
Gina datang ke rumah Pandu untuk menjemput Frita. Clarissa langsung menyambut kedatangannya dengan hangat. Sementara Frita masih tetap berada di kamar. Gina tampak membawa gaun yang indah untuk Frita.
“Frita di mana mas?” tanya Gina.
“Dia masih ada di kamar, apa kamu juga akan mengajak Clarissa ke pesta itu?” tanya Pandu.
“Kamu memangnya mau ikut Ris?”
“Emang pesta apaan sih ma?”
“Itu pesta temennya mama.”
“Papa ikut juga nggak?”
“Papa nggak bisa ikut Ris, kalau mau ikut sama mama saja.”
“Nggak ah kalau papa nggak ikut mah.”
Gina kemudian pergi ke kamar Frita. Di sana dia juga membantu Frita berdandan. Gaun yang di bawa Gina nyatanya sangat cocok dengan Frita. Dia sekarang benar-benar seperti putri Rembulan yang turun dari langit, kecantikannya benar-benar luar biasa. Mereka kemudian pergi menuju mobil.
Frita terus memperhatikan keadaan di rumahnya, dia mencari sosok yang sangat berharga baginya, namun sosok itu tidak kunjung muncul. Yang mengantar kepergian mereka hanyalah Pandu dan juga Clarissa.
Di sebuah pelabuhan yang cukup ramai terdapat sebuah kapal pesiar mewah yang sedang tertambat di tepi dermaga. Tampak orang-orang dengan pakaian rapi dan mahal masuk ke kapal pesiar itu. Mobil mewah yang membawa Frita berhenti. Gina menuntun Frita keluar dari mobil. Semua mata terpana memandang kecantikan Frita. Diaz sendiri dengan bahagia menyambut mereka di kapal.
“Gila jadi itu calon istri Diaz?”
“Waw, bener-bener langka nih yang kaya begitu.”
“Pantas dia dijuluki Rembulan kota Bandung.”
“Mereka benar-benar pasangan yang serasi.” Ujar beberapa tamu yang ada di kapal.
“Kamu terlihat semakin cantik saja Fri,” puji Diaz sambil menggenggam tangan Frita.
Dari kejauhan Aditya yang baru turun dari taksi hanya menghela nafas melihat Frita yang begitu cantik digandeng oleh Diaz. Hatinya benar-benar terasa perih, dia mulai bimbang untuk ikut naik ke kapal pesiar mewah itu. Dia menatap pakaiannya sendiri yang lusuh, walaupun sekarang dia mengenakan topi tapi tetap saja dia merasa minder jika harus ikut ke pesta itu.
Sebuah mobil sport antic berwarna hitam berhenti tepat di dekat Aditya. seorang wanita cantik turun dari mobil dengan senyum manisnya. Postur tubuhnya bak model iklan, tubuh indahnya yang berbalut gaun menawan pasti akan mengundang banyak perhatian dari para pria yang ada di sana.
“Kamu ada di sini Dit?” sapa Ratna.
“Eh, kamu kok ada di sini Rat?” tanya Aditya terkejut.
“Malah balik bertanya, aku ke sini karena undangan temanku, katanya orang tuanya berulang tahun hari ini. Kamu sendiri kenapa ada di sini?”
“Bosku menyuruhku ikut serta di pesta ini. Jadi aku ikut bersamanya.”
__ADS_1
“Bosmu yang waktu itu bertemu di rumah sakit kan?”
“Iya.”
“Lah kalau begitu ayo kita kesana bareng, pestanya kan di sana.”
Aditya memberanikan diri melangkahkan kaki di belakang Ratna. Seorang pria dengan pakaian rapi menyambut Ratna di atas kapal. Semua orang yang ada di sana kembali dibuat takjub karena di hadapan mereka kembali hadir seorang wanita yang kecantikannya sebanding dengan Frita.
“Gila, apa itu wanita yang sering dibicarakan Fred?”
“Tuhan, aku bersyukur bisa hidup sampai hari ini.”
“Ini mah sebelas duabelas sama yang tadi.”
“Busyet dah enak banget jadi orang kaya. Wanita secantik apapun bisa dapet.”
“Kamu cantik banget hari ini Rat,” puji Fred.
“Terimakasih Fred,” ucap Ratna.
“Dia siapa Rat? Perasaan aku nggak ngundang orang kayak begini deh,” tanya Fred heran melihat Aditya yang berpakaian lusuh di belakangnya.
“Dia temanku, katanya bosnya yang menyuruh dia datang kemari.”
