
Setelah Aditya sampai di rumah dia langsung bersiap-siap untuk pergi ke kantor polisi. Frita juga demikian. Mereka kemudian pergi menggunakan mobil untuk menemui Jimmy di kantornya. Hari ini mereka berdua akan memberikan keterangan terkait ciri-ciri dua penculik yang berhasil kabur. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam mereka telah sampai di kantor polisi.
“Selamat pagi Fri,” sapa Jimmy yang sengaja menyambut kedatangan mereka.
“Selamat pagi Jim,” jawab Frita.
“Mari aku antarkan ke ruangannya, kebetulan petugas yang akan membuat sketsa wajahnya sudah datang juga.”
“Kamu juga Dit cepet!” tambah Jimmy sambil melambaikan tangan kepada Aditya.
Selama beberapa jam mereka terus berada di kantor polisi untuk membantu pembuatan sketsa wajah para pelaku ditambah beberapa keperluan lainnya. Setelah siang hari barulah mereka bisa pulang dari kantor polisi. Sebenarnya Jimmy mencoba untuk mengajak Frita makan siang bersama dulu tapi Frita menolaknya dengan alasan ingin segera istirahat.
Frita dan Aditya kembali pulang ke rumahnya untuk beristirahat. Sampai di rumah tampak Clarissa dan Pandu juga baru saja datang dari Car Free Day. Mereka berdua kemudian turun dari mobil. Frita segera menuju kamarnya untuk beristirahat.
“Kalian baru saja pulang dari kantor polisi?” tanya Pandu.
“Iya pak. Benar-benar melelahkan. Padahal tadinya sehabis dari kantor polisi saya mau langsung nyuci mobil,” ujar Aditya sambil duduk.
“Nggak masalah Dit lagian kamu sejak kemarin pasti capek banget.”
“Iya pak, paling besok sepulang dari kantor saya cuci mobilnya di tempat cuci mobil.”
Malam harinya Pandu dan Clarissa sedang asyik nonton TV sedangkan Aditya sedang sibuk dengan ponselnya. Sekilas dia melihat Frita berjalan keluar rumah menuju kolam renang. Aditya kemudian mengikutinya dari belakang. Frita duduk di kursi yang ada di tepi kolam renang, Aditya berjalan mengendap-endap hendak menutup mata Frita.
“Malam ini indah banget ya Dit,” ucap Frita seakan sudah tahu dengan keberadaan Aditya.
“Ah kamu nggak asik deh, baru saja aku mau ngagetin kamu,” jawab Aditya sambil duduk di samping Frita.
“Lagian kelihatan loh dari kaca pas tadi kamu ngikutin aku.”
“Pantesan. Kelihatannya malam ini kamu punya saingan deh Fri,” ujar Aditya sambil tersenyum.
“Saingan apa?” tanya Frita.
“Tuh lihat malam ini sang rembulan yang sedang purnama benar-benar indah banget. Rembulan kota Bandung mah lewat,” jawab Aditya sambil menunjuk bulan purnama.
“Kamu ini masa aku dibandingin sama bulan sih. Terus cantikan siapa aku sama bulan purnama?” tanya Frita sambil tertawa kecil/
__ADS_1
“Ya jelas cantikan bulan purnama lah,” jawab Aditya.
“Ya sudah kamu pergi saja ke sana ke bulan!” kata Frita sambil membuang wajahnya.
“Hahaha kenapa aku harus jauh-jauh ke bulan kalau di sini ada kamu?”
“Ih katanya tadi cantikan bulan.”
“Percuma Fri, kalaupun iya cantikan bulan tetap saja aku tidak akan bisa bersamanya sampai kapanpun. Jadi aku pilih di sini saja bersamamu yang jelas bisa aku dekati,” jawab Aditya sambil tersenyum sementara Frita malah tertawa kecil.
“Oh iya Dit aku ingin nanyain sesuatu sama kamu. Mungkin ini agak pribadi.”
“Mau nanya apa memangnya?”
“Kamu memangnya dulu bener seorang tentara?”
“Ya, memang benar tapi karena suatu alasan aku memilih untuk pensiun dari dunia militer,” jawab Aditya.”
“Kenapa kamu bisa menjadi seorang tentara? Padahal dulu aku dengar kamu masih sekolah di SMA biasa seperti yang lainnya,” tanya Frita dengan penasaran. Aditya pikir mungkin dia tahu sedikit masa lalunya dari Sherly.
“Kenapa bisa tiba-tiba begitu?” tanya Frita, Aditya menghela nafas panjang sebelum menjawabnya.
