
“Ga mau! Aku ga mau nikah sama kamu!” jawab Ellena tegas.
Sean kaget dengan apa yang dikatakan Ellena. Dia tidak menyangka kalau Ellena akan menjawab seperti itu. Bahkan setelah apa yang terjadi di dalam lift tadi sepertinya tidak berarti untuk Ellena.
Sean menatap tajam ke netra Ellena, dia berharap ada sinar kebohongan di sana. Namun ternyata sinar yang keluar dari dalam sana adalah sinar kejujuran yang polos. Sinar mata Ellena yang membuat Sean suka.
“Kamu ga mau nikah sama aku?” tanya Sean lagi.
“Iya. Aku ga mau,” jawab Ellena tetap sama.
“Alasannya? Emang kamu ga suka sama aku? Kamu masih ga percaya kalo aku dari dulu nyariin kamu dan sadar kalo itu rasa sayang setelah kita ketemu lagi?”
“Bukan itu alasannya.”
“Trus apa?”
“Waktu aku pertama kali ketemu kamu, aku masih sangat muda. Setelah itu aku hamil dan mulai kerja keras. Aku ga pernah rasain yang namanya pacaran. Masa iya sekarang aku harus disuruh langsung nikah. Aku mau pacaran dulu. Lagi pula kamu juga ga pernah nembak aku. Masa iya kamu langsung ngajakin aku nikah,” jawab Ellena dengan segala kepolosannya.
Mendengar jawaban dari Ellena, Sean tidak sanggup lagi menahan tawanya. Dia tertawa terbahal-bahak dengan jawaban polos yang sepertinya memang dari hati Ellena. Bukan hanya Sean yang tertawa, tapi Mathias yang ada di depan mereka pun ikut tertawa yapi tentu saja tawa itu dia tahan.
Ellena memanyunkan bibirnya saat dia melihat Sean tertawa terbahak-bahak. Dia kini semakin yqkin kalau Sean sedang mengerjainya lagi tadi. Ellena kini memasang wajah kesal ke arah Sean.
“Eh ... maaf, duh aku ga tahan kalo ga ketawa, Ell. Maaf ya,” ucap Sean yang sadar akan kesalahannya setelah melihat perubahan wajah Ellena.
“Kamu mainin aku lagi?” tanya Ellena.
“Enggak, siapa yang mainin kamu.”
“Ya itu kamu ketawa kaya gitu. Emangnya ada yang lucu ya?”
“Iya ... ada yang lucu emang.”
“Apaan?”
“Jawaban kamu tadi. Alasan ga mau nikah.”
__ADS_1
“Apanya yang lucu. Emang itu aneh ya kalo aku ga pernah pacaran?” tanya Ellena dengan nada lemah di akhir kalimat.
Sean menghela napasnya. Dia segera meraih kedua tangan Ellena dan mengecup kedua punggung tangan itu. Dia kemudian menatap Ellena dengan sangat lembut dan menggenggam tangan Ellena erat.
“Ellena sayang, maafin aku ya. Maafin aku udah rusak masa muda kamu. Maafin aku yang buat kamu menderita dan ga bisa kaya gadia muda lainnya. Tapi aku janji, aku janji akan bikin kamu rasain semuanya. Rasain semuanya dari aku. Aku akan mengganti semua yang terlewat itu,” ucap Sean penuh keyakinan.
“Caranya gimana? Kan waktu ga bisa diputer?”
“Waktu emang ga bisa di puter, tapi apa yang kamu inginkan itu bisa aku wujudkan. Aku bakalan menyatakan perasaan aku secara special ke kamu nanti, aku persiapan dulu ya. Dan aku harap kamu juga mau terima cinta aku nantinya biar kita bisa pacaran.”
“Kamu mau lakuin itu semua buat aku”
“Iya dong, kan mau dapetin anak aku sekaligus mamanya. Jadi rayu dulu mamanya yang cantik ini.”
“Ini beneran? Kamu serius?” tanya Ellena meminta kepastian.
“Iya sayang. Tapi sabar bentar ya, kan butuh persiapan dan konsep juga kalo mau nyatain perasan.”
“Iya ... aku mau nunggu, aku mau tunggu itu, Sean,” ucap Ellena sambil menganggukkan kepalanya.
Sean senang dengan apa yang dia lihat saat ini di wajah Ellena. Ellena terlihat sangat bahagia dengan apa yang akan dia lakukan pada wanita itu. Sean akan mulai memikirkan bagaimana cara yang membuat Ellena menerima cintanya.
