
Gerald mulai membuat kuda-kuda posisi menyerang. Aditya mulai waspada, Gerald dengan cepat melayangkan tinju tangan kanannya namun ditahan Aditya sambil membalas dengan tendangan kaki kanan tapi Gerald mengelak. Gerald melesat lagi dengan tinju kanan. Aditya menyambutnya dengan tinju tangan kanan juga. Kedua tinju beradu.
“Gue sudah menantikan saat-saat seperti ini datang Aditya!” teriak Gerald sambil kembali menyerang.
“Apa cuma segitu tenagamu Gerald!” ucap Aditya sambil kembali beradu tinju dengan Gerald.
“Hahaha, ini baru pemanasan!” ucap Gerald sambil berniat menendang.
“Kalau begitu tunjukan segenap kemampuanmu!” balas Aditya sambil kakinya menahan tendangan Gerald.
Mereka berdua terus menerus beradu serangan. Semua orang di sana bersorak melihat pertarungan yang sangat sengit itu. Gerald kembali menyerang sambil berputar, Aditya mengelak. Kaki Gerald sudah tepat berada di depan wajahnya namun dalam sekejap tubuhnya kayang ke belakang.
Aditya menggunakan kaki kanannya untuk menyapu kaki Gerald namun berhasil dihindari dengan melompat kebelakang. Kali ini Aditya maju terlebih dahulu sambil melompat, kaki kanannya mengarah ke leher Gerald namun berhasil ditahan oleh tangannya. Namun kaki kirinya yang mengincar perut berhasil membuat Gerald tersungkur kebelakang.
Gerald bangkit sambil membuka kaosnya. Ada beberapa wanita yang bersorak melihatnya. Tubuh bidang dan kekar Gerald terlihat jelas tanpa ada baju yang menyelimutinya. Aditya hanya tertawa kecil. Gerald maju dengan penuh amarah. Dia menyerang Aditya bertubi-tubi, Aditya terpaksa mundur sambil berusaha menahan serangan Gerald.
“Kelihatannya wakil geng Serigala benar-benar mengamuk.”
“Gila lu liat serangannya! Dia wakil Ketua geng gue tuh!”
“Cih, berisik sekali di sini,” ujar Ratna sambil menutup telinganya dengan tangan.
“Apa bagusnya mereka mendukung orang itu, lagian kenapa juga Aditya harus ikut campur dalam duel ini,” gerutu Sherly.
“Heh. Katanya teman SMA tapi masih belum mengerti hal sejelas itu juga,” ledek Ratna.
“Memangnya kamu tahu alasan dia ikut campur?” tanya Sherly dengan tatapan kesal.
“Ya iyalah.”
“Apa coba?”
“Percuma di kasih tahu juga nggak akan paham.”
“Ih, bilang saja nggak tahu.”
__ADS_1
Jaja Karyana terlihat mulai melirik ke arah mereka berdua. Di matanya jelas tergambar kekaguman akan kecantikan dua sosok wanita yang sedang bercekcok itu. Bima menyadarinya, bagaimanapun dia tidak mau jika Jaja mengincar cucunya.
“Kedua wanita itu benar-benar cantik,” gumam Jaja.
“Jelas, cuma sampah kayak lu nggak akan bisa ngedapetinnya,” potong Bima.
“Hahaha lu kayak nggak tahu gue saja pak tua.”
“Gue yang nggak akan biarin lu, dia cucu gue!” tegas Bima dengan nada berapi api.
“Cih, sialan juga. Lalu siapa wanita yang nggak pakai jaket geng Merak itu?”
“Dia teman cucuku. Gue juga nggak akan biarin lu mengganggunya,” jawab Bima.
Jaja membuang muka karena kesal, Bima sengaja bilang seperti itu agar Jaja tidak mengganggu Sherly. Perhatian mereka kembali tertuju kepada pertarungan Aditya dan Gerald yang semakin sengit. Serangan membabi buta Gerald tidak sia-sia beberapa kali serangannya berhasil tepat sasaran.
“Lu jangan harap bisa menang malam ini Aditya!”
“Cih, kelihatannya kemampuan lu semakin berkembang Gerald.”
“Gue harap lu nggak akan menarik kata-kata itu.”
Aditya kini merubah kuda-kudanya dengan tehnik beladiri wing chun. Gerald yang sadar segera mundur untuk menjaga jarak. Aditya maju dengan beberapa pukulan beruntun. Gerald mulai kerepotan menangkisnya. Gerald kemudian berteriak lalu menggunakan tehnik beladiri karatenya.
