Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 220


__ADS_3

Itu memang bukan Mister Yori.


Helikopter itu melayang di atas tanah lapang depan rumah Paman Salim yang saat itu dipenuhi orang. Mereka menyingkir untuk memberikan tempat pendaratan untuk kendaraan terbang itu.


Mobil polisi datang saat helikopter sudah nyaris menyentuh tanah.


“Siapa mereka?” kata seorang polisi yang sepertinya berpangkat dan sosok penting, pada Pak Lurah.


Ya, dialah polisi korup yang selama ini mem-back up Pak Lurah serta Dirga agar tak terseret masalah hukum atas perbuatan-perbuatan mereka yang membuat rugi warga desa.


“Tidak tahu. Tapi sepertinya urusan kita bakal panjang!” kata Pak Lurah.


Sungguh Aditya tak menduga yang turun dari helikopter itu adalah Pandu dan Frita. Entah bagaimana Deri atau Yusi mengontak mereka tanpa meminta saran darinya.


Aditya agak jengkel juga dengan cara Yusi dan Deri, tetapi senang menemui Frita, meski situasinya belumlah terasa tepat.


Aditya berkata, “Kalian bagaimana bisa kemari?”


“Kami dengar kamu ada masalah. Ya, kami datang untuk membantu kalau bisa,” kata Frita.


Paman Salim sementara itu kebingungan melihat siapa orang-orang ini? Dan makin bertambah bingung saja setelah melihat tiga mobil mewah masuk dari belokan di ujung jalan, menuju ke arah mereka, dan berhenti di samping rumahnya.


“Siapa lagi ini?” tanya si Polisi Korup pada Pak Lurah sambil berbisik.


“Entah saya juga tidak tahu!”


Aditya kembali dibuat terkejut saat melihat Ratna turun dari mobil. Ini sungguh hari yang benar-benar aneh. Kenapa semua orang yang dikenalnya di luar sana mendadak datang dan turut hadir di persoalan desanya ini?


“Lihat, kami datang untukmu. Kamu banyak membantu. Ini alam yang bekerja,” bisik Frita pada Aditya.


“Ah, kamu jangan sok puitis.”


Frita malah mencubit lengan lelaki itu.


“Halo, Dit. Maaf aku datang dengan cara begini,” sapa Ratna. “Aku dengar kamu ada masalah.”


“Kalian saling bicara?” tanya Aditya pada Frita sekaligus Ratna.


Ratna segera memperjelas, “Oh, bukan. Aku tahu saja saat kamu mendadak pulang kemari. Ya, aku punya sumber daya dan orang-orang. Kamu tahu sendiri. Maaf sudah membuntuti kalian.”


Aditya tak bisa lagi berkata, tapi Frita terlihat cemburu. Calon suaminya dibuntuti? Benar-benar perbuatan yang sulit dia terima.


“Jadi, sampai di mana kita tadi?” potong Pak Lurah yang terlihat sama sekali tidak dihargai karena kedatangan tamu-tamu dari kota yang kinclong ini. Dia sendiri tak tahu apa hubungan mereka dengan Aditya.


Polisi Korup itu berkata, “Kami masih ada urusan dengan teman kalian. Jadi tolong menyingkir dulu.”

__ADS_1


“Urusan Aditya juga urusan kami, Pak,” bantah Pandu yang segera berdiri persis di depan polisi berkumis tebal itu.


“Oh, jadi begini? Anda semua siapa? Kami polisi dan kami harus menahan Aditya karena sudah membuat keributan?”


“Keributan macam apa?” tanya Ratna dengan kesal.


“Menghajar anak Pak Lurah!” jawab si Polisi Korup.


“Ya, itu karena saya diserang teman-teman Dirga. Dan Dirga juga ikut menyerang saya. Apa saya salah membela diri?” balas Aditya tenang, lalu ia secara aneh mengambil ponsel dari sakunya dan membaca sebuah pesan di sana.


Aditya tersenyum dengan ekspresi misterius.


Polisi itu tampak tak terima. Wibawanya tercoreng dengan ucapan Aditya itu, jadi dia memaksa menangkap Aditya dan membawanya ke kantor polisi. Pandu dan Frita mencoba menghalangi, begitu pun Ratna.


Tapi, Aditya malah bilang, “Kalian tenang. Aku akan baik-baik saja.”


Akhirnya Aditya dibawa ke kantor polisi. Pandu, Frita, Ratna, Diana, dan Paman Salim juga ikut serta. Mereka menumpang mobil terpisah, kecuali Diana dan Paman Salim yang ikut mobil Ratna.


Ratna menggerutu, “Apa yang coba kamu lakukan, Dit?”


Diana penasaran. Siapa Ratna ini? Dan, siapa juga orang-orang dengan helikopter itu?


Ratna tak bisa menjawab selain berkata, “Kami teman dekat Aditya.”


***


“Untung saya kebetulan ada di dekat-dekat sini, Dit,” kata Mister Yori semalam. Ia baru saja masuk ke kamar hotelnya di sebuah kota di Jawa Tengah. Belum lama ini dia menjadi narasumber di sebuah diskusi hangat tentang gizi dan kesehatan bagi anak-anak di seluruh dunia.


Aditya adalah penyumbang terbesar. Tak hanya sekali. Entah berapa kali. Tak hanya segelintir manusia terbantu olehnya, tapi entah berapa ribu jiwa. Maka Mister Yori sama sekali tak merasa keberatan atas permintaan Aditya kali ini.


