Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 199


__ADS_3

Orang-orang itu kembali ke markas mereka yang tersembunyi di dekat hutan dan menelan kemarahan Gunawan yang tak terbendung. Entah berapa banyak dari mereka yang hari itu mati ditembak lelaki tua yang kesal itu.


Gunawan bergumam marah dalam hati, “Seseorang harus membayar tiap kerugian yang gue alami hari ini!”


Sementara, di seberang sungai, sekitar tiga belas kilometer dari lokasi Nancy dan Amy menunggu, Aditya dan Rudi mengentaskan diri dari sungai deras. Mereka berjalan sejauh itu sambil terus menghubungi Amy via telepon.


Begitu matahari terbenam, mereka akhirnya berhasil bertemu. Profesor Joe terlihat senang dan sehat. Mereka merayakan kemenangan misi ini dalam sunyi. Tak ada pesta seperti Si Tua Leo waktu itu. Tak ada makanan.


“Sepertinya kalian butuh barang-barang kalian lagi,” kata Amy Aurora sambil tiada henti menatap mata Aditya.


“Aku tak membawa apa-apa sejak dari Indonesia,” kata Aditya sambil nyengir. Dia memang pergi ke Thailand sebagai buronan internasional bersama Si Tua Leo. Meski ia sekadar bersandiwara.


Rudi bilang, “Kami tidak perlu membawa koper kami. Kita bisa langsung pergi saja. Ya, kan, Nancy?”


Nancy hanya mengangguk mendengar kalimat Rudi. Sejak kedatangan Rudi serta Aditya ke mobil itu, ia tak bicara sepatah kata pun. Ia tak henti memikirkan bagaimana reaksi Aditya setelah mendengar kabar bahwa pelaku pembocoran informasi rencana Komandan Malik waktu itu adalah teman lama Aditya sendiri.


Ya, Nancy sempat ditelepon oleh Malik belum lama ini saat Profesor Joe baru saja tersadar dari pingsannya. Dalam telepon itu, sang komandan bercerita bagaimana sosok pengkhianat itu akhirnya tertangkap basah. Ia adalah Reynaldi, teman lama Aditya yang sudah bertahun-tahun tak pulang ke Indonesia karena misi yang ia jalankan di Afrika.


Nancy membayangkan Aditya akan menghajar habis-habisan temannya sendiri, sebab karena ulah Reynaldi-lah, mereka harus berjuang lebih sulit untuk menolong sang profesor.


Mereka lalu pergi ke hotel sederhana di sudut kota kecil dan tidur di sana dua jam. Ini lebih soal kebutuhan istirahat Profesor Joe yang ternyata sangat cerewet dan banyak menuntut. Ia memang diculik oleh Gunawan dan Aliansi Ular Kobra, tapi di markas itu ia bisa mendapatkan makanan serta tempat tidur yang nyaman.


“Saya sungguh tidak bisa tidur di tempat macam ini, tapi saya sangat mengantuk!” kata si profesor itu.


“Maka, sebaiknya Anda tidur,” balas Amy dengan sabar.


Nancy terlihat jengkel. Ia bilang pada Aditya, “Orang macam ini yang sudah bikin kita bertaruh nyawa!”


“Ya, sudahlah. Lagian dia juga orang jenius. Biasanya orang jenius memang agak menyebalkan.”


Rudi yang mendengar itu langsung menyahut, “Gue jenius, tapi gak nyebelin.”


“Kata siapa loe jenius?!” sahut Nancy.


“Kalau nggak jenius, mana mungkin masuk ke tim ini? Kita semua golongan orang jenius dengan cara kita masing-masing, tahu!”


Amy Aurora hanya tertawa mendengar obrolan mereka.


Amy lalu menyendiri ke teras hotel, dan Aditya diam-diam menyusulnya.

__ADS_1


“Jadi, kamu bakal balik ke Indonesia, ya?” tanya Amy sembari menyalakan rokok.


“Ya, sepertinya begitu,” jawab Aditya.


“Bagaimana rasanya rindu kampung halaman?”


“Entahlah, aku tak pernah benar-benar merasakan itu.”


“Kamu bilang ingin berhenti dari semua ini?”


“Ya,” kata Aditya, “tapi itu berbeda dengan rindu kampung halaman. Kamu sendiri juga ingin menjalani hidup yang baru ya?”


“Aku tak tahu. Sepertinya aku bakal terjebak di dunia macam ini selamanya, Dit,” jawab Amy Aurora nyaris tak bisa didengar. Wanita itu lalu beranjak meninggalkan teras dan pergi ke halaman parkir hotel yang luas.


“Kamu pergi sekarang?” tanya Aditya.


Sebuah mobil terlihat berhenti dan seperti menunggu Amy naik. Aditya kira mobil itu dikendarai oleh sopir pribadi Amy.


“Ya,” jawab perempuan itu.