“Saat itu waktu liburan sehabis ulangan di sekolah. ayahku meninggal saat menjalankan tugasnya sebagai abdi Negara. Berita sebab kematiannya tidak ada yang jelas, semuanya simpang siur. Yang aku tahu kebanyakan teman-temannya sesama tentara bilang kalau ayah tiba-tiba diserang beberapa orang tidak dikenal di hotel tempat dia menginap,” jelas Aditya.
“Maaf Dit aku tidak bermaksud membuatmu sedih,” kata Frita ketika melihat raut wajah Aditya berubah sedih.
“Tidak apa-apa Fri, cepat atau lambat aku mungkin akan bercerita kepadamu juga. Dalam kejadian itu polisi tidak menemukan petunjuk atau bukti apapun. Yang aku tahu lokasi hotelnya ada di kota Bandung ini. Sejak saat itulah aku memutuskan untuk menjadi seorang tentara.”
“Bagaimana dengan keadaan ibumu?” tanya Frita.
“Sejak kecil aku tidak pernah melihat wajah ibuku sendiri. Katanya dia meninggal saat aku masih berumur satu setengah tahunan,” jawab Aditya. air matanya tanpa sadar sudah meleleh di pipinya.
“Maaf Dit aku..” ucap Frita, dia merasa sangat menyesal karena berusaha untuk menguak masa lalu Aditya yang ternyata begitu menyedihkan. Dia memutuskan untuk berhenti bertanya lagi.
“Oh iya aku lupa belum berterimakasih kepadamu,” kata Frita tersenyum dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“Berterimakasih untuk apa?” tanya Aditya.
__ADS_1
“Untuk kalung ini,” jawab Frita sambil menunjukan kalung indah yang dia pakai.
“Oh, aku kira apaan. Gimana apa cocok dengan selera kamu?”
“Kalung kayak begini mah pasti cocoklah dipakai siapapun, kok kamu dapet kalung mahal kayak begini sih Dit? Aku jadi penasaran banget.”
“Ceritanya panjaang.. banget. Masih mau denger?” tanya Aditya sambil tersenyum.
“Mau dong. Aku penasaran ingin tahu kehebatan kamu saat masih jadi tentara,” jawab Frita sambil tersenyum manis.
“Dulu aku dan beberapa tentara lainnya pernah datang ke inggris untuk latihan militer bersama. Malam harinya saat aku tengah jalan-jalan melatih fisik menyusuri jalan aku melihat ada gerak gerik mencurigakan dari beberapa orang yang sedang menodongkan pistol ke sebuah mobil.”
“Sebentar, kok jalanannya kayak sepi banget?” sela Frita.
“Para penjahat itu sudah merencanakan semuanya dengan matang, mereka sengaja merekayasa seolah-olah jalanan itu dilarang untuk dilewati jadi tidak ada satupun kendaraan yang lewat ke sana. Aku sendiri sengaja untuk mencari jalanan yang agak sepi untuk menikmati ketenangan di malam hari. Eh malah melihat aksi penodongan.”
“Lalu kamu melawannya sendirian?”
“Ya, waktu itu aku belum bisa bersikap tenang seperti sekarang. Aku juga penasaran ingin mengetahui kemampuan para penjahat di luar negeri, soalnya kan kalau lihat di film-film kelihatannya hebat-hebat semua. Ternyata setelah aku menyerangnya rasanya tidak jauh berbeda dengan melawan para penjahat di sini. Bedanya cuma mereka lebih dominan menggunakan senjata plus fisiknya yang tinggi besar,” tutur Aditya dengan antusias.
Frita hanya menatap Aditya dengan bahagia, dia senang melihat Aditya yang ceria seperti itu. Tanpa sadar ternyata cerita Aditya sudah selesai. Setelah Aditya mencoleknya baru dia tersadar.
“Kamu ini malah mikirin apa sih?” tanya Aditya.
“Aku sedang membayangkan cerita kamu Dit. Jadi intinya bagaimana?”
“Lah itu mah nggak dengerin namanya Fri. jadi intinya keluarga yang ditodong itu memberikan kalung itu kepadaku sebagai ucapan terimakasih,” jelas Aditya sambil mencubit pipi Frita.
“Ih kamu ini,” kata Frita sambil berusaha menghindar.
“Oh iya, waktu itu ada sesuatu yang belum kita selesaikan saat di kapal pesiar.”
“Memangnya apa Dit?”
Aditya kemudian memutar sebuah musik romantis di ponselnya yang dia taruh di kursi. Dia sendiri kemudian bangkit sambil tersenyum kepada Frita sambil mengulurkan tangannya. Frita dengan tersipu malu menerima uluran tangan Aditya.
BERSAMBUNG…
__ADS_1