
Aditya terus diam di tempat ketika Vendi dan anak buahnya semakin mendekat. Perlahan Vendi terlihat menodongkan pistolnya ke berbagai arah sambil waspada. Tapi dia tidak menyadari kalau Aditya sedang berada di dekatnya.
“Mungkin tadi hanya perasaan bos saja,” ucap anak buah Vendi.
“Tidak, aku sangat yakin,” bantah Vendi sambil terus berjalan perlahan.
“Tapi buktinya tidak ada siapapun di sini.”
“Diam,” kata Vendi setengah marah karena kesal. Anak buahnya mulai terdiam karena takut.
Aditya kemudian bergerak perlahan mengambil belati miliknya. Melihat gelagat Vendi yang sangat waspada dia sangat yakin kalau kemampuan orang itu cukup tinggi. Hal itu membuatnya tidak bisa gegabah menyergap mereka terlebih mereka membawa pistol. Aditya mulai menunggu saat yang tepat untuk melakukan rencananya.
Vendi dan anak buahnya mulai bergerak menjauh. Momen seperti itulah yang Aditya tunggu, dengan cepat dia melempar pisau belatinya ke arah leher anak buah Vendi. Namun lemparannya meleset malah mengenai tangan anak buah Vendi, hal itu membuatnya kaget dan melemparkan pistol di tangannya. Sedangkan Vendi berbalik dan melepaskan tembakan ke arah Aditya.
Namun Aditya sudah tidak ada di sana karena bergerak mendekati mereka. Anak buah Vendi masih meringis kesakitan sementara Vendi mulai waspada. Aditya tiba-tiba menerjang mereka dari samping sasarannya sudah jelas Vendi yang masih memegang pistol. Tembakan Vendi meleset karena Aditya menendang tangannya.
“Cih, pegangannya kuat juga ya,” ujar Aditya saat melihat Vendi masih memegang pistolnya.
“Bos?” tanya anak buah Vendi karena tiba-tiba bosnya tidak ada di dekatnya.
“Gerakannya benar-benar tidak terduga,” gumam Vendi sambil menembak ke arah Aditya menerjang tadi namun pelurunya malah mengenai tembok.
“Selain itu langkah kakinya juga sangat ringan hingga sulit untuk didengar,” batin Vendi.
“Bos? Di mana bos? Aduh,” tanya anak buah Vendi meraba-raba lantai sambil meringis kesakitan.
“Tapi tetap saja parfum lu masih bisa gue cium!” tegas Vendi sambil menembak ke arah dia mencium wangi parfum Aditya.
Namun ternyata Aditya sudah ada di belakangnya sambil menyapu kaki Vendi hingga oleng. Saat Vendi hendak jatuh Aditya segera menendang tangannya yang memegang pistol dengan kuat hingga pistolnya terlempar. Aditya kemudian menghujamkan kakinya namun Vendi menghindar dengan cara berguling ke samping.
__ADS_1
“Bos? Suara apa tadi?” ucap anak buah Vendi yang masih mencari bosnya, dia malah melangkah semakin jauh dari ruangan itu.
“Kemampuan lu lumayan juga ternyata,” ucap Vendi sambil bangkit.
“Indera penciuman lu ternyata cukup merepotkan juga sampai-sampai gue harus buka jaket untuk membodohi lu,” balas Aditya.
“Ho, pantesan hebat, jadi dia masih ada di sini ya,” batin Vendi.
Mereka berdua mulai memasang kuda-kuda untuk memulai pertarungan. Vendi maju terlebih dahulu menyerang Aditya. dia merasa sangat senang karena selama ini selalu ingin menguji kemampuannya dengan melawan orang kuat seperti Aditya. dengan beringas Vendi menunjukkan kemampuan beladiri tangan kosong miliknya.
Aditya berusaha untuk menahan semua serangan Vendi. Perkelahian sengit terjadi di ruangan itu. Setiap serangan yang dilakukan oleh Vendi bisa ditahan dan dihindari oleh Aditya. tapi beberapa serangan yang berasal Aditya berhasil mengenai tubuh Vendi walaupun kadang serangannya juga bisa ditahan oleh Vendi.
Aditya mulai memperhatikan sekitar ruangan itu karena dia tidak lagi mendengar suara anak buah Vendi yang tadi ada di sana. Dia khawatir jika orang itu pergi menuju ruangan Bima. Kini Aditya mulai serius menghadapi Vendi. Namun tetap saja Vendi juga tidak mau kalah, dia mengeluarkan semua tenaganya untuk menghadapi Aditya. hal itu membuat Aditya cukup sulit untuk merobohkan Vendi.
“Jadi orang ini adalah bos mereka ya,” pikir Aditya karena merasa kemampuan Vendi melebihi kemampuan orang yang tadi dia temui di ruangan lain.
