
Gilang kembali menyerang namun serangan Aditya lebih cepat darinya. Kini lengan kanan Gilang yang tersayat oleh pisau Aditya. Si Botak kembali menyerang dari belakang, pisaunya terlempar setelah Aditya menendang tangannya. Dengan cepat Aditya mencekik leher si Botak lalu membantingnya ke tanah.
Gilang kembali bangkit dan berkali kali dia menyerang Aditya namun semua serangannya dapat ditangkis dengan mudah. Si Botak lagi-lagi menyerang Aditya dari belakang namun kali ini dengan cepat Aditya menghindar. Pisau yang dihujamkan Gilang malah mengenai dada si Botak karena Aditya menghindar.
“Bro..” tampak Gilang memegang temannya yang sedang sekarat karena terkena pisaunya.
“Romantis sekali,” ujar Aditya sambil tersenyum.
“Bedebah!” teriak Gilang sambil menyerang Aditya lagi.
“Duh tidak ada kapok-kapoknya juga,” kata Aditya sambil menahan tangan Gilang dan membantingnya ke tanah.
“Masih mau melawan?” tanya Aditya sambil menendang Gilang hingga terpental ke dekat motor.
Gilang tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung menghidukan motornya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Aditya terkejut melihatnya dia tidak menyangka jika Gilang malah akan kabur, dengan cepat Aditya melemparkan pisaunya dan menancap di betis Gilang.
Walaupun merasakan sakit yang luar biasa Gilang tetap mengemudikan motornya menjauh. Dia lebih baik menahan rasa sakit daripada harus mati di tangan Aditya. Setelah Gilang menjauh Aditya menghela nafasnya sambil bersandar di pohon. Dia menatap tangannya yang terkena cipratan darah lawannya.
“Sampai kapan aku harus seperti ini,” gumam Aditya sambil menatap tangannya.
“Apa memang tidak ada jalan lain yang lebih baik?” tanya Aditya kepada dirinya sendiri.
Aditya kemudian mengambil ponsel milik anak buah Erik dan menelepon polisi dengan suara yang disamarkan. Aditya pergi dari sana dengan tujuan mencari sungai untuk membersihkan dirinya. Di tengah perjalanan tampak Erik menelepon.
“Bagaimana? Apa kalian sudah menghabisi si sopir brengsek itu?” tanya Erik.
“Oh maksud lu temen gua, Aditya? Dia sudah kusuruh pulang,” jawab Aditya dengan menyamarkan suaranya.
“Lu siapa hah? Kenapa HP anak buah gua ada di tangan lu?”
“Gua temennya Aditya. Gua sengaja membawa HP anak buah lu untuk barang bukti percobaan pembunuhan.”
“Terus anak buah gua dimana?”
“Mereka sudah gua habisi! Kalau lu nggak mau tidur di penjara sebaiknya lu tutup mulut sama polisi!”
“Lu pikir gua takut sama ancaman?”
“Dasar bodoh! Kalau lu lapor polisi sama saja lu nyerahin diri ke polisi!” bentak Aditya.
Erik sadar. Dia sendiri yang pada akhirnya akan mengalami kerugian karena melaporkan kejadian ini kepada polisi. Lagipula dia tidak tahu siapa orang yang sedang berbicara dengannya. Karena itu tidak ada pilihan lain baginya selain mengambil jalan damai dengan orang yang menelepon.
Setelah berdamai dengan Erik, Aditya segera mengakhiri panggilan dan membuang ponsel anak buah Erik itu ke hutan tepi jalan dengan keras agar hancur. Aditya kemudian membasuh dirinya di sungai yang sepi. Baju kemejanya yang lusuh dia buang ke sungai untuk menghilangkan jejak.
Aditya kembali ke kantor Glow & Shine Co. setelah membeli baju kemeja bekas di pasar tradisional Bandung. Kemeja yang dia beli sengaja yang berukuran agak besar dan sudah lusuh seperti kemeja lama miliknya.