“Ada masalah besar, ya? Apakah ini soal Pak Lurah itu?”


“Ya, benar.”


“Oke, sudah saatnya orang itu menelan akibat perbuatannya,” sahut Mister Yori yang tak sabar menemui Pak Lurah.


***


Di kantor polisi.


Aditya diturunkan dari mobil, tapi dia justru tertawa senang.


“Kenapa malah tertawa?” tanya Pak Lurah kesal.


Di sana telah menunggu Dirga yang entah kenapa tangannya diperban, seperti ada luka parah saja di badannya. Bandi dan Pirlo menemaninya. Tapi bukan itu yang bikin Aditya tertawa.

__ADS_1


Di sudut tempat parkir berdiri seseorang bertongkat kayu, berusia mungkin sekitar enam puluhan tahun. Tongkat itu kabarnya terus menemaninya sejak lima tahun lalu karena sebuah kecelakaan yang membuat kakinya tak bisa diselamatkan dan harus diamputasi.


Dialah Mister Yori.


Situasi di lapangan parkir begitu aneh saat Mister Yori menyambut Aditya dan dua orang itu saling berpelukan. Pandu, Frita, Ratna, dan Paman Salim juga tentu saja heran.


“Siapa mereka, Dit? Tolong jelaskan! Jangan biarkan pamanmu kebingungan!” kata Paman Salim.


“Paman, perkenalkan beliau Mister Yori. Sosok yang selama ini berada di balik kemajuan desa kita,” kata Aditya.


Pak Lurah yang mendengar itu malah tertawa. “Kemajuan desa? Memangnya dia siapa? Bukan orang sini juga!”


Pada saat itu banyak anggota kepolisian yang melihat adegan tersebut, termasuk para warga biasa yang kebetulan melintas di depan kantor polisi. Sebab terlalu banyak mobil mewah yang biasa tak pernah terlihat di daerah situ.


“Dia ketua yayasan kemanusiaan. Ada penyumbang tak dikenal yang memberikan banyak uangnya untuk desa ini. Saya kenal Mister Yori, jadi saya tahu soal penyumbang itu. Bukan begitu, Pak Lurah? Anda tahu sumbangan sejumlah satu miliar itu, bukan?” tanya Aditya.


Ya, inilah senjata pamungkas Aditya.


Pak Lurah tak bisa menjawab, sebab sumbangan dari yayasan luar dan sosok yang tak dikenal itu tak pernah ia gunakan untuk pembangunan desa. Semua uangnya dia pakai sendiri, dan kebanyakan untuk Dirga bersenang-senang dengan berkali-kali ganti motor atau mobil.


Karena Pak Lurah tak juga menjawab, Aditya melanjutkan, “Wah, anehnya kenapa desa kita lambat majunya, ya? Hanya ada beberapa rumah baru, itu pun punya warga sendiri. Fasilitas desa tetap bobrok seperti dulu!”


“Kalian bicara apa?” kata Pak Lurah, yang malah makin panik setelah melihat Frita menunjukkan ponselnya yang sudah merekam video sejak tadi.


“Kalian orang-orang kota brengsek! Ikut campur urusan kami! Tidak pernah ada sumbangan untuk warga desa ini dari yayasan itu!” kata Pak Lurah.


Si Polisi Korup yang juga kecipratan uang haram itu hanya bisa mundur perlahan dan menyingkir dari situ, entah ia mau kabur ke mana. Diam-diam Deri dan Yusi pergi untuk menangkapnya.


“Ini dia Lurah kita yang korupsi, Saudara-saudara!” kata Aditya dengan disaksikan sejumlah polisi dan banyak warga di situ. “Ada bukti transfer yang sudah Mister Yori pegang kalau Anda semua tertarik.”


Warga segera merangsek maju untuk memastikan omongan Aditya. Mister Yori tak kalah cekatan mengeluarkan secarik kertas dari balik jasnya.


Warga mudah saja memahami digit angka dalam kertas itu dan bagaimana lurah ini bisa bertindak semaunya, membeli penegak hukum agar bisa terus melenggang bebas. Itu malah mungkin baru satu perbuatan korupsinya. Yang pasti mereka kini muak pada Pak Lurah.


Tak bisa berkutik, ayah Dirga segera menyerah dan mengatakan siapa saja yang ikut terciprat uang haram itu. Beberapa polisi terlihat mencoba kabur, tapi ditangkap oleh rekan mereka sendiri yang jujur.


Yusi dan Deri juga sudah berhasil mencegah si Polisi Berpangkat yang Korup tadi. Polisi berkumis tebal itu digiring oleh mereka berdua ke kantor polisi dalam kondisi basah kuyup dan bau. Ia tercebur di got sebelum Yusi menggiringnya kemari.


Paman Salim sungguh tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Bagaimana Aditya bisa mengenal orang-orang ini?


Diana pun juga sama.


Aditya bisa kembali pulang sore itu juga setelah memberi beberapa keterangan. Ia tak jadi mendapat masalah karena Pak Lurah setuju tak meneruskan kasus Dirga. Lagi pula anaknya masuk rumah sakit bukan karena dihajar. Tapi karena stres, sebab dia tahu tak mungkin bisa memiliki Diana.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2