“Sebenarnya siapa yang menyuruh kalian masuk ke dalam rumah ini hah?” tanya Aditya sambil menghindari serangan Vendi.
“Jangan menganggap gue anak kecil. Bocah saja tahu resiko besar yang bakal lu dapet kalau datang ke markas geng Merak langsung. Kalau tanpa iming-iming gue yakin nggak aka nada yang berani datang kemari hanya dengan modal ingin balas dendam,” kata Aditya sambil melayangkan tinjunya.
“Gue mau langsung menghabisi pimpinan mereka biar puas!” jawab Vendi sambil menghindari serangan Aditya ke samping.
“Mencoba melakukan pembunuhan bos besar geng Merak di rumahnya langsung hanyalah hal bodoh yang dilakukan oleh orang bodoh,” ledek Aditya sambil menendang Vendi hingga membentur tembok.
“Cih, kemampuan dia benar-benar diluar dugaanku,” gumam Vendi sambil bangkit.
“Sayang sekali, kelihatannya gue harus memaksa lu buat berbicara,” ucap Aditya sambil melangkah, namun dia berhenti karena kakinya menginjak pistol milik Vendi yang tadi terlempar.
Sementara itu Ratna di ruangan lain juga sedang baku tembak melawan seorang penyusup. Kemampuan menembak Ratna juga ternyata sangat hebat, dia berhasil memojokkan penyusup yang bersembunyi di kolong meja makan, dia berlindung di balik kursi sambil gemetaran. Namun tiba-tiba sebuah peluru melesat dari kaca jendela tempat dia masuk, ternyata Ratna sengaja keluar rumah hanya untuk menembak penyusup itu dari luar.
__ADS_1
Viktor yang niatnya ingin menyergap musuh yang ada di depan gerbang malah terlibat baku tembak dengan dua penyusup yang berada di belakang rumah. Karena itulah dia belum bisa pergi menyergap musuhnya yang ada di depan. Namun Viktor dan anak buahnya diunggulkan karena jumlahnya lebih banyak.
Anak buah Viktor terus menembak dua penyusup itu tanpa henti sedangkan Viktor dan beberapa anak buahnya maju mendekat. Dua penyusup itu tidak bisa apa-apa lagi. Mereka mau tidak mau harus tumbang karena tertembak peluru.
“Aku tidak menyangka kalau sebagian dari mereka akan mencoba menyusup dari belakang,” ujar Viktor.
“Bagaimana kalau mereka sudah ada yang di dalam bos?”
“Kalian berlima segera periksa keadaan di dalam rumah jangan sampai ada penyusup lain yang masuk!” perintah Viktor, lima orang yang ditunjuk Viktor segera masuk kembali ke dalam rumah untuk memeriksa keadaan.
“Kita segera memutar ke depan untuk menyergap musuh yang di depan!” kata Viktor sambil berlari menyusuri pagar diikuti oleh anak buahnya.
“Semoga saja Brian masih bisa menahan mereka di depan,” gumam Viktor.
Sementara itu Aditya yang sudah memungut pistol milik Vendi segera menodongkannya kearah Vendi. Sebenarnya dia hanya ingin menakut nakutinya saja agar mau menjawab pertanyaannya. Namun tanpa diduga Vendi juga menodongkan pistol ke arah Aditya sambil berdiri.
“Cih, kelihatannya pistol milik teman lu menyelamatkan nyawa lu,” ujar Aditya sambil waspada. Kini pertarungan mereka akan berakhir tergantung siapa yang berhasil menggunakan pistolnya dengan efektif.
Tangan Vendi bergerak, Aditya segera melompat ke samping sambil melepaskan tembakan. Ternyata Vendi tidak menembak, dia hanya mengecoh Aditya agar dia bisa kabur. Namun ketika berlari kaki kirinya malah tertembak oleh Aditya. walau sambil meringis kesakitan Vendi akhirnya bisa keluar dari ruangan itu dan bertemu anak buahnya.
“Bos kemana saja?” tanya anak buahnya dengan mata berkaca-kaca.
“Dia bukan tandingan kita, sebaiknya kita pergi dari sini,” ucap Vendi sambil melirik ke sana kemari mencari jalan untuk kabur.
“Tapi bos lihat tangan gue berdarah,” rengek anak buah Vendi.
“Ayo cepat kabur!” kata Vendi sambil menggusur anak buahnya mendekati jendela.
Aditya ternyata sudah keluar dari ruangan tadi sambil mengenakan jaketnya. Pistolnya sudah ditodongkan ke arah Vendi dan anak buahnya yang sudah berada di dekat kaca jendela.
__ADS_1
Dari kejauhan terdengar sirine mobil polisi mulai mendekat. Vendi bergerak sontak Aditya juga menarik pelatuk pistol di tangannya, sebutir timah panas melesat keluar menuju Vendi.
BERSAMBUNG…