Fred mengernyitkan keningnya dan menatap sekeliling seolah ingin mencari orang yang bertanggung jawab karena sudah mengajak Aditya. Frita sendiri kaget saat melihat Aditya ada di kapal pesiar itu. Ada beberapa orang lain yang terlihat kaget melihat Aditya, diantaranya adalah ibu dan ayah Fred.
“Lu ngajak orang kayak dia kemari?”
“Sudahlah, sesekali kita harus berbagi sama orang sepertinya,” jawab Diaz sambil berkedip.
“Dia jadi tanggung jawabmu loh bro.”
“Gampang.”
“Aku ingin bertemu ayahmu, ada kado sedikit buat ulang tahunnya,” kata Ratna.
“Ayo, ayah dan ibu pasti senang bertemu denganmu,” jawab Fred dengan antusias.
Fred, Diaz dan Ratna pergi. Sedangkan Aditya memilih untuk bersandar di pagar kapal sambil menatap laut, sesekali pandangannya melirik ke arah Frita yang sedang berbincang dengan keluarga Diaz. Pakaiannya yang lusuh begitu jelas diantara orang-orang di sana yang berpakaian rapi.
“Yang mengundang Aditya siapa bu?” tanya Frita kepada Gina.
“Ibu dan Diaz, memangnya kenapa Fri?”
“Kenapa ibu mengundang dia ke sini?”
__ADS_1
“Ya sesekali biarkanlah dia makan enak. Lagipula setelah pesta ini selesai tugasnya sebagai pengawalmu juga selesai Fri.”
Frita hanya terdiam, dia khawatir kalau bukan itu maksud mereka mengundang Aditya ke sana. Hatinya kembali kacau, dia sekarang semakin bingung harus berbuat apa. Frita kemudian diajak keluarganya dan juga keluarga Diaz untuk bertemu dengan keluarga Fred yang mengadakan pesta mewah itu.
Ketiga keluarga itu bertemu lalu berbincang dengan santai sambil menikmati minuman dan makanan ringan yang tersedia. Frita kembali bertemu dengan Ratna, hal itu membuat keduanya terkejut.
“Kamu ada di sini?” tanya Frita.
“Oh kalian sudah saling kenal ya? Baguslah kalau begitu,” sela Fred.
“Aku sudah pernah bertemu dengannya dulu,” jawab Ratna sambil tersenyum.
“Wih mantep nih Fred. Btw siapa sih nama pacarmu ini?” potong Diaz.
“Kami belum pacaran, kami cuma berteman doang,” jawab Fred dengan wajah memerah.
“Kalau belum pasti bakalan dong,” ledek Diaz.
“Semoga saja,” bisik Fred. Mereka berdua kemudian tertawa.
“Kamu sendiri kok bisa ada di sini?” tanya Ratna.
“Dia calon istri gue, besok malam senin kami akan mengadakan lamaran,” jawab Diaz cepat.
“Serius? Wah tidak di sangka,” ujar Ratna sambil tersenyum senang menatap Frita.
“Aku mau bertemu temanku dulu ya Fred,” kata Ratna lagi.
“Loh, di sini saja. Lagian ngapain juga kamu deket-deket sama orang urakan kayak dia,” ledek Fred. Tapi Ratna malah pergi setelah berpamitan.
“Terimakasih,” ucap Ratna pelan ketika melewati Frita.
Entah kenapa tiba-tiba hati Frita bergetar mendengar ucapan Ratna. Dia tahu apa maksud Ratna yang sebenarnya dibalik ucapan terimakasih yang pendek itu. Dia paham jika Ratna berterimakasih karena lebih memilih pria lain daripada Aditya, dengan begitu kesempatannya untuk bersama Aditya lebih besar lagi.
Tapi saat ini Frita tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya terdiam menyembunyikan kekesalan dan kesedihannya. Dia hanya bisa menatap Ratna pergi dari sana. Dia sadar gerak geriknya saat ini saja selalu diawasi oleh Gina, dia tidak mungkin bisa bertemu dengan Aditya.
“Apa mas akan memberitahukan kejadian ini kepada Ketua?” bisik ibu Fred.
“Tentu saja, aku akan keluar sebentar untuk menghubunginya,” jawab ayah Fred sambil pamit hendak keluar sebentar. Dia kemudian pergi mencari ruangan yang sepi, lalu dia menghubungi seseorang dengan ponselnya.
“Ketua, aku punya dua kabar bagus untuk anda saat ini.”
“Kabar bagus seperti apa?”
“Aku kedatangan dua tamu yang tidak pernah kuduga sebelumnya,” jawab ayah Fred sambil tersenyum senang.
__ADS_1
BERSAMBUNG…