Serangan Aditya memang cepat, tapi Gerald yang menjaga jarak membuat serangan itu hanya mengenai tangan dan kakinya saja yang dia gunakan dengan tepat. Gerald maju dengan mengumpulkan tenaga di tangan kanannya. Aditya menahan serangan Gerald namun ternyata itu hanyalah serangan tipuan, tubuh Aditya roboh setelah kakinya di hantam oleh Gerald.
Gerald menendang tubuh Aditya hingga terjungkal. Ketika Gerald kembali menendang Aditya segera menangkap kakinya lalu menariknya mendekat seolah dia sudah bisa memprediksi serangan selanjutnya dari Gerald. Ketika jarak diantara mereka cukup dekat Aditya segera melancarkan lima pukulan hanya dalam tiga detik saja. Pukulan terakhir membuat Gerald tersungkur ke belakang.
“Huh! Lihat anak buah gue, pak tua! Jaja!” ucap Goni dengan bangga.
“Sampai kapan lu bakalan bilang kalau dia anak buah lu?!” tanya Jaja sambil tersenyum mengejek.
“Lah emang dia anak buah gue! Lihat dia maju sebagai perwakilan dari geng Gagak.”
“Memangnya itu bisa menjadi bukti kalau dia masih menjadi anak buah lu!”
__ADS_1
“Ya iyalah!”
“Dasar tikus! Dia itu maju karena mau ngebela temannya yang hampir mati tadi!”
Goni terdiam dengan wajah kesal karena Jaja terus tidak menerima jika dia mengatakan bahwa Aditya adalah anak buahnya. Gerald bangkit kembali, bekas pukulan Aditya terlihat merah di badan Gerald itu menandakan bahwa pukulannya sangat keras. Gerald menggelengkan kepalanya, menggerakan pinggang dan tangannya seolah sedang peregangan. Gerald kemudian bersiap dalam posisi kuda-kuda.
“Tarung Derajat?” gumam Aditya kaget. Setahunya dulu Gerald tidak menguasai tehnik beladiri itu.
“Gue akui kemampuan lu masih hebat, Aditya! Tapi malam ini akan gue tuntaskan dendam yang selama ini gue pendam!” teriak Gerald sambil melesat.
Aditya menghalau tendangan Gerald, namun tekanan tenaganya membuat posisi berdiri Aditya goyah. Gerald dengan cepat meninju lurus namun berhasil dibelokan oleh tangan Aditya. Dia sadar jika serangan Gerald kali ini menggunakan tenaga yang lebih besar dari tadi.
“Cih, jika aku menggunakan tehnik yang sama hanya akan buang-buang tenaga saja,” gumam Aditya. Dia juga menguasai tehnik beladiri tarung derajat hanya saja masih belum terlatih dengan baik.
“Tunjukan kemampuan lu Aditya!”
“Apa cuma segitu saja kemampuan lu!” teriak Gerald sambil terus menyerang.
“Lalu apa gunanya lu terlibat dengan kehidupan seperti ini lagi jika sudah menjadi pengecut seperti itu!”
“Lu pikir dengan kemampuan segitu saja bisa melindungi orang di sekitar lu! Mereka malah akan mati sia-sia!” teriak Gerald, tubuh Aditya terlihat gemetar sekejap.
“Lanjutkan Gerald,” gumam Jaja sambil tersenyum puas.
“Memang benar, untuk apa aku kembali terlibat dalam masalah kelam seperti ini? Bukankah sejak aku meninggalkannya kedamaian dan ketenangan sudah bisa kurasakan? Lalu apa alasanku kembali ke dunia seperti ini? Apa hatiku memang tidak bisa meninggalkannya? Frans, Leo, Kaila. Seharusnya memang sejak dulu aku ikut dengan kalian,” batin Aditya.
Gerald terus menyerangnya, bukan hanya secara fisik namun dia juga coba mempengaruhi keteguhan hati Aditya. Beberapa pukulan berhasil Aditya hindari namun ada satu tinju yang mengenai matanya. Posisi berdiri Aditya mulai goyah. Tatapannya samar sebelah sampai dia harus memejamkan mata kirinya.
Gerald segera memanfaatkan momen itu. Dengan beringas dia menghajar Aditya hingga darah keluar dari mulutnya. Semua orang di sana hanya terdiam, Bima bahkan tidak percaya jika Aditya bisa dihajar seperti itu. Setahunya kemampuan Aditya harusnya lebih dari ini. Ratna dan Sherly bangkit karena cemas.
“Kawan kelihatannya aku akan menyusul kalian saat ini,” gumam Aditya pelan.
“Aditya!” teriak Ratna dan Sherly bersamaan.
“Apa segitu saja kemampuanmu sampah?! Untuk apa lu hidup selama ini jika pada akhirnya lu berakhir seperti itu!” teriak Bima sambil berdiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG…