
Aditya dan kelima anggota Skuad Malam tiba di Korea Selatan dengan disambut oleh Alexander. Lelaki berhidung mancung dan bertubuh jangkung itu orang yang biasa bekerja dengan pasukan khusus sejak masa kepemimpinan Komandan Zaki. Semacam ‘kantor cabang’ mereka di Kota Busan.
Alexander bilang, “Seperti arahan Komandan Malik, semua bahan yang dibutuhkan sudah gue taruh di garasi, beserta mobil yang akan kalian bawa ke lokasi musuh.”
“Bagus,” kata Aditya.
Aditya yang sudah lama mengenal Alexander pun memperkenalkannya pada lima anggota pasukan baru yang dijuluki Skuad Malam ini.
“Oh, jadi ini ‘kantor cabang’ kita? Aku gak tahu gimana kita bisa menyamar dengan baik di lingkungan sepadat ini,” celetuk Charlie.
“Tidak. Loe pasti salah paham,” kata Aditya.
Alexander hanya tersenyum tipis sambil memberi isyarat tangan agar mereka jalan mengikutinya.
Aditya menambahkan, “Yang dimaksud Komandan Malik sebagai ‘kantor cabang’ itu justru si Alexander itu sendiri. Aku bahkan enggak tahu siapa nama aslinya. Ya kan, Lex? Yang jelas dia sudah bekerja lama sejak sebelum Komandan Malik memimpin.”
Mereka berlima saling menatap dan mengangguk paham.
Alexander bilang, “Yo, itu benar.”
Mereka bertujuh berjalan mengitari halaman samping rumah yang memiliki sebuah kolam renang kering dan seperti lama tidak disapu. Daun-daun busuk berkumpul di situ, membentuk tumpukan-tumpukan kecil dan menguarkan bau aneh.
Alexander melihat Teo dan Charlie saling berbisik karena kondisi rumahnya yang sangat tidak terawat. Dia menjelaskan, “Gue gak pernah tinggal di satu tempat yang sama lebih dari dua bulan. Ya, tahulah orang macam gue mesti berpindah-pindah.”
“Tapi loe tetap di Korea?”
“Ya, memang tugas gue di sini saja. Lagian gue juga sudah menikah dengan orang sini,” katanya.
Alexander membuka pintu garasi dan terlihatlah dua mobil van terparkir rapi di situ. Mobil-mobil yang terlihat sederhana, tetapi isinya dijamin membuat musuh kocar-kacir. Alexander sudah menyiapkan beberapa peledak khusus di situ, juga beberapa karung yang terlihat aneh.
“Ini apa? Kok bau banget, ya?” tanya Charlie sambil mencoba membuka salah satu karung itu, lalu meraba-raba isinya yang ternyata lembek dan basah.
Alexander cuma diam mengamatinya, sampai akhirnya Charlie mengumpat karena baru tahu salah satu bahan yang diminta Komandan Malik adalah kotoran binatang ternak!
Mereka semua tertawa selagi Charlie mencoba mencari keran air untuk mencuci tangannya. Alexander juga menunjukkan beberapa kandang kecil berisi tikus-tikus yang akan membawa bahan peledak untuk musuh.
“Kalian harus hati-hati. Ini semua berdaya ledak tinggi. Radius lima belas meter,” katanya.
“Kalau kita sudah punya tikus dan bom, kenapa harus butuh kotoran segala?” tanya Teo terlihat nyengir karena Charlie belum berhasil menemukan keran air dan tak henti mengumpat.
“Itu rencanaku sendiri. Kalian tunggu saja nanti di lokasi,” kata Aditya.
“Hebat, kamu bisa mengumpulkan barang-barang ini hanya dalam hitungan jam,” kata Linda.
“Yah, koneksiku banyak. Loe belum tahu pekerjaan seperti ini bisa bikin loe kenal orang-orang gak terduga,” ujar Alexander.
__ADS_1
Mereka segera masuk ke ruang tamu. Aditya mengumpulkan mereka di meja ruang tamu dengan duduk mengitar. Di situ ada selembar kertas yang dicorat-coret di sana-sini. Lokasi yang berhasil dilacak oleh Baskara sangatlah terbuka. Mereka dapat masuk dengan melompat dari pesawat.
“Satu lagi tempat rahasia yang dimiliki oleh Gunawan Mahdi,” kata Aditya dingin. “Kali ini kita perlu mengacak-acaknya, Nancy. Karena di Thailand kita belum sempat mencobanya.”
“Kamu sudah yakin posisi bangunan-bangunan ini?” tanya Teo pada Baskara.
“Alatku sangat canggih, Bro! Kalau gak percaya, lihat saja sendiri.”
Mereka melihat layar tablet yang dibawa-bawa oleh Baskara sejak awal. Di situ bahkan terlihat pergerakan manusia yang tampak sebagai titik-titik merah. Tapi Baskara bilang, “Mereka bisa saja lebih banyak dari ini. Bisa juga lebih sedikit. Tahu sendirilah objek bergerak bukan hanya manusia.”
“Misalnya apa?”
“Binatang? Anjing, mungkin?” sahut Linda.
“Ya. Bisa jadi. Apa pun itu, kita harus siap,” sahut Aditya tak mau lama-lama lagi.
Mereka sudah membuat gambaran utuh bagaimana penyerbuan dilakukan. Dan apa saja rencana B atau rencana C jika rencana A mereka gagal. Setelah itu mereka berganti pakaian di kamar yang disediakan oleh Alexander.