Aditya mendekat dan memeluk Amy, lalu mengucap terima kasih atas segala yang ia perbuat untuk membantu misinya. Amy cuma tersenyum dan mengecup pipi Aditya. “Pulanglah. Frita mungkin sudah menunggumu,” katanya.


Sebelum mereka pergi ke bandara dini hari itu, Komandan Malik sempat telepon.


“Baiklah, apa yang ingin kau dengar, Dit?” tanya Komandan Malik di seberang telepon. Suaranya terdengar begitu ragu.


“Seseorang yang membocorkan informasi pada Leo, sehingga misi kita jadi kacau, Komandan,” jawab Aditya datar.


“Oke. By the way, kami sudah menemukan bajingan itu. Kau boleh menghajarnya nanti setiba di Indonesia.”


Nancy memperhatikan ekspresi kesal Aditya. Sepertinya Komandan Malik sekarang sedang menyebutkan nama Reynaldi di telepon. Tetapi, di luar dugaannya, Aditya malah berkata, “Biar itu urusan kalian, Komandan. Saya tak perlu menghajarnya. Sudah cukup saya dengan semua ini.”


Telepon ditutup setelah beberapa menit pembicaraan terkait kepulangan dan segala dokumen yang mereka butuhkan di bandara nanti siang.


Pagi itu Aditya melihat di luar jendela hotel, ada sekelompok orang bersenjata yang seperti mencari sesuatu. Ia tahu itu pasti anak buah Gunawan atau mungkin saja orang- orang suruhan Garry Lee yang dendam karena ia membunuh Si Tua Leo.


“Gunawan bisa cerita apa pun pada Garry Lee agar dia lebih mudah mendapatkan aku,” katanya pada Rudi.


“Ya, ia bisa menduga Si Tua Leo mati karena loe mencoba kabur darinya. Bukan karena Gunawan memang menginginkannya mati.”

__ADS_1


“Garry Lee bukan orang sembarangan kabarnya. Gue sendiri gak begitu tahu, tapi masa bodohlah,” kata Aditya. Ia lalu menyelinap keluar dengan membawa pistol.


Nancy terlihat tenang saja menyadari rekannya yang tangguh itu keluar. Pastinya si Aditya itu bakal merobohkan para pemburu mereka dalam waktu singkat. Kata Rudi, di luar ada sepuluh orang. Bersenjata dan siap membantai Aditya.


“Apa lebih baik gue bantuin dia, ya?” tanya Rudi pada Nancy sambil mengintip ke luar jendela.


“Sepuluh orang bukan masalah bagi Aditya. Di penjara rahasia itu, ia mengalahkan lebih dari itu. Sudahlah, loe di sini saja. Tenangin profesor itu.”


Profesor Joe terlihat sangat gelisah begitu tahu ada para pengintai di luar hotel.


Tapi, Aditya memang bukan tandingan mereka. Kurang dari lima menit, dia sudah balik lagi ke kamar. Tampangnya seperti ia baru saja pulang dari piknik saja. Tidak ada kesan tegang atau takut sama sekali.


“Sudah siap pergi?” tanya Aditya.


Rudi malah tertawa ngakak melihatnya bertanya begitu. “Siap, Bos!” katanya.


“Kenapa dia ketawa?” tanya Aditya pada Nancy.


“Sepuluh orang bukan tandingan, bukan?” jawab wanita itu sambil menepuk perut Rudi.


Aditya cuma bisa geleng-geleng kepala.


Mereka meninggalkan hotel tak lama kemudian.


Dalam mobil, Rudi terlihat sibuk mengobati luka-lukanya yang masih basah akibat dihajar oleh sekumpulan warga setengah preman yang “dipelihara” Gunawan Mahdi di pusat bisnisnya yang tersembunyi. Sementara itu, Nancy yang menyetir terlihat santai.


Profesor Joe terus mengoceh soal keadaan istri dan anaknya di rumah. Ia tak pernah mendengar kabar mereka sejak diculik tentu saja. Jadi ia terlihat gugup. Rudi mencoba menenangkan lelaki berkumis itu sambil mengobati luka-lukanya.


Aditya tak berminat mengajak mereka bicara. Lagi pula mereka juga baru kenal di sini, di misi yang sama sekali tak diharapkan Aditya.


Setelah sampai di Indonesia nanti, Aditya yakin mereka tak akan berhubungan lagi. Setelah ini ia bakalan menolak apa pun misi yang mungkin Malik berikan padanya.


Di bandara, Aditya mendapatkan berkas-berkas yang ia, Profesor Joe, Nancy, dan Rudi butuhkan.


Berkas itu dikirim melalui seseorang tidak dikenal yang bekerja untuk interpol agar mereka berempat bisa naik pesawat reguler bersama para penumpang lain. Orang itu terlihat seperti bisu saja, karena tak bicara dan hanya menyerahkan paket pada Aditya lalu pergi.


“Bagus. Saatnya kita pulang!” kata Rudi dengan senang.


“Saatnya pulang,” batin Aditya dengan perasaan yang tak menentu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2