Mobil telah sampai di sebuah restoran. Ellena dan juga Sean segera turun bersama untuk segera makan siang bersama. Mereka berjalan bersama berdampingan selayaknya sepasang kekasih. Dan ini mereka duduk berhadapan di sebuah meja dan siap memesan makanan.
“Kamu mau makan apa sayang?” tanya Sean sambil melihat buku menu di tangannya.
‘Ya ampun ... ini makanan kenapa yang begini semua sih. Ini bentuknya kaya gimana ya? Kenapa juga harus ke restoran italian segala,’ gerutu Ellena sambil melihat menu yang dia hampir tidak mengerti semua bahasanya karena ditulis dalam bahasa italia.
“Hmm ... ini aja deh, aku mau risotto. Aku laper banget soalnya,” jawab Ellena sedikit menjaga gengsi padahal hanya itu yang dia tahu.
“Cuma itu aja?” tanya Sean sambil melihat Ellena.
“Iya ... itu aja,” jawab Ellena sambil memberikan menu itu pada pelayan.
“Oh ok! Kalo gitu aku yang pesan sisanya,” jawab Sean sambil menyembunyikan senyumnya di balik buku menu.
__ADS_1
Sean kemudian memesan beberapa menu yang sepertinya sangat dia hafal dan familiar sekali dengannya. Sedangkan apa yang disebutkan oleh Sean tadi benar-benar asing di telinga Ellena. Setelah menerima pesanan dari Sean, pelayan itu segera pergi untuk menyiapkan pesanan.
“Ell, kamu mulai sekarang kalo makan siang di ruangan aku aja ya. Ato kita pergi bareng kaya gini,” ucap Sean sambil menatap Ellena.
“Jangan ... aku ga berani Sean. Cibiran orang di bawah ruangan kamu lebih menyakitkan nanti,” jawab Ellena.
“Siapa yang berani ngomongin kamu? Bilang sama aku, nanti biar Mathias yang bereskan semuanya.”
“Eeh jangan! Kamu harus profesional dalam bekerja. Aku ga mau kamu sampe jelek image-nya di mata yang lain. Kita diem-diem aja ya dulu. Sesekali ketemu, kaya kamu gangguin aku gitu juga ga papa. Tapi kalo tiap hari kita makan siang bareng, kayanya itu masih sulit.”
Sean menatap Ellena mencoba untuk mengerti, “Kalo aku kangen sama kamu gimana?”
“Ya kan bisa telpon atau chatting. Jaman udah modern, Sean.”
“Kamu jadi sekretaris aku aja ya? Ruangan kamu nanti di dalam ruangan aku. Kan ruangan aku masih luas.”
“Apa ga sekalian aja, aku kerja di meja kerja kamu? Gitu kan mau kamu?” ucap Ellena menebak keinginan Sean.
“Tuh kamu tau. Mau ya?” pinta Sean sedikit merayu.
“Ga mau. Aku mau naik jabatan sesuai dengan prestasi dan kemampuan aku. Aku ga mau kalo aku sampe dibantu sama kamu kaya gitu.”
“Iya deh iya ... tapi janji ya, kalo aku chat kamu harus cepet jawab.”
“Iya ... kecuali aku sibuk ya. Jangan mikir yang aneh-aneh kalo aku telat jawab,” jawab Ellena memberikan peringatan.
Pasangan itu kemudian melanjutkan pembicaraan mereka. Mereka membahas banyak hal mulai dari keingintahuan Sean tentang Nathan putranya itu. Sean ingin tahu semua tentang kehidupan Ellena selama dia menghilang dulu.
“Maafkan aku, sayang. Coba kalo kami ga ngilang, pasti kamu udah aku nikahi,” ucap Sean sambil mengusap tangan Ellena lembut.
“Udah, ga usah di sesali. Itu ga akan berubah. Tepati aja janji kamu untuk bahagiakan Nathan. Jangan bikin dia sedih karena ga punya Papa,” ucap Ellena.
“Pasti Ell, aku pasti akan temui Nathan. Kapan aku bisa ketemu dia?” tanya Nathan meminta ijin Ellena.
“Sean?” panggil seseorang di dekat meja Sean dan Ellena.
__ADS_1
"Mama," ucap Sean saat dia melihat wanita itu.
Bersambung....