalau dia suka sekali dengan balapan.”


Aditya kemudian berhenti di tepi jalan yang sedikit penontonnya. Dia kembali mengingatkan Clarissa dan Arnold agar tidak memancing keributan selama dia balapan. Dia juga sengaja meminjam ponsel Clarissa dan melakukan panggilan dengan ponsel Arnold, earphone milik Arnold dia pasang di telinganya, agar jika nanti terdengar hal yang membahayakan mereka berdua Aditya bisa langsung bertindak.


Kualifikasi pertandingan dimulai. Peserta yang mendaptar balapan berjumlah tujuh puluh lima orang. Itu berarti di pertandingan final hanya akan ada dua puluh satu orang yang ikut balapan. Karena penampilan Aditya yang berantakan membuatnya terus terusan menjadi bahan ledekan peserta lainnya.


“Mau balapan apa pergi ke sawah si Mang?” tanya seorang peserta sambil tertawa.


“Nyari rumput kali buat kambing.”


“Kayaknya dia beneran pembalap deh, pembalap traktor sawah. Hahaha.”


“Ada apa sih kak ribut-ribut di sana?” tanya Clarissa lewat telepon.


“Biarin saja Ris, mereka paling cuma bosan saja,” jawab Aditya.


“Duh kakak ini. Sekali kali kasih pelajaran dong,” gerutu Clarissa, namun Aditya tidak menjawab lagi.


Aditya masuk ke lintasan balap bersama pembalap lain yang memiliki nomor urut enam puluhan. Terdengar beberapa orang mulai mencemoohnya. Aditya tidak mempedulikan hal itu. Ketika bendera berkibar dengan cepat semua mobil melaju di jalanan. Menurutnya hanya ada satu orang pembalap di kualifikasi ini yang harus diwaspadai.


“Ayo kak Aditya!” teriak Clarissa.


“Nggak usah teriak-teriak begitu kali Ris, sakit telingaku dengernya,” kata Aditya.


“Eh aku lupa kalo lagi teleponan.” Jawab Clarissa.


“Lagipula di kualifikasi seperti ini mah nggak perlu serius-serius amat. Aku cuma ngincar posisi ketiga.”


“Yah kak Aditya ini kurang bersemangat.”


“Yang penting kita nanti menang di balapan final.”


Clarissa terdengar teriak pelan-pelan karena takut mengganggu Aditya. saat ini posisinya menempati urutan kelima dari posisi terdepan. Tampaknya pembalap lain menganggap serius balapan kualifikasi ini. Bahkan ada diantara mereka yang sudah mengaktifkan sistem NOS mobilnya. Dengan santai Aditya mulai merangsek ke posisi ketiga balapan.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2