“Cepat panggil ambulan ke sini. Kalian juga segera selidiki setiap titik di sekitar sini. Bisa saja masih ada petunjuk lain yang bisa kita temukan,” perintah Jimmy kepada anak buahnya. Dia sudah sampai di lokasi perkelahian Aditya.
“Baik Pak.”
“Halo Ar. Ada apa?” tanya Jimmy menerima panggilan dari Arya.
__ADS_1
“Kamu di mana Jim? Aku dengar tempat persembunyian orang yang memfitnah Glow & Shine Co. sudah ditemukan.”
“Aku sedang ada di lokasi tawuran geng. Di sini tampaknya sudah terjadi kasus pembunuhan. Tolong kamu perintahkan yang lain untuk bersiap menangkap pelakunya, aku akan segera menyusul.”
“Tawuran antar geng?”
“Ya. Ada empat orang yang tewas di sini.”
“Geng lagi geng lagi. Aku sudah bosan mengurus kasus seperti itu,” ucap Arya.
“Tapi aku rasa kasus ini cukup rumit juga.”
“Maksudmu?”
Jimmy kemudian menjelaskan keadaan di sana. Arya paham, dia menyimpulkan bahwa ada kesamaan dengan kasus yang terjadi pada penculikan Frita. Kemungkinan hal ini dilakukan oleh geng yang sama pada waktu itu.
Sore harinya suasana di kantor Glow & Shine Co. tampak sepi, beberapa karyawan sudah pulang. Aditya dengan setia duduk di dalam mobilnya yang sudah terparkir di halaman kantor. Rani dan Frita keluar dari dalam kantor. Aditya segera berdiri sambil membukakan pintu mobil untuk Frita.
“Silahkan Mbak,” kata Aditya sambil tersenyum.
“Ran aku ikut pulang sama kamu ya,” ucap Frita.
“Eh. Kok tumben? Boleh-boleh saja sih,” jawab Rani dengan heran.
“Aku lagi pengen saja bareng sama kamu.”
“Terus saya gimana Mbak?” tanya Aditya ke Frita.
“Pulang saja sendiri,” jawab Frita dingin.
“Kamu kok semakin dingin saja Mbak sama Aditya?” tanya Rani.
“Aku lagi males saja diantar jemput sama dia,” jawab Frita.
“Ih kamu ini aneh deh.”
“Kita mampir ke laundry dulu yuk Ran, aku mau nyuci baju ini nih,” kata Frita sambil menunjukan kemeja yang dibungkus plastik.
“Baju siapa itu Fri?”
“Ini? Ini baju orang yang menyelamatkanku Ran, aku niatnya mau ngembaliin baju ini setelah kering nanti,” jawab Frita sambil tersipu malu.
“Ciee yang punya pahlawan.”
“Ciee yang iri.”
“Ih aku jadi penasaran nih seperti apa orangnya,” ucap Rani.
“Nanti aku kenalin deh,” kata Frita dengan senang.
Rani kemudian menyuruh sopirnya untuk mampir dulu ke laundry. Setelah menitipkan baju, Frita langsung diantar pulang ke rumahnya. Aditya tampak sudah pulang duluan ke rumah Frita. Hari itu Frita menjadi lebih dingin kepada Aditya. Ketika ditanya oleh Adityapun dia hanya diam saja tidak pernah menjawab.
__ADS_1
Pagi harinya Aditya sudah menunggu di dalam mobil. Namun Frita malah memesan taksi online lagi. Dari kemarin dia tidak berbicara dengan Aditya. Pandu tidak bisa berbuat apa-apa melihat putrinya bersikap dingin kepada tunangannya sendiri.
“Keliatannya Mbak Frita mau persiapan buat demo ya?” tanya Aditya ketika Frita keluar dari rumahnya.
“Demo apa?” tanya Frita dengan tatapan dingin.
“Ya abisnya dari kemarin kamu nggak bicara terus sih, kayak lagi ngehemat suara saja.”
“Eh kamu jangan sok akrab ya Dit. Sebentar lagi pasti kamu nyesel sudah bersikap seperti itu.”
