Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 169


__ADS_3

Anak buah Gerald yang hampir berjumlah empat puluh orang lebih serentak mengepung Aditya. namun hal itu tidak membuat Aditya gentar sedikitpun, dengan tenang dia mulai menghindari dan menangkis serangan semua anak buah Gerald.


“Cih, kemampuannya benar-benar mengerikan,” ucap Gerald sambil mengeluarkan ponsel, lalu dia menelepon Gilang.


“Ada apa Ger?”


“Sesuai perkiraan, sekarang aku sedang berhadapan dengan Aditya. untuk berjaga-jaga saja sebaiknya kita gunakan rencana kedua,” jawab Gerald sambil memperhatikan pertarungan Aditya.


“Baiklah, aku rasa kita memang tidak boleh menganggap remeh dia.”


“Keadaan di sana bagaimana?”


“Saat ini Verdi sedang menyiksa anak buahnya yang tidak mau berkhianat dari geng Merak. Dia benar-benar kejam kepada anak buahnya sendiri.”


“Baguslah, bawa semua orang dari sana ke sini segera. Hubungi juga anggota cadangan yang sudah kita persiapkan.”


“Baik akan segera aku atur semuanya.”


Gerald mengakhiri panggilan telepon itu. Perhatiannya kembali fokus melihat pertarungan Aditya. jumlah anak buahnya yang banyak itu seolah tidak berdaya di hadapan Aditya. bahkan dalam hitungan menit saja belasan orang sudah berjatuhan terkena serangannya. mental beberapa anak buah Gerald kelihatannya sudah mulai down untuk menghadapi Aditya.


“Dia kelihatannya tidak bisa aku biarkan begitu saja,” ucap Gerald sambil menyingsingkan lengan bajunya.


“Maju lu Aditya! kita selesaikan pertarungan kita waktu itu!” teriak Gerald sambil berlari menerjang Aditya.


“Maju!” tantang Aditya sambil membuat isyarat dengan jari tangannya.


“Serang!” teriak anak buah Gerald ikut semangat karena bos mereka sudah turun tangan.


Kini Aditya terlihat mulai serius. Dia dengan lincah menghindari serangan anak buah Gerald. Perhatiannya kini terfokus untuk mengalahkan Gerald, dengan begitu anak buahnya juga pasti akan behenti melawan. Dengan serangan lima detik andalannya dia berhasil menumbangkan dua puluh orang lebih.


Tapi Gerald bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh. Beberapa kali Aditya terkena serangan Gerald yang menggunakan tehnik beladiri tarung derajat. Ditambah lagi serangan-serangan yang dilakukan oleh anak buah Gerald. Ratna yang melihat pertarungan mereka mulai khawatir. Sehebat apapun Aditya dia juga pasti memiliki batas stamina.


Ratna kemudian mengambil korek api yang ada di dashboard mobil dengan kakinya. Tangannya yang terikat kemudian menyalakan korek api itu hingga membakar ikatan pada pergelangan tangannya. Ratna meringis menahan panas hingga talinya putus. Dua orang anak buah Gerald sedang berdiri di luar untuk menjaganya.


“Hei,” sapa Ratna sambil mengetuk kaca mobil menggunakan kepalanya, kedua tangannya masih ke belakang seolah masih terikat.


“Apa?” tanya pria itu dari luar sambil menatap Ratna.

__ADS_1


“Buka,” kata Ratna sambil mengedipkan matanya. Pria itu kemudian membuka kaca jendela dari depan.


“Ada apa?”


“Aku ingin pipis,” rengek Ratna pelan sambil tersipu malu.


“Di sana saja!” bentak pria itu bersikap dingin.


“Ih kamu jahat banget sih, memangnya nggak mau nganter aku? Nanti aku kasih bonus loh,” goda Ratna sambil memperlihatkan senyuman manisnya. Pria itu malah mengernyitkan dahinya.


“Sini aku bisikin,” kata Ratna lagi. Kali ini pria itu mendekatkan wajahnya ke dalam mobil. Kepala Ratna juga bergerak seolah hendak berbisik.


“Aku ingin menghajarmu,” ucap Ratna. Pria itu kaget karena Ratna menarik kepalanya ke dalam mobil sambil meninju wajahnya dan membenturkan kepalanya ke jendela mobil.


“Hei lu!” bentak seorang pria lainnya sambil menghampiri Ratna.


Ratna keluar dari dalam mobil lalu menendang pria yang sudah dihajarnya hingga ambruk ke jalan. Dia kemudian menangkis serangan pria lainnya. Mereka berdua terlibat perkelahian yang sangat sengit.