“Maaf, teman-teman. Cuma ada dua kamar di sini. Kalian bisa membaginya jadi kamar ganti cowok dan cewek. Hehehe.”
“Biar cepat, gimana kalau gue masuk bareng Nancy dan Linda saja?” tanya Charlie kegenitan.
“Coba saja kalau loe berani,” kata Nancy sambil mengacungkan kepalan tinju.
Kini mereka siap berangkat.
***
Garry Lee sudah menyiapkan mata-mata di bandara-bandara dan pelabuhan sejak awal, menunggu datangnya Aditya dan Profesor Joe dan mungkin pasukan khusus yang mengawal dua orang itu untuk sekaligus melawannya.
Garry Lee tak pernah menduga Aditya dan kawan-kawan datang lewat penerbangan komersil biasa. Dan bukan masuk melalui bandara-bandara pribadi atau milik militer di Korea Selatan.
Ia mengontak mata-matanya di semua tempat tersebut. “Sudah ada hasil?”
“Belum, Tuan, sepertinya mereka tidak terlalu serius menolong cewek itu,” jawab salah satu mata-mata yang kebosanan menunggu seharian di sebuah tempat tersembunyi di bandara milik militer.
Mereka bukan tidak serius. Mereka justru cerdas! Begitulah yang ingin Garry Lee katakan pada anak buahnya, tapi dia malah diam karena malu.
Garry Lee jelas tahu Aditya dan tim sudah tahu lokasi mereka. Ia tahu itu pasti bisa dilakukan oleh orang-orang macam mereka. Buktinya ia menunggu telepon langsung dari Aditya dan musuhnya itu memang meneleponnya. Masalahnya, ia tak tahu mereka datang dengan cara apa. Itulah kesalahan yang sudah ia perbuat.
Garry Lee cuma bisa berkata, “Tetap pantau! Apa pun yang mencurigakan, segera laporkan! Pastikan mereka membawa profesor itu!”
“Siap, Tuan!”
***
__ADS_1
Di gudang di lokasi tersembunyi di sudut Kota Busan.
Frita menunggu dengan cemas rencana macam apa yang disiapkan Malik dan juga Aditya untuk menolongnya. Ia benar-benar tak tahu berada di mana juga. Tapi, tiap hari ia dengar orang berbicara berbagai bahasa. Ada bahasa Indonesia, Inggris, dan terutama Korea.
Frita hanya bisa berdoa, “Semoga semua ini cepat berakhir!”
Doanya terkabul sejam setelah ia mengucapkannya.
Saat itu, Garry Lee sedang duduk diam di depannya, mengintimidasi dengan tatapan mengerikan.
Garry Lee bilang, “Seharusnya mereka tidak membawa Profesor itu pergi.”
Firta menjawab, “Dan kalian seharusnya tidak membawaku ke sini. Aku sama sekali gak ada urusan dengan profesor siapalah itu!”
“Ya, tapi cowokmu ada urusan. Dialah yang membawa kabur Profesor Joe!”
“Bagaimana bisa kalian anggap Aditya itu cowokku?! Aku bahkan membencinya setengah mati!” balas Frita sambil mencoba menghitung waktu, seandainya Aditya dan yang lain datang terlambat. Setidaknya ia harus bisa melepaskan tali yang sudah bikin tangannya sakit.
“Kami punya banyak sumber dan sering melihat kalian berdua. Sudahlah, jangan banyak bacot! Tunggu saja sampai besok subuh. Kalau mereka gak datang, semoga saja kamu enggak menyesal,” kata Garry.
“Sialan kalian!”
Setelah mengumpat, Frita tak sengaja melihat tikus besar berwarna cokelat menyelinap masuk ke gudang, lewat di belakang Garry Lee, dengan membawa sesuatu. Tikus itu pasti bukan milik anak buah Garry karena ada semacam bom di situ!
Frita jelas tahu itu bom, walau ia tak pernah menyentuh bom. Dan ia tahu pasti Aditya dan yang lain sudah datang untuknya! Maka ia coba mengulur waktu.
“Ya, lakukan saja apa mau kalian padaku. Bunuh saja aku! Kalau sudah jadi hantu, aku akan mengganggu tidurmu selamanya sampai kau mati!” katanya pada Garry.
“Hahahaha! Tidak, tidak! Aku tidak akan membunuhmu seketika! Aku pasti nanti akan melakukannya, tapi bukankah kamu cantik? Kita bisa bersenang-senang dululah sebelum kamu harus mati nanti! Hahaha!”
“Oh, ya? Kamu yakin begitu, ya?” balas Frita.
“Kenapa kamu mendadak berani begini?” tanya Garry yang mulai meredakan tawa.
Frita cuma tersenyum, tak menjawab pertanyaan tersebut. Ia tersenyum dan senyum itu membuat Garry menyadari sesuatu. Sebuah senyum yang hanya akan kau dapati saat musuhmu mendapatkan peluang.
Garry Lee menoleh ke belakang dan melihat dua tikus berbahan peledak sibuk mengunyah sesuatu di pojok gudang.
“Bangsat! Mereka sudah datang!” geramnya.
Tapi terlambat.
Di luar sana, terdengar bunyi tembakan beruntun yang membuat anak buah Garry Lee lari kocar-kacir. Tembakan yang bahkan tak terlihat dari mana arahnya!
Bersambung....
__ADS_1