“Nyesel? Maksudmu aku bakalan nyesel di pelatihan fisik?” tanya Aditya sambil tertawa kecil.
“Kamu sengaja kan membuat program seperti itu untuk mengerjaiku?” tanya Aditya lagi.
“Kamu jangan Geer ya. Masih banyak hal yang lebih berguna tahu daripada mengerjaimu,” jawab Frita sambil pergi menuju taksi online yang dia pesan.
Aditya hanya tersenyum. Tidak tersirat rasa kesal sama sekali di wajahnya. Setelah pamit kepada Pandu, Aditya pergi mengikuti taksi online yang dinaiki Frita. Sepanjang jalan Aditya dengan sengaja meliuk liukan mobilnya di samping, di depan atau di belakang taksi online. Hal itu membuat Frita semakin kesal kepadanya.
Frita dan Aditya sampai di kantor bersamaan. Aditya dengan sengaja membukakan pintu taksi online untuk Frita. Namun Frita malah keluar dari pintu yang lain, Aditya hanya bersiul menanggapi kelakuan Bos sekaligus tunangannya itu.
Semua sopir berkumpul di kantornya. Hari ini mereka akan memulai pelatihan fisik di tempat bagian keamanan yang masih berada di lingkungan kantor Glow & Shine Co.. Para sopir dipimpin Hadi sebagai kepala sopir berjalan menuju gedung bagian keamanan.
“Eh kudengar katanya kepala bagian sopir itu galak banget loh,” kata seorang sopir.
“Iya, padahal katanya dia seorang wanita. Tapi kerasnya minta ampun,” ujar yang lain.
“Ngapain pusing-pusing, kalo emang keterlaluan kita sikat saja lah. Apalagi kalo perempuan, dibentak juga nangis,” timpal Jana sambil tertawa.
“Yang jelas kita tunjukin saja ke bagian keamanan kalo bagian sopir itu tidak memerlukan pelatihan fisik!” teriak Wira.
“Selemah lemahnya juga kepala bagian keamanan. Tidak mungkin diangkat jadi pimpinan kalau sekali bentak doing nangis mah,” sela Aditya.
“Lu ngeremehin gua Dit?” tanya Jana dengan nada tinggi karena merasa tersindir.
“Terus siapa lagi? Orang cuma lu doang yang ngomong kayak gitu,” jawab Aditya sambil tersenyum.
“Sudah! Kalo mau ribut pergi saja sana!” bentak Hadi.
Semua sopir kembali tenang. Di gedung keamanan tampak seorang wanita sedang mengawasi orang-orang yang sedang berlatih beladiri. Tubuhnya cukup kekar untuk ukuran wanita. Tatapan matanya tajam. Kharismanya dan wibawanya bisa terlihat hanya dengan caranya berdiri. Aditya tidak menyangka ternyata ada wanita seperti itu di dunia.
“Selamat pagi semuanya!” sapa Heni Srikandi.
“Pagi.” Jawab para sopir.
“Mulai hari ini saya mohon kerjasamanya. Saya akan berusaha semampu saya untuk melatih fisik kalian juga mengajarkan seni bela diri. Ada pertanyaan?”
“Tidak.”
“Bagus, kalau begitu silahkan mulai pemanasan! Wakilku akan memimpinnya” perintah Heni sambil pergi dan duduk di kursi.
“Kamu juga sebaiknya ikut Di. Bu Direktur menyuruh agar semua sopir termasuk kepala sopir mengikuti latihan ini,” kata Heni kepada Hadi yang malah duduk di dekatnya.
__ADS_1
Dengan kesal Hadi ikut bersama sopir lain. Wakil Heni tampak memimpin pemanasan tersebut. Ada yang semangat ada yang seenaknya saja mengikutinya. Tatapan Heni tertuju kepada Aditya. Dia merasa bahwa Aditya berbeda dengan yang lainnya. Tatapannya terlalu tajam untuk seorang sopir biasa.
BERSAMBUNG…