Kemampuan Ratna terbilang hebat karena bisa memojokkan seorang pria yang menjadi lawannya. Bahkan beberapa kali pria itu meringis kesakitan saat menerima serangan dari Ratna. Pria itu terlihat sangat kesal lalu menyerang Ratna dengan membabi buta. Namun dengan tenang Ratna bisa mengatasinya, bahkan tendangan kaki kanannya berhasil mengenai leher pria itu.


“Cepat ringkus wanita itu lagi! Ika-” perintah Gerald, namun belum selesai dia berkata, Aditya sudah meninju perutnya hingga dia meringis.


“Jangan coba-coba memalingkan wajah lu kalau masih mau hidup!” kata Aditya sambil menendang Gerald hingga terpental.


“Dasar pengecut! Sama perempuan saja main keroyokan!” teriak Aditya saat melihat beberapa orang berlari menuju Ratna. Aditya kemudian melompat untuk membantu Ratna yang sedang dikepung.


“Kenapa kamu tahu aku ada di sini?” tanya Ratna sambil sibuk menahan serangan lawan.


“Aku mendapat kabar kalau kalian hendak berperang dari Putra. Kenapa kamu tidak pernah mengatakan hal ini kepadaku?”


“Maaf Dit, tadinya aku tidak ingin melibatkanmu dengan masalah geng Merak.”


“Seharusnya kamu jangan bersikap begitu. Selama ini aku sudah menganggap Bima adalah kakekku sendiri.”


“Maafkan aku.”


“Tidak masalah, yang penting sekarang kita harus berusaha mengalahkan mereka secepatnya,” kata Aditya sambil menghajar anggota geng Serigala yang menyerangnya.

__ADS_1


“Aku tidak pernah menyangka rencana kami akan bocor.”


“Seharusnya kalian juga menyiapkan rencana cadangan.”


Ratna dan Aditya terus menyerang geng Serigala hingga banyak yang tumbang. Gerald terlihat begitu kesal karena menganggap anak buahnya terlalu lemah. Keberadaan Ratna saat ini membuat Aditya mulai kesulitan karena berusaha untuk melindunginya juga sambil menyerang musuh. Gerald kembali menyerang Aditya.


Dari kejauhan terdengar raungan konvoi kendaraan dalam jumlah yang banyak. Hal itu membuat Aditya mulai cemas. Sedangkan Gerald mulai terlihat senang karena dengan kedatangan bala bantuan yang banyak itu kemungkinan mereka bisa menghabisi Aditya.


“Hahaha tamat riwayat kalian!” ucap Gerald sambil tertawa puas.


“Bala bantuan mereka ya,” ujar Aditya.


“Apa yang harus kita lakukan Dit?” tanya Ratna dengan wajah pucat.


“Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat ini,” jawab Aditya dengan wajah penuh emosi.


“Ratna, aku nanti akan membukakan jalan untukmu, jika ada kesempatan kamu harus segera pergi dari tempat ini,” ucap Aditya.


“Tapi kamu bagaimana?”


“Jangan pedulikan aku. Jika jumlahnya hanya seratus atau dua ratus saja pasti bisa aku kalahkan.”


“Kelihatannya usaha terakhirku saat ini adalah membuat Ratna selamat. Jika yang datang hanya dua puluhan saja aku mungkin bisa mengatasinya, tapi jika lebih dari itu kemungkinan aku tidak akan mampu berbuat banyak,” batin Aditya.


Ratna hanya mengangguk pelan. Tak lama kemudian Gilang bersama semua anak buahnya datang ke lokasi pertarungan mereka. Kalau dihitung semua anggota geng Serigala yang baru datang ke sana berjumlah lebih dari seratus. Bahkan Ratna hanya bisa terdiam dengan wajah pucat melihat kedatangan mereka.


“Sekarang apa yang akan lu lakuin Aditya?” tanya Gerald sambil tertawa lebar.


“Hahaha memangnya gue takut?” ledek Aditya.


“Serang pria brengsek itu!” teriak Gilang kepada anak buahnya setelah mereka turun dari kendaraan.


“Dit,” ucap Ratna sambil memegang tangan Aditya.


“Ingat, kamu harus segera pergi jika ada kesempatan. Sampaikan permintaan maafku kepada semuanya. Kamu harus segera menemui Putra setelah pergi dari sini,” ucap Aditya pelan sambil tersenyum.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2